Mag-log inKehidupan ganda yang terpaksa dijalankan Bianca demi menyambung hidup pada akhirnya membawanya ke dalam masalah besar. Bianca tidak pernah menyangka jika ayah dari anak muridnya sendiri adalah salah satu pelanggan yang datang ke pekerjaan kedua Bianca. Dengan suara beratnya, pria itu berbisik, "Jadi benar kita pernah bertemu sebelumnya?"
view moreLogan tidak bergerak.Bukan karena ia memilih diam, melainkan karena konsep “bergerak” itu sendiri mulai kehilangan makna di dalam ruang yang tidak memiliki arah. Ia mencoba merasakan dirinya—namun yang ia temukan bukan lagi batas yang jelas, melainkan sesuatu yang… terbentuk sambil berjalan.Jika ia adalah hasil—maka dari apa?Pertanyaan itu tidak ia ucapkan.Namun proses itu… merespons.Bukan dengan jawaban, melainkan dengan perubahan.Kemungkinan-kemungkinan di sekitarnya bergeser, seperti sesuatu yang mencoba menyusun ulang konteks agar pertanyaan itu sendiri… menjadi tidak perlu.Logan menyadarinya.Dan kali ini—ia tidak membiarkannya.“Jangan.”Kata itu keluar tanpa suara, namun cukup kuat untuk menahan pergeseran itu sejenak.Proses itu berhenti.Bukan karena dipaksa.Melainkan karena… tertarik.Untuk pertama kalinya—Logan bukan hanya objek.Ia… variabel.“Jika aku adalah hasil,” Logan melanjutkan, “maka aku membawa jejak dari apa yang menciptakanku.”Ia berhenti sejenak.“…da
Tidak ada yang langsung bereaksi.Bukan karena mereka tidak menyadari implikasinya, melainkan karena kesadaran itu datang terlalu besar untuk segera diproses. Ia tidak hanya mengguncang pemahaman—ia menghapus dasar dari kebutuhan untuk memahami itu sendiri.Bentuk kecil pertama mencoba berbicara.Namun yang keluar bukan kalimat, bukan bahkan suara yang utuh—melainkan serpihan niat yang tidak pernah mencapai bentuk. Seolah bahasa itu sendiri… tidak lagi kompatibel dengan apa yang sedang terjadi.“Ini tidak mungkin…” akhirnya ia berhasil merangkai sesuatu.Namun bahkan saat kata itu terbentuk, maknanya terasa… longgar. Seperti sesuatu yang dulu pasti, kini hanya menjadi salah satu kemungkinan yang rapuh.Logan tidak menoleh.Ia tetap menatap ke arah perspektif yang tidak memiliki arah itu, seolah mencoba mempertahankan satu titik tetap di tengah sesuatu yang terus berubah. Namun semakin ia mencoba, semakin ia menyadari bahwa titik itu… tidak pernah benar-benar ada.“Dia tidak menghapus
Logan tidak langsung menjawab.Pertanyaan itu tidak menyerang, tidak juga menuntut—namun menembus jauh lebih dalam dari sekadar ancaman. Ia bukan pertanyaan tentang identitas, melainkan tentang fondasi yang selama ini tidak pernah benar-benar dipertanyakan.“Jika aku menjawab…” Logan berkata pelan, “…aku mungkin hanya memberimu sesuatu untuk disalin.”Bentuk itu tidak bergerak.Namun kehadirannya menguat, seolah setiap bagian dari dirinya kini terfokus pada Logan—bukan sebagai objek, melainkan sebagai sumber.“Dan jika aku tidak menjawab?” lanjut Logan.“...maka kamu tetap akan mencoba memahami tanpa batasan yang aku beri.”Hening kembali turun, namun kali ini bukan hening yang kosong.Ia padat, hampir terasa seperti tekanan yang perlahan membentuk sesuatu yang belum terlihat.Bentuk kecil pertama bergetar gelisah.Ia tidak lagi mencoba membaca pola itu—ia sudah belajar bahwa itu sia-sia—namun instingnya mengatakan bahwa sesuatu sedang bergerak menuju titik yang tidak bisa kembali.“L
Kalimat itu tidak hanya terdengar. Ia menciptakan celah. “…untuk tidak menjadi bagian dari apa pun.” Sunyi. Namun bukan sunyi biasa—ini sunyi yang terbelah. Seolah seluruh realitas berhenti untuk mempertanyakan satu hal yang tidak pernah diajukan sebelumnya. Apa yang terjadi… jika sesuatu memilih untuk tidak termasuk? Struktur itu membeku. Bukan karena tidak mampu bergerak. Namun karena tidak memiliki jawaban. “Paradoks terdeteksi.” Sunyi. “Objek di luar himpunan.” Sunyi. Gilang berdiri. Tidak mundur. Tidak melawan. Namun juga tidak ikut. Ia ada— tanpa menjadi bagian. Dan untuk pertama kalinya— sesuatu yang mencoba menjadi segalanya… tidak bisa menjangkaunya. Hanum menatapnya. Matanya berkaca. Namun kali ini— bukan karena takut. Melainkan karena mengerti. “Kau… benar-benar pergi…” Sunyi. Gilang menoleh padanya. Senyumnya tipis. Namun hangat. “Aku tidak pergi…” Ia berhenti sejenak. “…aku hanya tidak tinggal di mana pun.” Sunyi. Sosok ‘sebelum’ menat
Angin laut berembus lebih kencang di dermaga itu.Suara ombak yang memukul tiang-tiang kayu terdengar seperti bisikan panjang yang tidak pernah berhenti.Namun Bianca tidak lagi mendengar apa pun.Pandangannya terpaku pada foto yang masih berada di tangan Surya.Foto kecil yang sudah pudar oleh wak
Udara malam terasa semakin dingin.Rendra masih menatap foto yang berada di tangan Logan. Lampu jalan memantul samar di permukaan kertas yang sudah mulai pudar itu, memperlihatkan gambar mobil yang ringsek di bagian depan—bekas kecelakaan yang terjadi dua puluh empat tahun lalu.Namun yang membuat
Perlahan, tanpa sadar, Bianca menelan ludah.Pria… di belakangnya?Di ruangan itu hanya ada tiga orang pria.Logan Mahardika.Rendra Pratama.Dan Arman Wicaksana.Siapa yang dimaksud?Jantung Bianca berdetak keras. Tangannya mulai din
Kata-kata itu menggantung di udara seperti petir yang menyambar tiba-tiba.Bianca merasa telinganya berdengung.“Bianca… Xaviera… Wicaksana?”Ia mengulang nama itu pelan, hampir seperti orang yang baru belajar berbicara.Nama itu terasa asing.Sangat asing.Seumur hidupnya, ia hanya mengenal satu n












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore