Share

Bab 2

Penulis: KarenW
Sudut Pandang Arumi.

Rasanya hatiku nggak hancur lagi, tapi langsung berubah jadi abu di dalam dadaku.

Aku menatap mata Nathan.

“Kukira kamu paham diriku. Aku akan minta maaf kalau aku memang salah. Tapi Ayu?”

Aku meliriknya, masih terkulai dalam pelukan Rudi, tampak terkejut dan rapuh.

“Aku nggak akan minta maaf ke orang yang jatuh karena salahnya sendiri. Bahkan jika itu artinya kita putus.”

Setelah kata-kata itu keluar, aku lihat sesuatu berkelebat di mata Nathan, keraguan, bahkan mungkin penyesalan.

Namun itu cepat hilang. Yang tersisa hanya amarah dan jijik.

“Kalau gitu, pergi sana. Kamu nggak diterima di sini lagi,” kata Nathan dingin.

Aku angkat daguku.

“Aku pun sama.”

“Arumi, aku minta maaf, aku nggak bermaksud ….”

Ayu bergegas ke arahku, cengkeram pergelangan tanganku dengan kedua tangannya, mata terbelalak, putus asa.

Nathan lepaskan pegangan dia dariku dengan lembut.

“Bukan kamu yang harus minta maaf, Ayu.”

“Benar banget. Kenapa Arumi selalu begitu merendahkan?”

Kerumunan mulai bergejolak.

Bisikan berubah jadi tuduhan.

Begitulah, arus kembali berbalik lawan aku, seperti yang selalu terjadi setiap kali ada Ayu.

Segelas sampanye hantam wajahku. Dingin dan tiba-tiba.

Aku nggak tahu siapa lemparkan itu.

Aku dengar Nathan menarik napas tajam. Lihat Rudi menegang.

Selama sepersekian detik, mereka kelihatannya seperti akan hampiri aku.

Namun kemudian Ayu keluarkan suara batuk kecil yang rapuh.

“Aduh … pergelangan kakiku .…”

Dan begitu saja, perhatian mereka berpindah.

“Dia pantas dapatkan itu. Bukannya dia yang dorong si gadis ulang tahun? Segelas dibalas segelas,” gumam seseorang.

Nathan tetap di sisi Ayu. Rudi juga.

Alis mereka berkerut, tapi nggak satu pun bergerak.

“Nathan, aku nggak apa-apa. Tolong, periksa Arumi dulu .…” Suara Ayu lembut, penuh pengorbanan.

Nathan menggeleng.

“Nggak. Ayo, kita ganti gaunmu. Kamu kan yang ulang tahun, nggak seharusnya kamu pakai gaun basah.”

Ia melirikku setengah detik. Tatapannya nggak terbaca.

Lalu ia genggam tangan Ayu dan jalan pergi.

Aku menatap mereka untuk terakhir kalinya, hanya sekali, lalu segera balikkan badan.

Suara Nathan mengejarku.

“Aku kecewa dengan kamu, Arumi. Nanti kita akan bicara lagi. Aku mau penjelasan.”

Aku nggak berhenti jalan sampai tiba di mobilku.

Sopirku berkedip kaget.

“Nona Arumi, kamu kenapa?”

Gaunku menempel di tubuhku, berat dan basah.

Aku nggak butuh cermin untuk tahu maskaraku pasti sudah luntur di pipiku.

“Pestanya selesai. Antar aku pulang ke Vila Sekar. Aku capek,” kataku pelan.

Aku sandarkan kepala, biarkan keheningan menelanku, pikiranku terus memutar ulang semuanya.

Aku terlalu baik. Terlalu mudah memaafkan.

Nathan dan Rudi nggak pantas dapat semua kesempatan yang telah aku berikan.

Begitu aku melangkah ke dalam Vila Sekar, aku nggak ragu lagi.

Aku angkat telepon dan telepon ayahku.

“Ayah, tentang perjodohan itu … aku siap. Lanjutkan saja,” kataku.

Suaranya terdengar lega.

“Akhirnya kamu sudah pikirkan itu dengan matang? Nathan anak yang baik, tapi dia memang nggak pernah cocok dengan kamu.”

Ayah benar.

