Share

20. Sahabat

Author: W.M.G
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-04 06:37:22

Begitu sampai di ruang guru dan duduk di depan mejanya, Sira membuka ponselnya. Terdengar bunyi notifikasi sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Raina

Mbak Sira, ini nomorku. Aku kirim alamatnya di sini, ya. Jangan lupa keep secret dari Mas Gavin! 07.35

Baik, bu. Terima kasih banyak. Saya akan bantu sampaikan ke guru-guru lain. 07.36

Aduh, Mbak Sira, jangan panggil 'Bu' dong! Panggil Raina aja ya. Kan aku lebih muda dari Mbak Sira. Masa dipanggil 'Bu'. Hehe. 07.36

Oh, iya. Baik. 07.37

Bala
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    165. Kemarahan yang Indah

    Sore itu, semburat jingga dari ufuk barat mulai mengintip masuk ke dalam ruang perawatan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding. Di atas ranjangnya, Sira masih terbaring miring, memunggungi sisi tempat tidur, tempat suaminya biasa duduk. Pikirannya dipenuhi awan kelabu. Seharian ini ia hanya ditemani Tante Rita. Gavin menghilang tanpa kabar sejak pagi buta, tepat setelah Prabu membawanya pergi ke kantin. Ada rasa sesak yang kekanak-kanakan di dada Sira. Di tengah kerapuhannya, ia merasa takut akan ditinggalkan lagi setelah janji manisnya semalam. Ia tidak tahu bahwa sepanjang hari itu, Gavin sedang bertarung dengan tumpukan dokumen di kantor pengacara dan menghadapi kemarahan keluarganya demi satu tujuan, menyelesaikan perceraiannya dengan Raina secepat mungkin. Suara pintu yang terbuka pelan tidak membuat Sira bergeming. Ia mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali, namun ia tetap memilih untuk menatap tembok putih di depannya. "Assalamualaikum, suamimu d

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    164. Gavin dan Prabu

    Suasana kantin rumah sakit pagi itu tidak terlalu ramai, namun dengung suara mesin kopi dan denting sendok menciptakan latar belakang yang pas untuk percakapan berat antara Gavin dan Prabu. Setelah Tante Rita datang untuk menjaga Sira, Prabu memberikan isyarat kepada Gavin untuk mengikutinya. Ada beban yang harus segera dilepaskan agar tidak menjadi duri di masa depan. Gavin duduk di hadapan Prabu, menatap cangkir kopi hitamnya yang mengepulkan uap. Prabu memulai dengan kabar mengenai hukum untuk Andre. "Andre Wijaya tidak akan lepas begitu saja," buka Prabu dengan nada dingin yang biasa ia gunakan dalam negosiasi bisnis. "Aku sudah menugaskan tim hukum terbaik. Dengan bukti penculikan, penganiayaan, dan paksaan medis, dia akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Aku juga akan memastikan dia kehilangan segalanya." Gavin mengangguk pelan. "Terima kasih, Prabu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada di sana semalam." Hening sejenak. Gavin menatap buih yang

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    163. Lili Putih dan Harapan yang Mekar

    Sira duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit yang ditinggikan. Setelah gejolak mual di kamar mandi mereda, fokusnya kembali tertuju pada perban putih yang melilit lengan kiri Gavin. Dengan gerakan yang sangat perlahan, ia mengulurkan jarinya, menyentuh tepian luka itu seolah-olah rasa sakitnya bisa berpindah jika ia menyentuhnya cukup lembut. Ia mendongak, menatap mata Gavin dengan pandangan yang dalam dan penuh selidik. Meski bibirnya terkatung dalam kebisuan, sorot matanya bicara lebih keras dari kata-kata apa pun. "Apa kamu baik-baik saja? Lukamu pasti sakit sekali?" Gavin terdiam sejenak, tenggelam dalam samudera kekhawatiran yang terpancar dari mata istrinya. Ia meraih tangan Sira yang baru saja menyentuh lukanya, lalu menarik kursi untuk duduk tepat di hadapan Sira. "Aku baik-baik saja, Ra. Ini tidak sakit. Jangan khawatirkan aku," ucap Gavin dengan suara rendah yang menenangkan. Ia memberikan seulas senyum tulus, jenis senyum yang sudah bertahun-tahun tidak ia tunjukkan

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    162. Rahasia dalam Kebisuan

