Share

Bab 3

Author: Mountain
Begitu melihat wajah Anna, kebencian di dadaku langsung bergejolak.

Tubuhku sedikit bergetar karena emosi yang meluap.

Namun, getaran itu justru disalahartikan Anna sebagai tanda rasa bersalah.

Tadinya, melihatku berlumuran darah, Anna masih sedikit takut. Kini, dia malah berkata dengan penuh pembenaran diri.

"Elisa, hentikan sandiwaramu. Tuan Daren sekarang sedang menemani Freya. Tuan juga sudah berpesan agar nggak diganggu. Tuan menyuruhku menyampaikan satu kalimat kepadamu, 'Sudah cukup. Jangan memperburuk keadaan'."

"Tuan Daren bilang sebenarnya dia nggak perlu bersikap sekejam ini. Tapi kau selalu cemburu dan membuat keributan. Bahkan berani berpura-pura terluka parah. Nanti ketika anakmu sudah mengerti, tahu bahwa ibunya histeris seperti ini, menurutmu apa yang akan dipikirkan anak itu?"

Setelah Anna selesai mengatakannya, wajah kepala keluarga sudah dipenuhi niat membunuh.

Namun, Anna sama sekali tidak menyadari siapa orang yang berdiri di hadapannya.

Dia menunjuk kepala keluarga yang bahkan belum sempat berganti pakaian, lalu mengejeknya.

"Elisa, siapa pria kotor ini? Jangan-jangan kau tahu berpura-pura sakit sudah nggak berguna, jadi kau asal cari pria nggak jelas untuk membuat Daren cemburu? Kau benar-benar nggak pilih-pilih."

"Kalau aku bilang ke Daren bahwa kau dalam keadaan hamil masih bergaul dengan gelandangan seperti ini, menurutmu dia akan mencincangmu untuk jadi makanan anjing, atau melemparmu ke laut untuk jadi makanan ikan?"

Setelah mengatakannya, Anna tertawa dengan puas, merasa dirinya telah melihat segalanya dengan jelas.

Bagaimanapun, saat ini pakaian kepala keluarga berlumuran darah dan penampilannya berantakan, jauh dari sosok tokoh besar yang Anna bayangkan.

Karena itu, Anna mengira kepala keluarga yang terhormat itu adalah selingkuhanku.

Sebuah dengusan dingin menghentikan tawanya.

Dua pengawal seketika maju dan menekan Anna ke lantai.

Baru ketika moncong pistol yang dingin menempel di dahinya, Anna tersadar dengan ketakutan bahwa dirinya telah menyinggung orang yang salah.

Baru hendak minta ampun, mulut Anna sudah dihantam keras gagang pistol, lalu diseret keluar.

"Patahkan kakinya, lalu kurung. Ambil fotonya dan kirim ke Daren," ujar kepala keluarga dengan dingin, "suruh dia datang sendiri. Aku ingin tahu, urusan apa yang begitu penting sampai-sampai dia menelantarkan Nyonya Elisa!"

Aku segera menyadari perubahan panggilan kepala keluarga kepadaku.

Bukan lagi istri Daren, melainkan Nyonya Elisa.

Itulah hasil yang kuperlukan.

Di mata kepala keluarga, batasannya sudah jelas.

Aku adalah penyelamat nyawanya.

Sedangkan Daren hanyalah seorang pengkhianat yang akan segera dibereskan.

Langkah berbahaya ini, akhirnya aku tidak salah pilih ....

Aku didorong masuk ke ruang operasi.

Saat kembali sadar, perawat yang berjaga di sisi tempat tidur dengan hati-hati membantuku bangun.

"Nyonya Elisa, peristiwa penyerangan terhadap kepala keluarga telah menggemparkan seluruh petinggi keluarga. Beliau sudah lebih dulu kembali ke markas untuk menanganinya," katanya pelan, "tapi sebelum pergi, beliau secara khusus berpesan agar Anda beristirahat dengan tenang di sini. Beliau mengatakan setelah semua urusan selesai, beliau akan datang sendiri menjenguk Anda."

Aku mengangguk pelan.

Berdasarkan ingatan dari kehidupan sebelumnya, peristiwa penyerangan terhadap kepala keluarga memang menimbulkan guncangan besar di dunia gelap.

Semua keluarga yang terlibat kemudian diberantas sampai tuntas.

Sementara Daren baru mendapat promosi setelah situasi benar-benar stabil.

Sekarang, begitu banyak urusan yang harus ditangani kepala keluarga. Dia masih mengingatku saja sudah merupakan hal yang langka.

Yang harus kulakukan sekarang hanyalah menunggu dengan sabar.

Setelah perasaanku sedikit tenang, aku baru hendak membuka mulut ketika tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari luar pintu.

Belum sempat kulihat siapa yang datang ....

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku.

Itu adalah Daren.

Wajahnya muram dan tatapan dinginnya menusukku.

"Elisa, kau benar-benar kejam. Demi memaksaku datang menemuimu, kau berani menyakiti Anna!"

