Mag-log in"Aku dengannya baru satu jam menikah dan dia sudah berhasil membobolku." . "Kenapa menangis? Bukankah ini yang kamu mau? Setuju dinikahi berarti setuju ditiduri." Thalia, gadis lumpuh yang dipaksa untuk menikah dengan suami kakak tirinya lalu menjadi surrogate mother untuk bayi mereka--kakak tiri yang sangat dia benci. Ketidakberdayaan membuatnya tidak bisa menolak, namun diam-diam Thalia menyusun rencana untuk melawan dan menjadi musuh dalam selimut.
view moreSuaranya terdengar tajam, memecah keheningan di antara mereka. "Lucu sekali. Pria yang membiarkan istrinya menyiksaku selama bertahun-tahun, tiba-tiba sekarang berperan jadi guru penasihat." Amar tidak menarik kembali sendoknya. Ia justru menatap Thalia lebih dalam, seolah sedang membedah isi kepala gadis itu. "Aku tidak mengajarimu cara melawan," balas Amar tenang, suaranya berat dan stabil. "Aku hanya memberimu senjata. Bagaimana kamu menggunakannya, itu urusanmu. Tapi senjata itu tidak akan berguna jika pemegangnya mati kelaparan atau pingsan karena kekurangan nutrisi." Thalia tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Senjata? Maksudmu janin ini? Kamu dan Anna sama saja. Kalian menganggap janin ini sebagai alat. Bedanya, Anna ingin menggunakannya untuk harga diri, dan kamu...." Thalia menggantung kalimatnya, menatap Amar penuh selidik. "Aku belum tahu apa tujuanmu sebenarnya." "Tujuanku sederhana, Thalia," Amar memajukan wajahnya, "Aku ingin melihat siapa yang bert
"Janinnya selamat," ucap Dokter Haikal lirih namun tegas. "Ini benar-benar sebuah keajaiban. Benturannya cukup keras dan sempat terjadi pendarahan hebat, tapi posisinya sangat kuat. Kami sudah menyuntikkan penguat rahim dosis tinggi."Anna langsung terduduk di kursi tunggu, bahunya yang tegang seketika merosot. Ia menangis sesenggukan, bukan karena empati pada adiknya, melainkan rasa lega karena 'tiket' masa depannya tidak hancur. "Terima kasih, Tuhan ... anakku selamat."Namun, Amar tidak menampakkan kelegaan yang sama. Ia berdiri mematung, menatap pintu ruang ICU yang tertutup rapat. Matanya yang dingin tidak sedikit pun beralih ke arah istrinya yang sedang meratap."Tapi ada satu hal yang harus Anda perhatikan," lanjut dokter itu, suaranya merendah. "Thalia mengalami trauma fisik dan psikologis yang berat. Jika hal seperti ini terulang kembali, saya tidak bisa menjamin keselamatan janin maupun ibunya. Rahimnya sedang dalam kondisi sangat sensitif sekarang."Anna mengangguk pah
Suaranya yang biasa merdu kini bergetar karena cemburu buta. Pikirannya tidak lagi jernih, obsesinya pada Amar dan harga dirinya sebagai seorang diva legendaris melunturkan sisa-sisa kewarasannya. Ia lupa pada kondisi kehamilan yang harus dijaga, lupa bahwa Thalia adalah "wadah" bagi ambisinya."Dasar jalang!" sentak Anna kalap.Tanpa peringatan, Anna merangsek maju dan mencengkeram tangan Thalia dengan tenaga yang tak terduga. Ia menarik tubuh Thalia dari atas ranjang dengan sentakan kasar, membuat wanita muda yang tak berdaya itu terpelanting ke lantai.Buuughh!Suara benturan keras itu menggema di dalam kamar. Thalia terjatuh dengan posisi yang sangat buruk. Selimut yang menutupinya tersingkap, meninggalkan tubuhnya yang memar terpapar dinginnya lantai marmer. Namun, rasa malu itu segera terkalahkan oleh rasa sakit yang luar biasa yang menjalar dari perut bagian bawahnya."Akhh..." Thalia mengerang, kedua tangannya refleks memegangi perutnya yang terasa seperti diremas hebat.
Amar tidak melepaskan tatapannya, bahkan saat tetesan air es itu membasahi kerah kemejanya. Alih-alih merasa terancam atau mundur karena gertakan Thalia, rahangnya justru mengeras, dan kilat di matanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya.Tanpa peringatan, Amar merangsek maju. Sebelum Thalia sempat menekan tombol panggil di ponselnya, Amar sudah lebih dulu menepis benda itu hingga terlempar ke atas sofa. Dengan satu gerakan dominan yang tak terduga, ia membungkuk dan menyusupkan lengannya di bawah tubuh Thalia, lalu membopong tubuh mungil itu dari kursi rodanya."Apa yang kamu lakukan, Kak Amar! Turunkan aku!"Thalia histeris. Ia memukul bahu Amar dengan tangannya yang gemetar, namun pria itu terasa seperti dinding beton yang tak tergoyahkan.Amar tidak menyahut. Ia melangkah lebar dengan napas yang masih memburu, membawa Thalia masuk ke dalam kamar dan menendang pintunya hingga tertutup rapat dengan dentuman keras."Kamu ingin bicara soal konsekuensi?" s
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.