Beranda / Romansa / Aku Pergi, Mas / 2. Tak Semangat Bekerja

Share

2. Tak Semangat Bekerja

Penulis: p.hara
last update Terakhir Diperbarui: 2023-05-11 21:50:39

HAPPY READING 😍

Dalam sebuah kamar mewah, seorang laki-laki yang sedang terbaring di atas ranjang King Size itu sibuk menatap cincin berlian di tangannya. Padahal, waktu hampir menjelang pagi.

"Heh, mari kita lihat berapa hari kau akan bertahan di luar sana. Kau tidak bisa hidup selain di bawah ketiak mamaku. Dasar menyusahkan!" monolog Ammar kemudian mencengkram erat cincin itu.

Ingin mengakhiri ikatan suci, tapi hati kecilnya melarang. Ingin berhenti menyakiti tapi hatinya juga telah dibutakan oleh dendam. Setitik penyesalan yang hinggap, tak mampu melenyapkan rasa bencinya pada wanita bernama Elif Sabrina.

Ammar membenci Elif, ya laki-laki itu mencintainya.

.

Hari ini Elif tampak bersemangat untuk berkerja, baginya ini adalah awal yang baru dan berharap lebih baik dari sebelumnya.

Mulai sekarang Elif tidak perlu lagi berada di toilet kantor dalam durasi waktu yang lama hanya demi menumpahkan segala rasa sakit melalui air mata saat bekerja.

Bagi wanita bersurai panjang itu, kemarin adalah akhir dari segalanya. Untuk apa bertahan jika tidak bahagia, menurutnya.

"Semua akan baik-baik saja."

Elif memutar handel pintu apartemen, lalu berjalan ke arah pintu lift untuk turun menuju lobi. Blues warna peach yang dipadukan dengan kulot warna senada tampak menyatu dengan kulitnya yang putih gading. Elif cantik dan cerdas, nyaris sempurna, sangat bertolak belakang dengan nasibnya. Kisah cintanya.

Mobil yang dikendarai wanita itu kini telah melaju membelah jalanan. Melewati gedung-gedung menjulang di kedua sisi jalan. Sementara pepohonan tampak semakin tersisihkan seolah tak memiliki peran yang begitu penting bagi lingkungan.

Padahal, tumbuhan-tumbuhan itulah yang selalu setia untuk menyuplai oksigen dan menyerap karbon dioksida agar manusia-manusia serakah bisa merasakan betapa nikmatnya menghirup udara segar tanpa tercampur polusi berbahaya.

Yah, pada dasarnya manusia memang tempatnya tak pernah puas. Menebang pohon untuk diganti dengan bangunan-bangunan megah merupakan sesuatu yang wah.

Haha, selain menatap dengan prihatin, apa yang bisa wanita cantik itu lakukan? Nasib rumah tangganya jauh lebih mengerikan ketimbang pohon-pohon yang mulai tersisihkan itu.

Setelah hampir tiga puluh menit Elif dalam perjalanan. Mobil SUV miliknya mulai memasuki area kantor.

Surai panjangnya yang sengaja dikuncir sesekali tampak ikut bergerak saat Elif berjalan dengan langkah elegan. Bersamaan dengan ketukan high heels yang begitu kentara.

Para karyawan mulai menunduk saat Elif melewati mereka, dan Elif membalas dengan senyuman tulus. Elif tak pernah haus rasa hormat atau sanjungan. Tapi, yang para pekerja itu tahu, wanita cantik itu adalah istri direktur utama. Wajar dihormati, meski suaminya sendiri tidak sudi.

"Huft, sepertinya sangat banyak yang harus dikerjakan hari ini," ucapnya pada diri sendiri setelah mendaratkan tubuh di atas kursi, di balik meja kerja.

"Baiklah. Mari bekerja, Elif. Semangat!"

Akhir bulan, memang sangat melelahkan bagi seorang manager keuangan sepertinya. Setiap laporan harus diperiksa dengan teliti sebelum akhirnya diserahkan pada atasan.