Nathan nggak cocok.

Setiap kali butuh dia di sisiku, setiap kali itu penting, dia pilih orang lain.

Pria seperti itu nggak pantas untukku.

Nggak sekarang. Nggak akan pernah.

Berarti ini selamat tinggal, Nathan.

Aku akan nikah dengan orang lain.

Dan kali ini, kamu nggak akan punya kesempatan untuk nyesal.

Bahkan mungkin kamu nggak akan terima undangan.

Dua hari berikutnya, aku bergerak cepat.

Aku lepaskan semua pelayan, semua sopir, pastikan mereka dapatkan tempat baru, keluarga yang akan perlakukan mereka dengan baik.

Lalu aku mulai bereskan barang-barangku sendiri.

Vila Sekar ini telah jadi milikku selama bertahun-tahun.

Orang tuaku pindah ke Itahera nggak lama setelah aku masuk kuliah.

Sekarang, karena aku punya rencana untuk pergi, aku jual Vila Sekar ini dan semua isinya.

Aku nggak akan butuh apa pun lagi begitu aku bergabung dengan orang tuaku di Itahera, tempat pernikahanku akan berlangsung.

Tunangan baruku, seorang pria yang belum pernah aku temui, namanya Simon Marzuki, pewaris keluarga mafia besar di Itahera.

Ayahku bicara tentang Simon seolah ia adalah sebuah hadiah.

Aku selalu pikir aku akan nikah karena cinta.

Namun kini aku jadi gadis yang dulu aku benci, nikah demi kepentingan keluarga.

Meski begitu, itu masih lebih baik daripada buang satu detik lagi untuk Nathan dan segala alasannya.

Saat beres-beres barang, aku sadar kalung pemberian ibuku hilang.

Aku baru ingat, aku pasti tinggalkan itu di kantorku, yang ada di dalam kasino milik Nathan.

Aku nggak pernah berniat injakkan kaki di tempat itu lagi.

Namun aku butuh kalung itu.

Aku pun tarik napas dalam-dalam dan berharap, sungguh berharap, aku nggak ketemu Nathan atau Rudi.

Aku nggak punya energi untuk hadapi penghakiman dan tuduhan satu putaran lagi.

Begitu aku melangkah masuk ke kasino, aku rasakan tatapan penasaran, bisik-bisik yang tertahan.

“Nona Arumi, Pak Nathan bilang kamu nggak boleh masuk tanpa seizinnya. Sekarang kami sedang hubungi dia,” kata salah satu resepsionis dengan lembut.

Beberapa menit kemudian, Nathan muncul.

“Kamu ngapain di sini?”

Aku lewati dia begitu saja.

“Cuma ambil beberapa barang dari kantorku. Tenang saja, aku nggak akan lama.”

Ia ikuti aku masuk ke lift.

“Arumi, tentang hari itu ….”

Pintu lift terbuka dua detik kemudian, dan aku melangkah keluar tanpa sepatah kata pun.

Aku nggak perlu dengar sisanya.

Aku sudah tahu.

Nathan hanya akan minta aku minta maaf ke Ayu lagi.

Nathan ikuti aku sampai ke kantorku, tapi nggak berkata apa-apa lagi.

Aku pun temukan kalung ibuku di dalam laci, tepat di tempat yang aku duga.

Lalu aku angkat kepala dan lihat foto-foto di papan visi.

Aku dan Nathan.

Aku, Nathan, dan Rudi.

Kami semua tersenyum begitu cerah waktu itu.

Sekarang, semuanya terasa seperti lelucon kejam.

Satu per satu, aku turunkan fotonya.

Lalu aku robek itu.

“Kamu ngapain?!” bentak Nathan sambil lari ke arahku.

Ia coba rebut foto-foto itu dari tanganku, tapi sudah terlambat.

Semua sudah terobek.

Ia menatapku, terkejut dan marah.

“Arumi, aku mau penjelasan. Sekarang. Kenapa kamu bertingkah kayak anak kecil?”

Aku menatapnya, tenang, stabil, dan nggak terguncang.

“Nggak apa. Aku cuma ingin dekor ulang. Itu semua sampah. Aku nggak mau benda-benda itu ada lagi di kantorku.”

