Home / Fantasi / Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku / BAB 3 : Ikatan Dibawah Bulan Merah

Share

BAB 3 : Ikatan Dibawah Bulan Merah

Author: Ratih.1234
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-27 11:58:58

Bulan merah menggantung seperti saksi bisu.

Udara malam terasa lebih berat, seolah hutan sendiri menahan napas.

Di hadapan Elara, Kaelar berdiri kaku bahunya tegang, rahangnya mengeras, mata emasnya menyala bukan karena amarah… melainkan sesuatu yang lebih mentah.

Keterikatan.

Ia bisa merasakannya.

Bukan hanya detak jantung Kaelar yang kini seirama dengannya, tetapi juga semburan emosi yang mengalir tanpa izin amarah yang belum padam, protektif yang hampir brutal, dan di bawah semuanya… ketertarikan yang liar dan membara.

Enam menit menuju kedatangan Silas.

Enam menit menuju niat membunuh.

Namun dunia di antara mereka terasa seperti terhenti.

Kaelar melangkah mendekat.

Satu langkah.

Elara menelan ludah.

Ia bisa mencium aroma tanah basah di kulit pria itu, campuran kayu hangus dan madu hutan.

Hangat. Maskulin. Menggoda inderanya dengan cara yang mengganggu konsentrasinya.

“Kau berdarah,” ulang Kaelar pelan.

Tangannya terangkat.

Bukan untuk menyerang.

Untuk menyentuh.

Jari-jarinya menyentuh luka di lengan Elara dengan hati-hati yang kontras dengan reputasinya sebagai Alpha paling kejam di wilayah barat.

Sentuhan itu membuat listrik kecil menjalar dari kulit ke tulang belakangnya.

Dan sistem bergetar lembut.

Ding!

Poin ikatan dengan Kaelar +3

Total: 25/100

Elara hampir mendesah frustrasi.

“Jangan sentuh aku seperti itu,” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri.

Kaelar membeku.

“Seperti apa?”

Seperti milikmu.

Tapi ia tidak mengucapkannya.

Sebaliknya, Elara memaksa suaranya stabil. “Silas sedang menuju ke sini. Enam menit.”

Mata emas Kaelar menggelap.

Nama itu jelas bukan nama yang ia sukai.

“Serigala bayangan,” gumamnya. “Dia tidak pernah bergerak tanpa alasan.”

“Dia merasakan ikatan ini,” jawab Elara. “Sistem mengirim notifikasi global.”

Kaelar menoleh tajam. “Sistem?”

Elara terdiam.

Sial.

Namun sebelum ia bisa merangkai kebohongan, tubuhnya tiba-tiba goyah.

Ikatan itu kembali berdenyut.

Rasa sakit.

Bukan miliknya.

Kaelar mendesis pelan, tangannya kembali mencengkeram dadanya.

“Kaelar?”

Ia menatap Elara dengan tatapan liar.

“Kau merasakannya juga… bukan?”

Detak yang terlalu cepat. Emosi yang bercampur. Sensasi aneh seolah saraf mereka terhubung oleh benang tak kasat mata.

Elara mengangguk pelan.

“Ini tidak stabil,” gumamnya, berpikir cepat.

“Ikatan ini dipicu oleh darah. Kita harus menenangkannya sebelum menjadi permanen.”

“Dan jika aku tidak ingin memutuskannya?”

Kalimat itu jatuh pelan.

Berat.

Elara menatapnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak melihat pria yang pernah mencoba membunuhnya.

Ia melihat seseorang yang sama terjebaknya dengan dirinya.

“Kaelar,” suaranya melembut tanpa ia sadari, “kau bahkan tidak mempercayaiku.”

“Aku tidak mempercayai siapa pun,” jawabnya. “Tapi saat mereka menyentuhmu…”

Ia berhenti.

Rahangnya menegang.

“…aku ingin mematahkan tulang mereka satu per satu.”

Jantung Elara berdetak keras.

Itu bukan hanya emosi yang dibagi oleh ikatan.

Itu murni miliknya.

Angin berembus, membuat rambut hitam Kaelar berkilau di bawah cahaya bulan merah.

Tangannya masih berada di lengan Elara, ibu jarinya tanpa sadar mengusap kulitnya, seolah memastikan ia benar-benar hidup.

Dan untuk pertama kalinya, sentuhan itu tidak terasa mengancam.

Melainkan menenangkan.

Sistem bergetar lagi.

Ding!

Poin ikatan dengan Kaelar +5

Total: 30/100

Elara menghembuskan napas panjang.

“Silas tinggal lima menit lagi,” bisiknya.

Kaelar mendekat sedikit lagi.

Terlalu dekat.

“Aku bisa membunuhnya sebelum ia menyentuhmu.”

Nada suaranya begitu tenang sehingga membuat bulu kuduk Elara meremang.

“Kita tidak bisa terus menyelesaikan semuanya dengan darah,” balasnya.

“Kau berdarah malam ini.”

“Kau juga.”

Kalimat itu membuat Kaelar terdiam.

Untuk sesaat, keheningan di antara mereka bukan lagi ancaman melainkan tarikan magnet yang tak bisa dijelaskan.

Elara mengangkat tangannya perlahan.

Ragu.

Lalu menyentuh dada Kaelar tepat di atas jantungnya.

Detaknya liar.

Dan ketika kulit mereka bersentuhan, gelombang panas menyebar dari titik itu, seperti api yang menjalar di bawah kulit.

Kaelar menghirup napas tajam.

“Elara…”

Namanya terdengar berbeda di bibirnya.

Lebih dalam.

Lebih pribadi.

“Jika kita harus menghadapi Silas bersama,” kata Elara pelan,

“maka kita harus selaras. Bukan sebagai musuh. Bukan sebagai pemburu.”

“Lalu sebagai apa?”

Pertanyaan itu membuat udara menegang.

Sebagai pasangan?

Kata itu terlalu berbahaya.

Namun sebelum ia sempat menjawab.

Suara langkah terdengar di antara pepohonan.

Hening.

Terkendali.

Berbahaya.

Silas Datang

Sosok tinggi keluar dari bayangan.

Rambut perak panjangnya tergerai di bawah cahaya bulan merah.

Mata merah gelapnya menyala seperti bara yang tidak pernah padam.

Silas.

Ia berhenti beberapa meter dari mereka.

Pandangan pertamanya jatuh pada tangan Elara yang masih menyentuh dada Kaelar.

Lalu pada jarak di antara mereka yang terlalu intim.

Udara berubah.

Tekanan membeku.

“Jadi ini yang kurasakan,” suara Silas halus, tapi dingin. “Kau mengikat diri pada singa.”

Kaelar bergerak setengah langkah ke depan secara refleks, memposisikan tubuhnya di depan Elara.

Protektif.

Sistem berbunyi keras.

Ding!

Poin ikatan dengan Kaelar +4

Total: 34/100

Silas menyeringai tipis.

“Aku datang untuk memastikan kau tidak membuat kesalahan, Elara,” katanya. “Tapi sepertinya aku terlambat.”

“Silas,” Elara memanggil namanya dengan hati-hati.

Ia merasakan sesuatu dari pria itu.

Bukan sekadar niat membunuh.

Cemburu.

Mentah. Tajam. Hampir menyakitkan.

Ikatan paksa membuat emosinya bocor sedikit ke dalam dirinya.

“Ini bukan seperti yang kau pikirkan,” katanya.

Silas mengangkat alis.

“Benarkah?”

Ia melangkah mendekat.

Dan setiap langkahnya seperti menghitung detik menuju ledakan.

Kaelar menggeram pelan.

“Berhenti di situ.”

Silas tersenyum tipis. “Atau apa?”

Ketegangan hampir terlihat di udara dua predator puncak, satu wilayah, satu perempuan di antara mereka.

Elara tahu satu kesalahan saja bisa memicu perang.

Ia bergerak cepat.

Melangkah keluar dari bayangan Kaelar.

Berdiri di antara mereka.

Keputusan berbahaya.

Tapi perlu.

“Tidak ada yang akan bertarung malam ini,” katanya tegas.

Silas menatapnya lama.

“Dia pernah mencoba membunuhmu.”

Kalimat itu membuat udara seolah pecah.

Elara menahan napas.

Kaelar membeku.

Silas tahu.

Tentu saja ia tahu.

“Dan kau tetap berdiri di sisinya?” lanjut Silas.

Elara menoleh pada Kaelar.

Pria itu tidak menyangkal.

Tidak membela diri.

Hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia baca sepenuhnya.

Mungkin penyesalan.

Mungkin tantangan.

Mungkin harapan.

“Aku memilih berdiri di tempat yang aku inginkan,” jawab Elara akhirnya.

Silas terdiam.

Lalu ia tertawa pelan.

“Berbahaya sekali kau, Elara.”

Sistem berbunyi lagi.

Ding!

Poin ketertarikan Silas +6

Total: 18/100

Oh, ini semakin rumit.

Silas menatap Kaelar.

“Kau sadar, ikatan paksa itu bisa berubah menjadi permanen jika emosi kalian terus sinkron?”

Kaelar menjawab tanpa ragu. “Aku sadar.”

“Dan kau tetap membiarkannya?”

Keheningan sesaat.

Lalu Kaelar berkata pelan. “Aku tidak membiarkannya.”

Tangannya bergerak, menarik Elara mendekat ke sisinya.

Lembut.

Tapi tegas.

“Aku menerimanya.”

Jantung Elara hampir melompat keluar.

Sistem bergetar liar.

Ding!

Poin ikatan dengan Kaelar +8

Total: 42/100

Silas menatap tangan itu.

Lama.

Lalu pandangannya kembali ke wajah Elara.

“Apa ini yang kau inginkan?”

Pertanyaan itu bukan ancaman.

Itu permintaan kejujuran.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia terlempar ke dunia ini, Elara menyadari sesuatu yang menakutkan.

Ia tidak lagi hanya bertahan hidup.

Ia mulai merasakan.

Bukan hanya karena sistem.

Bukan hanya karena misi.

Tapi karena cara Kaelar menatapnya seolah ia adalah sesuatu yang perlu dijaga, bukan dimusnahkan.

Angin malam kembali berembus.

Bulan merah semakin tinggi.

Dan Elara menjawab dengan suara pelan namun mantap.

“Aku ingin memilih sendiri.”

Keheningan menggantung.

Lalu Silas mengangguk tipis.

“Kalau begitu, pilih dengan hati-hati.”

Ia berbalik.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 16 : Hakim

    Langit tidak langsung runtuh.Namun warnanya berubah.Gradasi lembut yang sebelumnya menenangkan kini mulai berdenyut tidak stabil seperti permukaan air yang diganggu batu besar.Retakan merah yang tadi hanya beberapa kini menyebar lebih jauh.Seperti urat yang menjalar di tubuh dunia.Elena merasakannya lebih dulu.Bukan melalui mata.Melainkan melalui ikatan.Empat inti yang kini terhubung dirinya, Zephyr, Elias, dan Kael bergetar bersama.Namun getaran itu tidak harmonis.Sesuatu… menekan dari luar.Sistem berbunyi.[PERINGATAN GLOBAL][Entitas Seleksi Tingkat Tinggi: Mendekat][Jumlah: Tidak Teridentifikasi]Zephyr memandang langit dengan rahang mengeras.Angin di sekelilingnya mulai bergerak liar.“Aku tidak suka cara mereka datang.”Elias menyipitkan mata.Kilatan cahaya tipis mulai mengelilingi tubuhnya.“Mereka tidak datang untuk berbicara.”Kael berdiri sedikit di belakang Elena, tetapi kehadirannya terasa seperti dinding tak terlihat.Udara di sekitar mereka menjadi lebih be

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 15 : Alpha Keempat Terhubung ke Inti Ikatan

