Home / Fantasi / Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku / Bab 6 : Ketika Singa Mengaum dan Rawa Menjawab

Share

Bab 6 : Ketika Singa Mengaum dan Rawa Menjawab

Author: Ratih.1234
last update publish date: 2026-02-28 11:54:59

Langit sore menggantung rendah ketika Elara melangkah keluar dari wilayah rawa.

Kabut masih memeluk tanah, tetapi langkahnya terasa lebih ringan.

Di tangannya, vial kecil berisi cairan bening berkilau samar Air Mata Buaya.

Misi selesai.

Namun hatinya tidak sesederhana notifikasi sistem.

Ia bisa merasakan sesuatu yang baru.

Thorn.

Tenang. Dalam. Mengalir seperti arus bawah air yang tak terlihat, tapi kuat.

Dan di saat bersamaan.

Ikatan dengan Kaelar berdenyut lebih keras.

Hangat. Intens. Nyaris gelisah.

Sistem berkedip pelan.

[Ikatan Paksa Kaelar → 76%]
[Emosi Dominan: Cemburu, Protektif]

Elara menghela napas pelan.

“Dia merasakannya,” gumamnya.

Tentu saja dia merasakannya.

Ikatan itu tidak mengenal jarak.

Begitu ia melewati batas rawa, aura hangat yang dikenalnya semakin kuat.

Dan di antara pepohonan perbatasan.

Kaelar menunggu.

Berdiri tegap seperti patung penjaga kuno.

Begitu mata emasnya menangkap sosok Elara, sesuatu berubah di wajahnya.

Ia tidak bergerak dulu.

Hanya mengamati.

Menilai.

Menghitung.

Elara berhenti beberapa langkah darinya.

“Kau kembali,” kata Kaelar pelan.

“Seperti yang kujanjikan.”

Tatapan emas itu turun sekilas ke tangannya.

Ke vial kecil.

Lalu kembali ke wajahnya.

“Kau mendapatkannya.”

“Aku melakukannya.”

Hening.

Namun ikatan itu berbicara lebih keras dari kata-kata.

Kaelar bisa merasakan sisa sentuhan Thorn di kulitnya.


Bisa merasakan jejak emosi yang belum sepenuhnya hilang.

Ciuman itu.

Kedekatan itu.

Bukan detail tetapi sensasinya.

Rahangnya menegang.

“Kau menciumnya.”

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

Elara tidak berbohong.

“Ya.”

Angin berhenti.

Daun-daun seolah membeku.

Kaelar melangkah mendekat.

Tidak cepat.

Tapi setiap langkah terasa berat.

“Apakah itu bagian dari misimu?” suaranya rendah, hampir bergetar.

Elara menatapnya lurus.

“Tidak.”

Jawaban jujur itu justru lebih berbahaya.

Mata emasnya menggelap.

“Apa yang kau rasakan?”

Ia tidak berhak menuntut.

Namun ikatan itu membuat pertanyaan itu terasa seperti kebutuhan.

Elara mendekat satu langkah.

“Berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

“Denganmu seperti api,” katanya pelan. “Dengan Thorn seperti air.”

Kaelar terdiam.

Dan dalam ikatan itu, Elara merasakan sesuatu yang jarang ia temui pada pria ini.

Ketidakpastian.

Bukan karena ia takut kalah.

Tapi karena ia peduli.

Kaelar mengangkat tangan.

Menyentuh dagu Elara.

Mengangkatnya sedikit.

“Aku tidak berbagi dengan mudah.”

“Aku tidak meminta izin untuk merasa,” balas Elara lembut.

Itu bukan tantangan.

Itu kejujuran.

Dan Kaelar membencinya.

Karena ia tahu ia tidak bisa mematahkan kejujuran itu tanpa mematahkan dirinya sendiri.

“Aku ingin marah,” gumamnya pelan.

“Aku tahu.”

“Aku ingin kembali ke rawa dan mematahkan rahangnya.”

Elara hampir tersenyum.

