Share

Bab 4: Pakaian yang Tak Dilirik

Penulis: Reva Chazep
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-12 12:27:18

Minggu itu, Raisa melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sejak bulan madu: membeli lingerie.

Bukan di toko biasa. Ia pergi ke butik khusus di mal—toko dengan etalase kaca yang agak gelap, dengan manekin yang mengenakan pakaian dalam mewah, dengan pramusaji yang berbicara pelan seperti di galeri seni.

Toko yang dulu ia dan Dimas datangi bersama sebelum bulan madu. Dimas yang memilihkan. Dimas yang bilang, "Yang ini. Warna putih. Untuk malam pertama kita."

Sekarang ia datang sendirian.

Bukan sembarang lingerie. Ini adalah set bra dan celana dalam warna merah tua—bukan merah terang yang norak, tapi merah anggur yang dalam, elegan. Dengan renda halus impor dari Prancis, kata pramusaji. Dengan tali yang bisa diatur di bahu dan pinggul. Dengan potongan yang dirancang untuk menonjolkan lekuk tubuh tanpa terlihat murahan.

Harganya tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.

Tujuh ratus lima puluh ribu untuk sepotong kain dan renda.

Dompetnya menjerit saat ia menggesek kartu. Tapi ia membayar tanpa ragu. Tanpa pikir panjang. Seperti membeli senjata terakhir untuk perang yang sudah hampir kalah.

***

Di fitting room yang sempit dengan pencahayaan lembut—tidak terlalu terang, tidak terlalu gelap, pas untuk membuat setiap wanita terlihat cantik—Raisa mencoba lingerie itu.

Cermin tiga sisi mengelilinginya. Ia bisa melihat dirinya dari depan, samping, belakang.

Matanya membesar.

Tubuhnya masih bagus. Tidak, lebih dari bagus.

Ia berolahraga rutin—yoga setiap pagi selama satu jam, sejak Dimas berangkat kerja sampai ia harus mulai masak sarapan yang tidak akan dimakan. Meski hanya yoga di rumah, mengikuti video YouTube di laptop, tubuhnya terlatih.

Pinggang ramping—ukuran 26, sama seperti saat mereka menikah. Pinggul yang melengkung sempurna dalam proporsi yang pas—tidak terlalu lebar, tidak terlalu kurus. Payudara ukuran 34B yang masih kencang, masih bulat, meski tiga tahun tak disentuh dengan hasrat.

Tiga tahun tak disentuh sama sekali, sebenarnya. Kecuali sentuhan mekanis saat bercinta yang jarang itu. Lima menit. Masuk. Keluar. Selesai.

Ia memutar badan, melihat dari berbagai sudut. Cermin samping menunjukkan lekuk punggungnya, lengkungan pantatnya dalam celana dalam renda yang pas. Cermin belakang menunjukkan tali bra yang menyilang dengan desain cantik.

Jari-jarinya menyusuri renda yang menempel di kulit. Tekstur halus di ujung jari. Lembut. Mahal. Ia bisa merasakan kualitasnya.

Renda itu dingin saat pertama kali menyentuh kulit, lalu menghangat mengikuti suhu tubuh. Pas di payudara, mengangkat sedikit, membuat belahan terlihat lebih dalam. Pas di pinggul, dengan tali samping yang bisa ditarik untuk disesuaikan.

Ia terlihat... seksi.

Kata itu terasa asing di pikirannya. Kapan terakhir kali ia merasa seksi?

Aku masih menarik, pikirnya, menatap bayangannya. Aku masih... wanita.

Tapi kenapa Dimas tidak pernah melihat?

Kenapa aku harus berdiri sendirian di fitting room ini, menatap tubuhku sendiri, membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku masih layak diinginkan?

Kenapa aku harus membeli ini untuk mengingatkan suamiku sendiri bahwa aku ada?

Tapi ia tetap membeli.

Karena harapan. Harapan kecil yang bodoh. Harapan yang sudah dikecewakan ratusan kali tapi tetap tidak mati.

Mungkin kali ini berbeda. Mungkin kali ini Dimas akan melihat. Benar-benar melihat.

***

Malam itu, ia mandi lama.

Sangat lama. Sampai air panas hampir habis. Sampai kulitnya memerah. Sampai uap memenuhi kamar mandi dan cermin berkabut sepenuhnya.

Air hangat mengalir di rambut panjangnya yang ia biarkan terurai—biasanya ia ikat saat mandi untuk cepat, tapi malam ini ia biarkan basah sepenuhnya. Air turun dari puncak kepala, mengalir ke wajah, ke leher, ke bahu, membasahi setiap inci kulit.

Ia menggunakan sabun wangi vanila yang dulu disukai Dimas.

Sabun cair dalam botol kaca mewah yang ia beli dua tahun lalu saat anniversary kedua mereka. "Wangimu manis," kata Dimas saat itu, mencium lehernya yang baru selesai mandi. "Seperti kue."

Sekarang botol itu masih hampir penuh. Sudah berbulan-bulan tak disentuh karena ia beralih ke sabun biasa yang lebih murah. Kenapa repot-repot pakai sabun mahal kalau tidak ada yang mencium?

Tapi malam ini ia pakai lagi.

Busa putih tebal muncul saat ia tuang sabun ke telapak tangan. Harum manis memenuhi kamar mandi—vanila dengan sentuhan karamel. Busa menyelimuti kulitnya, licin dan lembut.

Tangannya bergerak perlahan. Tidak terburu-buru. Menyabuni lengan dengan gerakan melingkar. Dada dengan gerakan vertikal. Perut dengan gerakan horizontal.

Ia berhenti di payudara.

Tangan kanannya memegang payudara kiri, ibu jari menyentuh puting. Tangan kirinya memegang payudara kanan.

Sudah lama. Sudah sangat lama sejak ia menyentuh dirinya sendiri dengan kesadaran penuh—bukan sekadar membersihkan dalam gerakan cepat, tapi merasakan. Benar-benar merasakan.

Jari-jarinya melingkar, meremas lembut. Daging yang kenyal. Hangat. Hidup.

Putingnya mengeras seketika, merespons sentuhan.

Merespons sentuhan yang bahkan bukan dari orang lain. Merespons sentuhan dari tangan sendiri.

Tubuhku masih bereaksi, pikirnya. Masih hidup.

Jadi kenapa Dimas tidak pernah menyentuh lagi?

Ia membuka mata, menatap bayangannya di cermin yang berkabut.

Melalui kabut uap, ia bisa melihat siluet tubuhnya. Garis-garis yang kabur tapi jelas. Wanita dengan tangan di payudara. Kepala sedikit menengadah. Bibir terbuka.

Wanita di cermin itu asing.

Matanya gelap—bukan karena pencahayaan, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang dalam. Bibirnya sedikit terbuka, napas keluar dalam hembusan halus. Napasnya lebih cepat dari seharusnya untuk seseorang yang hanya mandi.

Dada naik turun. Naik turun.

Ini hanya sabun, bisiknya pada bayangannya sendiri. Hanya perawatan kulit.

Tapi tangannya terus bergerak.

Turun dari payudara ke perut. Jari menyusuri garis vertikal di tengah perut—garis samar yang terbentuk dari latihan yoga. Turun ke pinggul. Ke paha.

Air shower mengalir terus. Hangat. Membasahi seluruh tubuh.

Ia membuka pahanya sedikit. Membiarkan air mengalir di antara kaki.

Jari-jarinya turun. Menyentuh bagian paling intim.

Ia tersentak.

Basah.

Bukan karena air shower. Ini berbeda. Lebih kental. Lebih hangat.

Tuhan.

Ia menutup mata. Jari masih di sana. Tidak bergerak. Hanya menyentuh.

Membayangkan.

Membayangkan tangan di sana bukan tangannya sendiri. Membayangkan tangan yang lebih besar, lebih kasar, lebih hangat. Tangan dengan telapak yang lebar, jari yang panjang.

Membayangkan napas panas di leher. Bibir yang mencium di bawah telinga. Gigi yang menggigit lembut di bahu.

Membayangkan bisikan di telinga, suara rendah, "Kamu indah."

Membayangkan berat tubuh di atasnya, menekan ke bawah, membuat ia merasa kecil tapi aman.

Wajah yang muncul di bayangannya bukan Dimas.

Mata cokelat. Rambut ikal. Senyum yang sampai ke mata.

Aldo.

Ia membuka mata cepat-cepat, tersentak, hampir terpeleset di lantai kamar mandi yang basah.

Mematikan shower dengan gerakan kasar. Air berhenti. Hanya tersisa suara tetesan.

Aku istri orang, bisiknya keras, napas masih tersengal. Napas yang tidak stabil. Aku istri Dimas. Aku harus berhenti.

Tapi tubuhnya sudah merespons.

Panas menyebar dari perut bagian bawah. Menjalar ke paha. Ke dada. Ke wajah.

Membuat ia sedikit gemetar. Lutut lemas.

Ia bersandar di dinding kamar mandi yang dingin, mencoba menenangkan napas.

***

Ia keluar dari kamar mandi setelah menunggu sampai napasnya normal. Membalut tubuh dengan handuk besar yang lembut.

Lalu ia mengenakan lingerie merah itu.

Renda dingin menyentuh kulit yang masih hangat dan lembab dari shower. Kontras suhu membuat kulitnya merinding. Bulu roma berdiri.

Ia mengait bra di belakang. Mengatur tali di bahu. Mengenakan celana dalam, menarik tali samping sampai pas.

Melihat cermin lagi.

Wanita di cermin berbeda dari yang di fitting room tadi. Lebih hidup. Lebih... lapar.

Mata yang masih gelap. Pipi yang merona—entah dari air panas atau dari yang lain. Bibir yang sedikit bengkak karena ia gigit saat menyentuh diri sendiri tadi.

Tubuh yang siap.

Tapi siap untuk apa? Untuk siapa?

Di kamar tidur, Dimas sudah berbaring. Masih dengan tablet di tangan. Membaca sesuatu—mungkin proposal, mungkin laporan, mungkin email.

Selalu ada yang dibaca. Selalu ada yang lebih penting daripada istri di sampingnya.

Raisa berdiri di ambang pintu kamar mandi, masih membalut tubuh dengan handuk besar yang menutupi lingerie di dalamnya.

Menarik napas dalam.

Ini kesempatan terakhir, pikirnya. Terakhir aku mencoba.

"Dimas," panggilnya lembut.

"Hmm?" Suaranya datar. Tidak bersemangat. Mata tidak bergerak dari tablet.

"Lihat."

Ia melepas handuk.

Handuk jatuh ke lantai dengan bunyi lembut. Whoosh.

Berdiri di sana dengan lingerie merah. Renda yang mahal. Tubuh yang terawat. Wanita yang masih cantik.

Dimas mengangkat mata dari tablet.

Pandangannya menyapu tubuh Raisa.

Satu detik. Dua detik.

Cepat. Datar. Seperti memeriksa daftar belanja.

Lalu kembali ke layar.

"Bagus," katanya. "Warnanya cerah."

Itu saja?

Raisa berdiri di sana. Telanjang kecuali lingerie. Rentan. Terbuka.

Dan yang ia terima hanya "warnanya cerah"?

Bukan "kamu cantik"? Bukan "ayo ke sini"? Bukan "Tuhan, aku merindukanmu"?

Hanya "warnanya cerah". Seperti komentar tentang gorden baru.

Sakit menusuk. Sakitnya fisik. Seperti pisau masuk ke dada, memutar, mencabik.

Ia mendekat. Kaki gemetar tapi ia paksa melangkah. Duduk di tepi tempat tidur.

