Short
Kali Kesembilan Dia Pergi

Kali Kesembilan Dia Pergi

By:  EchoCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
16Chapters
3.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tiga tahun setelah aku menjalani pernikahan yang diatur dengan pewaris Keluarga Wiranegara, orang yang pernah pergi, kembali lagi. Sudah delapan kali dia meninggalkanku demi Julisa. Kali ke-sembilan, dia meninggalkanku bersimbah darah di pinggir jalan akibat tembakan, hanya untuk lari menemui Julisa yang meneleponnya karena merasa sedikit pusing. "Dia membutuhkanku. Kamu mengerti, 'kan, Kirana?" Kali ini, aku tidak berjuang untuknya. Dia tidak tahu tentang taruhan yang kubuat dengan Julisa. Kali ke-sembilan dia meninggalkanku, aku yang akan pergi untuk selamanya. Jadi, pada hari ulang tahunnya, aku meletakkan selembar akta cerai yang sudah ditandatangani di mejanya, lalu naik pesawat meninggalkannya.

View More

Chapter 1

Bab 1

Sejak mantan Raka, Julisa, kembali ke kota, dia menantangku secara terang-terangan. Raka diberi sembilan kesempatan untuk memilih di antara kami dalam situasi hidup atau mati. Dan orang yang ditinggalkannya untuk ke-sembilan kalinya harus pergi meninggalkan segalanya.

Aku setuju.

Untuk ke-sembilan kalinya, hanya satu panggilan dari Julisa membuat Raka meninggalkanku lagi di pinggir jalan.

"Jalan! Ayo pergi!"

Suara Raka tajam, bergetar panik. Itu sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku menahan nyeri tembakan di perut, darah merembes di sela jariku, menodai kemeja sutra putihku.

"Raka, tunggu aku ...."

Brak! Pintu mobil tertutup keras.

Mesin meraung, ban menderu saat BMW hitam itu melaju meninggalkanku.

Suamiku meninggalkanku demi wanita lain. Lagi. Semua gara-gara wanita itu mengeluh pusing di rumah, padahal kami baru saja selamat dari baku tembak, dan aku sendiri sedang kehilangan banyak darah di sebuah gang sempit.

Aku bersandar pada dinding bata yang dingin, tangan gemetar saat meraih ponsel dari saku. Dengan napas tersengal, kuhubungi asistanku, Merry, minta dia menjemputku.

Ke-sembilan kalinya.

Aku memikirkan kembali taruhan menjijikkan yang disarankan Julisa setahun lalu. "Sembilan kali pilihan. Kita lihat siapa yang dipilih Raka. Yang kalah, harus pergi."

Yang pertama, terjadi di pemakaman ibuku. Sebuah keluarga lawan menyerbu upacara itu, menembaki kerumunan. Tanpa ragu, Raka menerobos, menempatkan dirinya di antara Julisa dan bahaya.

Yang kedua terjadi saat upacara pengangkatan dirinya. Sebuah bom meledak, dan lagi, naluri pertamanya sama, melindungi Julisa.

Ketiga, keempat, kelima kali ….

Setiap kali, tanpa pikir panjang, Raka selalu memilih Julisa.

Dan aku? Kirana Wiranegara. Wakil bos. Aku yang mengatur setengah kota. Namun, baginya … aku selalu menjadi orang bodoh yang harus mencari alasan setiap saat.

"Mungkin dia cuma panik."

"Mungkin dia pikir aku bisa jaga diri sendiri."

"Mungkin dia tahu Julisa yang paling butuh perlindungan."

Semua itu omong kosong belaka.

Langkahnya bergema di gang sempit. Julisa muncul di pintu, gaunnya bersih tanpa noda, rambutnya tertata rapi, dan senyum kemenangan yang selalu berhasil membuatku muak, terpampang di wajahnya.

"Yah, lihat siapa ini. Kirana Wiranegara yang hebat, berlumuran darah di samping tempat sampah," ucapnya sambil melangkah mendekat. "Ini sudah ke-sembilan kalinya, Kirana. Mau bilang apa lagi?"

Aku menatap Julisa. "Aku kalah."

Dari dalam jas, aku merogoh sebuah dokumen yang terlipat rapi, dokumen yang sudah lama kubuat. "Surat cerai. Sudah kutandatangani. Ambil saja."

