Diana menatap jalanan dari jendela apartemennya, hujan tipis menetes di kaca, seolah meniru perasaannya yang bercampur aduk. Setiap tetes air tampak seperti pengingat malam-malam yang baru saja ia lalui—malam yang mengubah segalanya, malam yang membuatnya kehilangan pijakan dalam hidupnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi hatinya masih berdebar kencang, rasa marah dan malu masih bercampur, membuatnya sulit berpikir jernih.“Kenapa semua ini harus terjadi padaku?” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam di dalam suara hujan. Ia menunduk, menutupi wajahnya dengan tangan, menahan air mata yang nyaris tumpah. “Kenapa aku tidak bisa hanya menjalani hidup normal?”Teleponnya bergetar di meja. Diana menatap layar, tangan gemetar. Pesan itu dari Randy. Ia menahan diri untuk tidak membukanya, menahan napas, menahan emosi yang mencoba kembali menyeretnya ke malam itu. “Tidak… tidak sekarang,” bisiknya, menutup telepon dengan kasar. Ia memutuskan untuk menjauh, untuk me
Dernière mise à jour : 2026-03-25 Read More