Tangannya menyentuh lengan Dimas. Kulit dingin. Rambut halus di lengan berdiri karena AC.

"Aku beli ini hari ini," katanya, suara kecil. Hampir berbisik. "Khusus untukmu."

Tujuh ratus lima puluh ribu. Khusus untukmu.

"Terima kasih."

Dimas menepuk tangannya. Tepukan lembut. Seperti menepuk anak kecil yang baru memberikan gambar hasil mewarnai. Pat. Pat.

"Tapi aku masih harus selesai baca ini. Deadline besok."

Deadline. Selalu ada deadline.

Raisa duduk di sana.

Lingerie merah yang mahal tiba-tiba terasa konyol. Seperti kostum pesta di tengah pemakaman. Seperti gaun pengantin di tempat sampah.

Tujuh ratus lima puluh ribu rupiah untuk diabaikan.

Untuk dilihat sekilas dan dinilai sebagai "warnanya cerah".

Ia menarik napas. Panjang. Bergetar.

Lalu bangkit. Mengambil handuk dari lantai.

"Aku ke kamar mandi dulu."

"Oke."

***

Di balik pintu kamar mandi yang terkunci—klik, suara yang terdengar seperti penjara—air matanya akhirnya tumpah.

Tidak bisa ditahan lagi. Tidak mau ditahan lagi.

Mengalir deras. Panas di pipi yang dingin. Turun ke dagu, ke leher, membasahi renda merah yang mahal.

Diam-diam. Agar tak terdengar.

Tangan di mulut, menahan isak yang ingin keluar. Bahu bergetar.

Ia duduk di lantai keramik yang dingin. Punggung bersandar di pintu. Lutut ditekuk, dipeluk ke dada.

Menangis dalam sunyi.

Air mata mengalir. Lendir keluar dari hidung. Ia tidak peduli.

Menangis untuk tujuh ratus lima puluh ribu yang terbuang. Untuk harapan yang mati. Untuk tubuh yang tidak dilihat. Untuk wanita yang tidak diinginkan.

Menangis untuk pernikahan yang sudah mati tapi ia masih coba hidupkan dengan lingerie merah.

Menangis karena ia tahu—dalam hatinya yang paling dalam—ia tidak menangis untuk Dimas.

Ia menangis untuk dirinya sendiri.

Untuk wanita di cermin yang asing. Untuk tubuh yang masih hidup tapi tidak disentuh. Untuk hasrat yang masih ada tapi tidak tersalurkan.

Untuk bayangan Aldo yang muncul saat ia menyentuh dirinya sendiri.

Untuk pengkhianatan kecil itu. Untuk rasa bersalah. Untuk keinginan yang tidak seharusnya ada.

Raisa menangis sampai matanya bengkak. Sampai napasnya tersengal. Sampai tidak ada air mata yang tersisa.

Lalu ia berdiri. Melepas lingerie merah itu dengan gerakan kasar.

Melemparnya ke sudut kamar mandi. Renda mahal itu jatuh kusut di lantai keramik.

Mengambil piyama lama yang lusuh dari gantungan. Kaos katun yang sudah melar. Celana pendek yang sudah pudar warnanya.

Ini lebih cocok, pikirnya pahit sambil mengenakan piyama. Untuk istri yang tidak terlihat. Untuk wanita yang tidak diinginkan. Untuk hantu di rumah sendiri.

Ia membasuh wajah dengan air dingin. Berkali-kali. Sampai mata bengkak sedikit menyusut. Sampai pipi tidak terlalu merah.

Lalu keluar dari kamar mandi.

Dimas sudah tidur. Tablet di meja samping. Lampu mati. Dengkuran terdengar teratur.

Raisa masuk ke tempat tidur. Posisi yang sama. Tiga puluh sentimeter dari Dimas.

Menatap langit-langit yang gelap.

Dan bertanya untuk kesekian kalinya:

Kapan aku berhenti menjadi wanita dan mulai menjadi pajangan?

Pajangan yang tidak pernah dilihat.

Bunga yang tidak pernah dicium.

Tubuh yang tidak pernah disentuh.

Dalam kegelapan, ia menutup mata.

Tapi tidur tidak datang.

Yang datang hanya bayangan tangan besar menyentuh tubuhnya.

Bayangan yang bukan dari suaminya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 24 : Randy Menyapa di Lobi Kantor

    "Raisa? Raisa Surya?"Suara dari belakang membuat Raisa menoleh. Ia sedang menunggu Dimas di lobi kantor—menara kaca di kawasan SCBD yang AC-nya selalu terlalu dingin, membuat ia menyesal tidak membawa cardigan. Mereka berjanji makan siang bersama hari ini. Upaya rekonsiliasi setelah pisah kamar. Setelah percakapan jujur. Setelah insiden bekas ciuman.Pria yang memanggilnya terlihat familiar. Tinggi, rambut silver yang disisir rapi ke belakang, mengenakan setelan jas yang mahal—terlihat dari kain dan potongannya yang sempurna. Usia mungkin pertengahan empat puluhan, tapi terawat dengan baik."Maaf, saya—" Raisa bingung. Kenal tapi tidak ingat dari mana."Randy. Atasan Dimas." Ia mengulurkan tangan. "Kita pernah bertemu di company dinner tahun lalu."Oh. Sekarang Raisa ingat. Randy yang duduk di meja VIP. Yang memberikan sambutan tentang target kuartalan. Yang Dimas pernah sebutkan sebagai "bos yang menuntut tapi adil.""Oh ya, Pak Randy. Maaf tidak langsung ingat." Raisa menjabat tang

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 23 : Aldo Menuntut Kepastian

    "Pilih."Satu kata. Sederhana. Final. Membelah udara di ruang tamu Aldo seperti pisau.Raisa baru saja menutup pintu di belakangnya. Belum melepas sepatu. Belum duduk. Aldo sudah menjatuhkan bom."Pilih apa?" Raisa bingung, meski sebagian darinya tahu persis apa yang dimaksud."Aku atau dia." Aldo duduk di sofa, tangan terlipat, mata serius tanpa jejak kehangatan yang biasa. Tidak ada senyum. Tidak ada pelukan. Hanya tatapan tajam dan ultimatum yang telah lama tertunda. "Kamu tidak bisa terus seperti ini. Kita tidak bisa terus seperti ini."Jantung Raisa berdenyut kencang. Ini—ini yang telah ia hindari. Percakapan yang ia tahu akan terjadi suatu hari tapi berharap "suatu hari" itu masih jauh."Do, kita sudah pernah membicarakan ini—""Dan kamu selalu menghindari," potong Aldo. Tidak kasar, tapi tegas. "Selalu. 'Nanti.' 'Beri waktu.' 'Tidak semudah itu.' Aku sudah memberi waktu, Rais. Empat bulan. Empat bulan kita... apa pun ini. Dan aku tidak bisa lagi."Raisa duduk di ujung sofa. Jar

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 22: Percakapan yang Tertunda

    Pagi itu, Dimas tidak pergi kerja.Raisa bangun dengan alarm jam enam seperti biasa. Keluar dari kamar utama yang kini terasa seperti galeri seni—semua furniture masih di tempatnya, tapi tak ada lagi kehidupan yang mengalir di antaranya. Hanya objek-objek yang berdiri diam, menunggu makna yang sudah lama pergi.Ia berjalan ke dapur untuk ritual pagi yang otomatis: air panas, kopi, roti panggang yang tak akan dimakan.Tapi seseorang sudah berada di sana.Dimas duduk di meja makan. Di depannya dua cangkir kopi yang masih mengepul. Satu untuknya, satu untuk Raisa. Seperti dulu. Sebelum semuanya rusak. Sebelum jarak tiga puluh sentimeter menjadi tiga puluh meter."Duduklah," katanya. Bukan perintah. Permohonan. Suaranya serak dari tidak tidur—atau dari menangis, Raisa tak bisa memastikan.Raisa duduk di kursi yang biasa ia duduki. Jarak satu meter melintasi meja. Cangkir kopi di depannya—hitam dengan satu gula, persis seperti yang ia suka. Dimas masih ingat. Setelah semua yang terjadi, de

