Share

Bab 5: Jurnal Gairah yang Terpendam

Penulis: Reva Chazep
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-12 12:27:29

Keesokan paginya, saat Dimas pergi kerja lebih awal seperti biasa—jam enam lewat, bahkan lebih awal dari biasanya, dengan alasan "ada morning call dengan klien Jepang"—Raisa duduk sendirian di meja dapur.

Di hadapannya: buku kosong yang ia beli kemarin sore.

Kemarin, setelah menangis di kamar mandi, setelah melepas lingerie merah yang mahal dan melemparnya ke sudut dengan perasaan malu dan marah, ia keluar rumah. Keluar tanpa tujuan. Hanya perlu keluar.

Ia berjalan ke mal. Masuk ke toko buku.

Berdiri di depan rak jurnal dan buku harian. Ada puluhan pilihan—warna-warni dengan sampul lucu, dengan kutipan motivasi, dengan gambar bunga dan kucing dan pemandangan. Tapi ia memilih yang hitam.

Sampul kulit sintetis hitam. Polos. Tidak ada hiasan. Tidak ada tulisan. Tidak ada apa-apa.

Seperti rahasia yang harus tetap tersembunyi.

Halamannya polos—tidak ada garis, tidak ada tanggal tercetak. Hanya kertas putih kosong. Bebas. Ia bisa menulis apa saja, kapan saja, bagaimana saja.

Ia juga membeli pulpen baru—warna tinta biru tua yang hampir hitam. Pulpen yang aliran tintanya halus, yang tidak merembes, yang tidak menodai halaman sebelahnya.

"Untuk hadiah, Mbak?" tanya kasir.

"Untuk diri sendiri," jawabnya.

Kasir tersenyum. "Bagus. Self love."

Self love. Kata yang terdengar asing di telinga Raisa.

***

Sekarang buku itu terbuka di hadapannya.

Halaman pertama. Putih. Kosong. Menunggu.

Jari-jemarinya mengetuk meja kayu. Tok. Tok. Tok. Ritme gugup.

Apa yang kupikirkan? Menulis jurnal seperti remaja?

Seperti anak SMP yang menulis tentang gebetan di kelas. Seperti cewek-cewek di film Hollywood yang punya "dear diary".

Tapi dorongannya kuat. Lebih kuat dari rasa malu. Lebih kuat dari keraguan.

Perasaan-perasaan yang terpendam selama berbulan-bulan—mungkin bertahun-tahun—butuh saluran. Butuh keluar. Kalau tidak, Raisa merasa ia benar-benar akan meledak. Pecah. Hancur dari dalam.

Jika tak bisa bicara pada suami tentang perasaan, tentang sunyi, tentang jarak tiga puluh sentimeter, tentang lingerie merah yang diabaikan, tentang bayangan Aldo di kamar mandi—maka mungkin bisa bicara pada kertas.

Setidaknya kertas tidak akan bilang "nanti weekend" atau "aku capek" atau "warnanya cerah".

Setidaknya kertas akan mendengar. Atau setidaknya menerima. Tanpa menilai. Tanpa komentar.

Ia mengambil pulpen. Membuka tutup dengan bunyi pop kecil.

Menarik napas dalam.

Lalu menulis tanggal di sudut kanan atas halaman pertama.

Tangannya gemetar sedikit. Tulisannya tidak serapi biasanya.

***

16 Februari 2026

Hari ke-1 dalam Sunyi

Ia berhenti. Menatap kalimat itu.

Hari ke-1? Kenapa hari ke-1? Seolah ini awal dari sesuatu. Seolah kemarin adalah hari ke-0 dan sekarang perhitungan dimulai.

Tapi mungkin memang begitu. Mungkin kemarin—saat ia menangis di lantai kamar mandi dengan lingerie merah kusut di sudut—adalah hari terakhir dari kehidupan lama.

Dan ini hari pertama dari... apa? Ia tidak tahu.

Ia melanjutkan:

Aku menulis ini bukan karena aku penulis. Aku bahkan tidak suka menulis dulu waktu sekolah. Aku lebih suka matematika. Angka. Pasti. Tidak ada interpretasi.

Tapi aku menulis ini karena jika tidak, aku akan meledak.

Aku akan berteriak di tengah mal. Atau memecahkan piring-piring cantik di dapur. Atau lari keluar rumah dan tidak pernah kembali.

Jadi aku menulis.

Rumah ini terasa seperti peti mati yang indah.

Ia berhenti lagi. Kalimat itu terlalu dramatis. Terlalu... berat.

Tapi juga benar. Sangat benar.

Semuanya rapi. Bersih. Furnitur mahal. Dekorasi yang dipilih dengan hati-hati. Tanaman hias yang terawat. Tidak ada debu. Tidak ada kekacauan.

Tapi kosong.

Seperti diriku.

Rapi dari luar. Mati dari dalam.

Dimas pagi tadi berangkat jam enam lewat. Tidak ada ciuman. Tidak ada pelukan. Hanya "Saya pergi" yang dilempar dari pintu tanpa menoleh.

Aku duduk di sini, di meja dapur yang dingin, masih dengan bau kopinya yang tertinggal di udara—kopi yang aku buatkan, yang ia minum sambil berdiri, sambil scrolling ponsel, sambil tidak melihatku sekali pun.

Dan aku bertanya: kapan kita berhenti menjadi kekasih?

Kapan aku berhenti menjadi Raisa dan mulai menjadi "istri Dimas"?

Kapan kamu berhenti melihatku sebagai wanita yang kamu cintai dan mulai melihatku sebagai... apa? Pembantu? Dekorasi? Pajangan?

Mata Raisa mulai panas. Tapi ia terus menulis. Tangannya bergerak cepat sekarang. Kata-kata mengalir seperti sudah lama menunggu untuk keluar.

Aku ingat malam pertama kita. Kamar hotel di Bali dengan jendela menghadap pantai. Kamu begitu gugup sampai menjatuhkan kondom ke lantai. Kotak kecil itu bergulir sampai ke bawah tempat tidur dan kita harus mencarinya sambil setengah telanjang.

Kita tertawa. Tertawa sampai perut sakit. Sampai air mata keluar.

Lalu kita bercinta dengan lampu menyala. Tidak malu. Tidak sembunyi. Saling memandang. Matamu menatap mataku dan aku melihat cinta di sana. Benar-benar melihat.

Kamu bilang kulitku berkilau seperti mutiara di bawah lampu kamar hotel. Kamu bilang aku sempurna. Kamu bilang kamu tidak percaya aku milikmu.

Sekarang?

Sekarang kamu bahkan tidak melihat lingerie merah yang kupakai khusus untukmu. Yang kubeli dengan uang yang kusimpan diam-diam. Yang kucoba dengan harap-harap cemas di fitting room.

Tujuh ratus lima puluh ribu rupiah untuk "warnanya cerah".

Apa yang salah?

Apakah aku yang berubah? Apakah aku yang tidak menarik lagi? Apakah tubuhku yang tidak cukup bagus?

Atau kamu yang berubah? Kamu yang tidak peduli lagi? Kamu yang tidak melihat lagi?

Atau kita berdua yang berubah dan tidak ada yang menyadari sampai terlalu terlambat?

Raisa berhenti. Napasnya berat. Dada sesak.

Ia menatap tulisan tangannya sendiri. Tulisan yang miring-miring karena ditulis cepat. Tulisan yang tidak rapi karena ditulis dengan emosi.

Tapi jujur. Sangat jujur.

Ia melanjutkan, meski tangannya gemetar:

Kadang aku membayangkan apa yang akan terjadi jika aku pergi.

Jika aku keluar dari pintu ini dan tidak kembali.

Jika aku naik taksi ke bandara dan terbang entah ke mana. Bali. Jogja. Bandung. Anywhere.

Apakah kamu akan menyadari?

Apakah kamu akan mencari?

Apakah kamu akan panik?

Atau hanya akan memesan makanan delivery karena tidak ada yang memasak?

Atau bahkan tidak menyadari sampai malam hari, sampai kamu pulang dan rumah gelap dan tidak ada aku yang menyalakan lampu?

Pertanyaan bodoh. Aku tahu jawabannya.

Kamu akan pesan delivery.

Raisa berhenti lagi. Matanya sudah berkaca-kaca sepenuhnya sekarang. Tapi ia tidak membiarkan air mata jatuh. Tidak mau air mata menodai halaman.

Ia menarik napas dalam. Menghembuskan perlahan.

Lalu menulis bagian yang paling sulit:

Tetangga baru. Namanya Aldo.

Tangannya berhenti di situ. Ragu.

Menulis nama itu terasa seperti pengkhianatan. Seperti membuat sesuatu yang hanya ada di pikiran menjadi nyata.

Tapi ia sudah mulai. Sudah terlambat untuk berhenti.

Matanya tertawa saat ia tersenyum. Bukan senyum sopan. Bukan senyum formal. Tapi senyum tulus yang sampai ke mata, yang membuat kerutan kecil di sudutnya.

Aku tak seharusnya memperhatikan

Tapi aku melakukannya.

Aku memperhatikan caranya berdiri. Caranya bergerak. Caranya bicara. Caranya mengucapkan namaku—"Raisa"—lengkap, tidak disingkat, seperti nama itu berarti sesuatu.

Malam tadi, di kamar mandi, setelah Dimas mengabaikan lingerie merahku, aku menyentuh diri sendiri.

Raisa berhenti. Ini terlalu pribadi. Terlalu memalukan.

Tapi ini jurnalnya. Rahasianya. Tidak ada yang akan baca kecuali dirinya sendiri.

Jadi ia lanjutkan:

Aku membayangkan... bukan Dimas.

Ini memalukan. Sangat memalukan.

Aku istri yang sudah menikah tiga tahun. Aku seharusnya setia. Bahkan dalam pikiran.

Tapi tubuhku bereaksi terhadap pandangan sekilas dari pria asing. Pada senyuman. Pada suara dalam. Pada kilasan perut saat kausnya naik.

Malam tadi, dengan air shower mengalir di tubuhku, aku membayangkan Aldo.

Aku membayangkan tangannya yang besar—tangan yang terlihat kasar tapi hangat—memegang pinggangku. Aku membayangkan bibirnya mencium leherku, bahuku, turun ke dadaku.

Aku membayangkan suaranya yang dalam berbisik di telingaku. Mengatakan betapa ia menginginkanku. Betapa ia melihatku. Betapa aku indah.

Kata-kata yang Dimas tidak pernah katakan lagi.

Dan aku—Tuhan, maafkan aku—aku mencapai orgasme dengan membayangkannya.

Dengan membayangkan pria yang baru kukenal sehari.

Lebih cepat. Lebih intens. Lebih... hidup daripada apapun yang pernah aku rasakan dengan Dimas dalam tiga tahun terakhir.

Aku merasa bersalah.

Sangat bersalah.

Tapi lebih bersalah lagi karena aku tidak merasa cukup bersalah.

Lebih bersalah karena lebih mudah membayangkan pria lain daripada suamiku sendiri.

Lebih bersalah karena bagian dariku ingin melakukannya lagi. Malam ini. Besok. Setiap malam.

Apa artinya ini?

Apakah aku istri yang buruk?

Apakah aku wanita yang tidak bermoral?

Atau apakah aku hanya... manusia?

Manusia yang kesepian. Manusia yang lapar. Manusia yang ingin disentuh. Dilihat. Diinginkan.

Aku tidak tahu.

Yang kutahu hanya: sesuatu telah dimulai.

Dan aku tidak tahu bagaimana menghentikannya.

Atau apakah aku mau menghentikannya.

Raisa menutup buku dengan gerakan cepat. Hampir membanting.

Napasnya berat. Dada naik turun. Tangan gemetar.

Ia menarik napas dalam. Menghitung. Satu. Dua. Tiga. Sampai sepuluh.

Perlahan napasnya kembali normal.

Rasanya aneh.

Seperti mengeluarkan racun dari tubuh. Kata-kata yang sudah terlalu lama tertahan akhirnya keluar. Mengalir. Mengotori halaman putih dengan tinta biru tua.

Berbahaya. Sangat berbahaya. Jika seseorang membaca ini—jika Dimas membaca—semuanya akan hancur.

Tapi juga melegakan.

Seperti luka yang dibiarkan bernapas setelah lama tertutup perban. Menyakitkan. Tapi perlu.

***

Raisa mengambil buku itu. Memegangnya erat-erat.

Lalu berjalan ke kamar tidur.

Membuka laci meja samping tempat tidurnya—laci yang jarang dibuka Dimas karena itu "laci Raisa". Berisi buku resep yang tidak pernah ia pakai, bon belanja yang disimpan untuk pajak, foto-foto lama, surat cinta dari Dimas zaman pacaran yang sudah mulai menguning.

