FAZER LOGIN"Aku dengannya baru satu jam menikah dan dia sudah berhasil membobolku." . "Kenapa menangis? Bukankah ini yang kamu mau? Setuju dinikahi berarti setuju ditiduri." Thalia, gadis lumpuh yang dipaksa untuk menikah dengan suami kakak tirinya lalu menjadi surrogate mother untuk bayi mereka--kakak tiri yang sangat dia benci. Ketidakberdayaan membuatnya tidak bisa menolak, namun diam-diam Thalia menyusun rencana untuk melawan dan menjadi musuh dalam selimut.
Ver maisBab 42 Sesaat, suasana menjadi hening. Tidak ada yang bicara. Hanya suara napas keduanya yang terdengar di tengah kamar yang kedap suara itu. Keheningan yang mendadak terasa berat, seolah ada beban masa lalu yang merangkak naik ke permukaan."Kalau sudah ada Thalia, berarti... jangan ingat Yulia lagi," ucap Gandira tiba-tiba. Suaranya kini lebih berat, penuh penekanan yang serius.Amar menunduk, sudut bibirnya tertarik menciptakan senyum getir yang menyedihkan. Nama itu, Yulia, seolah menjadi hantu yang belum benar-benar pergi dari hidupnya."Kamu bisa bahagiakan Thalia untuk menebus rasa bersalahmu," lanjut Gandira lembut. "Sudahlah, Kek, jangan bahas itu." Amar mengalihkan topik, enggan membahas soal Yulia lebih jauh dia pun memilih pamit. ***"Sepertinya kamu tidur nyenyak semalam--" Anna mendatangi kamar Thalia, dia berdiri sambil bersedekap melihat Thalia yang duduk di kursi rodanya sambil menatap keluar jendela. "Lumayan, bagaimana dengan Kak Anna? Menikmati pesta sampai
Bab 27 "Jangan... Kak Anna bisa masuk kapan saja," desis Thalia dengan suara yang nyaris hilang, mencoba membawa nama Anna sebagai tameng untuk mengingatkan batas di antara mereka. Amar tidak menjauh. Ia justru terkekeh pelan, suara baritonnya bergetar tepat di samping wajah Thalia, mengirimkan sensasi ganjil yang merambat ke seluruh tubuh wanita itu. "Biarkan saja. Bukankah dia sendiri yang bersikeras membawamu ke sini? Dia harus siap dengan segala konsekuensinya, termasuk melihat suaminya yang sedang 'berbakti' pada istrinya yang lain." Tangan Amar kini bergerak naik, jemarinya menyentuh dagu Thalia dan memaksanya untuk kembali menatap mata tajam itu. Suasana di antara mereka semakin memanas, mengaburkan fakta bahwa di bawah sana, sebuah pesta besar sedang berlangsung dengan segala kemunafikannya. Bibir mereka hampir saja menyatu sebelum suara ketukan pintu yang tegas seketika menghentikan pergerakan Amar. "Maaf, Pak Amar. Kakek Anda ingin bertemu sekarang," suara itu mil
Ekspresi Thalia yang mendadak gugup justru membuat senyum mengejek di bibir Amar semakin lebar. Ia menikmati rona merah yang menjalar di pipi istrinya, sebuah reaksi yang tak bisa disembunyikan meski Thalia berusaha tampil ketus. "Apa setiap hal yang ingin kulakukan padamu harus kujelaskan secara detail, Thalia? Itu terlalu membuang waktu," bisik Amar rendah. Dari saku celananya, Amar mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna gelap. Aroma rempah yang kuat dan menenangkan seketika menyeruak di antara mereka. "A-apa itu?" tanya Thalia dengan nada waspada, matanya melirik botol itu lalu beralih ke wajah Amar. "Minyak herbal, ramuan khas keluargaku. Katanya cukup berkhasiat untuk melancarkan aliran darah. Aku ingin mencobanya sekarang," jawab Amar santai. "Untuk apa!" Thalia tersentak, suaranya naik satu oktaf saat tangan kokoh Amar tanpa permisi memegang pahanya, bersiap menyingkap sedikit kain gaunnya untuk mencapai bagian kaki. Amar tersenyum miring, menatap Tha
Amar melangkah dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Setelan jas yang membungkus tubuh tegapnya semakin mempertegas kesan dingin yang justru membuat para wanita di pesta itu tak bisa melepaskan pandangan. Bagi mereka, Amar adalah sosok lelaki cool yang mustahil untuk digapai.Langkah kaki Amar terhenti tepat di hadapan Tria dan Thalia. Suasana mendadak berubah tegang saat sepasang mata tajam itu mengunci keberadaan sang dokter di samping istrinya."Pak Amar," sapa Tria dengan senyum ramah yang profesional. Ia mengulurkan tangan dengan sopan. "Baru tiba?"Amar hanya membalas dengan anggukan singkat, tangannya menjabat Tria dengan tekanan yang tegas. Matanya beralih, melirik noda merah yang mengotori gaun putih Thalia."Ah ya, tadi ada insiden kecil. Gaun Thalia terkena tumpahan jus, jadi--""Oh." Tanpa membiarkan Tria menyelesaikan kalimatnya, Amar bergerak cepat. Dengan gerakan posesif, ia menarik jas milik Tria dari pundak Thalia dan menyampirkan jas miliknya sendiri untuk membung


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações