Share

Bab 3: Aroma dari Rumah Sebelah

Penulis: Reva Chazep
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-12 12:26:57

Pagi itu, Raisa sedang menyapu teras ketika ia melihat truk pindahan berhenti di depan rumah sebelah.

Rumah itu sudah kosong selama enam bulan—sejak Bu Marta dan keluarganya pindah ke Singapura setelah suaminya dipindahtugaskan. Enam bulan rumah itu berdiri sunyi, tirai tertutup, taman mulai ditumbuhi rumput liar, cat pagar mulai mengelupas. Seperti hantu di antara rumah-rumah yang hidup.

Seperti diriku, pikir Raisa kadang-kadang saat menatap rumah kosong itu dari jendela dapur. Rumah yang terlihat oke dari luar, tapi kosong di dalam.

Tapi pagi ini, rumah itu tidak lagi kosong.

Ia memperhatikan dari balik tirai jendela dapur, sapu tergeletak di sudut teras yang sudah setengah disapu.

Dua laki-laki turun dari truk pindahan biru besar, mengenakan seragam jasa angkut. Lalu seorang pria keluar dari mobil sedan hitam yang parkir rapi di belakang truk. Honda Civic, kalau tidak salah. Mengkilap, terawat.

Dari jarak sepuluh meter, Raisa bisa melihat posturnya dengan jelas.

Tinggi. Sekitar 180 cm, mungkin lebih sedikit. Tidak setinggi Dimas yang 185 cm, tapi ada sesuatu dalam cara ia berdiri yang membuatnya tampak lebih... besar. Lebih hadir.

Tubuh atletis tapi tidak terlalu berotot. Tidak seperti bodybuilder atau atlet profesional. Lebih seperti seseorang yang rajin olahraga tapi tidak obsesif. Bahu lebar, pinggang ramping, tubuh berbentuk V yang natural.

Rambut hitam ikal yang agak panjang—tidak rapi seperti Dimas yang selalu ke barbershop tiap dua minggu, tapi justru acak-acakan yang terlihat... sengaja? Atau tidak sengaja tapi indah? Raisa tidak yakin. Yang jelas, berbeda. Sangat berbeda.

Ia mengenakan kaus abu-abu sederhana—bukan kaos branded seperti koleksi Dimas, tapi kaos polos yang melar pas di dada dan lengan, menunjukkan lekuk otot yang natural saat ia bergerak. Celana jeans biru pudar yang pas di paha. Sneakers putih yang terlihat sudah sering dipakai tapi masih terawat.

Tetangga baru, pikir Raisa, mencoba mengalihkan pandangan. Semoga tidak ribut. Semoga tidak suka pesta malam-malam.

Tapi matanya tetap melirik.

Ia kembali mengambil sapu, berpura-pura fokus menyapu dedaunan kering yang berserakan di teras. Tapi matanya sesekali melirik—cepat, mencuri pandang, seperti pencuri kecil yang takut ketahuan.

Pria itu tampak memimpin proses pemindahan dengan tenang. Tidak teriak-teriak seperti kebanyakan orang saat pindahan. Hanya tersenyum pada tukang angkut, menunjuk ke sana ke mari dengan gerakan tangan yang ekonomis, sesekali tertawa—tawa yang terdengar sampai ke teras Raisa. Tawa yang rendah, hangat, tidak dibuat-buat.

Ada aura santai yang memancar darinya. Seperti orang yang tidak pernah terburu-buru. Seperti orang yang punya waktu. Berbeda sekali dengan ketegangan yang selalu menyelimuti Dimas—bahu yang selalu tegang, rahang yang selalu mengeras, langkah yang selalu cepat seperti dikejar sesuatu.

***

Saat ia membungkuk mengambil kotak kardus besar—kotak dengan tulisan "DAPUR" di sampingnya—kausnya naik sedikit.

Raisa melihat sekelebat perut rata.

Tidak six-pack yang berlebihan, tapi jelas terlatih. Garis vertikal samar di tengah perut. Garis rambut halus berwarna hitam dari pusar ke bawah, menghilang di balik celana jeans. Dan lekukan V yang samar di pinggul—garis yang terbentuk antara perut dan paha, yang hanya muncul pada tubuh yang fit.

Kulitnya sawo matang—bukan pucat seperti Dimas yang jarang kena matahari. Kulit yang terlihat hangat, hidup, mengilap oleh keringat tipis di bawah sinar matahari pagi.

Raisa menelan ludah.

Ia cepat-cepat menunduk, fokus pada sapu yang tidak ia gerakkan sama sekali. Sapu di tangannya hampir jatuh karena genggamannya mengendur.

Dasar bodoh, hardiknya dalam hati. Mengintip tetangga seperti remaja puber. Seperti ibu-ibu kesepian di film India.

Tapi ia tak bisa menahan diri.

Ada sesuatu yang hidup tentang pria itu. Bukan hanya tubuhnya, tapi... energinya. Auranya. Cara ia bergerak.

Gerakannya cair, seperti air yang mengalir. Tak terburu-buru seperti Dimas yang selalu seperti lari sprint. Tidak kaku seperti robot. Setiap otot bergerak dalam harmoni yang indah—lengan mengangkat kotak, kaki melangkah, punggung membungkuk, semuanya mengalir tanpa usaha.

Seperti penari. Atau atlet. Atau... Raisa tidak tahu. Ia hanya tahu itu indah untuk dilihat.

Saat ia menoleh ke arah rumah Raisa—mungkin merasakan ada yang menatap—mata mereka bertemu.

Dua detik.

Mungkin kurang. Mungkin lebih. Raisa tidak yakin. Waktu terasa melambat.

Mata cokelat tua. Hangat. Tidak tajam seperti mata Dimas yang selalu menilai. Hanya... melihat. Mengamati. Lalu tersenyum kecil.

Raisa berpura-pura fokus pada sapu. Menyapu dengan gerakan terlalu cepat, terlalu keras, dedaunan beterbangan ke mana-mana.

Tapi hatinya berdebar kencang. Jantungnya berdetak seperti sehabis lari. Telapak tangannya berkeringat di pegangan sapu kayu.

Apa yang salah denganku? pikirnya. Apa yang salah denganku?

***

Beberapa jam kemudian—setelah ia mandi, berganti baju, menyiapkan makan siang yang tidak akan dimakan siapa-siapa karena Dimas pasti makan di kantor—saat ia keluar untuk mengambil surat dari kotak pos, pria itu keluar dari rumahnya.

Raisa hampir kembali ke dalam. Tapi sudah terlambat. Mereka sudah saling melihat.

Ia tersenyum. Senyum yang sampai ke mata. Mengangguk ramah.

"Halo," sapanya.

Suaranya dalam. Hangat. Seperti secangkir cokelat panas di malam hujan. Seperti sweter wol yang nyaman. Seperti... rumah.

Kenapa suara bisa membuat perasaan seperti itu? Raisa tidak tahu. Tapi ia merasakannya.

"Saya Aldo. Baru pindah." Ia mengulurkan tangan.

Raisa menatap tangan itu sebentar. Tangan besar, jari panjang, telapak yang terlihat kasar—bukan tangan kantor yang lembut seperti Dimas. Tangan yang bekerja.

Ia menjabat. Genggaman hangat. Kuat tapi tidak menghancurkan. Kulit yang sedikit kasar tapi tidak kering.

"Raisa," balasnya, mencoba tersenyum normal. Mencoba tidak terdengar seperti wanita yang baru saja mengintip perut telanjangnya dari jendela. "Selamat datang."

"Terima kasih." Ia melepas jabatan tangan—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lama. Pas. "Maaf kalau berisik tadi. Mudah-mudahan tidak mengganggu."

"Oh, tidak masalah." Raisa tersenyum. "Biasa aja kok. Tidak ribut."

Ia memperhatikan wajah Aldo lebih dekat sekarang.

Matanya cokelat tua—tidak hitam pekat seperti Dimas, tapi cokelat hangat dengan serpihan keemasan saat terkena cahaya. Dengan kerutan kecil di sudut saat tersenyum—tanda seseorang yang sering tersenyum, yang sering tertawa. Bukan kerut stres seperti kerut di dahi Dimas.

Mata yang melihat, pikirnya. Bukan mata yang menembus seperti bos yang interogasi. Bukan mata yang menilai seperti orang tua yang kecewa. Hanya... melihat. Mengamati. Tertarik.

Seperti ia benar-benar melihat Raisa. Bukan melihat "istri Dimas" atau "ibu rumah tangga" atau label lainnya. Tapi melihat Raisa.

Kapan terakhir kali seseorang benar-benar melihatnya?

