LOGIN“Apa yang meluber?” tanya Ken polos.“Aaa! Udah diam! Kenapa malah diperpanjang sih?” Sisil menahan malu yang rasanya sudah sampai ke ubun-ubun.Pipinya memerah sempurna. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Ken terlalu lama. Rasanya ingin menghilang saja dari mall itu.Tanpa banyak bicara, Ken langsung melepaskan jas mahal yang melekat di tubuhnya. Dengan gerakan santai, ia melingkarkan jas itu ke pinggang Sisil untuk menutupi bagian belakang rok gadis itu.“Jangan! Nanti jas kamu kena darah juga,” protes Sisil cepat sambil berusaha melepas jas tersebut.Namun, dengan sigap Ken menahan kedua tangan gadis itu. “Itu cuma darah, kan?” tanyanya sambil menatap lekat mata Sisil.Dag!Jantung Sisil langsung berdebar keras.Tatapan Ken terlalu dekat. Terlalu intens. Terlalu membuat napasnya berantakan. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka saling bertatapan sedekat ini, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Sangat berbeda.“I-iya … cuma darahku, tapi—”“Tapi apa?” sela Ken pelan deng
Tanpa menunggu lama, Ken melangkah keluar dari butik, lalu berjalan beriringan dengan Sisil menuju area parkir. Sementara itu, Angkasa membuntuti langkah keduanya dari belakang. Laki-laki itu tampaknya memang berniat mengantar mereka sampai ke teras butik.Begitu Ken membuka pintu mobil untuk Sisil, Angkasa tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan, Tuan Ken.”Ken hanya menganggukkan kepalanya singkat sebelum masuk ke kursi kemudi. Mesin mobil segera menyala halus, lalu kendaraan mewah itu perlahan meninggalkan area butik.Saat mobil bergerak keluar, Ken sempat menekan klakson pelan sebagai tanda berpamitan. Angkasa yang masih berdiri di teras butik membalas dengan lambaian tangan hormat.Sisil melirik ke arah belakang melalui kaca spion samping.“Oh, ternyata dia masih punya hati,” gumamnya pelan.“Apa?” tanya Ken sekilas.“Bukan apa-apa.”Ken tidak menanggapi lagi. Kedua tangannya fokus menggenggam setir sambil menatap lurus ke jalanan kota yang mulai ramai menjelang sore.Beberapa menit
“Ini tempat apa?” tanya Sisil sambil menatap bangunan megah di hadapannya.Mobil hitam yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah butik dengan dinding kaca tinggi dan lampu kristal yang berkilauan dari dalam. Bahkan dari luar saja, tempat itu sudah terlihat sangat mahal.“Kita mau fitting baju hari ini,” jawab Ken singkat.“Fi-fitting baju?” Sisil menoleh cepat dengan mata membulat tidak percaya.Ken hanya menganggukkan kepala pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.“Kenapa secepat ini?” lanjut Sisil heran.“Secepat ini?” Ken akhirnya menoleh. Tatapannya lurus menembus mata Sisil. “Lalu maumu berapa lama?”Glek.Sisil langsung menelan salivanya gugup. Ia sadar, salah bicara sedikit saja bisa membuat laki-laki itu kesal. Dan ia jelas tidak ingin calon suaminya berubah pikiran.“Emangnya kapan?” tanyanya lebih pelan.“Satu minggu lagi.”Duarr!Jawaban itu terasa seperti bom atom yang meledak berkali-kali di dalam kepalanya.“Satu minggu?!” pekik Sisil refleks. “Kenapa
Mobil Dimas akhirnya memasuki halaman kediaman Arsya yang sore itu tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Deretan mobil mewah terparkir rapi di sepanjang halaman luas rumah tersebut, sementara lampu-lampu taman yang menyala temaram membuat suasana terasa hangat sekaligus elegan.Di dalam mobil, Sinta menarik napas pelan sebelum membuka pintu. Sejak keluar dari rumah tadi, ia memang sengaja memesan taksi online dan meninggalkan mobil pribadinya di garasi. Entah kenapa, ia merasa tidak sanggup menyetir sendiri sore ini.Sementara itu, Dimas turun lebih dulu lalu menoleh ke arah gadis itu. Ia menganggukkan kepala pelan, seolah mencoba memberi kekuatan tanpa perlu banyak bicara.Sinta membalas anggukan kecil itu.Mereka berjalan memasuki rumah dengan jarak yang cukup berjauhan. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya langkah kaki yang saling bersahutan di atas lantai marmer.Acara malam itu memang diadakan di aula keluarga yang berada di dalam rumah utama. Arsya sengaja membuat aca