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 21: Kamar Tamu, Jarak 30 Meter

    Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, Raisa tidur sendirian di kamar utama.Dimas tidur di kamar tamu—ruangan kecil di ujung koridor yang selama ini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Kardus lama. Buku yang tidak dibaca. Pakaian musim dingin yang tidak pernah dipakai di Jakarta. Koper kosong. Barang-barang dari kehidupan lama yang tidak punya tempat di kehidupan sekarang.Sekarang tempat itu punya penghuni baru: suaminya sendiri.Jarak antara kamar mereka: tiga puluh meter sepanjang koridor.Tiga puluh meter yang terasa seperti tiga puluh kilometer. Seperti benua berbeda. Seperti planet berbeda.***Raisa berbaring di tempat tidur king-size yang mereka beli bersama dua tahun lalu. "Investment untuk future," kata Dimas waktu itu. "Supaya anak-anak kita bisa tidur di tengah kita nanti."Anak-anak yang tidak pernah datang. Yang tidak pernah mereka coba buat karena sudah lama tidak bercinta.Tempat tidur itu terasa lebih luas dari biasany

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 20: Tanda di Leher, Bohong di Mulut

    Itu terjadi saat mereka terlalu bersemangat.Sore itu, di kamar Aldo, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Mungkin karena Dimas akan pulang malam dan Raisa punya waktu lebih. Mungkin karena mereka tahu waktu terbatas dan ingin maximize setiap detik. Mungkin karena kata "sayang" kemarin membuat semuanya lebih intens, lebih real, lebih berbahaya.Aldo mencium leher Raisa. Tempat favorit yang sudah ia hafal di luar kepala. Tempat di bawah telinga kiri yang selalu—selalu—membuat Raisa menggigil dan mengerang.Mencium. Menjilat. Menggigit lembut. Menghisap.Raisa terlalu lost dalam pleasure untuk sadar. Tenggelam dalam sensasi bibir Aldo di kulitnya, tangan Aldo di tubuhnya, Aldo yang mengisi dirinya dengan sempurna.Dan Aldo—terlalu fokus pada membuat Raisa merasakan bagus, pada membuat Raisa lupa segalanya kecuali namanya—juga tidak sadar bahwa ia menghisap terlalu lama. Terlalu kuat. Terlalu intense.Meninggalkan tanda.Hickey. Love bite. Bekas ciuman yang j

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 19: Panggilan Sayang yang Bukan untuk Suami

    "Sayang, pelankan sedikit."Kata itu keluar dari mulut Aldo tanpa berpikir. Natural. Seperti napas.Mereka sedang bercinta di tempat tidurnya. Sore yang hangat dengan tirai setengah tertutup. Cahaya keemasan masuk dari celah, membuat kulit mereka bersinar seperti madu.Raisa di atas, menunggangi Aldo, bergerak dengan ritme yang steady. Pinggul naik turun. Tangan di dada Aldo untuk balance. Rambut terurai menutupi sebagian wajah.Cantik. Sangat cantik.Dan Aldo—tenggelam dalam sensasi tubuh Raisa yang hangat mengitarinya, dalam pandangan Raisa yang bergerak di atasnya dengan mata setengah tertutup—mengatakan kata itu tanpa filter."Sayang, pelankan sedikit."Raisa berhenti bergerak. Tiba-tiba. Sepenuhnya.Tubuh masih menyatu—Aldo masih di dalam Raisa—tapi tidak ada gerakan.Raisa menatap Aldo. Mata terbuka penuh sekarang. "Apa?"Aldo tersadar. Menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya sedikit memerah—hal yang jarang terjadi pada pria yang biasanya percaya diri ini."Maaf. Itu...

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status