MasukPukul sembilan malam. Raisa duduk di meja makan, menghadapi sepiring nasi goreng yang sudah dingin.
Ia memasaknya dua jam lalu—menggoreng bawang putih sampai harum, menambahkan kecap manis dengan takaran yang tepat seperti yang Dimas suka, tidak terlalu manis tidak terlalu asin, lalu menambahkan telur dengan kuning yang masih setengah matang persis seperti yang ia selalu minta. Ia bahkan menghias piring dengan irisan timun dan tomat cherry, sesuatu yang biasanya ia lakukan hanya untuk tamu.
Berharap Dimas pulang tepat waktu seperti yang dijanjikan lewat pesan singkat pukul lima sore: "Pulang jam 7. Makan di rumah.
Tiga kata terakhir yang membuatnya tersenyum saat membacanya di supermarket. Makan di rumah. Bukan meeting. Bukan lembur. Makan di rumah, bersama, seperti pasangan normal.
Tapi janji tinggal janji. Layar ponselnya sekarang menunjukkan pukul 21:03, dan tak ada kabar. Tak ada pesan. Tak ada telepon. Hanya sunyi.
Raisa menatap nasi goreng di depannya. Minyak sudah mengental, membentuk lapisan tipis kekuningan di permukaan. Telur mata sapi yang dulu lembek sekarang kaku, kulitnya mengkerut. Potongan ayam fillet yang ia potong kecil-kecil sudah mengeras di pinggirnya. Bahkan timun sudah layu.
Lima ratus gram nasi yang ia ukur. Dua telur organik yang ia beli khusus. Seratus gram ayam fillet tanpa lemak. Dua siung bawang putih yang ia cincang halus. Satu batang daun bawang segar. Dua sendok makan kecap manis cap Bango yang Dimas suka.
Semua sia-sia.
Seperti hari-hari lainnya.
Ia mengambil sendok, mencoba makan satu suap. Nasi itu dingin di mulutnya, teksturnya sudah agak keras. Tidak ada rasa. Atau mungkin ia yang sudah kehilangan kemampuan merasakan. Ia mengunyah perlahan, menelan dengan susah payah, lalu meletakkan sendok.
Kenapa aku masih berusaha? pikirnya. Kenapa aku masih memasak dengan hati-hati untuk seseorang yang tidak akan pulang tepat waktu?
Tapi ia tahu jawabannya. Karena harapan. Harapan bodoh yang tidak pernah mati meski sudah dikecewakan ratusan kali.
***
Ia mendengar suara mobil memasuki garasi. Mesin mati. Pintu mobil dibanting—tidak keras, tapi cukup untuk terdengar sampai ke dalam rumah.
Jantungnya berdebar sedikit—masih ada sisa-sisa harapan bahwa malam ini mungkin berbeda. Refleks bodoh yang tidak bisa ia kontrol.
Ia cepat-cepat berdiri, pergi ke cermin di dinding, memeriksa penampilannya. Menyemir bibir dengan lipbalm rasa strawberry yang dulu Dimas suka. Merapikan rambut yang mulai acak-acakan. Menarik ujung blus agar terlihat lebih rapi. Mencubit pipi agar terlihat sedikit merona.
Kenapa aku melakukan ini? Kenapa aku mempercantik diri untuk suami sendiri yang bahkan tidak akan melihat?
Tapi ia tetap melakukannya. Kebiasaan. Atau mungkin harapan. Atau mungkin keputusasaan.
Pintu terbuka.
Dimas masuk. Wajahnya pucat kecokelatan layar laptop—warna yang sudah ia kenal benar. Bukan pucat karena sakit, tapi pucat karena terlalu lama menatap layar di ruangan ber-AC. Matanya sembab, dengan kantung hitam di bawahnya. Rambutnya agak berantakan, tidak seperti Dimas yang biasanya selalu rapi.
"Hai," katanya singkat, suaranya datar, meletakkan tas kerja kulit cokelat di kursi meja makan—kursi yang harusnya ia duduki untuk makan malam bersama.
"Makan malam?" tanya Raisa, mencoba terdengar ringan. Mencoba tidak terdengar seperti istri yang sudah menunggu dua jam lebih. Mencoba tidak terdengar putus asa.
"Sudah makan di kantor. Meeting sama klien Singapura."
Klien Singapura. Selalu ada klien. Selalu ada meeting. Selalu ada alasan.
Ia melepas sepatu, langsung menuju meja kerja di sudut ruang keluarga—meja yang seharusnya untuk dekorasi tapi sekarang jadi kantor kedua. Laptop dibuka dengan gerakan otomatis. Layar menyala, cahaya biru menyinari wajahnya. Cahaya yang lebih terang dari pandangannya pada Raisa.
Raisa berdiri di tempat, tangan masih memegang tatakan piring. Jari-jarinya mencengkeram tepi piring porselen putih sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kamu janji pulang jam tujuh," katanya, suara kecil. Hampir berbisik. Seperti anak kecil yang mengeluh. Seperti istri yang tidak punya hak untuk marah.
"Aku bilang mungkin jam tujuh." balas Dimas tanpa menoleh. Jari-jarinya sudah menari di keyboard. Klik. Klik. Klik. "Project-nya kacau. Harus selesai malam ini."
Mungkin. Kata penyelamat. Kata yang membuat semua janji menjadi tidak mengikat.
Kamu selalu harus menyelesaikan sesuatu, pikir Raisa, rahangnya mengeras. Kecuali aku. Kecuali kita.
***
Ia menghela napas—napas panjang yang ia tahan agar tidak terdengar seperti keluhan—lalu membawa piringnya ke dapur.
Nasi goreng dibuang ke tempat sampah. Satu sendok. Dua sendok. Tiga. Semua masuk ke kantong plastik hitam yang berbau sisa sayuran kemarin. Gerakan yang dramatis, tapi siapa yang peduli? Dimas bahkan tidak mendengar suara plastik tempat sampah yang ia buka. Bahkan tidak menoleh.
Lima ratus gram nasi. Dua telur. Seratus gram ayam fillet. Dua siung bawang putih. Satu batang daun bawang. Dua sendok makan kecap. Satu jam memasak. Dua jam menunggu.
Semua masuk tempat sampah.
Seperti usahanya. Seperti harapannya. Seperti cintanya.
Dari dapur, Raisa mengintip suaminya. Punggungnya membungkuk dalam postur yang ia tahu tidak sehat. Bahu tegang, leher maju ke depan, jemari menari cepat di keyboard. Wajahnya yang dulu selalu ia cium setiap pagi kini terlihat seperti topeng—kerut dalam di dahi, mata yang tak pernah berkedip, mulut sedikit terbuka dalam konsentrasi.
Ia tidak mengenali pria itu.
Atau mungkin ia yang berubah. Mungkin Dimas selalu seperti ini dan ia dulu terlalu cinta untuk melihat.
***
Ia teringat lima tahun lalu.
Dimas yang mengajaknya jalan-jalan tengah malam—jam sebelas, saat Raisa sudah mengantuk di sofa, tiba-tiba ia berkata, "Ayo, aku tahu tempat martabak enak yang buka sampai pagi." Dan mereka pergi, dengan Raisa masih mengenakan piyama di balik jaket tebal, tertawa sepanjang jalan.
Dimas yang mencuri ciumannya di tengah keramaian mal—di eskalator, di antara puluhan orang, tangannya tiba-tiba menarik wajah Raisa dan menciumnya, tidak peduli orang-orang yang tersenyum geli melihat mereka.
Dimas yang menggambar hati di uap kaca saat mereka mandi bersama. Hati dengan inisial mereka. Lalu ia tulis di bawahnya: "Selamanya."
Selamanya ternyata hanya iga tahun.
Kamu dulu menulis puisi untukku, kenang Raisa sambil mencuci piring dengan gerakan mekanis. Air hangat mengalir di tangannya tapi ia tidak merasakan. Sabun berbusa tapi ia tidak peduli.
Kata-katanya canggung, tata bahasanya salah, rimanya tidak jelas, tapi tulus. "Mata Raisa seperti bintang di langit Bandung". Ia tertawa waktu itu, bilang itu puisi paling konyol yang pernah ia dengar. Tapi ia simpan sampai sekarang di laci. Lipat rapi. Seperti artefak dari kehidupan lain.
