Share

154. Sebuah Obsesi

Author: W.M.G
last update publish date: 2026-04-26 19:29:57

Malam semakin larut, di sebuah kamar yang tersembunyi jauh dari kebisingan kota, keheningan terasa begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman jantung yang gelisah.

Sira terbaring lemah di atas ranjang berukuran kecil. Wajahnya yang biasanya berseri kini tampak pucat. Ia tidak benar-benar tidur, kondisinya lebih mirip dengan seseorang yang kehilangan kesadaran akibat kelelahan luar biasa dan trauma fisik yang baru saja dialaminya.

Daster pendek berwarna kuning deng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    156. Titik Terang

    Sinar matahari pagi yang mulai terik terasa membakar kulit, namun tak sedahsyat api kegelisahan yang melalap dada Gavin dan Prabu. Keduanya masih tertahan di dalam mobil yang terparkir di depan bistro, dengan mata yang merah akibat tidak tidur semalaman. Prabu sudah mengerahkan seluruh orang kepercayaannya, menghubungi kenalan di kepolisian hingga melacak jaringan komunikasi, namun Andre Wijaya seolah lenyap ditelan bumi bersama Sira."Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sira karena kita terlambat... aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," desis Gavin. Tangannya mengepal dengan sangat kuat hingga gemetar.Prabu yang biasanya tenang kini hanya bisa bersandar pada kursi dengan napas berat. "Kita sudah melakukan segalanya. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu satu celah kecil."Tepat pukul delapan tiga puluh pagi, sebuah motor berhenti di depan bistro. Seorang perempuan turun, membuka helm, dan dengan wajah mengantuk mulai merogoh kunci untuk membuka pintu geser resto

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    155. Sang Penyelamat atau Sang Penculik?

    Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden tipis, jatuh tepat di atas kelopak mata Sira yang masih terasa berat. Ia mengerang pelan, merasakan denyut nyeri yang konstan di pelipisnya. Saat ia mencoba menggerakkan tubuh, rasa lemas yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke tulang belakang, seolah-olah seluruh tenaganya telah dikuras habis.Sira perlahan membuka mata. Langit-langit kamar yang ia tatap terasa familiar. Cat putih yang sedikit mengelupas di sudut ruangan, aroma kayu tua yang khas, dan suara kicauan burung dari pohon mangga di luar jendela."Ini... kontrakan?" bisiknya parau.Pikirannya yang masih berkabut mencoba memutar kembali kaset memori yang berantakan. Ingatan terakhirnya adalah bau disinfektan rumah sakit yang tajam, lampu neon yang dingin, dan kehadiran Gavin. Ia ingat tangan Gavin yang membelai kepalanya, ia ingat kecupan di pipinya, dan ia ingat rasa hangat yang sempat singgah di hatinya. Tapi, kenapa sekarang ia ada di sini? Di rumah kontrakan

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    154. Sebuah Obsesi

    Malam semakin larut, di sebuah kamar yang tersembunyi jauh dari kebisingan kota, keheningan terasa begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman jantung yang gelisah. Sira terbaring lemah di atas ranjang berukuran kecil. Wajahnya yang biasanya berseri kini tampak pucat. Ia tidak benar-benar tidur, kondisinya lebih mirip dengan seseorang yang kehilangan kesadaran akibat kelelahan luar biasa dan trauma fisik yang baru saja dialaminya. Daster pendek berwarna kuning dengan lengan sejari membalut tubuh ringkihnya, menggantikan pakaian rumah sakit yang kaku dan berbau disinfektan. Rambut hitamnya yang panjang tergerai indah di atas bantal putih. Di tepi ranjang, Andre duduk membeku. Matanya tidak lepas dari wajah Sira, seolah-olah ia sedang menjaga harta karun yang paling berharga sekaligus rapuh. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah lipstik berwarna merah darah. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, seolah sedang melukis di atas kanvas yang bisa

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    153. Penculikan

    Jarum jam hampir menyentuh angka sebelas malam, namun aspal jalanan seolah tidak pernah tidur. Gemuruh mesin mobil dan sorot lampu motor yang hilir mudik menciptakan simfoni bising yang memperparah denyut nadi di pelipis Gavin. Kepalanya terasa pening, seolah dihantam godam berkali-kali. Pikirannya belum sempat beristirahat dari sisa-sisa badai konfrontasi tragis dengan Raina di rumah tadi namun kini, sebuah horor baru menyambutnya melalui layar ponsel yang berkedip-kedip di atas dasbor yang ia tinggalkan di dalam mobil sejak tadi.17 panggilan tak terjawab.Semua dari Tante Rita.Jantung Gavin seolah ditarik paksa dari rongganya, menyisakan kekosongan yang dingin di dadanya. Perasaan tidak enak merambat cepat dari ujung kaki hingga ke tulang belakang. Ia segera membanting setir, menepikan mobilnya ke bahu jalan dengan kasar hingga debu jalanan beterbangan. Tangan kirinya gemetar hebat, jari-jarinya kaku saat berusaha menekan tombol panggil balik. Panggilan itu langsung tersambung pad

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya     152. Malam Perpisahan

    Malam semakin larut, namun udara di dalam kediaman Gavin terasa jauh lebih mencekam daripada kegelapan di luar sana. Gavin melangkah masuk ke dalam rumah dengan bahu yang merosot. Pikirannya masih tertinggal di kamar rumah sakit, pada wajah pucat Sira dan pertanyaan besar tentang janin berusia empat bulan yang ada di dalam perut istri pertamanya itu.Ia sudah meminta Tante Rita untuk menjaga Sira, memastikan istrinya itu tidak sendirian. Gavin butuh pulang. Bukan untuk istirahat, melainkan untuk menyelesaikan kekacauan yang telah ia biarkan berlarut-larut sebelum ia kembali ke rumah sakit.Saat Gavin membuka pintu kamarnya, ia menemukan lampu nakas menyala temaram. Di sana, di sudut tempat tidur, Raina sedang berdiri memunggungi pintu. Tangannya tampak memegang sesuatu dengan erat, tubuhnya sedikit gemetar.Gavin berdiri mematung di ambang pintu, menatap punggung wanita yang selama ini ia anggap sebagai pelindung ingatannya. "Sudah puas kamu mengarang cerita untukku, Raina?"Suara Gav

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    151. Di Antara Ingatan dan Keraguan

    Kesadaran Sira kembali setitik demi setitik, seperti cahaya lampu yang perlahan benderang di tengah kegelapan total. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma antiseptik yang menyengat, lalu rasa perih yang menjalar di perut bagian bawahnya. Namun, semua rasa sakit itu mendadak sirna ketika ia merasakan sebuah sentuhan hangat di puncak kepalanya.Sebuah tangan besar membelai lembut kain kerudungnya yang sedikit berantakan."Sira... Ra, ini aku," bisik suara itu. Berat, serak, dan penuh dengan emosi yang sulit diartikan.Sira mengerjapkan matanya berulang kali. Bayangan di depannya perlahan menjadi jelas. Wajah tegas itu, mata elang yang kini tampak merah dan basah, serta garis rahang yang sangat ia kenali. Sira tertegun, bibirnya bergetar."Gavin?" gumam Sira tak percaya. "Aku... aku pasti sedang bermimpi, kan?"Gavin menggeleng pelan, ia menangkap jemari Sira yang dingin dan menempelkannya ke pipinya sendiri, seolah ingin membuktikan bahwa ia benar-benar nyata. "Gak, Ra. Kamu gak mimp

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    84. Ilusi yang Hampir Sempurna

    Begitu mereka menginjakkan kaki di area resepsi, suasana mendadak riuh. Kehadiran Sira yang menggandeng pria setampan dan semapan Gavin benar-benar mencuri perhatian. Musik dangdut yang tadinya memekakkan telinga seolah menjadi latar belakang saat pasang mata para kerabat dan tetangga tertuju pada

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    83. Genggaman Tangan

    Mobil melaju membelah jalanan pagi yang mulai ramai. Setelah menjemput Ibu Mirna di halte, suasana di dalam kabin mobil yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh oleh suara khas seorang ibu yang penuh kecemasan. Ibu Mirna duduk di kursi belakang, matanya tak henti menatap punggung menantunya dan sese

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    82. Detak Jantung di Pagi yang Dingin

    Pukul tujuh pagi, embun masih betah menempel di kaca jendela rumah sederhana Sira. Suasana begitu sunyi hingga deru mesin mobil mewah yang berhenti di depan pagar terasa sangat kontras. Sira yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya tidak menyangka bahwa Gavin akan datang satu jam lebih awal dar

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    81. Sandiwara Lagi

    Lelah, akhir pekan ini Sira kira ia akan bisa istirahat dengan tenang. Terutama karena masalah tuduhan itu sudah selesai dan ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Tapi masalah baru muncul lagi, malam ini menjadi malam yang penuh dengan kecemasan lagi bagi Sira.Setelah kepulangannya dari kaf

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status