Share

Bab 2

Author: Mountain
Begitu kata-kata itu terucap, rasa lelah datang bagai gelombang pasang.

Dokter pribadi yang baru tiba segera menyuntikkan obat perangsang jantung kepadaku.

Rasa perih yang tajam seketika menarik kembali kesadaranku.

Dokter menyeka keringat dingin di dahinya, lalu berpesan, "Nyonya Elisa, Anda harus tetap sadar. Jika Anda pingsan sekarang, mungkin Anda nggak akan pernah bangun lagi. Pikirkan suami dan anak Anda. Mereka membutuhkan Anda."

Kepala keluarga pun angkat bicara, nadanya penuh kewibawaan yang tidak terbantahkan.

"Kau sudah menyelamatkan nyawaku. Aku nggak akan melupakannya. Setelah kau pulih, aku akan memberimu semua yang pantas kau terima. Anak dalam kandunganmu juga akan menjadi anak angkatku. Bertahanlah, aku sudah mengutus orang untuk mencari Daren."

Mendengar janji kepala keluarga, aku memaksakan senyum tipis.

Namun, aku tidak naif.

Saat ledakan terjadi, rasa hangat yang mengalir di antara kakiku telah memberitahuku jawabannya.

Anak ini, kemungkinan besar, tidak dapat dipertahankan.

Sedangkan Daren? Dia tidak akan datang.

Seolah membenarkan pikiranku, pengawal yang diutus segera kembali sendirian.

Dia menunduk dan tidak berani menatap mata kepala keluarga.

"Di mana dia?" tanya kepala keluarga, alisnya berkerut, suaranya jelas menunjukkan ketidaksenangan.

Suara pengawal itu bergetar.

"Daren ... menolak datang. Dia berkata ... 'Skenarionya terlalu buruk, jangan lagi menyuruh aktor datang menggangguku' ...."

Tubuh pengawal itu hampir membungkuk sembilan puluh derajat, keringat dingin mengucur dari dahinya.

Aku tahu, ucapan asli Daren pasti jauh lebih kejam dari ini, hanya saja pengawal itu tidak berani mengulanginya.

Di bawah fitnah yang terus-menerus dari Freya, semua penderitaanku di mata Daren tidak lebih dari sebuah sandiwara.

Di kehidupan sebelumnya aku meminta pertolongannya, tapi Daren mengatakan aku mengincar posisi istri tangan kanan kepala keluarga.

Kini, kepala keluarga sendiri yang memintanya datang, tapi Daren justru kembali mengatakan aku sedang berakting.

Jika di hatinya hanya ada Freya, mengapa dulu dia begitu gigih mengejarku?

Kesedihan dan amarah bercampur di dalam dadaku.

Aku memalingkan kepala dan terbatuk, memuntahkan lebih banyak darah.

Wajah dokter berubah serius.

"Kepala Keluarga, kondisi nyonya saat ini sangat berbahaya! Jika nggak ada keluarga yang membangkitkan keinginannya untuk bertahan hidup, hanya mengandalkan obat-obatan akan sangat sulit menyelamatkannya!"

Pandangan kepala keluarga tertuju pada wajahku yang pucat pasi. Pada akhirnya, dia menekan amarah di dalam hatinya.

Dia mengeluarkan sebuah telepon terenkripsi yang hanya bisa dihubungi oleh segelintir orang, lalu menekannya dengan keras ke tangan pengawal itu, suaranya dingin dan menakutkan.

"Gunakan ini untuk meneleponnya. Di keluarga ini, nggak ada seorang pun yang nggak mengenali nomor pribadiku. Jika masih nggak bisa memanggilnya, anggap dia sebagai pengkhianat dan eksekusi!"

Kepala keluarga benar-benar murka.

Biasanya, pengawalan di sekelilingnya sangat ketat, tetapi saat kejadian terjadi, tidak ada satu pun pengawal yang tersisa.

Aku melindunginya dengan nyawaku, tetapi dia bahkan tidak bisa memanggil suamiku.

Ini bukan sekadar kelalaian. Ini sama saja dengan tantangan terang-terangan terhadap kewibawaannya.

Aku segera dilarikan ke ruang rawat VIP rumah sakit, hidupku dipertahankan dengan obat-obatan kuat dan peralatan medis, menunggu operasi lebih lanjut.

