Share

Arsya vs Ken

Author: Mediasari012
last update Last Updated: 2025-12-26 18:22:38

Duar!! Zrashh!!

Hujan deras mengguyur kota itu. Suara petir bersahut-sahutan, seolah alam pun sedang tidak baik-baik saja malam ini.

Amira berlari menuruni tangga. Berkali-kali ia menyeka air matanya. Sesampainya di lantai satu, langkahnya melambat. Suasana rumah itu terlihat hening.

Ia berjalan cepat menuju pintu utama, namun langkahnya terhenti ketika mendapati Pak Heru berdiri di sana. Kepala pelayan itu mengangguk hormat saat melihat Amira.

“Tuan muda sudah menelepon saya, Nona. Beliau bilang Nona akan keluar sebentar,” ucap Pak Heru sambil menyodorkan payung. “Hati-hati, Nona. Cuaca malam ini sedang buruk.”

“Terima kasih, Pak,” jawab Amira lirih.

Ia menerima payung itu, lalu melangkah keluar, menjauh dari rumah mewah milik Arsya.

Pak Heru menatap kepergian Amira dengan perasaan campur aduk.

“Baru kali ini saya melihat raut sedih di wajah Anda, Nona. Biasanya Anda setegar karang,” gumamnya. “Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti hidup Anda.”

Pandangan Pak Heru mengikuti langkah Am
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Demi Cinta

    Arsya beranjak dari tempat tidur, ia mematikan lampu lalu keluar dari kamarnya. Ia berjalan cepat menuruni tangga.Terlihat sekretaris Ken sedang duduk di ruang tengah dengan laptop yang ada di pangkuannya. Ia sedang menunggu Arsya untuk mengabulkan ngidam ibu hamil itu.Melihat kedatangan Arsya, ia sontak menutup laptopnya dan langsung berdiri. Ia memang belum pulang, karena Arsya yang mencegahnya tadi."Kamu sudah siap, dan sudah tau tempatnya dimana?" tanya Arsya saat sudah berada di dekat Ken."Iya, Tuan.""Ayo kita berangkat mengerjakan misi yang sangat sulit ini," ucap Arsya sembari melangkah keluar rumah, diikuti Ken di belakangnya.Mereka menggunakan mobil sport yang jarang sekali digunakan oleh Arsya. Karena mobil yang biasa mereka pakai sudah sangat dikenali oleh masyarakat.***Mereka sudah sampai di daerah yang lumayan jauh dari kota, di sebuah desa yang terlihat sangat sunyi, karena sekarang sudah hampir jam sebelas malam.Mereka hanya mendengar suara jangkrik yang bersah

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kisah Amira

    Setelah selesai makan malam yang penuh drama dan penolakan dari Amira, mereka berdua segera menaiki tangga untuk menuju ke kamar.Sesampainya di kamar, Amira langsung berlari ke kamar mandi."Hoek!"Amira kembali memuntahkan isi perutnya di wastafel. Tangannya bergetar hebat sembari berpegangan di dinding kamar mandi, keringat dingin sudah mengucur deras."Kenapa aku begini lagi? Padahal kemarin-kemarin udah mendingan. Nak, kamu mau cari perhatian Papa kamu ya? Kamu pintar sekali," gumam Amira sembari mengusap perutnya.Ia terkejut saat mendapati Arsya sudah memeluknya dari belakang. Dari pantulan kaca, wajahnya sudah terlihat sangat gelisah."Kerumah sakit sekarang ya, wajah kamu pucat sekali!" bisik Arsya."Aku kuat kok, cuma lemes aja sedikit," ucap Amira sembari tersenyum.Ia bergegas keluar dari kamar mandi, ia tidak menghiraukan Arsya yang masih memeluk dirinya dari belakang.Brughh!Amira ambruk di tempat tidur begitu saja. Sementara Arsya sudah duduk dan bersandar di tempat ti

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Rahasia Ken dan Arsya

    Tiga belas tahun yang lalu …Arsya kecil duduk meringkuk di samping pusara sang Papa yang masih basah. Setelah acara pemakaman, seluruh keluarga dan kerabat Papanya telah bubar, meninggalkan area pemakaman satu per satu.Kini hanya tersisa Arsya, Ken, dan Lion—ayah dari Ken sekaligus orang kepercayaan mendiang Papa Arsya semasa hidupnya.“Arsya, sampai kapan kamu akan berada di sini?” tanya Lion.“Sampai Papaku bangun lagi, Paman,” jawab Arsya pelan.“Kamu harus tetap meneruskan hidup. Kalau kamu seperti ini, Papamu pasti kecewa. Kamu putra mahkota Arkana Group. Tidak sepantasnya seorang putra mahkota bersikap seperti ini. Bangun, Arsya!” ucap Lion tegas.Lion memang terkenal tegas dalam segala keadaan. Tak heran jika ia menjadi tangan kanan di perusahaan terbesar itu. Sikap kerasnya bukan hanya ia tunjukkan pada Arsya, tetapi juga pada anak laki-lakinya sendiri—tanpa toleransi sedikit pun.Sejak Ken berusia tujuh tahun, ayahnya sudah menggemblengnya hingga menjadi laki-laki berdarah

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Niat Sisil

    “Kak, dia siapa?” tanya Elesha sambil melirik Aiden.Amira menarik tangan adiknya yang sedang berdiri di samping Sisil. Mereka berdua terlihat sedang mengobrol singkat.“Sapa mereka, kenapa diam aja?” bisik Amira pelan.“Saya Aiden, adiknya Kak Mira,” ucap Aiden gugup sambil menyalami Elena dan Elesha. Ia juga menyalami serta mencium tangan Riana dengan sopan.“Aaaa, ganteng banget!” pekik Elena dan Elesha bersamaan.“Heeh!” sergah Arsya. Ia terkejut melihat sikap kedua adik perempuannya yang terlalu kecentilan.“Kuliah di mana? Nanti kuliah di sini sama aku ya,” celetuk Elena tanpa malu.“Maaf, Kak. Saya masih SMP kelas tiga. Baru mau ujian akhir,” jawab Aiden jujur.“Apa?!” pekik Elena tidak percaya.“Tapi kenapa kamu tinggi banget? Tinggimu udah hampir sama kayak Kak Arsya,” lanjutnya sambil menatap Aiden dari ujung kepala sampai kaki.“Berarti sama sepertiku dong. Nanti SMA-nya bareng sama aku aja di sini,” celetuk Elesha dengan nada puas, merasa menang dari kakaknya.“Cuma beda t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Permintaan Maaf Riana

    “Aiden?”Amira mendapati adik laki-lakinya duduk sendirian di taman indoor rumah sakit. Remaja itu menoleh saat mendengar namanya dipanggil, matanya terlihat sayu, dengan lingkar gelap yang tak bisa disembunyikan.Amira melangkah mendekat lalu duduk di sebelahnya. Ia menatap wajah Aiden yang tampak jauh lebih dewasa dari usianya, kelelahan jelas tergambar di sana.“Kakak kira kamu ikut sama Ibu,” ucap Amira pelan.“Nggak, Kak. Satu minggu lagi aku ujian akhir. Sekarang aku mau pamit pulang dulu,” sahut Aiden sambil tersenyum tipis.“Pulang?” Amira menoleh cepat, terkejut.“Iya, Kak.”“Nggak boleh. Kamu ikut kakak aja dulu. Ujiannya masih satu minggu lagi, kan?”Amira melirik ke arah Arsya yang berdiri tak jauh dari mereka. Laki-laki itu mengangguk kecil, senyum tipis tersungging di wajahnya seolah menyetujui keputusan Amira.“Nggak usah, Kak. Aku nggak apa-apa. Aku bisa tinggal sendiri kok,” jawab Aiden. “Kak Mira yang perempuan aja bisa, masa aku yang laki-laki nggak bisa? Malu lah,

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   USG

    Kurang lebih satu jam persiapan dilakukan, dan semuanya telah siap untuk berangkat menempuh perjalanan panjang. Beberapa dokter tampak mendorong ranjang pasien beserta sejumlah alat medis keluar dari ruangan.“Tasya, kamu harus bisa, Sayang! Kamu harus berjuang. Kamu harus janji sama Kak Mira, kamu harus kembali ke sini dengan senyum manis kamu. Maaf … Kakak nggak bisa menemani kamu,” ucap Amira sambil menangis, tangannya erat memegangi tepi ranjang yang terus didorong menjauh.Dengan sigap, Arsya menarik tubuh istrinya agar tidak terus mengikuti langkah para dokter.“Jangan terlalu dipikirkan. Pikirkan dirimu sendiri dan anak yang ada di dalam kandunganmu, Nak. Jangan putus berdoa. Ibu berangkat, ya,” ucap Damini sambil mencium kedua pipi Amira.Damini mengangguk hormat ke arah Arsya dan Ken, lalu berjalan cepat menyusul dokter yang sudah lebih dulu melangkah. Ia berjalan berdampingan dengan putra laki-lakinya, sesekali menyeka air mata yang jatuh.“Apa kamu menangis lagi, atau kemas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status