“Tapi kau tidak melakukannya.”

“Karena kau tidak terlihat menyesal.”

Ia tidak.

Dan justru itu yang membuat dada Kaelar terasa panas.

Elara melangkah lebih dekat hingga tubuh mereka hampir bersentuhan.

“Aku tidak akan berpura-pura bahwa aku tidak merasakan apa pun,” katanya pelan.

“Tapi itu tidak menghapus apa yang kurasakan padamu.”

Ikatan itu berdenyut kuat.

Hangat.

Nyaris menyakitkan.

Sistem berbunyi pelan.

Ding!
Poin Ikatan Kaelar +6
Total: 63/100

Kaelar menghela napas dalam.

Tangannya turun ke pinggang Elara.

Menariknya mendekat.

“Buktikan.”

Bukan ancaman.

Permintaan.

Elara menatapnya.

“Apa?”

“Bahwa aku tidak tergantikan.”

Ia jarang meminta.

Dan ketika ia melakukannya, suaranya nyaris seperti bisikan.

Elara mengangkat tangan, menyentuh wajahnya.

Lalu tanpa ragu, ia mencium Kaelar.

Ciumannya berbeda dari yang di rawa.

Dengan Thorn, itu dalam dan tenang.

Dengan Kaelar.

Itu panas.

Mendesak.

Seperti bara yang ditiup angin.

Kaelar membalas dengan intensitas yang hampir ia tahan sejak melihatnya kembali.

Tangannya mencengkeram pinggang Elara, bukan menyakitkan, tapi tegas.

Seolah takut ia menghilang.

Ikatan mereka menyala.

Elara bisa merasakan cemburu yang berubah menjadi kebutuhan.

Bukan untuk memiliki.

Tapi untuk diyakinkan.

Ia memperdalam ciuman itu.

Bukan untuk menenangkan egonya.

Tapi untuk menunjukkan bahwa ia memilih berada di sini.

Sekarang.

Dengan dia.

Sistem berbunyi lagi.

Ding!
Poin Ikatan Kaelar +10
Total: 73/100

Ketika mereka akhirnya terpisah, napas Kaelar berat.

“Jangan buat aku merasa seperti pilihan kedua.”

Elara menyentuh dahinya.

“Kau bukan pilihan kedua.”

“Lalu apa aku?”

Ia tersenyum kecil.

“Kau adalah badai yang tidak bisa kuabaikan.”

Kaelar terdiam.

Lalu tertawa pelan.

Suara rendah itu menggetarkan dada.

“Dan Thorn?”

“Arus yang menarikku tanpa suara.”

Ia jujur.

Dan entah kenapa, Kaelar lebih menghargai itu daripada kebohongan manis.

Ia memeluk Elara.

Erat.

Lebih erat dari biasanya.

Ikatan itu stabil di 81%.

Namun sistem tiba-tiba berkedip merah.

[Konflik Antar-Alpha Meningkat]
[Thorn — Aktivitas Mendekati Perbatasan]

Elara membuka mata.

“Kau tidak sendiri,” bisiknya.

Kaelar langsung merasakannya.

Aura dingin dari rawa.

Dan beberapa detik kemudian.

Sosok tinggi muncul di antara pepohonan.

Thorn.

Ia tidak membawa pasukan.

Hanya dirinya.

Tatapannya tertuju langsung pada Kaelar.

Lalu pada tangan Kaelar yang masih memeluk Elara.

Hening membentang.

Dua predator.

Satu perempuan di antara mereka.

“Aku hanya memastikan ia keluar dengan selamat,” kata Thorn datar.

“Kau pikir aku tidak mampu?” Kaelar membalas.

Thorn menatapnya tanpa emosi.

“Aku pikir kau terlalu emosional.”

Udara menegang.

Elara merasakan detak kedua pria itu.

Berbeda.

Singa—cepat dan panas.

Buaya—lambat dan dalam.

Ia melangkah maju, berdiri di antara mereka lagi.

