LOGIN[Status Rahasia: Kaelar pernah mencoba membunuh pengguna.]
Dunia seakan berhenti.
Apa?
Napas Elara tercekat.
Seketika, potongan memori menghantamnya cakar yang hampir merobek tenggorokannya, darah di tanah hutan, mata emas yang dipenuhi kemarahan… dan rasa sakit yang nyata.
Bukan sekadar ancaman kosong.
Dia benar-benar pernah mencoba membunuhnya.
Panel kembali berkedip.
[Catatan: Percobaan pembunuhan terjadi 3 malam sebelum pengguna kehilangan kesadaran.]
Tiga malam.
Tiga malam lalu, sebelum “Diana” membuka mata di tubuh ini.
Artinya…
Elara perlahan mengangkat wajahnya ke arah hutan tempat Kaelar menghilang.
Jika dia sudah pernah mencoba membunuhnya sekali.
Apa yang menghentikannya untuk melakukannya lagi?
Angin berhembus lebih kencang.
Di kejauhan, terdengar lolongan panjang yang bukan milik serigala Nightshade.
Lebih dalam. Lebih berat.
Lebih dekat.
Sistem berbunyi untuk ketiga kalinya malam itu.
[Notifikasi: Deteksi niat membunuh dalam radius 300 meter.]
[Identitas tidak diketahui.]
Jantung Elara berdegup keras.
Dia baru saja mendapatkan 7 poin.
Dan mungkin, tanpa ia sadari.
Perburuan telah dimulai.
Angin berhenti.
Hutan yang tadi berbisik kini membisu.
Elara berdiri tegak, memaksa napasnya melambat meski jantungnya seperti hendak memecah tulang rusuk.
[Deteksi niat membunuh dalam radius 300 meter.]
[Estimasi jumlah individu: 3.]
[Arah: Timur Laut.]
Bukan satu.
Tiga.
Bukan Kaelar.
Naluri tubuh ini naluri Alpha bangkit seperti api yang tersiram minyak.
Pendengarannya menajam. Ia bisa mendengar gesekan kaki di atas daun kering.
Tarikan napas berat. Bau asing bercampur lumpur dan besi.
Para Penggembara.
Mereka bergerak cepat.
Terlalu cepat untuk sekadar kebetulan.
Apakah mereka mengikutinya? Atau… apakah seseorang memberi tahu mereka ia akan berada di sini malam ini?
“Licik sekali, Iblis Bulan Merah,” suara berat terdengar dari balik semak.
Tiga sosok muncul.
Tubuh mereka lebih kurus dari Alpha, tapi penuh bekas luka. Mata mereka tajam, lapar. Bukan singa. Bukan serigala.
Hyena.
Pemakan bangkai yang tak segan mencabik mangsa hidup-hidup.
“Alpha Nightshade sendirian di perbatasan,” yang paling tinggi menyeringai, memperlihatkan gigi kekuningan. “Kesempatan langka.”
Elara tidak mundur.
Jangan pernah mundur di depan predator oportunis.
Itu pelajaran pertama dalam etologi perilaku hewan.
Ia mengangkat dagu.
“Kalian salah wilayah.”
“Kami tidak peduli wilayah,” balasnya. “Kami peduli darah.”
Mereka menyebar, membentuk setengah lingkaran.
Strategi perburuan kelompok.
Satu mengalihkan. Satu melukai. Satu menggigit tenggorokan.
Sistem berkedip.
[Misi Darurat: Bertahan hidup selama 10 menit.]
[Hadiah: +3 poin ke semua pasangan yang menghargai kekuatan.]
[Kegagalan: Kematian.]
Sepuluh menit?
Elara hampir tertawa getir.
Sebagai Diana, ia bisa menghitung pola migrasi serigala Arktik.
Tapi sekarang ia harus menghitung peluang hidupnya sendiri.
Hyena pertama melompat.
Tubuh Elara bergerak sebelum pikirannya sempat mengejar. Ia berputar, cakar-cakar? menyabet udara. Kain pakaian lawannya robek. Darah terciprat.
Hangat.
Nyata.
Hyena itu meraung, mundur setengah langkah.
Yang kedua menyerang dari sisi kiri.
Elara merunduk, lututnya menghantam perut lawan dengan kekuatan yang membuatnya sendiri terkejut.
Tubuh ini jauh lebih kuat dari yang ia perkirakan.