Lalu aku lepaskan tangannya, lempar potongan foto ke tempat sampah, dan buka sekaleng cola.

Tanpa ragu, aku tuangkan cola itu ke atas kertas-kertas foto itu sampai semuanya basah dan menghitam.

“Sampah? Itu kenangan kita. Kamu yang ambil semuanya. Kamu pajang itu, jaga itu seperti benda suci. Dan sekarang kamu bilang itu sampah? Kamu gila yah?!” Suara Nathan meninggi.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 10

    Sudut Pandang Arumi.Hidup di Rowana rasanya begitu nikmat.Ayah mulai serahkan sebagian bisnis ke aku, terutama divisi kasino. Lebih dari sekali ia ingatkan aku, “Aku nikahkan kamu dengan Simon bukan karena anggap kamu sebagai alat tukar bisnis. Aku nikahkan kamu dengan dia karena aku tahu dia orang yang tepat. Dan kalau kamu akan hidup bersama pria seperti Simon, kamu juga harus sama kuatnya.”Aku setuju banget dengan ucapan ayah.Jadi aku ambil kendali. Di bawah kepemimpinanku kasino-kasino berkembang pesat. Simon nggak pernah sekalipun suruh aku melambat atau pilih jalan yang lebih mudah. Ia percaya ke aku.Sama seperti aku percaya ke diriku sendiri.Pagi ini, saat aku bangun dari tempat tidur, aku baru sadar sesuatu, aku belum buka hadiah pernikahan.Aku dan Simon langsung pergi bulan madu setelah upacara pernikahan selesai. Setelah itu aku tenggelam dalam pekerjaan. Kotak-kotak hadiah itu hanya tertumpuk begitu saja.Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruangan tempat para staf

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 9

    Sudut Pandang Nathan.Setelah kami diusir oleh Arumi dan keluarganya, aku dan Rudi tetap nggak tinggalkan Rowana.Kami putuskan untuk tinggal, setidaknya sampai hari pernikahannya.Pada hari kesepuluh di sini, kami ketemu dengan Simon. Tunangan Arumi.Aku ragu itu kebetulan.Desas-desus bilang kalau setengah dari Itahera itu punya Simon.“Jadi kamu Nathan Mulin,” katanya dengan tatapannya tenang namun menilai.Rudi yang berdiri di sampingku melangkah maju.“Rudi Safwan. Sahabat Arumi sejak kecil.”Simon jabat tangannya dengan sopan, lalu kembali pusatkan perhatian penuh ke aku.“Aku sudah baca sedikit tentang kalian berdua.”Senyumnya ramah, tapi nggak tulus sampai ke matanya.“Dan aku akan sangat hargain kalau kalian menjauh dari Arumi. Dia mungkin kelihatannya kuat, tapi aku perhatikan … setiap kali ketemu kalian, dia selalu kelihatan gelisah.”“Kamu ….” Rudi mulai bicara, tapi aku angkat tangan hentikan dia.“Simon, hubunganku dengan Arumi bukan urusanmu. Kami sudah saling kenal sel

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 8

    Sudut Pandang Arumi.Sejak tiba di Rowana, aku belum ketemu lagi dengan Simon.Sebenarnya bagus juga, karena aku sendiri belum yakin gimana perasaanku kalau harus lihat dia lagi.Yang aku tahu cuma satu: sebagian dari diriku merasa sangat berutang budi ke dia.Kalau nggak karena dia, aku nggak akan berada di sini, hidup dan masih bisa bernapas.“Arumi! Ada tamu penting buat kamu!” Suara Ibu terdengar dari ujung lorong.Pikiranku langsung kembali ke masa kini.Langkah kaki bergema di lantai marmer.Kurang dari sepuluh detik kemudian, pria dari malam itu melangkah masuk.Simon Marzuki.Setelan rapi yang sama. Langkah percaya diri yang sama. Dan senyum itu .…“Nona Danastri,” sapanya sambil hampiri dan kasih aku buket bunga yang ada di lengannya.Mawar merah muda. Favoritku.“Panggil aku Arumi saja,” kataku sambil tersenyum.Ia balas senyum itu dengan manis.“Oke, Arumi.”“Simon, sini duduk dulu.” Ibu berkata sambil masuk ke ruangan, ramah dan hangat.Aku menangkap gimana tatapannya berla

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 7

    Sudut Pandang Nathan.Pintu tiba-tiba terbuka.“Kenapa? Apa yang terjadi?” Rudi menerobos masuk, matanya berpindah dari Ayu yang tergeletak di lantai ke arahku.Ia bergerak hendak tolong Ayu untuk bangkit berdiri, tapi Ayu tepis tangannya.“Oh, nggak perlu.”Rudi menegang. Ia menatapku, keraguan berkilat di matanya.“Nathan?”Ayu berdiri, rapikan gaunnya seolah nggak terjadi apa pun.“Kami cuma sedang ngobrol senang banget akhirnya Arumi pergi. Yah nggak, Rudi?” katanya ringan.“Apa? Ayu, jangan bicara kayak gitu tentang Arumi. Aku tahu dia kejam ke kamu, tapi itu nggak berarti dia nggak ….” kata Rudi sambil kerutkan kening.“Dua orang munafik,” potong Ayu dengan seringai sinis.Sesuatu di dadaku mengencang.“Ayu, apa benar yang Arumi bilang kapan lalu? Kalau kamu jatuh sendiri lalu nyalahkan dia?” kataku perlahan.Untuk pertama kalinya, Ayu menatapku tanpa kelembutan atau topeng apa pun.“Menurutmu gimana?” tanyanya.Aku berdiri, melangkah ke arahnya, dan berhenti hanya beberapa inci

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 6

    Sudut Pandang Nathan.Sudah tiga hari sejak Arumi tinggalkan kota ini.Awalnya, aku dan Rudi tetap tinggal di vila-nya dan nggak mau pergi. Sebagian dari diriku masih berharap Arumi bohong, dia nggak benar-benar akan pindah ke belahan dunia lain dan nikahi seseorang yang belum pernah ia temui.Namun kemarin, pemilik baru vila itu datang, pastikan kecurigaan kami. Arumi nggak melebih-lebihkan saat bilang kalau ia mau jual vila itu.Keluarganya telah miliki vila itu hampir satu abad. Aku hanya bisa bayangkan ia jual Vila itu karena ia memang nggak punya niatan untuk kembali, setidaknya nggak untuk menetap.Setiap detik, kecemasan di dadaku semakin besar. Rudi juga rasakan itu. Nggak satu pun dari kami pernah benar-benar bayangkan hidup tanpa Arumi.Kami telah bersama begitu lama, sejak kecil selalu bertiga. Bahkan sebelum aku sadar aku cinta dia. Kami seperti sebuah keluarga.“Hey, Nathan, gimana kabarmu?” Rudi masuk saat aku tuangkan segelas wiski lagi.Itu botol keempatku.Semakin bany

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 5

    Sudut Pandang Arumi.Aku menunduk menatap tangan Nathan yang cengkeram pergelangan tanganku.Lalu aku menatap wajahnya.“Lepaskan, Nathan.”Dia nggak mau lepaskan tanganku.“Pernikahan apa? Jangan-jangan kamu beneran mau nikah dengan orang lain?” tanyanya lagi, rahangnya mengeras.Aku tarik tanganku.“Iya, emang.”“Kamu bohong. Ini pasti cuma salah satu permainanmu, Arumi. Aku nggak tahu kenapa kamu selalu buat Nathan dan aku merasa bersalah,” kata Rudi di belakangnya.Lalu ia menoleh ke Nathan.“Tenang saja. Dia nggak akan benar-benar lakukan itu.”Aku menatapnya.“Aku sudah lakukan itu. Dokumen pertunangannya sudah ditandatangani. Pernikahannya di Itahera. Beberapa minggu lagi.”Nathan menatapku seolah nggak ngerti kata-kataku.“Emang siapa dia?”Aku nggak jawab.“Siapa dia, Arumi?!” bentaknya.Pria yang biasanya selalu tenang kini tampak hancur.Aku raih kartu di dalam kotak dan sentuh itu dengan ujung jariku.“Namanya Simon Marzuki.”Rudi berkedip.“Tunggu, Simon dari Itahera? Gima

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status