"Suamimu tidak di rumah?" tanya Aldo ramah. Tidak menyelidik. Hanya ramah.

"Dia kerja. Kantoran." Raisa menunjuk ke arah kota dengan gerakan samar. "Jam kerjanya panjang."

Aldo mengangguk, seperti mengerti. "Saya kerja freelance. Desain grafis. Jadi saya banyak di rumah. Semoga tidak mengganggu. Kadang saya kerja sampai larut, lampu mungkin terang."

"Tidak sama sekali."

Raisa merasa obrolan ini terlalu panjang untuk tetangga baru yang baru bertemu lima menit lalu. Seharusnya sudah selesai. Seharusnya ia sudah bilang "oke, sampai jumpa" dan masuk ke rumah.

Tapi ia tak mau mengakhirinya.

Ada sesuatu yang nyaman tentang berbicara dengan Aldo. Seperti berbicara dengan teman lama. Tidak ada tekanan. Tidak ada terburu-buru.

"Kalau butuh apa-apa, bisa tanya," kata Raisa. "Saya di rumah hampir setiap hari."

"Saya akan ingat itu." Aldo tersenyum lagi—senyum yang membuat sudut matanya berkerut. "Senang bertemu, Raisa."

Ia mengucapkan namanya dengan lengkap. "Raisa." Bukan "Rais" yang setengah hati seperti Dimas yang malas mengucapkan satu suku kata terakhir.

Tapi "Raisa" yang penuh. Lengkap. Seperti namanya berarti sesuatu.

"Senang bertemu juga," balasnya.

***

Aldo berbalik, kembali ke rumahnya. Raisa berdiri di sana, surat di tangan, menatap punggungnya sampai pintu tertutup.

Lalu ia masuk ke rumah, menutup pintu, bersandar di baliknya.

Jantungnya masih berdebar. Tidak sekencang tadi, tapi masih lebih cepat dari normal. Napasnya sedikit lebih cepat dari seharusnya. Pipinya terasa hangat.

Ini konyol, pikirnya. Sangat konyol. Hanya tetangga baru. Hanya perkenalan sopan. Tidak ada apa-apa.

Tapi kenapa dadaku sesak begini? Kenapa tanganku gemetar? Kenapa aku merasa... hidup?

***

Sepanjang hari, pikirannya kembali ke Aldo.

Ke senyumannya yang sampai ke mata. Ke cara ia berdiri—santai, tidak tegang. Ke aura tenteram yang memancar darinya—seperti orang yang tidak membawa beban berat di pundak, tidak seperti Dimas yang selalu terlihat seperti membawa dunia di bahunya.

Ke kilasan perut rata saat kausnya terangkat.

Ia mengusap dadanya sendiri, merasakan detak jantung yang belum sepenuhnya tenang meski sudah berjam-jam sejak pertemuan itu.

Apa yang salah denganku? pikirnya lagi. Aku wanita yang sudah menikah. Aku tidak seharusnya merasa seperti ini pada pria lain.

Tapi bagian lain dari dirinya berbisik: Kapan terakhir kali Dimas membuatmu merasa seperti ini? Kapan terakhir kali jantungmu berdebar saat ia masuk ruangan? Kapan terakhir kali kamu menunggu-nunggu untuk berbicara dengannya?

Tidak pernah. Tidak dalam tiga tahun terakhir.

***

Saat Dimas pulang malam itu—lagi-lagi terlambat, lagi-lagi dengan laptop dalam tas, lagi-lagi dengan wajah lelah—Raisa memperhatikannya dengan sudut pandang baru.

Cara berjalannya yang terburu-buru, seperti masih di kantor. Bahunya yang tegang, naik hampir sampai ke telinga. Senyumannya yang datar, tidak sampai ke mata, lebih seperti reflex social daripada ekspresi kebahagiaan.

Kontras dengan Aldo yang berjalan santai, bahu rileks, senyum tulus.

"Tetangga sebelah ada yang baru," katanya saat makan malam yang sunyi. Dimas dengan ponsel di tangan, Raisa dengan piring di depan yang tidak ia sentuh.

"Oh ya?" Dimas tak mengangkat mata dari ponsel. Jempol menggulir layar. Cahaya biru menyinari wajahnya yang pucat.

"Namanya Aldo. Desainer grafis. Kerja freelance."

"Bagus." Datar. Tanpa minat.

Obrolan mati. Seperti biasa.

Dimas kembali ke ponsel. Raisa kembali ke keheningan.

***

Raisa menghela napas pelan agar tidak terdengar seperti keluhan.

Ia menatap ke luar jendela. Lampu rumah sebelah menyala—cahaya kuning hangat, bukan putih dingin seperti lampu LED di rumahnya. Tirai jendelanya masih terbuka. Ia bisa melihat bayangan seseorang bergerak di dalam—Aldo yang sedang mengatur furnitur, mungkin. Membuka kotak. Mengatur rumah baru.

Memulai hidup baru.

Hidup, pikirnya. Rumah sebelah terlihat hidup.

Ada gerakan. Ada energi. Ada kehangatan.

Sementara rumahnya sendiri—rumah yang lebih besar, lebih mewah, lebih rapi—terasa seperti museum setelah jam tutup.

Dingin. Sunyi. Mati.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, Raisa membiarkan dirinya bertanya:

Bagaimana rasanya hidup di rumah yang hidup?

Bagaimana rasanya disentuh oleh tangan yang hangat?

Bagaimana rasanya dilihat oleh mata yang benar-benar melihat?

Pertanyaan berbahaya.

Tapi ia tidak bisa berhenti bertanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 24 : Randy Menyapa di Lobi Kantor

    "Raisa? Raisa Surya?"Suara dari belakang membuat Raisa menoleh. Ia sedang menunggu Dimas di lobi kantor—menara kaca di kawasan SCBD yang AC-nya selalu terlalu dingin, membuat ia menyesal tidak membawa cardigan. Mereka berjanji makan siang bersama hari ini. Upaya rekonsiliasi setelah pisah kamar. Setelah percakapan jujur. Setelah insiden bekas ciuman.Pria yang memanggilnya terlihat familiar. Tinggi, rambut silver yang disisir rapi ke belakang, mengenakan setelan jas yang mahal—terlihat dari kain dan potongannya yang sempurna. Usia mungkin pertengahan empat puluhan, tapi terawat dengan baik."Maaf, saya—" Raisa bingung. Kenal tapi tidak ingat dari mana."Randy. Atasan Dimas." Ia mengulurkan tangan. "Kita pernah bertemu di company dinner tahun lalu."Oh. Sekarang Raisa ingat. Randy yang duduk di meja VIP. Yang memberikan sambutan tentang target kuartalan. Yang Dimas pernah sebutkan sebagai "bos yang menuntut tapi adil.""Oh ya, Pak Randy. Maaf tidak langsung ingat." Raisa menjabat tang

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 23 : Aldo Menuntut Kepastian

    "Pilih."Satu kata. Sederhana. Final. Membelah udara di ruang tamu Aldo seperti pisau.Raisa baru saja menutup pintu di belakangnya. Belum melepas sepatu. Belum duduk. Aldo sudah menjatuhkan bom."Pilih apa?" Raisa bingung, meski sebagian darinya tahu persis apa yang dimaksud."Aku atau dia." Aldo duduk di sofa, tangan terlipat, mata serius tanpa jejak kehangatan yang biasa. Tidak ada senyum. Tidak ada pelukan. Hanya tatapan tajam dan ultimatum yang telah lama tertunda. "Kamu tidak bisa terus seperti ini. Kita tidak bisa terus seperti ini."Jantung Raisa berdenyut kencang. Ini—ini yang telah ia hindari. Percakapan yang ia tahu akan terjadi suatu hari tapi berharap "suatu hari" itu masih jauh."Do, kita sudah pernah membicarakan ini—""Dan kamu selalu menghindari," potong Aldo. Tidak kasar, tapi tegas. "Selalu. 'Nanti.' 'Beri waktu.' 'Tidak semudah itu.' Aku sudah memberi waktu, Rais. Empat bulan. Empat bulan kita... apa pun ini. Dan aku tidak bisa lagi."Raisa duduk di ujung sofa. Jar

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 22: Percakapan yang Tertunda