Ia menyembunyikan jurnal hitam itu di bawah tumpukan kertas. Jauh di belakang. Di sudut yang gelap.

Rahasia kecil.

Untuk sementara.

Ia menutup laci. Klik.

Lalu berdiri di sana, menatap laci tertutup.

Dalam laci itu tersimpan kebenaran yang tidak bisa ia ucapkan.

Kebenaran tentang pernikahan yang mati. Tentang tubuh yang lapar. Tentang bayangan pria lain di pikiran.

Kebenaran yang berbahaya.

Tapi juga satu-satunya yang jujur.

Raisa berbalik, kembali ke dapur.

Membuat secangkir teh. Duduk di meja. Menatap keluar jendela.

Rumah Aldo terlihat dari sini. Tirai terbuka. Bayangan bergerak di dalam.

Ia tidak mengalihkan pandangan.

Hanya menatap.

Sambil menyesap teh yang panas.

Sambil memikirkan apa yang baru saja ia tulis.

Sambil bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah ini awal dari sesuatu?

Atau akhir?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 24 : Randy Menyapa di Lobi Kantor

    "Raisa? Raisa Surya?"Suara dari belakang membuat Raisa menoleh. Ia sedang menunggu Dimas di lobi kantor—menara kaca di kawasan SCBD yang AC-nya selalu terlalu dingin, membuat ia menyesal tidak membawa cardigan. Mereka berjanji makan siang bersama hari ini. Upaya rekonsiliasi setelah pisah kamar. Setelah percakapan jujur. Setelah insiden bekas ciuman.Pria yang memanggilnya terlihat familiar. Tinggi, rambut silver yang disisir rapi ke belakang, mengenakan setelan jas yang mahal—terlihat dari kain dan potongannya yang sempurna. Usia mungkin pertengahan empat puluhan, tapi terawat dengan baik."Maaf, saya—" Raisa bingung. Kenal tapi tidak ingat dari mana."Randy. Atasan Dimas." Ia mengulurkan tangan. "Kita pernah bertemu di company dinner tahun lalu."Oh. Sekarang Raisa ingat. Randy yang duduk di meja VIP. Yang memberikan sambutan tentang target kuartalan. Yang Dimas pernah sebutkan sebagai "bos yang menuntut tapi adil.""Oh ya, Pak Randy. Maaf tidak langsung ingat." Raisa menjabat tang

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 23 : Aldo Menuntut Kepastian

    "Pilih."Satu kata. Sederhana. Final. Membelah udara di ruang tamu Aldo seperti pisau.Raisa baru saja menutup pintu di belakangnya. Belum melepas sepatu. Belum duduk. Aldo sudah menjatuhkan bom."Pilih apa?" Raisa bingung, meski sebagian darinya tahu persis apa yang dimaksud."Aku atau dia." Aldo duduk di sofa, tangan terlipat, mata serius tanpa jejak kehangatan yang biasa. Tidak ada senyum. Tidak ada pelukan. Hanya tatapan tajam dan ultimatum yang telah lama tertunda. "Kamu tidak bisa terus seperti ini. Kita tidak bisa terus seperti ini."Jantung Raisa berdenyut kencang. Ini—ini yang telah ia hindari. Percakapan yang ia tahu akan terjadi suatu hari tapi berharap "suatu hari" itu masih jauh."Do, kita sudah pernah membicarakan ini—""Dan kamu selalu menghindari," potong Aldo. Tidak kasar, tapi tegas. "Selalu. 'Nanti.' 'Beri waktu.' 'Tidak semudah itu.' Aku sudah memberi waktu, Rais. Empat bulan. Empat bulan kita... apa pun ini. Dan aku tidak bisa lagi."Raisa duduk di ujung sofa. Jar

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 22: Percakapan yang Tertunda

    Pagi itu, Dimas tidak pergi kerja.Raisa bangun dengan alarm jam enam seperti biasa. Keluar dari kamar utama yang kini terasa seperti galeri seni—semua furniture masih di tempatnya, tapi tak ada lagi kehidupan yang mengalir di antaranya. Hanya objek-objek yang berdiri diam, menunggu makna yang sudah lama pergi.Ia berjalan ke dapur untuk ritual pagi yang otomatis: air panas, kopi, roti panggang yang tak akan dimakan.Tapi seseorang sudah berada di sana.Dimas duduk di meja makan. Di depannya dua cangkir kopi yang masih mengepul. Satu untuknya, satu untuk Raisa. Seperti dulu. Sebelum semuanya rusak. Sebelum jarak tiga puluh sentimeter menjadi tiga puluh meter."Duduklah," katanya. Bukan perintah. Permohonan. Suaranya serak dari tidak tidur—atau dari menangis, Raisa tak bisa memastikan.Raisa duduk di kursi yang biasa ia duduki. Jarak satu meter melintasi meja. Cangkir kopi di depannya—hitam dengan satu gula, persis seperti yang ia suka. Dimas masih ingat. Setelah semua yang terjadi, de

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 21: Kamar Tamu, Jarak 30 Meter

    Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, Raisa tidur sendirian di kamar utama.Dimas tidur di kamar tamu—ruangan kecil di ujung koridor yang selama ini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Kardus lama. Buku yang tidak dibaca. Pakaian musim dingin yang tidak pernah dipakai di Jakarta. Koper kosong. Barang-barang dari kehidupan lama yang tidak punya tempat di kehidupan sekarang.Sekarang tempat itu punya penghuni baru: suaminya sendiri.Jarak antara kamar mereka: tiga puluh meter sepanjang koridor.Tiga puluh meter yang terasa seperti tiga puluh kilometer. Seperti benua berbeda. Seperti planet berbeda.***Raisa berbaring di tempat tidur king-size yang mereka beli bersama dua tahun lalu. "Investment untuk future," kata Dimas waktu itu. "Supaya anak-anak kita bisa tidur di tengah kita nanti."Anak-anak yang tidak pernah datang. Yang tidak pernah mereka coba buat karena sudah lama tidak bercinta.Tempat tidur itu terasa lebih luas dari biasany

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 20: Tanda di Leher, Bohong di Mulut

    Itu terjadi saat mereka terlalu bersemangat.Sore itu, di kamar Aldo, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Mungkin karena Dimas akan pulang malam dan Raisa punya waktu lebih. Mungkin karena mereka tahu waktu terbatas dan ingin maximize setiap detik. Mungkin karena kata "sayang" kemarin membuat semuanya lebih intens, lebih real, lebih berbahaya.Aldo mencium leher Raisa. Tempat favorit yang sudah ia hafal di luar kepala. Tempat di bawah telinga kiri yang selalu—selalu—membuat Raisa menggigil dan mengerang.Mencium. Menjilat. Menggigit lembut. Menghisap.Raisa terlalu lost dalam pleasure untuk sadar. Tenggelam dalam sensasi bibir Aldo di kulitnya, tangan Aldo di tubuhnya, Aldo yang mengisi dirinya dengan sempurna.Dan Aldo—terlalu fokus pada membuat Raisa merasakan bagus, pada membuat Raisa lupa segalanya kecuali namanya—juga tidak sadar bahwa ia menghisap terlalu lama. Terlalu kuat. Terlalu intense.Meninggalkan tanda.Hickey. Love bite. Bekas ciuman yang j

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 19: Panggilan Sayang yang Bukan untuk Suami

    "Sayang, pelankan sedikit."Kata itu keluar dari mulut Aldo tanpa berpikir. Natural. Seperti napas.Mereka sedang bercinta di tempat tidurnya. Sore yang hangat dengan tirai setengah tertutup. Cahaya keemasan masuk dari celah, membuat kulit mereka bersinar seperti madu.Raisa di atas, menunggangi Aldo, bergerak dengan ritme yang steady. Pinggul naik turun. Tangan di dada Aldo untuk balance. Rambut terurai menutupi sebagian wajah.Cantik. Sangat cantik.Dan Aldo—tenggelam dalam sensasi tubuh Raisa yang hangat mengitarinya, dalam pandangan Raisa yang bergerak di atasnya dengan mata setengah tertutup—mengatakan kata itu tanpa filter."Sayang, pelankan sedikit."Raisa berhenti bergerak. Tiba-tiba. Sepenuhnya.Tubuh masih menyatu—Aldo masih di dalam Raisa—tapi tidak ada gerakan.Raisa menatap Aldo. Mata terbuka penuh sekarang. "Apa?"Aldo tersadar. Menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya sedikit memerah—hal yang jarang terjadi pada pria yang biasanya percaya diri ini."Maaf. Itu...

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status