LOGINKehidupan ganda yang terpaksa dijalankan Bianca demi menyambung hidup pada akhirnya membawanya ke dalam masalah besar. Bianca tidak pernah menyangka jika ayah dari anak muridnya sendiri adalah salah satu pelanggan yang datang ke pekerjaan kedua Bianca. Dengan suara beratnya, pria itu berbisik, "Jadi benar kita pernah bertemu sebelumnya?"
View More“Dia bilang aku anak pembawa sial.”
Bianca Xaviera Putri terbelalak mendengarnya. Ucapan itu terlontar dari mulut Cilla, anak muridnya yang berusia 7 tahun. Pembawa sial? Yang Bianca tahu, Cilla berasal dari keluarga kaya. Biasanya Cilla akan dijemput oleh sopir pribadi atau pelayan-pelayan yang berseragam rapi. Dari desas-desus orang tua murid yang beberapa kali didengar oleh Bianca pun, keluarga Cilla sangat menyayanginya. Jadi, Bianca benar-benar kaget ketika mendengar itu. Sore ini, Bianca sedang menemani Cilla menunggu sopir pribadi menjemputnya. Tadi, Bianca sempat memisahkan Cilla ketika bertengkar dengan anak murid yang lain. Sekarang, Cilla berada di pangkuan Bianca dengan kepala tertunduk. “Siapa yang bilang gitu, Cilla?” tanya Bianca. Anak perempuan itu menunjuk seorang anak perempuan lain di kejauhan. “Asya,” katanya. Bianca menoleh ke arah sana. Asya baru saja dijemput oleh ibunya. “Asya bilang Cilla pembawa sial?” “Iya. Katanya, aku yang bikin Mama pergi ninggalin Papa.” Bianca tertegun. Ternyata orang tua Cilla sudah bercerai? “Nggak ada anak pembawa sial, Cilla. Nanti Miss tegur Asya, ya?” ucap Bianca sambil mengelus kepala Cilla. “Lagipula, Papa Cilla pasti sayang sama Cilla.” Cilla menggeleng. “Papa juga nggak sayang aku, Miss.” Bianca terkejut. Namun belum sempat membalas lagi, sebuah mobil hitam mewah sudah membunyikan klakson dan memasuki area pekarangan sekolah. Itu mobil jemputan Cilla. Seorang sopir dengan jas rapi keluar dari kursi pengemudi. Bianca sudah mengenalnya karena pria tua itu setiap hari menjemput Cilla. Mendengar klakson yang familiar, Cilla mengangkat kepalanya. Ia lalu turun dari pangkuan Bianca dan berjalan gontai ke arah mobil itu. Sang sopir dengan sigap menghampiri, kemudian membawakan tas sekolah Cilla. “Kami permisi,” pamit si sopir sopan sesaat setelah Cilla masuk ke dalam mobil. Bianca mengangguk. Tak lama, mesin mobil berderu dan dengan cepat menghilang dari pekarangan sekolah. Bianca hanya berdiam diri di sana sebelum ponsel dalam sakunya bergetar. Sebuah pesan masuk. [Hari ini ada tamu spesial. Bayarannya tinggi.] Bianca sedikit terkejut. Cepat-cepat ia menyembunyikan ponselnya, takut ada orang lain yang mengintip pesannya. Bianca pun bergegas masuk ke dalam untuk berkemas dan pulang ke rumah. —oOo— Sesampainya di rumah, Bianca berdiri di depan cermin kecil di kamar. Pakaiannya sudah berganti menjadi luaran kemeja yang sopan. Bianca juga sempatkan untuk merias tipis wajahnya. Cukup untuk sekadar menghiasi paras cantiknya. Bianca berjalan keluar kamar sambil menyampirkan tas di bahu. “Mbak, mau berangkat?” suara Clara, adiknya, terdengar dari arah dalam kamar. “Iya,” jawab Bianca. “Mbak nggak capek? Pagi kerja, malam kerja lagi!” Bianca tersenyum tipis sambil menyemprotkan parfumnya. Tentu saja ia lelah, namun Bianca tidak punya pilihan lain karena harus membiayai pengobatan nenek sambil menyambung hidup. Sejak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, Bianca yang menjadi tulang punggung bagi adik dan neneknya. Ia sempatkan menoleh ke arah kamar utama, tempat neneknya terbaring lemah. “Jangan khawatir, Clara. Yang penting nenek sembuh dan kamu bisa kuliah nanti.” Clara tersenyum. “Kalau gitu, hati-hati, Mbak. Malam ini merawat di panti jompo mana? Sama seperti kemarin?” Bianca menelan ludahnya. Tiap kali adiknya itu bertanya soal pekerjaan malamnya, Bianca selalu menjadi gugup. “I-iya, yang … kemarin. Sudah, ya, Clara. Aku pamit.” Bianca menutup pintunya dan ia melangkah dengan cepat menyusuri jalanan yang masih ramai. Langkahnya dibawa menuju ke tengah kota, tempat bekerjanya berada. Yang tidak seorang pun tahu selain dirinya, pekerjaannya di malam hari sama sekali bukan sebagai sebagai perawat di panti jompo. Ia merahasiakan pekerjaan ini rapat-rapat dari semua orang. Tidak ada yang boleh mengetahui tentang pekerjaan ini selain dirinya. Bianca melangkah pasti menuju gedung yang berdiri megah di tengah kota. Sebuah klub malam. Lampunya mencolok. Ketika masuk ke dalam, musiknya langsung menggelegar. Bianca masuk melewati pintu samping, mengganti senyum lembutnya ketika menjadi guru di pagi hari, dengan ekspresi profesional untuk melayani tamu-tamunya. Ia berjalan cepat menuju ruang belakang. Reno, si pemilik klub, sedang duduk di sana sambil merokok. “Tamu spesialnya baru saja datang. Layani mereka dengan baik,” kata Reno. Bianca hanya mengangguk sambil mempersiapkan pakaian gantinya dan menghela napas pendek. Sebenarnya ia tidak pernah menyukai ini. Setiap malam Bianca harus rela melayani pria-pria di klub malam, menemani mereka mabuk semalaman sambil mengenakan pakaian yang terlalu pendek demi mendapatkan bayaran besar. Semua ini dilakukannya demi membiayai biaya perawatan neneknya dan kehidupan sehari-hari. Ia tidak punya pilihan lagi karena menjadi guru saja tidak cukup untuk menutup itu semua. “Bianca?” suara Reno membuyarkan lamunannya. Bianca menoleh. “Jangan melamun. Ke ruang VIP sekarang,” pinta Reno singkat. “Baik,” jawab Bianca seadanya. Bagaimanapun, Bianca harus tetap bersikap profesional. Ia membutuhkan uang ini dan pria-pria itu membutuhkan pelayanannya. Jadi, ia melangkahkan kakinya ke arah ruang VIP berada. Dari luar, suara musik keras dari mesin karaoke sudah menggema. Bianca membuka pintu sambil tersenyum lebar, sebuah senyum profesional. “Selamat malam, Tuan-tuan!” Di dalam ruang VIP, segerombolan pria tengah menikmati malamnya. Mereka menoleh begitu Bianca masuk. “Ini dia yang ditunggu!” sahut salah satu pria di sana. Dari beberapa pria di sana, pandangan Bianca tersita oleh salah satu pria yang duduk bersandar di ujung sofa. Tatapan mata pria itu sedikit kosong, tidak terlihat tertarik dengan pesta yang berlangsung. Di hadapannya, sebuah gelas kecil berisi alkohol terlihat belum disentuh. Saat sedang menyisir seluruh ruang, tiba-tiba pinggangnya ditarik oleh salah satu pria di sana, Aldo, salah satu pelanggan setia. “Bianca, kamu mau bayaran lebih?” bisiknya. Bianca mengerjap mendengar itu. Tentu saja ia mau. Memang itu tujuannya bekerja di klub malam seperti ini. “Tentu, Tuan Aldo.” Mata Bianca masih memindai ruangan itu meski lampu yang berkedip membuatnya tak dapat melihat begitu jelas. Saat itulah Bianca merasakan tatapan tajam dari pria yang duduk di ujung sofa tadi. Namun, Bianca cepat mengabaikannya ketika Aldo berujar lagi. “Itu temanku, namanya Logan,” Aldo menunjuk seorang pria di ujung sofa. “Oh. Pria itu bernama Logan rupanya,” batin Bianca. Logan tidak lagi menatap Bianca. Pandangannya kini berpaling ke kawan-kawannya yang sedang bernyanyi keras-keras. Namun, Bianca masih belum mengerti maksud dan arah pembicaraan Aldo. “Ada apa dengan Tuan Logan?” bisik Bianca. “Aku beri bayaran lima kali lipat … kalau kamu bisa memuaskan Logan.”Logan tidak bergerak.Bukan karena ia memilih diam, melainkan karena konsep “bergerak” itu sendiri mulai kehilangan makna di dalam ruang yang tidak memiliki arah. Ia mencoba merasakan dirinya—namun yang ia temukan bukan lagi batas yang jelas, melainkan sesuatu yang… terbentuk sambil berjalan.Jika ia adalah hasil—maka dari apa?Pertanyaan itu tidak ia ucapkan.Namun proses itu… merespons.Bukan dengan jawaban, melainkan dengan perubahan.Kemungkinan-kemungkinan di sekitarnya bergeser, seperti sesuatu yang mencoba menyusun ulang konteks agar pertanyaan itu sendiri… menjadi tidak perlu.Logan menyadarinya.Dan kali ini—ia tidak membiarkannya.“Jangan.”Kata itu keluar tanpa suara, namun cukup kuat untuk menahan pergeseran itu sejenak.Proses itu berhenti.Bukan karena dipaksa.Melainkan karena… tertarik.Untuk pertama kalinya—Logan bukan hanya objek.Ia… variabel.“Jika aku adalah hasil,” Logan melanjutkan, “maka aku membawa jejak dari apa yang menciptakanku.”Ia berhenti sejenak.“…da
Tidak ada yang langsung bereaksi.Bukan karena mereka tidak menyadari implikasinya, melainkan karena kesadaran itu datang terlalu besar untuk segera diproses. Ia tidak hanya mengguncang pemahaman—ia menghapus dasar dari kebutuhan untuk memahami itu sendiri.Bentuk kecil pertama mencoba berbicara.Namun yang keluar bukan kalimat, bukan bahkan suara yang utuh—melainkan serpihan niat yang tidak pernah mencapai bentuk. Seolah bahasa itu sendiri… tidak lagi kompatibel dengan apa yang sedang terjadi.“Ini tidak mungkin…” akhirnya ia berhasil merangkai sesuatu.Namun bahkan saat kata itu terbentuk, maknanya terasa… longgar. Seperti sesuatu yang dulu pasti, kini hanya menjadi salah satu kemungkinan yang rapuh.Logan tidak menoleh.Ia tetap menatap ke arah perspektif yang tidak memiliki arah itu, seolah mencoba mempertahankan satu titik tetap di tengah sesuatu yang terus berubah. Namun semakin ia mencoba, semakin ia menyadari bahwa titik itu… tidak pernah benar-benar ada.“Dia tidak menghapus
Logan tidak langsung menjawab.Pertanyaan itu tidak menyerang, tidak juga menuntut—namun menembus jauh lebih dalam dari sekadar ancaman. Ia bukan pertanyaan tentang identitas, melainkan tentang fondasi yang selama ini tidak pernah benar-benar dipertanyakan.“Jika aku menjawab…” Logan berkata pelan, “…aku mungkin hanya memberimu sesuatu untuk disalin.”Bentuk itu tidak bergerak.Namun kehadirannya menguat, seolah setiap bagian dari dirinya kini terfokus pada Logan—bukan sebagai objek, melainkan sebagai sumber.“Dan jika aku tidak menjawab?” lanjut Logan.“...maka kamu tetap akan mencoba memahami tanpa batasan yang aku beri.”Hening kembali turun, namun kali ini bukan hening yang kosong.Ia padat, hampir terasa seperti tekanan yang perlahan membentuk sesuatu yang belum terlihat.Bentuk kecil pertama bergetar gelisah.Ia tidak lagi mencoba membaca pola itu—ia sudah belajar bahwa itu sia-sia—namun instingnya mengatakan bahwa sesuatu sedang bergerak menuju titik yang tidak bisa kembali.“L
Kalimat itu tidak hanya terdengar. Ia menciptakan celah. “…untuk tidak menjadi bagian dari apa pun.” Sunyi. Namun bukan sunyi biasa—ini sunyi yang terbelah. Seolah seluruh realitas berhenti untuk mempertanyakan satu hal yang tidak pernah diajukan sebelumnya. Apa yang terjadi… jika sesuatu memilih untuk tidak termasuk? Struktur itu membeku. Bukan karena tidak mampu bergerak. Namun karena tidak memiliki jawaban. “Paradoks terdeteksi.” Sunyi. “Objek di luar himpunan.” Sunyi. Gilang berdiri. Tidak mundur. Tidak melawan. Namun juga tidak ikut. Ia ada— tanpa menjadi bagian. Dan untuk pertama kalinya— sesuatu yang mencoba menjadi segalanya… tidak bisa menjangkaunya. Hanum menatapnya. Matanya berkaca. Namun kali ini— bukan karena takut. Melainkan karena mengerti. “Kau… benar-benar pergi…” Sunyi. Gilang menoleh padanya. Senyumnya tipis. Namun hangat. “Aku tidak pergi…” Ia berhenti sejenak. “…aku hanya tidak tinggal di mana pun.” Sunyi. Sosok ‘sebelum’ menat
Angin laut berembus lebih kencang di dermaga itu.Suara ombak yang memukul tiang-tiang kayu terdengar seperti bisikan panjang yang tidak pernah berhenti.Namun Bianca tidak lagi mendengar apa pun.Pandangannya terpaku pada foto yang masih berada di tangan Surya.Foto kecil yang sudah pudar oleh wak
Udara malam terasa semakin dingin.Rendra masih menatap foto yang berada di tangan Logan. Lampu jalan memantul samar di permukaan kertas yang sudah mulai pudar itu, memperlihatkan gambar mobil yang ringsek di bagian depan—bekas kecelakaan yang terjadi dua puluh empat tahun lalu.Namun yang membuat
Perlahan, tanpa sadar, Bianca menelan ludah.Pria… di belakangnya?Di ruangan itu hanya ada tiga orang pria.Logan Mahardika.Rendra Pratama.Dan Arman Wicaksana.Siapa yang dimaksud?Jantung Bianca berdetak keras. Tangannya mulai din
Kata-kata itu menggantung di udara seperti petir yang menyambar tiba-tiba.Bianca merasa telinganya berdengung.“Bianca… Xaviera… Wicaksana?”Ia mengulang nama itu pelan, hampir seperti orang yang baru belajar berbicara.Nama itu terasa asing.Sangat asing.Seumur hidupnya, ia hanya mengenal satu n






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore