Share

Menyembunyikan Amira

Penulis: Mediasari012
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 11:47:34

Tepat pukul sembilan malam, hujan badai telah berhenti. Namun, riuh di jalanan justru semakin menjadi. Komplotan para gangster mulai keluar dari sarangnya.

Di bawah pimpinan Ken, ratusan gangster memulai pencarian besar-besaran. Mereka memasuki rumah warga satu per satu tanpa mengenal takut. Hanya dengan menyebut nama Sekretaris Ken dan Tuan Arsya, para pemilik rumah dengan pasrah mempersilakan mereka menggeledah setiap sudut.

Suara bising motor gede memenuhi jalanan, membuat siapa pun yang menyaksikannya bergidik ngeri. Tidak ada satu pun tempat yang luput dari pencarian itu.

“Ken, lakukan sesuatu atau kau akan habis di tanganku,” ucap Arsya melalui sambungan telepon.

“Tanpa Tuan Muda memberi titah, saya sudah bertindak,” jawab Ken. Pandangannya kosong sambil mengusap luka sobek di ujung bibirnya.

“Aku tunggu kabar darimu, Ken!” bentak Arsya.

Tanpa menunggu jawaban, sambungan telepon langsung terputus.

Ken menyandarkan kepalanya ke kursi kemudi. Pikirannya kacau. Ia terus memikirkan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Phobia Arsya

    Ken meninggalkan kamar Tuannya dengan langkah cepat, rahangnya mengeras menahan cemas yang terus menggerogoti dadanya. Pintu kamar tertutup di belakangnya, menyisakan kegelisahan yang belum juga reda.“Semoga Tuan muda baik-baik saja,” gumam Ken lirih, nyaris seperti doa.Ia menuruni tangga dengan tergesa. Baru saja mencapai lantai bawah, langkahnya terhenti ketika sosok Riana sudah berdiri menghadangnya. Wajah wanita paruh baya itu tampak pucat, matanya menyiratkan kekhawatiran yang sulit disembunyikan.“Ken, bagaimana keadaan Arsya?” tanya Riana dengan suara bergetar.“Nona muda sudah menanganinya, Nyonya,” jawab Ken sopan. “Saya akan memanggil Dokter Virgo.”“Baik. Cepat suruh dia ke sini,” ucap Riana tanpa ragu.“Baik, Nyonya.”Ken segera meraih ponselnya dan menepi sedikit, lalu menelepon dokter Virgo dengan ekspresi serius.Sementara itu, Aiden yang duduk tak jauh dari sana hanya bisa memperhatikan semua itu dengan dahi berkerut."Emang lukanya separah itu sampai harus manggil d

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Luka

    “Setelah aku keluar tadi, apa Amira tidak turun?” tanya Arsya.“Tidak, Tuan.”“Ambilkan aku pisau dan piring,” ucap Arsya sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah.“Baik, Tuan.”Kepala pelayan itu segera bergegas menuju dapur, mengambil pesanan Arsya, lalu kembali ke ruang tengah.“Ini, Tuan.” Pak Heru menyerahkan piring dan pisau itu.“Istirahatlah, Pak Heru. Tidak usah mengikutiku.”“Baik, Tuan. Selamat beristirahat,” ucap Pak Heru sembari menganggukkan kepala.Arsya berdiri dari duduknya, lalu berjalan cepat menaiki tangga. Ia sudah tidak sabar ingin memberikan mangga hasil curiannya itu pada Amira.“Nona muda, apa Anda sedang membalas dendam pada Tuan muda?” gumam Pak Heru, terlihat menahan tawanya.Sedangkan di dalam kamar ...Setelah membersihkan dirinya, Arsya merebahkan tubuh di samping Amira yang masih tertidur pulas. Ia memandangi wajah istrinya sembari mengusap pipi itu dengan lembut, berharap Amira terbangun.Amira menggeliat, lalu kembali tertidur.“Kamu tidur ap

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Mengganti Curian Mangga Dengan Uang

    Setelah dirasa situasi sudah aman, Ken dan Arsya segera keluar dari tempat persembunyian. Mereka melewati jalan gang yang berbeda.“Hoek! Hoek!”Arsya terlihat mengeluarkan isi perutnya. Ia sudah menahan muntah sejak tadi.“Pasti muntah gara-gara tai kambing tadi,” gumam Ken.“Ken!”“Ya, Tuan.”“Kamu masih ingat wajah orang yang mengejar kita tadi?”“Masih, Tuan. Dia pemilik pohon mangga tadi.”“Kamu tahu rumahnya?”“Rumahnya tidak jauh dari pohon itu. Masih satu halaman, Tuan,” jawab Ken.“Bagus,” ujar Arsya singkat.Mereka berjalan cepat menuju mobil. Sebelum Ken membukakan pintu, Arsya sudah lebih dulu masuk dengan tergesa.“Ken, ambilkan kertas dan pulpen.”Ken langsung meraih tas kerjanya yang selalu ia bawa ke mana-mana. Tanpa banyak bertanya, ia menyerahkan apa yang diminta Arsya.Arsya menulis di kertas putih itu dengan cepat.(Pak, maaf saya sudah mencuri mangganya. Saya hanya mengambil lima biji. Ini ada sedikit rezeki, semoga bisa mengganti mangga yang sudah saya ambil. Mo

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Demi Cinta

    Arsya beranjak dari tempat tidur, ia mematikan lampu lalu keluar dari kamarnya. Ia berjalan cepat menuruni tangga.Terlihat sekretaris Ken sedang duduk di ruang tengah dengan laptop yang ada di pangkuannya. Ia sedang menunggu Arsya untuk mengabulkan ngidam ibu hamil itu.Melihat kedatangan Arsya, ia sontak menutup laptopnya dan langsung berdiri. Ia memang belum pulang, karena Arsya yang mencegahnya tadi."Kamu sudah siap, dan sudah tau tempatnya dimana?" tanya Arsya saat sudah berada di dekat Ken."Iya, Tuan.""Ayo kita berangkat mengerjakan misi yang sangat sulit ini," ucap Arsya sembari melangkah keluar rumah, diikuti Ken di belakangnya.Mereka menggunakan mobil sport yang jarang sekali digunakan oleh Arsya. Karena mobil yang biasa mereka pakai sudah sangat dikenali oleh masyarakat.***Mereka sudah sampai di daerah yang lumayan jauh dari kota, di sebuah desa yang terlihat sangat sunyi, karena sekarang sudah hampir jam sebelas malam.Mereka hanya mendengar suara jangkrik yang bersah

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kisah Amira

    Setelah selesai makan malam yang penuh drama dan penolakan dari Amira, mereka berdua segera menaiki tangga untuk menuju ke kamar.Sesampainya di kamar, Amira langsung berlari ke kamar mandi."Hoek!"Amira kembali memuntahkan isi perutnya di wastafel. Tangannya bergetar hebat sembari berpegangan di dinding kamar mandi, keringat dingin sudah mengucur deras."Kenapa aku begini lagi? Padahal kemarin-kemarin udah mendingan. Nak, kamu mau cari perhatian Papa kamu ya? Kamu pintar sekali," gumam Amira sembari mengusap perutnya.Ia terkejut saat mendapati Arsya sudah memeluknya dari belakang. Dari pantulan kaca, wajahnya sudah terlihat sangat gelisah."Kerumah sakit sekarang ya, wajah kamu pucat sekali!" bisik Arsya."Aku kuat kok, cuma lemes aja sedikit," ucap Amira sembari tersenyum.Ia bergegas keluar dari kamar mandi, ia tidak menghiraukan Arsya yang masih memeluk dirinya dari belakang.Brughh!Amira ambruk di tempat tidur begitu saja. Sementara Arsya sudah duduk dan bersandar di tempat ti

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Rahasia Ken dan Arsya

    Tiga belas tahun yang lalu …Arsya kecil duduk meringkuk di samping pusara sang Papa yang masih basah. Setelah acara pemakaman, seluruh keluarga dan kerabat Papanya telah bubar, meninggalkan area pemakaman satu per satu.Kini hanya tersisa Arsya, Ken, dan Lion—ayah dari Ken sekaligus orang kepercayaan mendiang Papa Arsya semasa hidupnya.“Arsya, sampai kapan kamu akan berada di sini?” tanya Lion.“Sampai Papaku bangun lagi, Paman,” jawab Arsya pelan.“Kamu harus tetap meneruskan hidup. Kalau kamu seperti ini, Papamu pasti kecewa. Kamu putra mahkota Arkana Group. Tidak sepantasnya seorang putra mahkota bersikap seperti ini. Bangun, Arsya!” ucap Lion tegas.Lion memang terkenal tegas dalam segala keadaan. Tak heran jika ia menjadi tangan kanan di perusahaan terbesar itu. Sikap kerasnya bukan hanya ia tunjukkan pada Arsya, tetapi juga pada anak laki-lakinya sendiri—tanpa toleransi sedikit pun.Sejak Ken berusia tujuh tahun, ayahnya sudah menggemblengnya hingga menjadi laki-laki berdarah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status