.

Waktu menunjukkan hampir sepuluh pagi. Tapi, mata Ammar masih sibuk memandang ruangan yang terletak tepat di depan ruangan kebesarannya dengan wajah yang kusut.

Sang raja tampak beberapa kali membuang nafas dengan kasar sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan sambungan telepon pada bagian HRD.

"Kemana manager bagian keuangan? Kenapa ruangannya kosong?" tanya Ammar to the point pada seseorang di seberang sana.

"Apa? Dipindahkan? Ke lantai berapa? Siapa yang berani melakukannya tanpa perintah dariku?!" Ammar murka.

Ammar meletakkan gagang telepon dengan kasar.

"Mama? Kenapa Mama melakukan itu? Bukankah mama sendiri yang awalnya menempatkan Elif di ruangan itu?" monolog laki-laki itu tidak percaya.

"Dasar wanita miskin. Selalu saja menyebalkan!"

Hati kecilnya merasa ada yang hilang, tapi buru-buru Ammar menepis. Baginya, wanita miskin itu adalah benalu yang mengambil posisinya sebagai anak tunggal dalam keluarga.

Laki-laki berbola mata elang itu sangat membenci Elif semenjak pertama kali gadis itu menginjakkan kaki di rumah megahnya. Kebencian yang kian hari kian bertambah, membuat Ammar merencanakan sesuatu untuk membalas wanita itu.

Ammar dengan segala pesonanya, membuat siapapun akan bertekuk lutut bahkan berbaring dengan suka rela di hadapannya.

Tak terkecuali Elif Sabrina, meski Elif tak bertindak murahan seperti wanita-wanita di luar sana—yang rela memberikan tubuh untuk Ammar, tapi hatinya telah terpenjara oleh perhatian dan cinta palsu dari suaminya.

Ammar dengan segala ketulusannya kala itu, menurut Elif. Membuat gadis yang merupakan anak dari sahabat almarhum papa Ammar memantapkan hatinya menerima pinangan Ammar untuk menjadi teman hidupnya.

Ditambah Ny. Risma yang begitu antusias saat mengetahui putra semata wayangnya dan Elif terjebak dalam sebuah rasa. Hingga akhirnya, acara sakral itu tak bisa ditunda, dan terlaksana dengan khidmat. Hari di mana Elif harus tersadar dari mimpi indah untuk menghadapi kenyataan yang tak pernah terduga sebelumnya.

Elif. Gadis cerdas, namun, terlalu lugu untuk menilai sandiwara yang Ammar perankan dengan sangat sempurna.

Elif mulai terbiasa dengan rasa sakit di setiap detik hembusan nafasnya, demi sebuah keajaiban yang menjadi pinta di kala malam. Ditemani air mata juga jeritan pilu sanubari kala wanita cantik itu tak lagi mampu menahan.

Lama sekali dirinya bertahan, berjalan dengan kaki telanjang di atas duri-duri tajam. Kemarin, dadanya sudah terlalu sesak, muatan untuk luka sudah melebihi kadar. Meski hati kecil wanita itu selalu berbisik, bahwa Tuhan tidak akan menguji di luar batas kemampuan.

Elif hanya manusia biasa, ada kalanya rasa lelah menghasutnya untuk menyerah saja. Kesabaran wanita itu sudah sampai pada titik puncak, menurutnya, tak perlu bertahan jika tidak bahagia.

Ya, Ammar kini terbebas dari wanita benalu yang menghancurkan hidupnya, menurut pikiran sempit laki-laki itu.

"Lancang sekali wanita itu pergi tanpa seizinku."

Moodnya untuk bekerja mendadak hilang begitu saja. Ammar malah termagu menatap cincin yang diambil dari saku celananya.

"Ck, aku membencinya. Tapi, kenapa pikiranku harus kacau karenanya? Argh ...!"

Ammar kembali meraih gagang telpon, matanya menatap nyalang ke arah ruangan di seberang sana.

"Suruh manager keuangan ke ruanganku, sekarang!"