Sekarang satu-stunya puisi yang kau tulis adalah laporan keuangan. Angka dan grafik. Tidak ada ruang untuk perasaan.
***
"Rais, tolong buatkan kopi," pinta Dimas tiba-tiba, masih tak menoleh. Bahkan tidak bilang "please". Bahkan tidak bertanya "bisa buatkan". Hanya perintah halus.
"Kafein lagi? Sudah malam." Raisa melihat jam dinding. Sudah jam sembilan lewat.
"Aku butuh."
Raisa menggerutu dalam hati tapi tetap merebus air. Mengambil kopi instan Nescafe Gold dari lemari. Satu sendok makan. Dua sendok gula pasir—persis seperti yang Dimas suka. Ia masih ingat bagaimana suaminya suka kopinya. Tapi Dimas tidak ingat bagaimana ia suka dicium di pagi hari.
Prioritas.
Saat ia menyerahkan cangkir, tangannya sengaja menyentuh jari Dimas. Sentuhan dingin. Kulit Dimas terasa kering, dingin dari AC ruangan. Tak ada respons. Tidak ada kehangatan. Tidak ada apa-apa.
Tidak ada rasa. Tidak ada reaksi. Seperti menyentuh meja kayu. Seperti menyentuh benda mati.
"Terima kasih," gumam Dimas, tetap fokus ke layar. Mata tidak bergerak dari spreadsheet Excel yang penuh angka.
***
"Dimas," panggil Raisa, memberanikan diri. Suaranya lebih keras dari biasanya.
"Hmm?" Masih tidak menoleh.
"Kita... kita sudah lama nggak ngobrol." Jantungnya berdebar. Ini percakapan yang sudah ia rencanakan berhari-hari.
"Kita ngobrol tiap hari." Respons otomatis. Tanpa pikir.
"Bukan obrolan kayak gini. Maksudku, ngobrol beneran. Tentang perasaan. Tentang kita. Tentang... pernikahan kita."
Kata terakhir keluar lebih berat dari yang ia bayangkan.
Dimas akhirnya menoleh. Tapi matanya kosong. Seperti menatap tembok. Seperti melihat tapi tidak benar-benar melihat.
"Rais, aku lagi dipepet deadline. Bisa nggak nanti weekend?"
Weekend nanti kamu akan bilang lelah. Atau ada kerjaan yang terbawa pulang. Atau kamu akan tidur sepanjang hari untuk "recovery". Atau ada golf dengan klien. Atau ada ini, ada itu.
Selalu ada.
Tapi Raisa hanya mengangguk. "Oke. Weekend."
Kata-kata kosong. Janji kosong. Harapan kosong.
***
Ia pergi ke kamar mandi, mengunci pintu. Klik. Suara kunci yang terdengar seperti penjara.
Di balik cermin, wajahnya memantul. Wanita dengan mata sayu, bahu turun, senyum yang tidak sampai ke mata. Wanita yang ia tidak kenal lagi.
Kapan aku kehilangan diriku?
Ia membuka keran. Air mengalir deras, memenuhi wastafel. Airnya dingin—ia tidak menyalakan pemanas. Membasuh wajah dengan gerakan kasar. Air dingin menusuk kulit, tapi ia tidak peduli.
Airnya dingin, tapi tak semembeku hati suaminya. Tak semembeku pernikahan ini.
***
Malam itu, Raisa tidur duluan.
Ia berbaring miring, menghadap jendela, memeluk bantal. Mencoba tidur tapi tidak bisa. Mata terbuka di kegelapan.
Saat ia setengah tertidur—atau berpura-pura tidur—ia merasakan kasur bergoyang. Dimas masuk ke tempat tidur. Kasur berderit pelan. Bau sabun mandi tercium samar.
Ia menunggu.
Mungkin sebuah pelukan dari belakang. Mungkin tangan di pinggang. Mungkin sebuah ciuman di kepala. Mungkin sebuah bisikan "maaf aku pulang telat". Mungkin sekadar "selamat malam" yang lembut.
Tapi yang ia dengar hanyalah gerakan selimut. Lalu dengkuran.
Dengkuran yang teratur. Konstan. Seperti mesin yang menyala. Seperti jam dinding yang berdetak. Seperti sesuatu yang tidak punya jiwa.