"Apa kau tahu Freya sampai menangis ketika mengetahui kaki Anna patah? Bagaimana kau bisa berubah menjadi seperti ini? Aku benar-benar menyesal menikahimu!"

Pipiku terasa perih dan panas. Aku menatapnya dan berkata dengan tenang.

"Benarkah? Kalau begitu, mari kita bercerai."

Aku menarik napas dalam-dalam dan berusaha menahan air mata.

Kalimat ini telah lama kutahan.

Sebenarnya, aku berencana mengatakannya setelah kepala keluarga menghukumnya.

Namun, sekarang, aku benar-benar tidak sanggup lagi.

Rasa sakit di kehidupan sebelumnya, penghinaan di kehidupan ini.

Tekanan itu datang bertumpuk-tumpuk, menghimpit dadaku sampai sulit bernapas.

Kata bercerai yang keluar dari mulutku jelas di luar dugaan Daren.

Dia menatapku dan kesombongan di wajahnya goyah sesaat.

Saat aku sedang mencoba menebak reaksinya, Freya datang.

Dia sengaja menurunkan kerah bajunya, memperlihatkan bekas ciuman yang masih segar di tulang selangkanya.

Jelas, bahkan serangan yang mengguncang seluruh dunia hitam pun tidak mengganggu gairah mereka.

Begitu Freya muncul, mata Daren tidak lagi melihat orang lain.

Dia memeluk pinggang Freya dengan penuh sayang.

Tangan yang barusan menamparku, kini menyentuh Freya dengan begitu lembut.

"Kenapa kau datang ke sini? Di rumah sakit banyak virus, kau seharusnya menungguku di rumah."

Mata Freya memerah, dia menggelengkan kepala.

"Daren, rumah terasa terlalu sepi. Aku hanya ingin segera bertemu denganmu."

"Tapi sebelum masuk, aku sudah mendengar kalian bertengkar ... apa ini karena aku? Kalau memang aku yang menimbulkan masalah, aku bisa meninggalkan keluarga."

"Asalkan kalian berdua bisa bahagia bersama, aku nggak apa-apa menderita sedikit."

Sambil berkata demikian, air matanya pun jatuh.

Hati Daren terasa perih, dia menenangkan Freya dengan suara rendah.

"Ini karena Elisa sudah bertindak terlalu keterlaluan. Perempuan gila seperti itu sama sekali nggak pantas menjadi istriku, apalagi menjadi seorang ibu."

"Begitu anak itu lahir, aku akan segera mengambil hak asuhnya. Hanya dengan diserahkan kepadamu untuk dibesarkan, aku baru bisa benar-benar tenang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 10

    Enam bulan kemudian.Matahari Santio masih menyilaukan seperti biasa.Aku mengenakan gaun beludru hitam panjang dan berdiri di depan sebuah nisan baru di pemakaman keluarga.Di batu nisan itu tidak tertera nama, hanya terukir satu baris kecil.[Untuk malaikat kecil yang tak pernah kutemui.]Aku meletakkan seikat mawar putih di depan nisan, jemariku menyusuri marmer yang dingin.Lubang di hatiku belum sepenuhnya sembuh, tetapi sudah tidak lagi berdarah.Waktu adalah obat.Dari belakang terdengar langkah kaki yang mantap.Tanpa perlu menoleh, aku tahu siapa itu.Sebuah mantel yang masih menyimpan hangat tubuh disampirkan di pundakku."Anginnya kencang."Suara kepala keluarga terdengar di atas kepalaku.Aku merapatkan mantel itu. Di sana ada aroma cerutu dan kolonye yang biasa dia gunakan, menghadirkan rasa tenang."Kabar dari area tambang."Dia menyerahkan kepadaku sebuah berkas, nadanya datar, seolah membicarakan hal yang sama sekali tidak penting.Aku membuka berkas itu.Halaman pertam

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 9

    Malam hujan, di Restoran Luona di Bruolin.Sebuah Lincoln hitam berhenti di depan pintu.Aku dan kepala keluarga turun dari mobil tanpa membawa pengawal.Begitu pintu didorong terbuka, restoran itu sudah dikosongkan. Hanya ada satu meja makan, dan di sana duduk pemimpin keluarga musuh, Moretti, bersama seorang pengikutnya.Dia sedang memasukkan sepotong besar daging sapi berdarah ke mulutnya, cara makannya rakus dan menjijikkan.Pengikut Moretti menghadang kami. "Mohon bekerja sama untuk pemeriksaan tubuh."Kepala keluarga membuka kedua tangannya, membiarkannya memeriksa dirinya.Setelah dipastikan tidak ada apa-apa, pengikut itu menoleh ke arahku.Moretti menyeka minyak di sudut bibirnya, lalu tertawa licik. "Nona ini, biar aku sendiri yang memeriksa."Tatapan kepala keluarga mendadak dingin, dia hendak bergerak, tetapi aku menahan tangannya.Dengan wajah datar, aku melangkah maju dan membiarkan tangan Moretti yang gemuk menepuk-nepuk bagian luar mantelku.Tatapannya membuat muak, tet