Bruakk!

Next?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
lucu banget kalimat, gadis cerdas tapi lugu. itu bulshit. si elif itu tolol
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku Pergi, Mas   27 Ekstra Part

    Pukul 10 malam. Elif mengerjab perlahan saat tangannya menyentuh sisi ranjang di sebelahnya untuk mencari seseorang yang ternyata kosong—sosok yang dicarinya tidak kunjung ditemukan. Elif segera memaksa mata cantiknya untuk terbuka sepenuhnya. Gadis yang beberapa saat yang lalu telah menjadi wanita seutuhnya itu gegas bangkit untuk duduk. Senyuman di bibir merah jambunya mulai mengembang saat pikirannya mengingatkan Elif tentang sesuatu. Sesuatu yang begitu indah tentu saja. Oh, apakah ini nyata? Begitu tanya yang muncul dalam hati wanita cantik berlesung pipi itu—saat melihat tubuhnya yang polos di balik selimut. Elif sedikit mencubit lengannya, dan ternyata terasa sakit. 'Ini nyata. Akhirnya, mimpi itu telah menjadi nyata,' batin Elif dengan mata berkaca. Dulu, jangankan untuk disentuh, meliriknya saja Ammar seperti sangat jijik. Tapi, hari ini ... ah, Elif bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana cara Ammar memperlakukannya tadi. Sangat lembut. Seolah tubuh istrinya ada

  • Aku Pergi, Mas   26 Ending

    Sementara di lain tempat, sudah beberapa hari Elif tidak pergi bekerja dan hanya menyendiri di kontrakan. Elif sedang memantapkan hati untuk perpisahan, tapi Ammar terus saja hadir mengusik ego dan hatinya. "Kenapa suka sekali hadir untuk mempermainkan hatiku, Mas? Kenapa? Kau senang, kan melihatku seperti ini?" Elif selalu saja memaki Ammar kala bayangnya muncul tanpa tanda dan tiba-tiba. Hingga entah di hitungan hari ke berapa, Elif memilih untuk mengalah dengan hatinya dan bertekad pergi ke rumah utama.Wanita itu menekan bell dengan perasaan cemas. Pasalnya, sudah lama Elif tidak pernah datang setelah hari kepergiannya dari rumah. "Mama!" panggil Elif saat pintu besar berwarna putih itu terbuka lebar dan seorang wanita paruh baya berdiri dengan anggun di hadapannya."Sayang? Elif, ya ampun, akhirnya kamu datang." Ny. Risma memeluk menantunya dengan erat, seolah enggan mengizinkan pergi. "Kamu ke mana saja? Mama sangat merindukan kamu, El," ucap Ny. Risma setelah melepas pelu

  • Aku Pergi, Mas   25 Perpisahan?

    Memaafkan adalah kemenangan terbaik.__ Ali bin Abi Thalib __"Tentu saja. Aku telah memaafkanmu jauh-jauh hari," jawab Elif dengan bibir mengerucut. "Benarkah? Apa itu berarti kau akan pulang bersamaku?" tanya Ammar spontan.Deg. Jantung Elif seketika berdebar kencang. Aliran darahnya seperti terhenti. Pernyataan Ammar terlalu blak-blakan dan tiba-tiba seperti ini. "Mas,""Kenapa? Apa permintaanku terlalu berlebihan? Ammar menahan tangan Elif saat wanita itu hendak beranjak dari sana. Tak bisa melarikan diri, Elif memilih tenggelam dalam mata Ammar. Di mana dirinya tengah menari-nari di sana. Menit kemudian wanita itu tersenyum. Satu yang bisa Ammar tangkap. Ketulusan. Elif laksana Edelweis, senyuman tulus seorang kekasih. "Tak hanya di lisan, aku telah memaafkanmu dari hatiku, Mas. Jujur, aku begitu tersanjung saat diajak untuk pulang, tapi ...." Ammar semakin mempererat pelukan. Menanti kalimat yang terputus dengan perasaan tak karuan. "Mas, bolehkah aku meminta waktu sebe

