Share

Phobia Arsya

Penulis: Mediasari012
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 15:51:57

Ken meninggalkan kamar Tuannya dengan langkah cepat, rahangnya mengeras menahan cemas yang terus menggerogoti dadanya. Pintu kamar tertutup di belakangnya, menyisakan kegelisahan yang belum juga reda.

“Semoga Tuan muda baik-baik saja,” gumam Ken lirih, nyaris seperti doa.

Ia menuruni tangga dengan tergesa. Baru saja mencapai lantai bawah, langkahnya terhenti ketika sosok Riana sudah berdiri menghadangnya. Wajah wanita paruh baya itu tampak pucat, matanya menyiratkan kekhawatiran yang sulit disembunyikan.

“Ken, bagaimana keadaan Arsya?” tanya Riana dengan suara bergetar.

“Nona muda sudah menanganinya, Nyonya,” jawab Ken sopan. “Saya akan memanggil Dokter Virgo.”

“Baik. Cepat suruh dia ke sini,” ucap Riana tanpa ragu.

“Baik, Nyonya.”

Ken segera meraih ponselnya dan menepi sedikit, lalu menelepon dokter Virgo dengan ekspresi serius.

Sementara itu, Aiden yang duduk tak jauh dari sana hanya bisa memperhatikan semua itu dengan dahi berkerut.

"Emang lukanya separah itu sampai harus manggil d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Sinta

    Gadis itu memeluk Arsya dengan sangat erat, seolah takut pria itu menghilang jika dilepaskan. Tangannya melingkar di pinggang Arsya tanpa ragu, sementara wajahnya tersenyum puas.Di sisi lain, Amira justru tersenyum lembut ke arah suaminya. Senyum yang terlalu tenang untuk ukuran situasi seperti ini."Kenapa dia bisa tersenyum begitu? Padahal dia belum tahu kan Sinta itu siapa? Kenapa dia nggak cemburu?" batin Arsya kesal, dadanya terasa panas tanpa alasan yang jelas.Sementara itu, di balik senyum manisnya, Amira sedang menahan gejolak emosi yang tak kalah membara."Sialan kamu! Dua jam yang lalu kamu bikin aku malu setengah mati. Sekarang kamu pelukan sama gadis entah datang dari mana di depan mataku begini?" batin Amira penuh bara.Sebenarnya, api cemburu itu sudah menjalar hingga ke ujung jemarinya. Namun, Amira menyembunyikan semuanya dengan sangat rapi—terlalu rapi, bahkan.Elena yang menyadari situasi mulai canggung, segera menarik tubuh Sinta agar melepaskan pelukannya dari Ar

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Siapa Sinta?

    Setelah perdebatan panjang yang berakhir tanpa kesimpulan tentang wanita, kecemburuan, dan ego yang sama-sama keras kepala, dokter Virgo akhirnya memilih mengalah. Ia keluar dari kamar Arsya diikuti oleh Ken yang wajahnya masih menyimpan raut waswas.Pintu kamar tertutup perlahan.Di dalam, suasana berubah jauh lebih tenang.Arsya sudah melepaskan jasnya, menyampirkannya sembarang di kursi. Dasi yang sejak tadi terasa mencekik sudah ia tarik lepas, lalu tubuhnya direbahkan ke atas tempat tidur dengan napas yang sedikit lebih berat dari biasanya. Sepertinya, hari ini ia benar-benar tidak berniat pergi ke kantor.Sementara itu, Amira duduk di sisi tempat tidur, tepat di samping suaminya. Tangannya sibuk berpindah dari ponsel ke laptop. Jarinya lincah menekan layar, sesekali keningnya berkerut saat membaca laporan yang masuk.“Sibuk banget sih,” gumam Arsya sambil melirik kesal. “Kayak orang yang udah punya seribu perusahaan aja.”Tanpa peringatan, ia bangkit setengah duduk, menutup lap

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Phobia Arsya

    Ken meninggalkan kamar Tuannya dengan langkah cepat, rahangnya mengeras menahan cemas yang terus menggerogoti dadanya. Pintu kamar tertutup di belakangnya, menyisakan kegelisahan yang belum juga reda.“Semoga Tuan muda baik-baik saja,” gumam Ken lirih, nyaris seperti doa.Ia menuruni tangga dengan tergesa. Baru saja mencapai lantai bawah, langkahnya terhenti ketika sosok Riana sudah berdiri menghadangnya. Wajah wanita paruh baya itu tampak pucat, matanya menyiratkan kekhawatiran yang sulit disembunyikan.“Ken, bagaimana keadaan Arsya?” tanya Riana dengan suara bergetar.“Nona muda sudah menanganinya, Nyonya,” jawab Ken sopan. “Saya akan memanggil Dokter Virgo.”“Baik. Cepat suruh dia ke sini,” ucap Riana tanpa ragu.“Baik, Nyonya.”Ken segera meraih ponselnya dan menepi sedikit, lalu menelepon dokter Virgo dengan ekspresi serius.Sementara itu, Aiden yang duduk tak jauh dari sana hanya bisa memperhatikan semua itu dengan dahi berkerut."Emang lukanya separah itu sampai harus manggil d