    Langit kembali tenang.Namun ketenangan itu bukan seperti sebelumnya.Ia terasa… menunggu.Seolah dunia sendiri menahan napas setelah perubahan yang baru saja terjadi.Angin yang biasa bergerak liar di wilayah Zephyr kini berhembus lebih lembut, berputar perlahan seperti sedang mempelajari pola baru. Cahaya dari wilayah Elias di kejauhan tidak lagi menyilaukan—ia mengalir seperti sungai yang tenang.Dan di tengah semua itu, Elena berdiri.Tangannya masih digenggam oleh Zephyr dan Elias.Namun ada sesuatu yang berbeda.Ikatan mereka tidak lagi terasa seperti tiga inti yang terhubung.Sekarang terasa… lebih luas.Seolah ada ruang kosong dalam simpul itu.Ruang yang menunggu untuk diisi.Zephyr adalah yang pertama merasakannya.Alisnya sedikit berkerut.“Apakah kau merasakannya?”Elias menoleh.“Apa?”Zephyr tidak langsung menjawab. Ia menatap langit yang baru saja pulih dari retakan merah.“Tekanan.”Elena ikut mengangkat kepala.Dan saat itulah ia merasakannya.Bukan serangan.Bukan an

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 14 : Fase Beta selesai

    Langit tidak langsung pecah.Ia mengembang.Seperti paru-paru raksasa yang untuk pertama kalinya menarik napas terlalu dalam.Garis hitam di cakrawala tidak lagi tampak seperti ancaman. Ia membentuk lingkaran perlahan simbol yang berdenyut selaras dengan detak jantung Elena.Sistem berbunyi.[Uji Coba Beta — Fase Empat][Parameter: Dunia Nyata][Tidak Ada Simulasi][Tidak Ada Ilusi]Sunyi turun.Zephyr adalah yang pertama mengerti.“Ini bukan ruang distorsi,” gumamnya. Angin di sekelilingnya bergerak, tapi tidak terpantul. Tidak tertahan. Tidak dipaksa.Elias menatap tangannya sendiri. Energi putih yang biasanya stabil kini bergetar halus bukan karena gangguan, melainkan karena resonansi eksternal.Elena merasakan sesuatu yang lebih dalam.Ikatan mereka yang sebelumnya seperti tiga benang terpisah yang saling melilit kini terasa seperti satu simpul pusat dengan tiga inti.Dan simpul itu… mulai meluas.Tanah bergetar.Namun bukan karena serangan.Wilayah Zephyr berubah lebih dulu. Pepoh

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 13 : Pengorbanan

    Langit yang tadi jernih kembali bergetar.Bukan oleh badai.Bukan oleh retakan dimensi.Melainkan oleh satu kata yang menggantung terlalu berat di udara.Pengorbanan.Elena merasakannya lebih dulu.Bukan sebagai rasa takut.Melainkan sebagai tarikan halus di dadanya seperti ada benang tak terlihat yang mulai ditarik ke arah yang berbeda.Sistem berbunyi pelan.[Simulasi: Pengorbanan][Parameter: Pilihan Eksklusif][Hanya Satu yang Dapat Diselamatkan]Zephyr langsung menegang. Angin di sekelilingnya bergetar, namun kali ini tidak liar lebih seperti refleks protektif.Elias berdiri lebih dekat ke Elena tanpa sadar.“Kita tidak perlu mengikuti skenario mereka,” Elias berkata tenang, tapi rahangnya mengeras.Elena tidak menjawab.Karena dunia sudah berubah.Tanah di bawah kaki mereka terbelah.Namun bukan menjadi jurang.Melainkan menjadi dua jalur cahaya yang berlawanan arah.Di ujung jalur pertama Zephyr berdiri, terikat rantai energi hitam yang perlahan menggerogoti dadanya.Di ujung j