Dan di kegelapan, Raisa membuka mata, menatap langit-langit yang tidak bisa ia lihat.
Kapan aku berhenti menjadi kekasihnya dan mulai menjadi furnitur?
Lemari pakaian. Meja makan. Dispenser air. Tempat sampah untuk keluhan.
Benda yang ada. Benda yang berfungsi. Tapi tidak pernah benar-benar dilihat.
Raisa menarik selimut sampai ke dagu.
Besok, pikirnya. Besok aku akan bicara sungguhan.
Tapi ia tahu itu bohong.
Ia sudah mengatakan hal yang sama kemarin. Dan kemarin lusa. Dan minggu lalu. Dan bulan lalu.
Dan tidak pernah terjdi.
Karena bagian dari dirinya takut pada jawaban yang mungkin ia terima.
Takut Dimas akan bilang: "Iya, kita memang ada masalah. Dan aku tidak tahu bagaimana memperbaikinya."
Atau lebih buruk: "Aku tidak melihat ada masalah."
Jadi ia diam.
Seperti biasa.
Dalam kegelapan, dengan dengkuran Dimas di sampingnya, Raisa menutup mata.
Dan berharap besok akan berbeda.
Meski ia tahu tidak akan.
"Raisa? Raisa Surya?"Suara dari belakang membuat Raisa menoleh. Ia sedang menunggu Dimas di lobi kantor—menara kaca di kawasan SCBD yang AC-nya selalu terlalu dingin, membuat ia menyesal tidak membawa cardigan. Mereka berjanji makan siang bersama hari ini. Upaya rekonsiliasi setelah pisah kamar. Setelah percakapan jujur. Setelah insiden bekas ciuman.Pria yang memanggilnya terlihat familiar. Tinggi, rambut silver yang disisir rapi ke belakang, mengenakan setelan jas yang mahal—terlihat dari kain dan potongannya yang sempurna. Usia mungkin pertengahan empat puluhan, tapi terawat dengan baik."Maaf, saya—" Raisa bingung. Kenal tapi tidak ingat dari mana."Randy. Atasan Dimas." Ia mengulurkan tangan. "Kita pernah bertemu di company dinner tahun lalu."Oh. Sekarang Raisa ingat. Randy yang duduk di meja VIP. Yang memberikan sambutan tentang target kuartalan. Yang Dimas pernah sebutkan sebagai "bos yang menuntut tapi adil.""Oh ya, Pak Randy. Maaf tidak langsung ingat." Raisa menjabat tang
"Pilih."Satu kata. Sederhana. Final. Membelah udara di ruang tamu Aldo seperti pisau.Raisa baru saja menutup pintu di belakangnya. Belum melepas sepatu. Belum duduk. Aldo sudah menjatuhkan bom."Pilih apa?" Raisa bingung, meski sebagian darinya tahu persis apa yang dimaksud."Aku atau dia." Aldo duduk di sofa, tangan terlipat, mata serius tanpa jejak kehangatan yang biasa. Tidak ada senyum. Tidak ada pelukan. Hanya tatapan tajam dan ultimatum yang telah lama tertunda. "Kamu tidak bisa terus seperti ini. Kita tidak bisa terus seperti ini."Jantung Raisa berdenyut kencang. Ini—ini yang telah ia hindari. Percakapan yang ia tahu akan terjadi suatu hari tapi berharap "suatu hari" itu masih jauh."Do, kita sudah pernah membicarakan ini—""Dan kamu selalu menghindari," potong Aldo. Tidak kasar, tapi tegas. "Selalu. 'Nanti.' 'Beri waktu.' 'Tidak semudah itu.' Aku sudah memberi waktu, Rais. Empat bulan. Empat bulan kita... apa pun ini. Dan aku tidak bisa lagi."Raisa duduk di ujung sofa. Jar
Pagi itu, Dimas tidak pergi kerja.Raisa bangun dengan alarm jam enam seperti biasa. Keluar dari kamar utama yang kini terasa seperti galeri seni—semua furniture masih di tempatnya, tapi tak ada lagi kehidupan yang mengalir di antaranya. Hanya objek-objek yang berdiri diam, menunggu makna yang sudah lama pergi.Ia berjalan ke dapur untuk ritual pagi yang otomatis: air panas, kopi, roti panggang yang tak akan dimakan.Tapi seseorang sudah berada di sana.Dimas duduk di meja makan. Di depannya dua cangkir kopi yang masih mengepul. Satu untuknya, satu untuk Raisa. Seperti dulu. Sebelum semuanya rusak. Sebelum jarak tiga puluh sentimeter menjadi tiga puluh meter."Duduklah," katanya. Bukan perintah. Permohonan. Suaranya serak dari tidak tidur—atau dari menangis, Raisa tak bisa memastikan.Raisa duduk di kursi yang biasa ia duduki. Jarak satu meter melintasi meja. Cangkir kopi di depannya—hitam dengan satu gula, persis seperti yang ia suka. Dimas masih ingat. Setelah semua yang terjadi, de
