Share

Luka

Author: Mediasari012
last update publish date: 2026-01-07 14:14:08

“Setelah aku keluar tadi, apa Amira tidak turun?” tanya Arsya.

“Tidak, Tuan.”

“Ambilkan aku pisau dan piring,” ucap Arsya sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah.

“Baik, Tuan.”

Kepala pelayan itu segera bergegas menuju dapur, mengambil pesanan Arsya, lalu kembali ke ruang tengah.

“Ini, Tuan.” Pak Heru menyerahkan piring dan pisau itu.

“Istirahatlah, Pak Heru. Tidak usah mengikutiku.”

“Baik, Tuan. Selamat beristirahat,” ucap Pak Heru sembari menganggukkan kepala.

Arsya berdiri dari dud
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Sah

    Mobil milik Arsya beserta iring-iringan kendaraan keluarga besarnya perlahan memasuki kawasan taman tempat acara pernikahan Ken digelar. Dari jarak beberapa ratus meter saja, penjagaan ketat sudah terlihat begitu jelas. Ratusan pengawal berdiri tegap dan berjajar rapi di sepanjang jalan menuju taman. Beberapa lainnya berjaga di setiap sudut area, memastikan tidak ada satu pun orang asing yang bisa masuk sembarangan.Ken memang sengaja membuat acara pernikahannya tertutup. Ia hanya mengundang keluarga inti dan orang-orang yang benar-benar dianggap penting dalam hidupnya. Tidak ada awak media, tidak ada sorotan kamera berlebihan, apalagi siaran langsung seperti pesta para konglomerat lainnya. Meskipun konsep pernikahannya menggunakan tema outdoor wedding yang mewah dan megah, Ken tetap ingin menjaga kesakralan momen itu agar terasa lebih hangat dan pribadi.Saat mobil Arsya berhenti tepat di depan pintu masuk taman, suasana yang semula ramai perlahan berubah hening.Para tamu undangan m

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Berangkat Ke Acara Pernikahan

    “Ya Tuhan … dia cantik sekali.”Arsya menahan napasnya sendiri saat netranya bertabrakan dengan wajah Amira yang masih terlihat terkejut. Perempuan itu berdiri membeku di depan cermin ruang ganti, sementara pipinya perlahan berubah merah karena tatapan suaminya yang terlalu intens.Gaun yang dikenakan Amira jatuh sempurna membalut tubuhnya. Rambutnya yang ditata sederhana justru membuat kecantikannya semakin menonjol. Dan yang paling berbahaya bagi Arsya adalah ekspresi gugup istrinya saat ini.“Apa kamu meragukan aku?” tanya Arsya pelan sembari menatap lekat kedua mata Amira.Amira menelan ludahnya gugup. “Kamu juga meragukan aku?” balasnya cepat, mencoba mengalihkan suasana yang semakin membuat jantungnya berdebar tidak karuan.Arsya tersenyum tipis. “Nggak,” jawabnya santai. “Kalau kamu yang meragukan aku, buat tanda di tubuhku sekarang juga.”Tatapan Arsya turun ke dada bidangnya yang masih terbuka karena kancing kemejanya belum sempat ia kaitkan sejak tadi.Amira langsung salah t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Taman Tempat Cinta Dimulai

    Di sebuah taman terbuka yang luas dan megah, berdiri sebuah tempat penuh kenangan yang kini telah berubah seratus delapan puluh derajat. Taman itu dulunya hanyalah ruang hijau biasa, tetapi kini telah disulap menjadi tempat paling indah yang pernah dimiliki Ken. Bukan tanpa alasan, sebab taman itu sudah dibeli secara pribadi olehnya untuk hadiah pernikahannya dengan Sisil.Tempat itu juga menjadi saksi bisu saat Ken pertama kali mengutarakan perasaannya kepada perempuan yang hari ini resmi akan menjadi istrinya.Dekorasi bernuansa putih memenuhi setiap sudut taman. Rangkaian bunga mawar putih menjuntai indah di sepanjang lorong utama. Kain-kain tipis yang tertiup angin menambah kesan elegan dan romantis. Di tengah taman berdiri altar megah dengan sentuhan lampu kristal yang berkilauan terkena cahaya matahari pagi.Pernikahan bertema outdoor itu terlihat begitu mewah, hangat, dan sempurna.Hari ini adalah hari yang sudah lama dinantikan. Hari di mana Ken akhirnya akan menikahi Sisil.*

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Lima Belas Hari?