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 12 : Uji Coba Beta

    Langit tidak lagi retak.Ia terbelah.Bukan oleh badai.Bukan oleh energi yang saling bertabrakan.Melainkan oleh sesuatu yang lebih halus lebih berbahaya.Penilaian.Elena berdiri di balkon wilayah Zephyr ketika notifikasi itu muncul lagi.Tidak merah.Tidak agresif.Putih.[Uji Coba Beta — Aktif][Target: Integritas Hati][Metode: Distorsi Persepsi][Mode: Tanpa Peringatan]“Distorsi?” Elena berbisik.Di belakangnya, angin bergerak terlalu pelan.Zephyr muncul tanpa suara.“Ada perubahan.”Elias sudah berdiri di ambang pintu sebelum Elena sempat menjawab.“Aku merasakannya juga.”Namun kali ini bukan rasa sakit.Bukan tekanan.Melainkan… keraguan.Halus.Seperti benih kecil yang tidak ia tanam.Hari itu berjalan aneh.Tidak ada serangan.Tidak ada ancaman langsung.Namun setiap interaksi terasa sedikit… meleset.Ketika Zephyr berbicara, Elena merasa ada jarak tipis di antara kata-katanya.Ketika Elias menyentuh tangannya, kehangatan itu terasa sepersekian detik terlambat.Bukan kare

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 11 : Memilih Satu Diantara Dua

    Langit malam itu tetap gelisah.Namun bukan oleh angin.Bukan pula oleh energi gelap.Melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih sunyi sesuatu yang menunggu saat paling rapuh untuk menyerang.Elena terbangun dengan napas terputus.Bukan karena mimpi.Bukan karena suara.Melainkan karena rasa sakit.Bukan sakit fisik biasa. Bukan luka luar.Melainkan tekanan dari dalam seolah sistemnya sendiri mencoba menekan jantungnya.Di dalam kepalanya, layar merah berpendar.[Override Fisik — Aktif][Target: Subjek Elena][Uji Coba Alfa — Dimulai][Tujuan: Evaluasi Ketahanan Multi-Ikatan][Mode: Tanpa Bantuan Sistem]“Tidak…” bisiknya lemah.Di sisi kiri, angin langsung berubah arah.Zephyr terbangun seketika.“Elena.”Di sisi kanan, energi gelap mengeras.Elias sudah duduk bahkan sebelum Elena sempat merintih kedua kalinya.“Apa yang terjadi?”Elena menggenggam dadanya.“Bukan serangan… ini… dari dalam.”Sistem kembali menyala.[Ikatan Multi-Alpha — Tidak Stabil][Resonansi Emosional Berlebih][Solus

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 7 : Serangan Kaum Hyena

    Langit yang tadi tenang mendadak berubah warna.Awan kelabu menggulung cepat dari utara, bergerak seperti kawanan binatang yang terusir.Angin menusuk, membawa aroma besi dan tanah terbakar.Elena baru saja kembali ke perkemahan utama Kaelar ketika suara tanduk perang meraung dari menara penjaga.S

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 6 : Ketika Singa Mengaum dan Rawa Menjawab

    Langit sore menggantung rendah ketika Elara melangkah keluar dari wilayah rawa.Kabut masih memeluk tanah, tetapi langkahnya terasa lebih ringan.Di tangannya, vial kecil berisi cairan bening berkilau samar Air Mata Buaya.Misi selesai.Namun hatinya tidak sesederhana notifikasi sistem.Ia bisa mer

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 5 : Air Mata Buaya dan Pria yang Tidak Pernah Menangis

    Tiga hari setelah fajar itu, Elara berdiri di tepi rawa selatan.Wilayah milik Thorn.Kabut di sini berbeda dari Nightshade. Lebih tebal. Lebih lengket.Udara terasa lembap, berat oleh aroma tanah basah dan sesuatu yang samar reptil purba dan bunga liar yang mekar di antara air hitam.Sistem berked

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   BAB 4 : Nafas yang Tersisa di Antara Kita

    “Kalau begitu, pilih dengan hati-hati.”Ia berbalik.Bayangannya menyatu kembali dengan hutan.Namun sebelum menghilang sepenuhnya, ia berkata tanpa menoleh.“Karena lain kali, jika kau terluka lagi… aku tidak akan datang hanya untuk berbicara.”Lalu ia lenyap.Hening kembali.Hanya tersisa Elara d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status