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 8

    Aku berbalik menatap dua pengawal yang berjaga di pintu sambil menunggu perintah. Mereka adalah orang di keluarga yang khusus menangani "sampah". Wajah mereka tertutup topeng hitam, di tangannya tergenggam kotak peralatan yang berat."Bawa mereka ke tambang belerang di bagian Selatan Santio."Begitu mendengar kata tambang belerang, Daren dan Freya serempak menarik napas dengan ketakutan.Para penambang di sana kebanyakan adalah anggota mafia yang melakukan kejahatan berat atau para penjudi yang tidak mampu melunasi utang.Itu adalah neraka dunia yang sesungguhnya, panas ekstrem, gas beracun, kerja paksa tanpa henti."Nggak! Elisa, kau nggak bisa melakukan ini padaku! Aku suamimu!" teriak Daren putus asa."Mantan suami," ujarku mengoreksi, "karena Nona Freya sangat suka berakting, biarkan dia pergi berakting dengan baik untuk para penambang. Aku yakin mereka akan sangat senang melihat perempuan secantik dia tampil setiap hari.""Nggak!" Jeritan Freya terdengar melengking dan memilukan.

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 7

    Udara di ruang bawah tanah begitu pengap, bercampur dengan bau karat besi, jamur, dan aroma anyir yang membuat mual."Nggak ... nggak mungkin!" Freya menjerit, jari-jarinya mencengkeram jeruji kandang besi dengan kuat hingga kuku-kukunya patah tanpa dirinya sadari. "Aku dijebak! Anna, perempuan jalang itu, sedang berbohong! Dia iri padaku! Elisa, kau nggak boleh percaya kata-kata orang gila itu!"Aku berdiri di luar kandang besi, tubuhku diselimuti mantel wol hitam tebal. Mantel itu sengaja dikirim oleh kepala keluarga untuk menangkal dinginnya ruang bawah tanah.Aku menatap Freya seperti menatap seekor tikus yang sedang sekarat dalam perangkap."Anna gila atau nggak, semuanya tertulis jelas dalam catatan interogasi."Aku mengeluarkan setumpuk berkas yang sedikit berlumur darah dari saku mantel, lalu melemparkannya begitu saja ke dalam kandang besi.Kertas-kertas itu berserakan di kaki Freya, penuh dengan catatan rinci tentang rekaman komunikasi dan transaksi keuangan antara dirinya da

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 6

    Kepala keluarga memandang pasangan yang saling mencabik itu dengan tatapan penuh jijik.Dia menarik kembali pistolnya, lalu memberi isyarat dengan tangan kepada anak buahnya.Beberapa pengawal bertubuh kekar bergegas masuk, menyeret Daren dan Freya seperti menyeret bangkai anjing."Bawa mereka ke ruang interogasi. Aku akan menginterogasi mereka sendiri."Kepala keluarga berjalan ke pintu, lalu berhenti dan menoleh ke arahku."Elisa, kau adalah penasihat keluarga. Kau memiliki wewenang untuk menangani perkara ini. Setelah lukamu agak pulih, kau yang akan memutuskan hidup dan mati mereka."Aku menatap punggung mereka yang diseret pergi, tetapi di hatiku tidak muncul kepuasan seperti yang kubayangkan.Anakku telah tiada. Sekalipun nyawa mereka diambil, itu tidak akan bisa mengembalikan nyawa anakku.Beberapa hari berikutnya, aku bekerja sama dengan dokter untuk menjalani perawatan.Setiap hari kepala keluarga datang menjengukku, dan dia membawa sebuah kabar.Serangan teroris itu bukanlah

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 5

    Tangan Daren membeku di udara, moncong pistolnya masih mengarah ke pelipisku.Namun, lehernya bergerak seperti roda gigi berkarat, berputar perlahan dengan tersendat.Saat dia melihat jelas siapa yang datang, seakan-akan seluruh darah di tubuhnya tersedot habis. Wajah angkuh itu seketika pucat pasi."Ke ... Kepala Keluarga?"Pistol di tangan Daren terjatuh ke lantai."Kenapa Anda bisa ada di sini?"Freya jelas masih belum memahami situasi.Dia belum pernah melihat sosok pria yang konon mengendalikan seluruh dunia hitam Santio.Di mata Freya, dia hanyalah seorang berandalan kecil dengan kemeja kotor berlumuran darah dan aura penuh kekerasan.Freya mengernyitkan hidung dengan jijik, tetapi tetap merangkul lengan Daren sambil bersikap manja."Daren, siapa pria ini? Kenapa tubuhnya penuh darah, jorok sekali. Dia juga aktor yang dipanggil Elisa, ya?"Plak!Sebuah tamparan nyaring menggema di ruang rawat.Yang melakukannya bukan orang lain, melainkan Daren.Tamparan itu dilakukan dengan seku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status