    Pagi itu, Dimas tidak pergi kerja.Raisa bangun dengan alarm jam enam seperti biasa. Keluar dari kamar utama yang kini terasa seperti galeri seni—semua furniture masih di tempatnya, tapi tak ada lagi kehidupan yang mengalir di antaranya. Hanya objek-objek yang berdiri diam, menunggu makna yang sudah lama pergi.Ia berjalan ke dapur untuk ritual pagi yang otomatis: air panas, kopi, roti panggang yang tak akan dimakan.Tapi seseorang sudah berada di sana.Dimas duduk di meja makan. Di depannya dua cangkir kopi yang masih mengepul. Satu untuknya, satu untuk Raisa. Seperti dulu. Sebelum semuanya rusak. Sebelum jarak tiga puluh sentimeter menjadi tiga puluh meter."Duduklah," katanya. Bukan perintah. Permohonan. Suaranya serak dari tidak tidur—atau dari menangis, Raisa tak bisa memastikan.Raisa duduk di kursi yang biasa ia duduki. Jarak satu meter melintasi meja. Cangkir kopi di depannya—hitam dengan satu gula, persis seperti yang ia suka. Dimas masih ingat. Setelah semua yang terjadi, de

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 21: Kamar Tamu, Jarak 30 Meter

    Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, Raisa tidur sendirian di kamar utama.Dimas tidur di kamar tamu—ruangan kecil di ujung koridor yang selama ini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Kardus lama. Buku yang tidak dibaca. Pakaian musim dingin yang tidak pernah dipakai di Jakarta. Koper kosong. Barang-barang dari kehidupan lama yang tidak punya tempat di kehidupan sekarang.Sekarang tempat itu punya penghuni baru: suaminya sendiri.Jarak antara kamar mereka: tiga puluh meter sepanjang koridor.Tiga puluh meter yang terasa seperti tiga puluh kilometer. Seperti benua berbeda. Seperti planet berbeda.***Raisa berbaring di tempat tidur king-size yang mereka beli bersama dua tahun lalu. "Investment untuk future," kata Dimas waktu itu. "Supaya anak-anak kita bisa tidur di tengah kita nanti."Anak-anak yang tidak pernah datang. Yang tidak pernah mereka coba buat karena sudah lama tidak bercinta.Tempat tidur itu terasa lebih luas dari biasany

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 20: Tanda di Leher, Bohong di Mulut

    Itu terjadi saat mereka terlalu bersemangat.Sore itu, di kamar Aldo, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Mungkin karena Dimas akan pulang malam dan Raisa punya waktu lebih. Mungkin karena mereka tahu waktu terbatas dan ingin maximize setiap detik. Mungkin karena kata "sayang" kemarin membuat semuanya lebih intens, lebih real, lebih berbahaya.Aldo mencium leher Raisa. Tempat favorit yang sudah ia hafal di luar kepala. Tempat di bawah telinga kiri yang selalu—selalu—membuat Raisa menggigil dan mengerang.Mencium. Menjilat. Menggigit lembut. Menghisap.Raisa terlalu lost dalam pleasure untuk sadar. Tenggelam dalam sensasi bibir Aldo di kulitnya, tangan Aldo di tubuhnya, Aldo yang mengisi dirinya dengan sempurna.Dan Aldo—terlalu fokus pada membuat Raisa merasakan bagus, pada membuat Raisa lupa segalanya kecuali namanya—juga tidak sadar bahwa ia menghisap terlalu lama. Terlalu kuat. Terlalu intense.Meninggalkan tanda.Hickey. Love bite. Bekas ciuman yang j

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 19: Panggilan Sayang yang Bukan untuk Suami

    "Sayang, pelankan sedikit."Kata itu keluar dari mulut Aldo tanpa berpikir. Natural. Seperti napas.Mereka sedang bercinta di tempat tidurnya. Sore yang hangat dengan tirai setengah tertutup. Cahaya keemasan masuk dari celah, membuat kulit mereka bersinar seperti madu.Raisa di atas, menunggangi Aldo, bergerak dengan ritme yang steady. Pinggul naik turun. Tangan di dada Aldo untuk balance. Rambut terurai menutupi sebagian wajah.Cantik. Sangat cantik.Dan Aldo—tenggelam dalam sensasi tubuh Raisa yang hangat mengitarinya, dalam pandangan Raisa yang bergerak di atasnya dengan mata setengah tertutup—mengatakan kata itu tanpa filter."Sayang, pelankan sedikit."Raisa berhenti bergerak. Tiba-tiba. Sepenuhnya.Tubuh masih menyatu—Aldo masih di dalam Raisa—tapi tidak ada gerakan.Raisa menatap Aldo. Mata terbuka penuh sekarang. "Apa?"Aldo tersadar. Menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya sedikit memerah—hal yang jarang terjadi pada pria yang biasanya percaya diri ini."Maaf. Itu...

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status