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya pendingin ruangan rumah sakit. Sira terbangun lebih dulu. Kesadarannya kembali perlahan, namun kali ini tanpa sentakan ketakutan seperti semalam. Perasaanya sudah lebih tenang, dan hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat yang menindih jari-jarinya.Gavin.Lelaki itu tertidur dengan posisi yang pasti sangat tidak nyaman, duduk di kursi dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Sira memandangi wajah suaminya dalam diam. Gurat kelelahan tercetak jelas di sana, lingkaran hitam di bawah mata dan dahi yang bahkan dalam tidur pun tampak berkerut gelisah.Sira menarik tangannya perlahan, berusaha tidak membangunkan Gavin. Matanya kemudian tertuju pada lengan kiri Gavin yang tergeletak di atas sprei. Kemeja hitam yang dikenakan suaminya tampak robek di bagian bahu hingga siku. Ada noda darah kering yang tersamar oleh warna gelap kainnya, namun yang paling mencolok adalah perban p

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    161. Runtuhnya Sang Pilar

    Malam semakin larut, menyisakan kesunyian di dalam ruang perawatan itu. Sira akhirnya kembali tertidur, kelelahan setelah badai trauma yang menguras seluruh tenaganya. Namun, meski dalam lelap, jemari kecilnya masih menggenggam erat telapak tangan Gavin. Cengkeramannya begitu kuat, seolah-olah jika ia melonggarkan genggaman itu sedetik saja, Gavin akan meninggalkannya dan Andre akan muncul dari kegelapan untuk menyeretnya kembali ke neraka.Gavin tertegun menatap tangan mereka yang bertaut. Ia bisa merasakan sisa-sisa getaran di tangan Sira. Hatinya perih, seperti disiram cuka di atas luka yang menganga."Penderitaan apa saja yang sudah kamu alami, Sira... hingga kamu bahkan takut untuk bicara?" bisik Gavin pelan, suaranya pecah di udara yang dingin.Air mata yang tadinya sempat mengering kini kembali mengalir, jatuh satu per satu membasahi sprei rumah sakit. Gavin menunduk, menempelkan keningnya pada punggung tangan Sira. Di bawah temaram lampu nakas, Gavin mulai merapal rentetan pen

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    160. Suara yang Terperangkap

    Malam merayap masuk melalui celah jendela rumah sakit, membawa kesunyian yang menyakitkan. Lampu ruangan diredupkan, hanya menyisakan temaram yang jatuh tepat di atas wajah Sira. Gavin tidak bergerak sedikit pun dari posisinya sejak siang tadi. Ia duduk di kursi di samping ranjang, membungkuk dengan punggung yang kaku, seolah-olah jika ia berkedip, Sira akan lenyap lagi dari pandangannya.Tangan kanannya menggenggam jemari Sira yang tidak terpasang infus. Genggamannya tidak terlalu kuat agar tidak menyakiti, namun cukup erat untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan melepaskannya lagi. Sementara itu, jemari tangan kirinya yang gemetar bergerak perlahan, hampir tidak menyentuh kulit, saat menyusuri pipi Sira yang mulai membiru.Ada memar yang kontras di kulit pucat itu. Di ujung bibir Sira, terdapat luka kecil yang mengering, jejak kekerasan yang ditinggalkan Andre. Bajingan itu pasti sempat menamparnya saat Sira mencoba melawan. Setiap kali mata Gavin terpaku pada luka itu, hatinya sepert

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    64. Luka dan Rasa bersalah

    Gavin masih mematung di tengah dapur, menatap tangannya yang menggantung di udara dengan tatapan kosong. Bayangan wajah ngeri Sira dan bagaimana tubuh wanita itu gemetar hebat saat ia sentuh tadi, terus berputar-putar di kepalanya bagaikan mimpi buruk yang nyata."Apa yang sudah aku lakukan?" bisikn

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    63. Trauma

    Pagi itu datang dengan cahaya matahari yang terasa terlalu terang dan menyakitkan. Sira sudah terjaga sebelum fajar menyingsing. Ia telah mandi cukup lama, mencoba membilas sisa-sisa aroma alkohol dan sentuhan kasar yang masih terasa menempel di kulitnya. Kini, ia berdiri di dapur dengan rambut panj

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    62. Puncak Keretakan

    Perjalanan pulang terasa seperti keheningan yang mematikan. Sira hanya menyandarkan kepalanya pada kaca mobil, menatap lampu-lampu jalanan yang kabur oleh air mata yang terus menggenang. Di sampingnya, Prabu sesekali melirik, namun ia cukup bijak untuk tidak memaksa Sira bicara. Ia tahu, harga diri

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    61. Kebenaran yang Pahit

    Raina membimbing Sira melewati koridor rumah ayahnya yang luas, menuju kamar mewahnya dulu sebelum menikah dan pindah rumah yang ada di lantai atas. Suasana di dalam rumah jauh lebih tenang dibandingkan kegaduhan di taman tadi."Duduk dulu, Mba," ucap Raina lembut setelah mereka masuk. Ia bergegas m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status