Partager

Bab 34 : Perang Dingin

Auteur: Amoora bee
last update Date de publication: 2026-07-15 20:09:02

Setelah perang dingin semalam, akhirnya Jenny memutuskan berangkat menuju bandara keberangkatan internasional tanpa Xander. Sepanjang perjalanan, kepalanya terus berputar memikirkan pertanyaan terakhir dari suaminya. Entah mengapa, kali ini ada perasaan tidak nyaman yang mengganjal di dadanya.

“Non... sudah sampai.”

Suara Pak Aryo memutus lamunan panjangnya. Dengan cekatan, sopir pribadinya itu segera turun untuk mengeluarkan koper milik Jenny. Di area keberangkatan, Vero rupanya sudah menanti dengan wajah semringah.

Vero mendorong troli bandara dengan penuh semangat saat menghampirinya. “Ci! Bukannya Pak Xander katanya mau ikut juga, ya?”

“Hush! Jangan kencang-kencang suaranya, nanti ada yang dengar,” tegur Jenny setengah berbisik sambil melotot ke arah Vero. “Rasanya... dia lagi marah deh sama aku.”

“Kenapa marah? Mau honeymoon kok malah marahan?”

Jenny refleks mencubit gemas pinggang Vero, membuat asistennya itu meringis kesakitan. “Mana ada honeymoon. Orang kita ke sana buat kerja!”

Jenny mengembuskan napas panjang. Tapi kalau dipikir-pikir kembali... mereka memang belum pernah merasakan yang namanya bulan madu.

Pikiran Jenny kembali melayang liar, meraba kembali perjalanan pernikahan mereka yang serbacepat. Ciuman hangat saja belum pernah mereka lakukan secara sadar, boro-boro memikirkan honeymoon. Trip pertama setelah pengakuan cinta saja malah berakhir dengan perang dingin seperti ini.

Lagian, kenapa juga dia harus nanya pertanyaan aneh kayak gitu sih? Pilih dia atau Sandra? batinnya kesal. Hubungan dia dan Sandra baru saja membaik setelah ketegangan hebat gara-gara Leo tempo hari, dan sekarang dia justru harus dihadapkan pada dilema baru karena Xander.

“Vero...”

“Iya, Ci?”

“Xander pasti lagi kesal banget ya sama aku?” Jenny mencondongkan tubuhnya ke arah Vero, mencari sekutu untuk menenangkan hatinya. “Gara-gara aku milih sekamar sama Sandra—”

“Hah?! Ya ampun, Cici ngaco banget sih emang,” potong Vero cepat tanpa ragu. “Kalau aku jadi Pak Bos sih, pasti juga bakal kesal setengah mati. Gimanapun juga, dia itu suamimu loh, Ci. Masa malah dinomorduakan?”

Jenny memilih diam. Dia memejamkan matanya rapat-rapat saat sudah berada di atas sofa empuk business lounge. Semalaman wanita itu memang tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak. Namun, tepat saat dia membuka mata beberapa menit kemudian, tatapannya langsung bertabrakan dengan sosok tegap Xander yang baru saja melangkah masuk.

Beberapa detik mata mereka saling mengunci, namun keheningan mengalahkan segalanya. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk menyapa lebih dulu.

“Loh, Pak Xander?” sapa Meta yang tiba-tiba muncul di belakang Xander. Meta dan Sandra kompak menunduk sopan memberi salam. Sebagai model profesional, mereka tentu tahu betul siapa sosok pewaris takhta William Group ini. “Bapak ada perjalanan bisnis juga hari ini?”

Xander hanya mengangguk sekali. Ekspresi wajahnya sedingin es, tanpa ada senyuman sedikit pun di bibirnya.

“Mau ke mana kalau boleh tahu, Pak?” tanya Sandra sopan, mencoba mencairkan suasana kaku diantara mereka.

“Ke Hong Kong.”

Mata Meta dan Sandra kompak membelalak terkejut. “Wah... kok bisa kebetulan banget ya, Pak. Kita semua juga mau terbang ke Hong Kong hari ini,” sahut Sandra tersenyum ramah, mengira ini hanya kebetulan biasa.

“Pak, private jet-nya sudah siap. Kita bisa terbang sekarang,” sela Ryan tiba-tiba setelah menurunkan ponsel dari telinganya. “Mari, kami permisi duluan,” lanjut Ryan cepat, sengaja memotong percakapan Sandra demi menyelamatkan bosnya dari obrolan basa-basi.

Sebelum berbalik, Xander menyempatkan diri melirik sekilas ke arah Jenny yang pura-pura sibuk membuang muka, sebelum akhirnya melangkah pergi diikuti asistennya yang menyeret koper hitam.

Istrinya dibiarin naik pesawat komersial biasa, sedangkan dia enak-enakan naik private jet, batin Jenny dongkol setengah mati. Padahal dia sendiri yang membuat rencana perjalanan mereka berantakan karena menolak tidur sekamar demi menyembunyikan pernikahan mereka dari Sandra, tapi dia sendiri juga yang merasa tidak terima.

Setibanya di Hong Kong, rombongan Jenny langsung bergerak menuju lokasi acara. Banyak model dari berbagai belahan negara berkumpul di sana. Suasana di belakang panggung terasa begitu bising dan riuh, membuat Jenny sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengistirahatkan tubuh maupun pikirannya.

Begitu ada jeda istirahat yang cukup panjang, Jenny dengan cepat meraih tasnya dan membuka ponsel. Namun, binar di wajah cantiknya langsung meredup seketika. Tidak ada satu pun notifikasi pesan dari Xander. Kosong. Dan hal itu sukses membuat tingkat kekesalan Jenny naik satu tingkat.

“Vero... coba tanya Ryan, si Xander sekarang ada di mana?”

“Oke, Ci.” Vero segera mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tak butuh waktu lama, balasan dari Ryan pun masuk. “Katanya lagi ada meeting penting sama investor, Ci.”

Jenny mengangguk-angguk paham. “Tanya Ryan lagi... Xander udah makan siang belum?” perintah Jenny dengan suara yang sengaja direndahkan.

Vero menoleh ke arah Jenny dengan kening berkerut. Dia menyipitkan matanya curiga. “Kenapa enggak langsung nanya ke orangnya aja sih, Ci? Heran deh, kenapa harus pakai perantara begini segala?” Vero melirik ponsel yang sejak tadi digenggam erat di tangan Jenny.

“Dia dari pagi enggak ada kirim pesan sama sekali ke aku,” gumam Jenny ketus sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dengan kasar, seolah benda itu tidak ada gunanya lagi.

“Ciye, kangen ya...” goda Vero sambil tersenyum jahil.

“Enggak! Aku cuma lagi menjalankan peran sebagai istri yang baik aja.”

Vero terkekeh kecil melihat raut wajah Jenny yang merengut. Jelas sekali wanita itu sedang kesal karena rindu, tapi dinding gengsinya yang setinggi langit mengalahkan segalanya.

Langit Hong Kong perlahan mulai menggelap bersamaan dengan berakhirnya seluruh rangkaian acara pemotretan hari itu. Jenny meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Rasa lelah yang luar biasa mulai menggerogoti fisiknya.

“Jen, malam ini kita party yuk di luar,” ajak Sandra bersemangat bersama beberapa rekan model lainnya.

Jenny menatap teman-temannya dengan tatapan malas. “Aku kayaknya enggak ikut dulu deh ya. Capek banget rasanya,” tolak Jenny halus, meski sebenarnya bukan itu alasan utamanya.

Sandra mengerucutkan bibirnya manja. “Ayolah, Jen... kita kan udah jauh-jauh sampai ke Hong Kong. Masa malam pertama langsung di kamar terus?”

Jenny terdiam sesaat. Jemarinya kembali membuka ruang obrolannya dengan Xander di aplikasi pesan. Masih sama. Tidak ada satu pun gelembung balon chat baru sejak pagi tadi.

Dia menunggu beberapa detik lagi, menatap layar yang berkedip dengan harapan ada pesan masuk. Tetap nihil.

Biasanya dia paling bawel nanya aku lagi ngapain... gumam Jenny lirih dalam hati.

Jenny kembali menatap teman-temannya yang masih setia menunggu jawabannya dengan mata penuh harap. Menyadari dirinya hanya akan berakhir merenung sendirian di kamar hotel yang sunyi, Jenny akhirnya menghela napas pasrah. “Ya udah deh, aku ikut.”

Malam itu, kelima model cantik itu berhasil masuk ke salah satu klub malam terbesar dan paling eksklusif di Hong Kong. Dentuman musik berdentum sangat keras memenuhi ruangan, membuat lantai terasa bergetar. Orang-orang di sekeliling mereka tampak tertawa, menari, dan menikmati kebebasan dunia malam.

Tapi tidak dengan Jenny.

Meski tangannya memegang segelas minuman, pandangan Jenny terus-menerus terarah ke arah pintu masuk klub. Sesekali dia menunduk untuk memeriksa ponselnya kembali, sangat berharap ada satu saja pesan singkat yang masuk dari suaminya. Biasanya, setiap kali dia melangkah masuk ke dalam klub malam, ponselnya akan langsung bergetar lebih dulu menampilkan deretan pesan posesif dari Xander.

“Udah sampai?” “Jam berapa pulang?” “Jangan minum terlalu banyak, Jen.”

Malam ini... tidak ada satu pun dari pesan-pesan itu yang muncul di layarnya.