RAWWRRR!Dari dalam kandang besar itu, seekor singa putih betina melompat keluar dengan langkah anggun namun mengintimidasi. Tubuhnya kini jauh lebih besar dibanding terakhir kali Arsya melihatnya. Surai putih di lehernya tampak berkilau terkena cahaya matahari sore.Arsya refleks berjongkok saat Bella berlari cepat menghampirinya.“Bella, akhirnya kita bertemu lagi,” ucap Arsya sambil mengelus lembut bulu putih singa itu.Bella menggesekkan kepalanya manja ke bahu Arsya, bahkan sesekali mengeluarkan suara dengusan kecil seperti kucing raksasa yang sedang dimanja majikannya.Sementara itu, Sean sudah berdiri kaku beberapa langkah di belakang mereka. Matanya membulat sempurna, rahangnya bahkan nyaris jatuh ke tanah.“S-sekretaris Ken, yang benar aja! Dia Bella yang kamu maksud?!” pekik Sean dengan wajah penuh keterkejutan sekaligus pengkhianatan.Ken yang berdiri santai malah tersenyum tipis sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Iya,” jawabnya santai. “Cantik, kan?”Dengus
Cahaya kamar masih temaram. Embusan udara dingin dari pendingin ruangan membuat Amira tanpa sadar semakin merapatkan selimut ke tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang terasa berat di pinggangnya.Perlahan ia membuka mata.Deg!Amira mendapati Arsya sedang memeluknya erat dari belakang dengan wajah yang masih terlihat lelap. Napas laki-laki itu terdengar teratur, sementara lengannya melingkar kuat di tubuh Amira seolah takut sang istri menghilang."Kapan dia pindah?" gumam Amira pelan sambil menahan senyum.Matanya lalu bergeser ke arah ranjang bayi di samping tempat tidur. Seketika sudut bibirnya terangkat semakin lebar saat melihat beberapa bantal tersusun rapi di sisi tempat tidur Ryu."Ya ampun ... dia sampai bikin benteng bantal segala."Amira menggeleng pelan. Ia tahu pasti itu ulah Arsya semalam. Suaminya memang terlihat tenang dan dingin di luar, tetapi sejak Ryu lahir, laki-laki itu berubah menjadi sangat protektif."Ternyata udah jam lima pagi," lirih Amira saat melirik jam dindin
Kicauan burung bersahut-sahutan di pagi yang cerah. Matahari perlahan muncul dari balik cakrawala, seolah baru saja keluar dari tempat persembunyiannya, lalu menebarkan sinar hangat yang menyelimuti seluruh halaman mansion. Embun pagi masih menempel di daun-daun bunga di taman depan, berkilauan dit
“Siapa yang sudah berani menghina kamu jelek?” tanya Arsya sambil menatap wajah istrinya dengan dahi berkerut.“Kamu,” jawab Amira singkat tanpa ragu.Arsya langsung mengangkat alisnya tinggi-tinggi.“Hei! Aku nggak pernah bilang kamu jelek.”Amira menyipitkan matanya, lalu mencebikkan bibir dengan
“Ken, aku tadi bilang jaga Mira. Kenapa kamu malah mengajaknya berbicara? Kamu mau habis malam ini!” pekik Arsya dengan nada kesal.Suasana ruang makan yang sebelumnya tenang kini terasa tegang. Arsya berdiri dari kursinya dengan wajah yang sedikit memerah. Tatapannya tajam mengarah pada Ken yang b
“Aku percaya Ken bukan laki-laki yang seperti itu,” jawab Arsya dengan nada yakin.Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan dalam setiap katanya membuat Amira sempat terdiam sesaat.“Tapi isi hati dan otak seseorang mana ada yang tahu,” balas Amira sambil mengangkat bahu. Sorot matanya masi