  • Aku Pergi, Mas   24 Permintaan Tidak Biasa

    Ammar sudah dipindahkan ke ruang perawatan untuk pemulihan setelah tiga jam lebih berada dalam ruang operasi. Meski sudah melewati masa kritis, Ammar belum sadarkan diri. Dan hanya satu orang yang diperbolehkan dokter untuk menemani, demi ketenangan pasien. Elif—lah yang melakukan itu dengan segala rasa bersalahnya. Alzam dan pak Kidar memilih berjaga-jaga di luar ruangan, dalam keadaan sama-sama membisu. Mengingat kejadian buruk yang terjadi beberapa waktu yang lalu, dua laki-laki itu tidak berani meninggalkan Elif dan Ammar di rumah sakit. "Saya ke toilet sebentar!" pamit pak Kidar yang hanya diangguki oleh Alzam.Ada banyak hal yang sedang Alzam renungi. Salah satunya, apa yang terjadi dengan Elif beberapa saat yang lalu. 'Aku saja begitu murka saat melihat kondisinya, apa lagi Ammar yang berstatus sebagai suaminya.' Alzam tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang sahabat tega melakukan hal rendahan seperti itu. Seorang laki-laki sekelas Darius, bagaimana bisa memiliki cint

  • Aku Pergi, Mas   23 Nasib Elif

    HAPPY READING ❤️Ammar pulang dari kantor dengan perasaan yang tidak bisa diartikan. Sejak tadi, ingatannya hanya pada Elif, Elif dan Elif saja. Ini berbeda. Bukan rasa seperti biasa. Jika kemarin-kemarin Ammar hanya merindu, kini didampingi kecemasan yang juga berbalut luka."Apa aku menghubunginya, saja?" tanya Ammar pada diri sendiri setelah tiba di depan pintu apartemen. "Tapi, bagaimana kalau dia tidak senang kuhubungi?" ulangnya lagi. Tidak, tidak. Ammar menggeleng-geleng kepala. Laki-laki itu merasa kekhawatirannya sebagai sesuatu yang berlebihan. 'Mungkin aku hanya terlalu rindu, karena efek baru bertemu kemarin. Semoga Elif baik-baik saja.'Setelah menyakinkan diri, Ammar langsung masuk ke dalam, menuju kamar untuk meletakkan tas dan melepas pakaian kantor. Lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Berharap di bawah guyuran air bisa membuat dirinya kembali pulih. Juga pikiran yang kembali jernih. 'Apa aku siap jika harus berpisah? Sekarang saja, aku hampir gila karen

  • Aku Pergi, Mas   22 Elif Dalam Bahaya

    Tubuh Elif membeku. Setelah banyak hal tak biasa yang mereka lewati, dengan mudahnya Ammar berucap seperti itu.Kalimat sederhana yang ingin Elif dengar sejak dulu.'Apa dia sedang mencoba membodohiku seperti dulu? Kenapa jantungku seperti ini? Ini akan sangat memalukan jika Mas Ammar sampai mendengarnya.'Elif menatap mata elang itu lekat-lekat. Namun, tidak terdapat setitik kebohongan pun di sana. "Aku tidak sedang berbohong, Elif. Aku berani bersumpah untuk itu." "Maafkan aku, Mas! Kalau saja aku tidak muncul dalam kehidupan ....""Sstt!"Ammar meletakkan telunjuknya di bibir Elif. Lalu, menariknya dengan cepat setelah menyadari kelancangannya. Tak hanya Elif, Ammar juga merasakan ada yang salah dengan jantungnya. Riuh sekali di dalam sana. "Ma–af, aku tidak bermaksud lancang! Hanya saja aku tidak suka mendengarmu meminta maaf seperti itu. Jelas-jelas aku yang bersalah. Harusnya aku berterima kasih karena kamu telah sudi hadir dalam hidupku. Orangtuaku tidak bersalah, begitu ju

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status