    Sore hari mulai merambat turun, meninggalkan semburat jingga yang memantul di dinding kaca rumah mewah milik Arsya. Angin berembus pelan di area teras yang luas itu, membuat dedaunan tanaman hias bergoyang lembut.Namun, suasana tenang itu sama sekali tidak memengaruhi Sean.Laki-laki itu berdiri mematung seorang diri di teras rumah sambil sesekali melirik jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Wajah tampannya sudah ditekuk kesal sejak beberapa menit terakhir.“Lama sekali sekretaris itu!” pekiknya geram.Kakinya menghentak lantai beberapa kali, seolah sedang melampiaskan emosi yang terus menumpuk di kepalanya.Di tengah kekesalannya, suara gerbang otomatis akhirnya terdengar terbuka.Sean langsung menoleh cepat.Dari kejauhan, mobil hitam milik Ken melaju masuk dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya berhenti tepat di halaman depan rumah.“Akhirnya datang juga badebah satu itu,” dengus Sean pelan dengan wajah masam.Kini suasana rumah Arsya sudah jauh lebih lengang diband

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Mall

    “Apa yang meluber?” tanya Ken polos.“Aaa! Udah diam! Kenapa malah diperpanjang sih?” Sisil menahan malu yang rasanya sudah sampai ke ubun-ubun.Pipinya memerah sempurna. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Ken terlalu lama. Rasanya ingin menghilang saja dari mall itu.Tanpa banyak bicara, Ken langsung melepaskan jas mahal yang melekat di tubuhnya. Dengan gerakan santai, ia melingkarkan jas itu ke pinggang Sisil untuk menutupi bagian belakang rok gadis itu.“Jangan! Nanti jas kamu kena darah juga,” protes Sisil cepat sambil berusaha melepas jas tersebut.Namun, dengan sigap Ken menahan kedua tangan gadis itu. “Itu cuma darah, kan?” tanyanya sambil menatap lekat mata Sisil.Dag!Jantung Sisil langsung berdebar keras.Tatapan Ken terlalu dekat. Terlalu intens. Terlalu membuat napasnya berantakan. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka saling bertatapan sedekat ini, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Sangat berbeda.“I-iya … cuma darahku, tapi—”“Tapi apa?” sela Ken pelan deng

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Datang Bulan

    Tanpa menunggu lama, Ken melangkah keluar dari butik, lalu berjalan beriringan dengan Sisil menuju area parkir. Sementara itu, Angkasa membuntuti langkah keduanya dari belakang. Laki-laki itu tampaknya memang berniat mengantar mereka sampai ke teras butik.Begitu Ken membuka pintu mobil untuk Sisil, Angkasa tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan, Tuan Ken.”Ken hanya menganggukkan kepalanya singkat sebelum masuk ke kursi kemudi. Mesin mobil segera menyala halus, lalu kendaraan mewah itu perlahan meninggalkan area butik.Saat mobil bergerak keluar, Ken sempat menekan klakson pelan sebagai tanda berpamitan. Angkasa yang masih berdiri di teras butik membalas dengan lambaian tangan hormat.Sisil melirik ke arah belakang melalui kaca spion samping.“Oh, ternyata dia masih punya hati,” gumamnya pelan.“Apa?” tanya Ken sekilas.“Bukan apa-apa.”Ken tidak menanggapi lagi. Kedua tangannya fokus menggenggam setir sambil menatap lurus ke jalanan kota yang mulai ramai menjelang sore.Beberapa menit

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Pulau Pribadi

    “Kamu pesan di mana? Cepat sekali datangnya?” tanya Arsya, alisnya terangkat sedikit, jelas heran melihat semuanya sudah siap dalam waktu singkat.“Di toko dekat sini. Aku pakai nama kamu, jadi bisa dikirim secepat kilat,” jawab Amira sambil terkekeh pelan. Ada nada bangga dalam suaranya, seolah ia

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kedatangan Dokter Virgo

    Arsya terlihat menyunggingkan senyum tipis. Sorot matanya melembut, seolah tak percaya bahwa Amira benar-benar melakukan hal yang tadi sempat ia pikir hanya ancaman emosi sesaat. Ada rasa hangat yang menyelinap, meski di saat yang sama, kepalanya juga terasa pening memikirkan konsekuensi dari sikap

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Permintaan Amira

    “Sepertinya kita sederajat, ya? Bisakah kita berteman?” tanya Relia tanpa rasa canggung, bahkan cenderung terlalu percaya diri.Sisil yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mengernyit. Alisnya terangkat, sementara jemarinya tanpa sadar mengepal.“Sederajat? Apa maksud wanita itu?” gumamnya pela

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ketahuan Ciuman

    “Kamu marah?” tanya Arsya. Suaranya terdengar berat, seperti tertahan sesuatu yang sejak tadi ia paksa untuk tidak meledak.Amira tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat ranjang, menatap ke arah jendela dengan mata yang mulai memerah. Napasnya naik turun, menahan emosi yang sudah sejak tadi be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status