Jenny mengembuskan napas panjang berkali-kali. Wanita yang biasanya selalu menjadi pusat perhatian dan sangat menikmati gemerlapnya dunia malam itu, kini bertransformasi menjadi seorang istri yang hanya bisa duduk gelisah menanti suaminya datang menjemput.

Sementara di sudut lain kota Hong Kong yang lebih tenang, Xander masih terduduk kaku di depan layar laptopnya. Dia didampingi oleh Ryan yang wajahnya sudah tampak sangat jenuh dengan ritme kerja yang tidak masuk akal ini. Bayangkan saja, dari pagi setibanya mereka di sini hingga larut malam, sang atasan tidak membiarkan mereka berhenti bekerja semenit pun.

Bip.

Ponsel di saku Ryan bergetar. Dia buru-buru membukanya dan membaca laporan berkala dari Vero mengenai kondisi terkini Jenny di luar sana.

“Pak... Ci Jenny pergi ke klub malam,” lapor Ryan hati-hati.

Xander terdiam. Gerakan jarinya di atas keyboard tidak terhenti sama sekali. Tatapan matanya masih tertuju lurus pada deretan angka di layar laptop.

Ryan menatap bosnya itu dengan dahi berkerut bingung. Biasanya, Xander akan langsung berdiri dan menyambar kunci mobilnya dalam hitungan detik setiap kali mendengar Jenny pergi ke klub malam. Tapi kenapa sekarang responsnya sedatar ini?

“Pak?” tegur Ryan sekali lagi, memastikan bosnya mendengar laporannya.

Brak.

Xander menutup laptopnya dengan sekali sentakan kasar. “Klub mana?” tanyanya dingin, dengan tatapan tajam yang langsung menusuk ke arah Ryan.

Tanpa membuang waktu lebih lama, Xander segera menuju klub malam yang disebutkan oleh Ryan.

Begitu melangkah masuk melewati pintu depan klub yang riuh, bau alkohol dan asap tipis langsung menyambutnya. Mata tajam Xander bergerak aktif, menyisir setiap sudut ruangan di antara kerumunan manusia yang sedang menari demi mencari siluet tubuh Jenny.

Namun, tepat saat dia hendak melangkah lebih jauh ke area dalam... sebuah sentuhan dingin tiba-tiba menahan pergelangan tangannya dari arah belakang.

“Xander...”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 131 : Perintah Itu

    Sandra berdiri di depan ruangan tim legal. Ia menatap pintu ruangan itu dengan dahi mengernyit. Sepanjang karir nya sebagai model, dia tidak pernah diminta langsung bertemu dengan bagian legal perusahaan.Tok. Tok. TokPintu ruangan terbuka. Kepala tim legal dan HRD agensi sudah menantinya.“Pagi,” sapa Sandra tepat ketika pintu terbuka. Ia melangkah masuk, dan duduk dengan gerakan tenang dan anggun. “Saya mendapat pesan panggilan pertemuan dengan tim legal. Ada urusan apa, ya?”Sang HRD menggangguk membenarkan pesan pertemuan pagi itu. Ia menyodorkan sebuah map ke meja Sandra. “Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan dengan Mbak Sandra, silahkan dibaca lebih dahulu.”Sandra tidak langsung membuka map itu. Ia hanya menyentuh permukaa map, lalu kembali menatap HRD selama beberapa detik. Perasaannya mulai tidak karuan, menyadari ada sesuatu yang salah.“Silahkan dibaca terlebih dahulu, Mbak,” tegur HRD sekali lagi.Tanpa pikir lama, Sandra langsung membuka map itu. “Hah?!” matanya t

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 130 : Pintar

    Menjelang malam akhirnya mereka telah kembali ke Indonesia. Jenny turun dari pesawat dengan wajahnya yang masih mengantuk berat, padahal sepanjang perjalanan dia sudah tidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Xander yang tetap terlihat kesal dan dingin.Meta dan Vero sudah menunggunya di bandara. Begitu melihat sosok Jenny, Meta langsung melangkah maju dengan wajah serius. “Jen, setelah sampai di rumah kita perlu bicara.”Jenny mengerutkan dahinya. “Ada apa, Kak?” tanyanya santai, dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.Meta menyamai langkah Jenny, dan berdiri di samping pintu mobil. “Produser reality show-mu menghubungiku.”“Soal?”Meta menghela napas pendek. “Mereka mulai mempertanyakan status pernikahanmu. Sekarang pulang dulu, kita lanjut di rumahmu.” Meta langsung menutup pintu mobil Jenny, dan beralih ke mobil perusahaan.Sepanjang perjalanan pulang, Jenny beberapa kali menguap, lalu sibuk memakan camilan ringan yang khusus disiapkan Vero untuknya. Sementara Xander mulai sibuk meme

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 129 : Tetap Santai

    Setelah seluruh pekerjaan Xander selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pagi menjelang siang Jenny, Xander dan Ryan sudah berada di dalam private jet William Group.Pesawat sudah lepas landas. Xander dan Ryan kembali bekerja di dalam pesawat, memeriksa beberapa berkas dan membahas hasil kontrak dengan investor.Sementara Jenny menatap kedua pria itu dengan tatapan sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya. “Kalian enggak bosan bekerja terus? Aku di sini berasa cuma jadi pajangan.” Tangan Jenny seketika menutup laptop milik Xander.“Lah aku kan memang kesini buat bekerja, bukan buat santai-santai, Sayang,” balas Xander, tangannya kembali membuka layar laptopnya tanpa memperhatikan wajah Jenny.“Xander!” Jenny langsung menarik laptop dari meja Xander, memindahkannya ke meja Ryan. “Emang enggak kerja beberapa jam saja bisa bikin kamu bangkrut kah?! Aku jauh-jauh nyusulin kamu, cuma dianggurin, disuruh lihat kamu kerja terus.”Xan

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 128 : Baru Permulaan

    “Sayang, permintaanmu enggak masuk akal.”Jenny langsung mengerucutkan bibirnya. Kedua tangannya berkacak pinggang. “Kenapa enggak masuk akal? Kamu kan bisa melakukan apapun demi istri dan anakmu.”“Ya enggak mungkin bisa adopsi Koala, kalau kamu mintanya ikan, anjing, hamster atau apapun itu aku bisa usahakan. Kalau koala ya mana mungkin sih?” Xander berusaha menyadarkan logika Jenny yang mula tersesat.“Kamu enggak mau berjuang buat kita berarti.”Xander memijat pelipisnya. Baru beberapa menit matanya terbuka, tapi istrinya sudah mulai mencari masalah yang sangat tidak bisa dinalar. “Aku belikan boneka koala yang banyak.” Xander menyibakkan selimut, berpikir masalah sudah teratasi.“Aku mau yang asli, yang bisa dipeluk.”“Enggak bisa, Jenny Wong.”“Xander!” pekik Jenny tetap tak mau kalah. Ia pun sebenarnya juga tak paham mengapa pagi itu sangat ingin memelihara koala. Sebuah ide yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Pokoknya aku mau koala, titik!”Xander langsung

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 127 : Serba Salah

    Begitu tiba di kamar hotel, Jenny langsung menuju ke kamar mandi. Ia membersihkan diri jauh lebih cepat dari biasanya. Tidak sampai setengah jam, Jenny sudah keluar dengan piyama tidurnya.“Xander… aku capek,” rengeknya manja, lalu memeluk pinggang suaminya dari belakang.Xander yang sedang membongkar koper Jenny, langsung berhenti. Ia membalikkan badannya, memeluk Jenny dan mencium keningnya beberapa kali. “Ya udah ayo istirahat sekarang.”“Gendong…” bisik Jenny lirih, sambil menempelkan pipinya ke dada Xander.Xander terkekeh kecil. Dua hari terakhir kamarnya terasa begitu sepi, tetapi malam ini sudah kembali ramai oleh rengekan manja istrinya. Perlahan ia menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Jenny dan satu lagi menopang punggungnya, lalu mengangkat istrinya menuju ranjang.Ia merapikan rambut Jenny yang menutupi wajah. “Sayang, kamu kesini bukan karena berita gila itu kan?” tanya Xander demi memastikan kondisi istrinya.“Hah? Bukan lah!” Jenny mengerucutkan bibirnya, menahan kesa

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 126 : Suamiku Galak

    Bandara internasional cukup ramai siang itu.Jenny duduk sendirian di salah satu restoran, mengenakan setelan pakaian sederhana tetapi tetap terlihat mencolok. Kacamata hitam bertengger di atas kepalanya, sementara tangannya sibuk menyendok makanan.“Itu Jenny Wong kan?” bisik seseorang.Beberapa orang di meja mulai ramai berbisik.“Iya.”“Beneran sendirian?”“Iya. Berarti benar dong berita yang beredar. Padahal menikahnya masih barusan.Seseorang diam-diam mengangkat ponsel dan mulai mengambil foto Jenny.Tak lama kemudian, sebuah unggahan muncul di media sosial.“Jenny Wong terlihat sendirian di bandara setelah muncul rumor. Benarkah rumah tangganya dengan pewaris tunggal William Grup bermasalah?”Foto Jenny yang sedang makan langsung menyebar dengan cepat. Komentar pun kembali berdatangan.“Kasihan banget.”“Kayaknya mereka benar-benar pisah.”“Mereka sudah jarang terlihat tampil bersama.”“Jangan-jangan sudah bercerai?!”Sementara orang-orang sibuk membuat kesimpulan sendiri, Jenn

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status