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Luka

    “Setelah aku keluar tadi, apa Amira tidak turun?” tanya Arsya.“Tidak, Tuan.”“Ambilkan aku pisau dan piring,” ucap Arsya sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah.“Baik, Tuan.”Kepala pelayan itu segera bergegas menuju dapur, mengambil pesanan Arsya, lalu kembali ke ruang tengah.“Ini, Tuan.” Pak Heru menyerahkan piring dan pisau itu.“Istirahatlah, Pak Heru. Tidak usah mengikutiku.”“Baik, Tuan. Selamat beristirahat,” ucap Pak Heru sembari menganggukkan kepala.Arsya berdiri dari duduknya, lalu berjalan cepat menaiki tangga. Ia sudah tidak sabar ingin memberikan mangga hasil curiannya itu pada Amira.“Nona muda, apa Anda sedang membalas dendam pada Tuan muda?” gumam Pak Heru, terlihat menahan tawanya.Sedangkan di dalam kamar ...Setelah membersihkan dirinya, Arsya merebahkan tubuh di samping Amira yang masih tertidur pulas. Ia memandangi wajah istrinya sembari mengusap pipi itu dengan lembut, berharap Amira terbangun.Amira menggeliat, lalu kembali tertidur.“Kamu tidur ap

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Mengganti Curian Mangga Dengan Uang

    Setelah dirasa situasi sudah aman, Ken dan Arsya segera keluar dari tempat persembunyian. Mereka melewati jalan gang yang berbeda.“Hoek! Hoek!”Arsya terlihat mengeluarkan isi perutnya. Ia sudah menahan muntah sejak tadi.“Pasti muntah gara-gara tai kambing tadi,” gumam Ken.“Ken!”“Ya, Tuan.”“Kamu masih ingat wajah orang yang mengejar kita tadi?”“Masih, Tuan. Dia pemilik pohon mangga tadi.”“Kamu tahu rumahnya?”“Rumahnya tidak jauh dari pohon itu. Masih satu halaman, Tuan,” jawab Ken.“Bagus,” ujar Arsya singkat.Mereka berjalan cepat menuju mobil. Sebelum Ken membukakan pintu, Arsya sudah lebih dulu masuk dengan tergesa.“Ken, ambilkan kertas dan pulpen.”Ken langsung meraih tas kerjanya yang selalu ia bawa ke mana-mana. Tanpa banyak bertanya, ia menyerahkan apa yang diminta Arsya.Arsya menulis di kertas putih itu dengan cepat.(Pak, maaf saya sudah mencuri mangganya. Saya hanya mengambil lima biji. Ini ada sedikit rezeki, semoga bisa mengganti mangga yang sudah saya ambil. Mo

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Demi Cinta

    Arsya beranjak dari tempat tidur, ia mematikan lampu lalu keluar dari kamarnya. Ia berjalan cepat menuruni tangga.Terlihat sekretaris Ken sedang duduk di ruang tengah dengan laptop yang ada di pangkuannya. Ia sedang menunggu Arsya untuk mengabulkan ngidam ibu hamil itu.Melihat kedatangan Arsya, ia sontak menutup laptopnya dan langsung berdiri. Ia memang belum pulang, karena Arsya yang mencegahnya tadi."Kamu sudah siap, dan sudah tau tempatnya dimana?" tanya Arsya saat sudah berada di dekat Ken."Iya, Tuan.""Ayo kita berangkat mengerjakan misi yang sangat sulit ini," ucap Arsya sembari melangkah keluar rumah, diikuti Ken di belakangnya.Mereka menggunakan mobil sport yang jarang sekali digunakan oleh Arsya. Karena mobil yang biasa mereka pakai sudah sangat dikenali oleh masyarakat.***Mereka sudah sampai di daerah yang lumayan jauh dari kota, di sebuah desa yang terlihat sangat sunyi, karena sekarang sudah hampir jam sebelas malam.Mereka hanya mendengar suara jangkrik yang bersah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status