LOGINDinding-dinding kayu kontrakan yang sempit itu seolah merapat, menghimpit napas Sira yang kian tersengal. Di dalam kamar yang pengap oleh bau obat-obatan dan kecemasan, suasana berubah menjadi neraka yang nyata. Matahari pagi yang seharusnya membawa harapan, justru menjadi saksi bisu atas horor yang sedang berlangsung di balik pintu terkunci.Andre tidak lagi tersenyum lembut. Topeng orang baik yang ia kenakan sejak kemarin telah retak, menampakkan monster obsesif yang selama ini bersembunyi di balik kacamata dan sikap sopannya. Di tangannya, semangkuk bubur itu bukan lagi simbol perhatian, melainkan alat penyiksaan."Makan, Sira! Aku bilang makan!" geram Andre. Suaranya bukan lagi bisikan, melainkan perintah rendah yang sarat akan ancaman.Sira menggeleng kuat, air matanya membasahi pipi yang kini dihiasi noda lipstik merah yang mulai berantakan akibat gesekan. "Lepaskan aku, Mas Andre... Tolong, jangan begini..."Kemarahan Andre meledak. Ia meletakkan mangkuk itu dengan kasar di ata
Sinar matahari pagi yang mulai terik terasa membakar kulit, namun tak sedahsyat api kegelisahan yang melalap dada Gavin dan Prabu. Keduanya masih tertahan di dalam mobil yang terparkir di depan bistro, dengan mata yang merah akibat tidak tidur semalaman. Prabu sudah mengerahkan seluruh orang kepercayaannya, menghubungi kenalan di kepolisian hingga melacak jaringan komunikasi, namun Andre Wijaya seolah lenyap ditelan bumi bersama Sira."Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sira karena kita terlambat... aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," desis Gavin. Tangannya mengepal dengan sangat kuat hingga gemetar.Prabu yang biasanya tenang kini hanya bisa bersandar pada kursi dengan napas berat. "Kita sudah melakukan segalanya. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu satu celah kecil."Tepat pukul delapan tiga puluh pagi, sebuah motor berhenti di depan bistro. Seorang perempuan turun, membuka helm, dan dengan wajah mengantuk mulai merogoh kunci untuk membuka pintu geser resto
Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden tipis, jatuh tepat di atas kelopak mata Sira yang masih terasa berat. Ia mengerang pelan, merasakan denyut nyeri yang konstan di pelipisnya. Saat ia mencoba menggerakkan tubuh, rasa lemas yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke tulang belakang, seolah-olah seluruh tenaganya telah dikuras habis.Sira perlahan membuka mata. Langit-langit kamar yang ia tatap terasa familiar. Cat putih yang sedikit mengelupas di sudut ruangan, aroma kayu tua yang khas, dan suara kicauan burung dari pohon mangga di luar jendela."Ini... kontrakan?" bisiknya parau.Pikirannya yang masih berkabut mencoba memutar kembali kaset memori yang berantakan. Ingatan terakhirnya adalah bau disinfektan rumah sakit yang tajam, lampu neon yang dingin, dan kehadiran Gavin. Ia ingat tangan Gavin yang membelai kepalanya, ia ingat kecupan di pipinya, dan ia ingat rasa hangat yang sempat singgah di hatinya. Tapi, kenapa sekarang ia ada di sini? Di rumah kontrakan
Malam semakin larut, di sebuah kamar yang tersembunyi jauh dari kebisingan kota, keheningan terasa begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman jantung yang gelisah. Sira terbaring lemah di atas ranjang berukuran kecil. Wajahnya yang biasanya berseri kini tampak pucat. Ia tidak benar-benar tidur, kondisinya lebih mirip dengan seseorang yang kehilangan kesadaran akibat kelelahan luar biasa dan trauma fisik yang baru saja dialaminya. Daster pendek berwarna kuning dengan lengan sejari membalut tubuh ringkihnya, menggantikan pakaian rumah sakit yang kaku dan berbau disinfektan. Rambut hitamnya yang panjang tergerai indah di atas bantal putih. Di tepi ranjang, Andre duduk membeku. Matanya tidak lepas dari wajah Sira, seolah-olah ia sedang menjaga harta karun yang paling berharga sekaligus rapuh. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah lipstik berwarna merah darah. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, seolah sedang melukis di atas kanvas yang bisa
Jarum jam hampir menyentuh angka sebelas malam, namun aspal jalanan seolah tidak pernah tidur. Gemuruh mesin mobil dan sorot lampu motor yang hilir mudik menciptakan simfoni bising yang memperparah denyut nadi di pelipis Gavin. Kepalanya terasa pening, seolah dihantam godam berkali-kali. Pikirannya belum sempat beristirahat dari sisa-sisa badai konfrontasi tragis dengan Raina di rumah tadi namun kini, sebuah horor baru menyambutnya melalui layar ponsel yang berkedip-kedip di atas dasbor yang ia tinggalkan di dalam mobil sejak tadi.17 panggilan tak terjawab.Semua dari Tante Rita.Jantung Gavin seolah ditarik paksa dari rongganya, menyisakan kekosongan yang dingin di dadanya. Perasaan tidak enak merambat cepat dari ujung kaki hingga ke tulang belakang. Ia segera membanting setir, menepikan mobilnya ke bahu jalan dengan kasar hingga debu jalanan beterbangan. Tangan kirinya gemetar hebat, jari-jarinya kaku saat berusaha menekan tombol panggil balik. Panggilan itu langsung tersambung pad
Malam semakin larut, namun udara di dalam kediaman Gavin terasa jauh lebih mencekam daripada kegelapan di luar sana. Gavin melangkah masuk ke dalam rumah dengan bahu yang merosot. Pikirannya masih tertinggal di kamar rumah sakit, pada wajah pucat Sira dan pertanyaan besar tentang janin berusia empat bulan yang ada di dalam perut istri pertamanya itu.Ia sudah meminta Tante Rita untuk menjaga Sira, memastikan istrinya itu tidak sendirian. Gavin butuh pulang. Bukan untuk istirahat, melainkan untuk menyelesaikan kekacauan yang telah ia biarkan berlarut-larut sebelum ia kembali ke rumah sakit.Saat Gavin membuka pintu kamarnya, ia menemukan lampu nakas menyala temaram. Di sana, di sudut tempat tidur, Raina sedang berdiri memunggungi pintu. Tangannya tampak memegang sesuatu dengan erat, tubuhnya sedikit gemetar.Gavin berdiri mematung di ambang pintu, menatap punggung wanita yang selama ini ia anggap sebagai pelindung ingatannya. "Sudah puas kamu mengarang cerita untukku, Raina?"Suara Gav
Prabu tampak sangat menikmati perubahan yang Sira lakukan. Setelah Sira menggandeng lengannya, Prabu semakin menunjukkan sikap calon suami yang posesif dan bangga. Ia menarik Sira menjauh dari kerumunan, menuju sudut taman yang agak sepi di bawah rimbunnya pohon yang dihiasi lampu-lampu kerlip."Aku
Prabu melanjutkan percakapannya dengan Barata, sesekali melibatkan Sira dalam topik bisnis dengan senyum bangga, seolah Sira adalah pasangan yang benar-benar cerdas dan mendukung. Sementara itu, Gavin terpaksa berdiri kaku di samping Raina.Gavin tidak mendengarkan apa pun yang dibicarakan Prabu. Ma
Mobil mewah Prabu melaju perlahan, melewati gerbang besi yang menjulang tinggi, menuju sebuah kediaman megah di kawasan elit. Rumah pribadi Pak Barata, rekan bisnis Prabu. Halaman depan yang luas diubah menjadi area pesta yang elegan. Ratusan lampu peri menggantung di pepohonan rindang, memancarkan
Sabtu. Hari perjanjian itu tiba.Tepat pukul dua siang, ponsel Sira berdering. Nama Orang Tua Bintang terpampang di layarnya."Halo?" Sira menjawab dengan suara sedikit bergetar, ada keraguan dan ketakutan dalam dirinya untuk menghadapi pesta malam ini."Aku sudah di depan," suara bariton Prabu terd