Julisa mengambil dokumen itu, senyumnya melebar penuh kemenangan. Tapi dia belum selesai menusuk dengan kata-kata. "Raka baru saja mengirimiku pesan. Dia bilang sedang dalam perjalanan, dan aku harus menunggu dia. Dia … benar-benar sudah melupakanmu."

"Cukup," kataku, menutup mata sejenak. "Kamu sudah dapat apa yang kamu mau. Sekarang, pergilah."

"Jadi, kapan kamu akan menepati janjimu?"

"Satu bulan. Aku butuh waktu untuk menata urusan Keluarga Wiranegara."

...

Aku berbaring di ranjang rumah sakit pribadi, setelah dokter berhasil mengeluarkan peluru itu. Pikiran-pikiranku tanpa sadar kembali terseret ke masa lalu.

Tiga tahun yang lalu, Raka yang melamarku.

Saat itu, keluargaku hanyalah pemain kecil, sementara ayahku sudah menyiapkan rencana untuk menikahkan aku segera setelah lulus, semata demi keuntungan baru. Keluarga Wiranegara adalah kekuatan terbesar di kota, dan aku tak pernah membayangkan akan masuk ke dalam dunia mereka melalui pernikahan.

Waktu itu, Raka sedang mengejar Julisa. Seluruh kota seolah tahu, tetapi entah kenapa, mereka tak pernah resmi bersama. Pada akhirnya, Julisa meninggalkan Vargas.

Aku pernah bertanya padanya mengapa dia ingin menikah denganku. Raka menggenggam tanganku dengan lembut, menatap mataku, lalu berkata, "Aku sudah memperhatikanmu sejak lama …. Cara kamu menghadapi intimidasi, betapa seriusnya kamu menekuni studimu .…"

Aku tak bisa berkata tidak. Lagi pula, diam-diam aku sudah menyukai Raka yang sombong dan tampan itu bertahun-tahun.

Selama tiga tahun pernikahan kami, aku memberikan segalanya untuk Keluarga Wiranegara untuk membuktikan bahwa aku pantas untuknya. Aku merangkak naik hingga dapat posisi wakil bos, berpikir bahwa suatu hari nanti, dia akhirnya akan melihatku. Dan untuk sementara, rasanya memang begitu.

Namun, semuanya berubah setahun lalu, pada hari Julisa kembali.

...

Sementara itu, di apartemen mewah Julisa .…

Julisa bersandar di pelukan Raka, matanya berkaca-kaca saat menatap pria itu. "Terima kasih sudah buru-buru datang. Sebenarnya tidak apa-apa … tapi aku harap Kirana tidak salah paham."

Raka yang baru saja menikmati kedekatannya, menegang saat nama Kirana disebut, tetapi segera kembali rileks.

Kirana selalu begitu pengertian. Dia hanya perlu menjelaskan nanti saat kembali.

"Kesehatanmu yang paling penting. Kirana bisa mengurus dirinya sendiri. Dia akan mengerti."

Julisa tersenyum, lalu mengeluarkan dokumen perceraian yang kuberikan padanya.

"Apa ini?" tanya Raka, melirik dokumen itu.

"Sesuatu yang penting dan butuh tanda tanganmu," kata Julisa, dengan cekatan membalik dokumen ke halaman tanda tangan. "Kirana bilang ini cuma … surat kuasa saja. Untuk urusan bisnis pelabuhan."

"Surat kuasa?" Raka mengerutkan dahi. "Kenapa dia tidak memberikannya langsung padaku?"

"Dia memang sedang sangat sibuk belakangan ini." Julisa mendesis manja, sambil menyerahkan sebuah pena kepadanya. "Tinggal tanda tangan saja. Tidak masalah."

Tanpa pikir panjang, Raka menandatangani namanya. Dia tidak menyadari baru saja menandatangani sesuatu yang berarti menyerahkan pernikahannya.

Julisa menyimpan dokumen itu, senyum licik tersungging di bibirnya. "Raka, Sayang, Kirana dan aku punya kejutan besar untukmu. Kamu akan tahu dalam sebulan."

"Kejutan apa?"

"Jangan khawatir," bisiknya manja. "Kamu pasti akan menyukainya."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
16 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status