Karena itu, ketika pengawal kembali berbicara, meskipun kesadaranku kabur, aku tetap mendengar suaranya.

"Kepala Keluarga, Tuan Daren tetap nggak datang ... dia mengutus asistennya."

Aku berhasil membuka mata dan melihat yang datang adalah asisten pribadi Freya, Anna.

Anna awalnya adalah asistenku.

Saat aku hamil, dia disuap Freya untuk merusak rem mobilku.

Kecelakaan itu hampir merenggut nyawaku.

Untungnya, pertolongan datang tepat waktu, sehingga aku bisa selamat.

Aku tidak ingin melepaskan pengkhianat itu dan hendak menghukumnya, tetapi Freya justru menghentikanku.

Aku masih mengingat hari itu dengan jelas.

Freya menggandeng lengan Daren, lalu menegurku dengan nada seolah-olah benar.

"Elisa, bagaimana bisa kau begitu nggak masuk akal? Anna bahkan nggak bisa menyetir, bagaimana mungkin dia merusak rem mobilmu?"

"Jangan-jangan kecelakaan ini kau rancang sendiri? Kalaupun kau ingin memakai penderitaan untuk menarik perhatian Daren, kau nggak seharusnya menjebak Anna."

Setelah mengatakannya, dia menoleh pada Daren dan berkata dengan suaranya manja, "Daren, bagaimana kalau Anna jadi asistenku saja? Aku nggak akan seperti orang tertentu yang mudah marah-marah pada asistennya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 10

    Enam bulan kemudian.Matahari Santio masih menyilaukan seperti biasa.Aku mengenakan gaun beludru hitam panjang dan berdiri di depan sebuah nisan baru di pemakaman keluarga.Di batu nisan itu tidak tertera nama, hanya terukir satu baris kecil.[Untuk malaikat kecil yang tak pernah kutemui.]Aku meletakkan seikat mawar putih di depan nisan, jemariku menyusuri marmer yang dingin.Lubang di hatiku belum sepenuhnya sembuh, tetapi sudah tidak lagi berdarah.Waktu adalah obat.Dari belakang terdengar langkah kaki yang mantap.Tanpa perlu menoleh, aku tahu siapa itu.Sebuah mantel yang masih menyimpan hangat tubuh disampirkan di pundakku."Anginnya kencang."Suara kepala keluarga terdengar di atas kepalaku.Aku merapatkan mantel itu. Di sana ada aroma cerutu dan kolonye yang biasa dia gunakan, menghadirkan rasa tenang."Kabar dari area tambang."Dia menyerahkan kepadaku sebuah berkas, nadanya datar, seolah membicarakan hal yang sama sekali tidak penting.Aku membuka berkas itu.Halaman pertam

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 9

    Malam hujan, di Restoran Luona di Bruolin.Sebuah Lincoln hitam berhenti di depan pintu.Aku dan kepala keluarga turun dari mobil tanpa membawa pengawal.Begitu pintu didorong terbuka, restoran itu sudah dikosongkan. Hanya ada satu meja makan, dan di sana duduk pemimpin keluarga musuh, Moretti, bersama seorang pengikutnya.Dia sedang memasukkan sepotong besar daging sapi berdarah ke mulutnya, cara makannya rakus dan menjijikkan.Pengikut Moretti menghadang kami. "Mohon bekerja sama untuk pemeriksaan tubuh."Kepala keluarga membuka kedua tangannya, membiarkannya memeriksa dirinya.Setelah dipastikan tidak ada apa-apa, pengikut itu menoleh ke arahku.Moretti menyeka minyak di sudut bibirnya, lalu tertawa licik. "Nona ini, biar aku sendiri yang memeriksa."Tatapan kepala keluarga mendadak dingin, dia hendak bergerak, tetapi aku menahan tangannya.Dengan wajah datar, aku melangkah maju dan membiarkan tangan Moretti yang gemuk menepuk-nepuk bagian luar mantelku.Tatapannya membuat muak, tet

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 8

    Aku berbalik menatap dua pengawal yang berjaga di pintu sambil menunggu perintah. Mereka adalah orang di keluarga yang khusus menangani "sampah". Wajah mereka tertutup topeng hitam, di tangannya tergenggam kotak peralatan yang berat."Bawa mereka ke tambang belerang di bagian Selatan Santio."Begitu mendengar kata tambang belerang, Daren dan Freya serempak menarik napas dengan ketakutan.Para penambang di sana kebanyakan adalah anggota mafia yang melakukan kejahatan berat atau para penjudi yang tidak mampu melunasi utang.Itu adalah neraka dunia yang sesungguhnya, panas ekstrem, gas beracun, kerja paksa tanpa henti."Nggak! Elisa, kau nggak bisa melakukan ini padaku! Aku suamimu!" teriak Daren putus asa."Mantan suami," ujarku mengoreksi, "karena Nona Freya sangat suka berakting, biarkan dia pergi berakting dengan baik untuk para penambang. Aku yakin mereka akan sangat senang melihat perempuan secantik dia tampil setiap hari.""Nggak!" Jeritan Freya terdengar melengking dan memilukan.

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 7

    Udara di ruang bawah tanah begitu pengap, bercampur dengan bau karat besi, jamur, dan aroma anyir yang membuat mual."Nggak ... nggak mungkin!" Freya menjerit, jari-jarinya mencengkeram jeruji kandang besi dengan kuat hingga kuku-kukunya patah tanpa dirinya sadari. "Aku dijebak! Anna, perempuan jalang itu, sedang berbohong! Dia iri padaku! Elisa, kau nggak boleh percaya kata-kata orang gila itu!"Aku berdiri di luar kandang besi, tubuhku diselimuti mantel wol hitam tebal. Mantel itu sengaja dikirim oleh kepala keluarga untuk menangkal dinginnya ruang bawah tanah.Aku menatap Freya seperti menatap seekor tikus yang sedang sekarat dalam perangkap."Anna gila atau nggak, semuanya tertulis jelas dalam catatan interogasi."Aku mengeluarkan setumpuk berkas yang sedikit berlumur darah dari saku mantel, lalu melemparkannya begitu saja ke dalam kandang besi.Kertas-kertas itu berserakan di kaki Freya, penuh dengan catatan rinci tentang rekaman komunikasi dan transaksi keuangan antara dirinya da

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 6

    Kepala keluarga memandang pasangan yang saling mencabik itu dengan tatapan penuh jijik.Dia menarik kembali pistolnya, lalu memberi isyarat dengan tangan kepada anak buahnya.Beberapa pengawal bertubuh kekar bergegas masuk, menyeret Daren dan Freya seperti menyeret bangkai anjing."Bawa mereka ke ruang interogasi. Aku akan menginterogasi mereka sendiri."Kepala keluarga berjalan ke pintu, lalu berhenti dan menoleh ke arahku."Elisa, kau adalah penasihat keluarga. Kau memiliki wewenang untuk menangani perkara ini. Setelah lukamu agak pulih, kau yang akan memutuskan hidup dan mati mereka."Aku menatap punggung mereka yang diseret pergi, tetapi di hatiku tidak muncul kepuasan seperti yang kubayangkan.Anakku telah tiada. Sekalipun nyawa mereka diambil, itu tidak akan bisa mengembalikan nyawa anakku.Beberapa hari berikutnya, aku bekerja sama dengan dokter untuk menjalani perawatan.Setiap hari kepala keluarga datang menjengukku, dan dia membawa sebuah kabar.Serangan teroris itu bukanlah

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 5

    Tangan Daren membeku di udara, moncong pistolnya masih mengarah ke pelipisku.Namun, lehernya bergerak seperti roda gigi berkarat, berputar perlahan dengan tersendat.Saat dia melihat jelas siapa yang datang, seakan-akan seluruh darah di tubuhnya tersedot habis. Wajah angkuh itu seketika pucat pasi."Ke ... Kepala Keluarga?"Pistol di tangan Daren terjatuh ke lantai."Kenapa Anda bisa ada di sini?"Freya jelas masih belum memahami situasi.Dia belum pernah melihat sosok pria yang konon mengendalikan seluruh dunia hitam Santio.Di mata Freya, dia hanyalah seorang berandalan kecil dengan kemeja kotor berlumuran darah dan aura penuh kekerasan.Freya mengernyitkan hidung dengan jijik, tetapi tetap merangkul lengan Daren sambil bersikap manja."Daren, siapa pria ini? Kenapa tubuhnya penuh darah, jorok sekali. Dia juga aktor yang dipanggil Elisa, ya?"Plak!Sebuah tamparan nyaring menggema di ruang rawat.Yang melakukannya bukan orang lain, melainkan Daren.Tamparan itu dilakukan dengan seku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status