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, Raisa tidur sendirian di kamar utama.Dimas tidur di kamar tamu—ruangan kecil di ujung koridor yang selama ini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Kardus lama. Buku yang tidak dibaca. Pakaian musim dingin yang tidak pernah dipakai di Jakarta. Koper kosong. Barang-barang dari kehidupan lama yang tidak punya tempat di kehidupan sekarang.Sekarang tempat itu punya penghuni baru: suaminya sendiri.Jarak antara kamar mereka: tiga puluh meter sepanjang koridor.Tiga puluh meter yang terasa seperti tiga puluh kilometer. Seperti benua berbeda. Seperti planet berbeda.***Raisa berbaring di tempat tidur king-size yang mereka beli bersama dua tahun lalu. "Investment untuk future," kata Dimas waktu itu. "Supaya anak-anak kita bisa tidur di tengah kita nanti."Anak-anak yang tidak pernah datang. Yang tidak pernah mereka coba buat karena sudah lama tidak bercinta.Tempat tidur itu terasa lebih luas dari biasany
Itu terjadi saat mereka terlalu bersemangat.Sore itu, di kamar Aldo, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Mungkin karena Dimas akan pulang malam dan Raisa punya waktu lebih. Mungkin karena mereka tahu waktu terbatas dan ingin maximize setiap detik. Mungkin karena kata "sayang" kemarin membuat semuanya lebih intens, lebih real, lebih berbahaya.Aldo mencium leher Raisa. Tempat favorit yang sudah ia hafal di luar kepala. Tempat di bawah telinga kiri yang selalu—selalu—membuat Raisa menggigil dan mengerang.Mencium. Menjilat. Menggigit lembut. Menghisap.Raisa terlalu lost dalam pleasure untuk sadar. Tenggelam dalam sensasi bibir Aldo di kulitnya, tangan Aldo di tubuhnya, Aldo yang mengisi dirinya dengan sempurna.Dan Aldo—terlalu fokus pada membuat Raisa merasakan bagus, pada membuat Raisa lupa segalanya kecuali namanya—juga tidak sadar bahwa ia menghisap terlalu lama. Terlalu kuat. Terlalu intense.Meninggalkan tanda.Hickey. Love bite. Bekas ciuman yang j
"Sayang, pelankan sedikit."Kata itu keluar dari mulut Aldo tanpa berpikir. Natural. Seperti napas.Mereka sedang bercinta di tempat tidurnya. Sore yang hangat dengan tirai setengah tertutup. Cahaya keemasan masuk dari celah, membuat kulit mereka bersinar seperti madu.Raisa di atas, menunggangi Aldo, bergerak dengan ritme yang steady. Pinggul naik turun. Tangan di dada Aldo untuk balance. Rambut terurai menutupi sebagian wajah.Cantik. Sangat cantik.Dan Aldo—tenggelam dalam sensasi tubuh Raisa yang hangat mengitarinya, dalam pandangan Raisa yang bergerak di atasnya dengan mata setengah tertutup—mengatakan kata itu tanpa filter."Sayang, pelankan sedikit."Raisa berhenti bergerak. Tiba-tiba. Sepenuhnya.Tubuh masih menyatu—Aldo masih di dalam Raisa—tapi tidak ada gerakan.Raisa menatap Aldo. Mata terbuka penuh sekarang. "Apa?"Aldo tersadar. Menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya sedikit memerah—hal yang jarang terjadi pada pria yang biasanya percaya diri ini."Maaf. Itu...