Short
Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan

Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan

By:  MyosotisCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pukul 04.00 pagi. Bandara Internasional Kelala. Aku matikan mode pesawat. Sesaat kemudian, layar HP-ku nyala. Notifikasi pertama yang muncul adalah sebuah unggahan Instagram dari suamiku. Daniel Suhardi. Ketua Mafia Pemimpin Keluarga Suhardi. Unggahan itu dibuat pukul 03.30 pagi. Sebuah foto punggung Sara Guwina. Dengan tulisan: [Penjemputan ke-50 selesai. Paket sudah diantar dengan aman.] Satu jam sebelumnya, pesawat yang aku tumpangi alami turbulensi udara yang sangat parah. Dalam hitungan detik, pesawat itu jatuh dua ribu kaki. Aku cengkeram sabuk pengaman sekuat tenaga hingga buku-buku jariku memutih. Surat ancaman dari keluarga saingan yang sudah kusut tertekan di antara tulang rusukku, terasa tajam seperti bilah pisau. Di detik-detik ketika pesawat itu jatuh tanpa kendali. Di tengah kepanikan yang hampir telan aku, hanya ada satu pikiran yang terus membara dalam kepalaku: Kalau aku selamat, kalau Daniel tunggu aku di pintu kedatangan, aku akan robek surat mutasi ke Dulako itu. Aku akan tetap tinggal. Namun, nggak ada panggilan tak terjawab, nggak ada pesan, nggak ada apa pun. Dia terlalu sibuk urusin Sara. Dia tahu jadwal penerbanganku. Dia hanya nggak peduli. Empat tahun pernikahan. Lima puluh kali pengawalan bersenjata lengkap untuk Sara. Sedangkan untuk seratus dua belas kali penerbangan jarak jauh yang aku lakukan selama empat tahun yang sama, perlakuan paling spesial yang pernah aku dapat cuma seorang sopir dengan mobil sedan tanpa tanda pengenal. Bahkan pada malam ketika anak buah Keluarga Gibran buntuti aku dari Mepore, dan aku harus kunci diri selama enam jam di kamar mandi sebuah restoran. Daniel baru angkat teleponku saat fajar tiba, setelah aku coba ke dua belas kali. Mutasiku ke Dulako sudah dikonfirmasi. Surat perjanjian perceraian yang sudah aku tandatangani tersimpan di dalam tasku. Dan kali ini adalah terakhir kalinya aku kembali demi dirinya.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Selamat malam, Nyonya. Tuan baru pulang sekitar setengah jam yang lalu."

Penjaga gerbang mengangguk sambil gesek kartu aksesku. Aku balas anggukannya tanpa sepatah kata pun. Aku belum sempat genggam gagang pintu, pintu depan sudah lebih dulu terbuka. Daniel Suhardi berdiri di ambang pintu.

"Kamu sudah pulang," katanya, terdengar jelas nada terkejut dalam suaranya.

"Ya."

"Jam berapa pesawatmu mendarat?"

"Jam 3:40." Alisnya terangkat.

"Aku kira kamu baru pulang besok."

Aku menatapnya lurus, tenang, tanpa berkedip.

"Aku sudah kirim detail penerbanganku."

"Oh yah?" Dahinya sedikit berkerut. "Beberapa hari ini beneran kacau. Mungkin aku kelewatan."

"Kacau kenapa?"

"Buku bisnis kasino Sara di Venita kena denda. Dia sedih banget, jadi aku tinggal untuk bantu dia urus semuanya."

Dia ambil koper kabinku, sandarkan itu ke dinding, lalu berbalik menuju ruang keluarga.

"Kalau tahu kamu pulang hari ini, pasti aku jemput."

"Aku tahu. Tapi kamu lagi sibuk temeni Sara."

"Itu beda."

Dia menyesap bourbon di tangannya dengan santai.

"Sara masih muda. Dia belum tahu caranya hadapi tekanan dari keluarga-keluarga saingan. Kamu sudah pengalaman, Vi. Kamu selalu bisa pulang sendiri."

Ironis. Sara sendirian dianggap nggak aman. Sedangkan aku Nyonya keluarga Suhardi. Aku dianggap akan selalu baik-baik saja.

"Perjalanannya lancar?" tanyanya ringan.

Pesawat yang aku tumpangi nyaris hancur di udara. Tapi aku nggak punya tenaga untuk cerita ke dia.

"Lancar."

Aku jalan menuju kamar mandi utama. Langkahku langsung terhenti. Di atas meja marmer tergeletak sebuah tube foundation khusus. Di sampingnya, ada sebuah pistol kecil berwarna hitam doff.

"Daniel."

Aku noleh ke dia.

"Barang-barang ini punya siapa?"

"Punya Sara. Minggu lalu dia mampir untuk tandatangani beberapa dokumen, lalu lupa bawa pulang."

"Dia sering ke sini?"

"Cuma untuk urusan pekerjaan."

Daniel bersandar di kusen pintu.

"Kalau kamu lagi pergi, dia biasanya datang supaya semuanya tetap berjalan. Urus hal-hal kecil keluarga yang sering numpuk."

Jadi selama aku pergi, dia ada di rumah ini. Di rumah kita. Hampir setiap hari.

"Aku sudah suruh keamanan kasih dia akses penuh. Kalau kamu nggak di rumah, harus ada orang yang bisa masuk kalau terjadi sesuatu."

Daniel kasih akses bebas keluar masuk rumah ini ke tangan kanannya tanpa pernah tanya ke aku. Padahal akulah istrinya.

"Kamu nggak merasa perlu kasih tahu aku?"

"Ayolah, Vivi. Sara kerja untuk keluarga."

Lucu sekali. HP miliknya di atas meja tiba-tiba menyala. Dengan cepat dia raih itu.

"Sara minta aku temani dia ke dokter besok. Dia takut jarum suntik."

"Oke."

"Kamu nggak keberatan?"

"Memangnya kenapa aku harus keberatan?"

Senyumnya langsung mengembang, tampak lega.

"Aku sudah tahu kamu pasti ngerti. Sara juga sering bilang kamu itu keren. Katanya kamu nggak pernah permasalahkan hal-hal seperti ini."

Bukan karena aku nggak ingin permasalahkan itu. Tapi, karena semua itu memang nggak ada gunanya. Kalau aku bicara, dia akan bilang aku cemburu. Bilang Sara adalah tangan kanannya. Bilang aku nggak ngerti beratnya jadi seorang ketua mafia. Dan setiap kali perdebatan itu berakhir akulah yang selalu jadi pihak yang salah.

"Daniel."

Aku panggil dia pelan.

"Di HP-mu, nama Sara disimpan sebagai apa?"

Dia mengedip bingung.

"Sara. Memangnya kenapa?"

"Kalau aku?"

Dia balik HP-nya dan melirik layarnya.

Vivi Suhardi.

Nama panggilan untuk dia. Sedangkan aku disimpan dengan nama lengkap. Seolah aku nggak lebih dari satu kontak bisnis lain dalam daftar miliknya.

"Ada masalah?" tanyanya sambil mengernyit, seakan aku sedang bersikap kekanak-kanakan.

"Nggak."

"Istirahat saja. Wajahmu kelihatan capek."

Lalu dia pergi lagi. Katanya ada urusan keluarga yang harus diurus.

"Oh ya."

Suaranya terdengar dari lorong sebelum benar-benar menghilang.

"Jangan sentuh tas di atas meja dapur. Itu bantal pijat khusus buat Sara. Minggu depan dia harus terbang lintas negara untuk urusan kerja sama kasino. Aku sudah jahit lambang keluarga di sana."

Musim dingin tahun lalu aku pernah minta dia belikan bantal pijat untuk penerbangan-penerbangan panjangku.

Dia tolak permintaan itu waktu di meja makan. Dia bilang permintaanku terlalu manja. Nggak layak habiskan sumber daya keluarga. Akhirnya aku beli sendiri.

Tanganku menyelinap ke dalam koper kabin. Perlahan aku tarik keluar map berisi surat perceraian yang sudah aku tandatangani.

HP-ku bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Marvin Guyanto, kepala operasi penerbangan jarak jauh.

[Vi, visa dan tiket untuk ke Dulako hari Senin sudah beres. Semua siap?]

Aku menatap pintu kamar yang tertutup rapat, lalu ketik balasan. Jariku bergerak mantap di atas layar.

[Semuanya sudah siap.]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status