Tapi mereka tiga.
Dan dia sendirian.
Yang ketiga yang paling tenang tidak bergerak.
Ia menunggu.
Mengamati.
Pemimpin.
Hyena pertama dan kedua kembali menyerang bersamaan.
Elara berhasil menghindari satu, tapi yang lain berhasil menggores lengannya.
Rasa panas menjalar. Bau darahnya sendiri memenuhi udara.
Mata ketiga hyena itu menyala puas.
“Lihat?” katanya pelan. “Iblis Bulan Merah tidak setajam cerita.”
Elara terengah.
Tubuh ini kuat.
Tapi pengalamannya nol.
Ia bukan pejuang.
Ia ilmuwan yang terlempar ke tubuh monster.
Hyena pemimpin akhirnya bergerak.
Cepat.
Terlalu cepat.
Ia muncul tepat di depan Elara, taringnya mengarah ke tenggorokan.
Dan untuk sepersekian detik.
Elara tahu ia terlambat.
Tubuhnya tidak cukup cepat.
Jarak terlalu dekat.
Sistem tidak berbunyi.
Tidak ada bantuan.
Tidak ada pilihan.
Hanya satu pikiran terlintas:
Jadi begini caranya aku mati? Bahkan sebelum purnama pertama?
Tiba-tiba
Sosok emas menerjang dari samping seperti kilat.
Benturan keras membuat tanah bergetar.
Hyena pemimpin terpental beberapa meter, menghantam batang pohon dengan suara retak tulang yang mengerikan.
Elara terhuyung, hampir jatuh.
Lengan kuat menangkap pinggangnya sebelum ia menyentuh tanah.
Aroma hangat, liar, dan sedikit manis memenuhi inderanya.
Kaelar.
Matanya yang emas kini tidak lagi ragu.
Tidak lagi dingin.
Yang ada hanya kemarahan murni.
“Berani sekali kalian,” suaranya rendah, nyaris seperti geraman binatang, “menyentuh pasanganku.”
Pasanganku.
Hyena yang tersisa mundur satu langkah.
“Ini bukan urusan Klan Singa!” salah satu berteriak.
Kaelar tersenyum tipis.
Itu bukan senyum ramah.
Itu senyum sebelum pembantaian.
“Sekarang jadi.”
Ia melepaskan Elara perlahan, memastikan ia bisa berdiri sendiri.
Lalu, tanpa menoleh padanya, ia berkata pelan.
“Kau berdarah.”
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Dan ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat jantung Elara berdebar lebih keras daripada serangan tadi.
Bukan karena takut.
Tapi karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Kepemilikan.
Sistem berbunyi.
"Ding! Poin ikatan dengan Kaelar +10. Total: 22/100."
Namun sebelum Elara sempat merasa lega.
Panel merah muncul lagi.
[Efek Samping Terpicu.]
[Darah pengguna bercampur dengan darah pasangan dalam radius 1 meter.]
[Ikatan Paksa Tingkat Rendah Diaktifkan.]
Elara membeku.
Ikatan paksa?
Kaelar tiba-tiba terdiam.
Tubuhnya menegang.
Matanya yang emas melebar sedikit bukan karena musuh.
Karena sesuatu yang ia rasakan.
Perubahan.
Udara di sekitar mereka bergetar.
Dan Elara menyadari, dengan rasa ngeri yang perlahan merayap naik.
Ia mungkin baru saja menciptakan ikatan yang tidak bisa dibatalkan.
Dengan pria yang pernah mencoba membunuhnya.
Dan yang kini menatapnya…
Seolah ia bukan lagi sekadar sekutu.
Melainkan miliknya.
Udara di antara mereka berubah.
Bukan karena darah.
Bukan karena pertarungan.
Tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam.
Kaelar terhuyung setengah langkah, tangannya mencengkeram dadanya sendiri.
Matanya yang emas yang selalu penuh kendali kini bergetar.
“...Apa yang kau lakukan padaku?” suaranya serak.
Elara tidak menjawab.
Karena dia juga merasakannya.
Detak.
Bukan hanya detak jantungnya sendiri.
Tapi detak lain.
Selaras.
Seirama.
Terlalu sinkron untuk menjadi kebetulan.
Sistem muncul dengan cahaya merah menyilaukan.
[Ikatan Paksa Tingkat Rendah Berhasil Dibentuk.]
[Efek: Emosi pasangan akan terhubung sebagian dengan pengguna.]
[Efek Tambahan: Rasa sakit fatal pada salah satu pihak akan dirasakan oleh pihak lain.]
Napas Elara tercekat.
Berbagi rasa sakit?
Berbagi… kematian?
Kaelar menatapnya, kali ini bukan dengan kemarahan.
Bukan dengan kecurigaan.
Melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Kesadaran.
“Kau…” bisiknya pelan. “Kau mengikatku.”
Bukan tuduhan.
Fakta.
Hyena terakhir melarikan diri ke dalam kegelapan, tapi tak satu pun dari mereka memperhatikan.
Karena masalah yang lebih besar baru saja lahir.
Sistem berbunyi sekali lagi.
"Ding!"
[Notifikasi Global Terkirim.]
[Semua pasangan merasakan aktivasi Ikatan Paksa.]
[Reaksi emosional terdeteksi.]
Satu per satu nama menyala di panel:
Ryker — Lonjakan agresi.
Elara membeku.
Niat membunuh?
Sistem memperbesar satu nama.
Silas.
[Status: Bergerak menuju lokasi pengguna.]
[Estimasi waktu kedatangan: 6 menit.]
Angin malam kembali berembus, kali ini membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Kaelar berdiri di depannya.
Terikat padanya.
Dan dalam enam menit.
Salah satu dari sembilan pria yang harus ia buat jatuh cinta…....
Sedang datang.
Dengan niat membunuh.
Bulan merah menggantung tinggi di langit.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di dunia ini.
Elara bertanya dalam hati:
Apakah sistem ini benar-benar ingin ia menemukan cinta…....
Atau justru menyaksikan sembilan Alpha saling membunuh karena dirinya?
Enam menit.
Dan hitungan mundur sudah dimulai.
[Status Rahasia: Kaelar pernah mencoba membunuh pengguna.]Dunia seakan berhenti.Apa?Napas Elara tercekat.Seketika, potongan memori menghantamnya cakar yang hampir merobek tenggorokannya, darah di tanah hutan, mata emas yang dipenuhi kemarahan… dan rasa sakit yang nyata.Bukan sekadar ancaman kosong.Dia benar-benar pernah mencoba membunuhnya.Panel kembali berkedip.[Catatan: Percobaan pembunuhan terjadi 3 malam sebelum pengguna kehilangan kesadaran.]Tiga malam.Tiga malam lalu, sebelum “Diana” membuka mata di tubuh ini.Artinya…Elara perlahan mengangkat wajahnya ke arah hutan tempat Kaelar menghilang.Jika dia sudah pernah mencoba membunuhnya sekali.Apa yang menghentikannya untuk melakukannya lagi?Angin berhembus lebih kencang.Di kejauhan, terdengar lolongan panjang yang bukan milik serigala Nightshade.Lebih dalam. Lebih berat.Lebih dekat.Sistem berbunyi untuk ketiga kalinya malam itu.[Notifikasi: Deteksi niat membunuh dalam radius 300 meter.][Identitas tidak diketahui.
Dunia terasa berbeda.Itu adalah kesadaran pertama yang merayap dalam benak Elara semenjak tinggal didunia asing.Bukan langit beton Jakarta yang biasa ia lihat dari jendela laboratorium, melainkan kanopi dedaunan raksasa yang meranggas di bawah cahaya bulan kemerahan.Aroma tanah lembap, lumut, dan sesuatu yang metalik darah? memenuhi indranya dengan kejelasan yang mengganggu.Dia mencoba duduk, tapi tubuhnya bergerak dengan cara yang asing. Lebih ringan.Lebih gesit. Setiap otot terasa terisi kekuatan yang tak pernah ia miliki sebagai Diana, ilmuwan berusia 29 tahun yang lebih akrab dengan mikroskop daripada medan perang."Ding!"Elara hampir melompat mendengar suara mekanis yang bergema di dalam kepalanya.[Selamat datang, Pengguna. Sistem Pasangan Sempurna telah diaktifkan.][Identitas: Elara, dijuluki 'Iblis Bulan Merah', Alpha Klan Serigala Hitam Nightshade.][Status: Memiliki 9 Ikatan Pasangan Resmi.][Misi Utama: Capai level 'Cinta Sejati' (100/100) dengan semua pasangan sebel