“Kalian tidak perlu mengukur wilayah hari ini.”

Thorn menatapnya.

“Kau baik-baik saja?”

Nada suaranya berubah.

Lebih lembut.

Kaelar langsung merasakannya.

Dan cemburu itu kembali menyala.

“Aku baik,” jawab Elara.

Tatapan Thorn turun ke bibirnya.

Sedikit bengkak karena ciuman barusan.

Ia menyadarinya.

Tapi tidak bereaksi.

Hanya satu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Aku senang.”

Kaelar mendesis pelan.

Elara merasakan semuanya.

Cemburu.


Tantangan.


Ketertarikan.

Dan sesuatu yang lebih berbahaya.

Kompetisi.

Sistem berbunyi keras.

[Multi-Ikatan Stabilitas Uji Coba Dimulai]
[Jika satu Alpha menyerang yang lain karena pengguna → Penalti Hubungan]

Elara menarik napas dalam.

“Kalian ingin bertarung?” tanyanya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

“Kalau begitu lakukan di tempat lain. Tanpa melibatkanku.”

Kalimat itu membuat keduanya membeku.

Ia tidak ingin menjadi alasan perang.

Kaelar memandang Thorn.

Thorn memandang Kaelar.

Dan untuk pertama kalinya.

Keduanya mundur setengah langkah.

Bukan karena takut.

Karena Elara memintanya.

Thorn berbicara lebih dulu.

“Aku tidak datang untuk bertarung.”

“Bagus,” Kaelar membalas dingin.

Thorn menatap Elara sekali lagi.

“Datanglah lagi. Tanpa misi.”

Lalu ia berbalik.

Menghilang ke dalam kabut rawa.

Hening kembali.

Kaelar menatap Elara lama.

“Ini akan semakin sulit.”

“Aku tahu.”

“Tapi kau tetap melakukannya.”

Ia mengangguk.

“Karena aku tidak ingin cinta yang lahir dari ketakutan.”

Kaelar terdiam.

Lalu ia mendekat lagi.

Kali ini lebih tenang.

“Kalau begitu jangan pernah bohong padaku.”

“Aku tidak akan.”

Ikatan mereka berdenyut.

Hangat.

Stabil.

Namun di sudut sistem, panel kecil muncul:

[Alpha Lain Mengamati]
[Silas — Ketertarikan 28%]
[Zephyr — Lonjakan Emosi Tiba-Tiba]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 16 : Hakim

    Langit tidak langsung runtuh.Namun warnanya berubah.Gradasi lembut yang sebelumnya menenangkan kini mulai berdenyut tidak stabil seperti permukaan air yang diganggu batu besar.Retakan merah yang tadi hanya beberapa kini menyebar lebih jauh.Seperti urat yang menjalar di tubuh dunia.Elena merasakannya lebih dulu.Bukan melalui mata.Melainkan melalui ikatan.Empat inti yang kini terhubung dirinya, Zephyr, Elias, dan Kael bergetar bersama.Namun getaran itu tidak harmonis.Sesuatu… menekan dari luar.Sistem berbunyi.[PERINGATAN GLOBAL][Entitas Seleksi Tingkat Tinggi: Mendekat][Jumlah: Tidak Teridentifikasi]Zephyr memandang langit dengan rahang mengeras.Angin di sekelilingnya mulai bergerak liar.“Aku tidak suka cara mereka datang.”Elias menyipitkan mata.Kilatan cahaya tipis mulai mengelilingi tubuhnya.“Mereka tidak datang untuk berbicara.”Kael berdiri sedikit di belakang Elena, tetapi kehadirannya terasa seperti dinding tak terlihat.Udara di sekitar mereka menjadi lebih be

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 15 : Alpha Keempat Terhubung ke Inti Ikatan

    Langit kembali tenang.Namun ketenangan itu bukan seperti sebelumnya.Ia terasa… menunggu.Seolah dunia sendiri menahan napas setelah perubahan yang baru saja terjadi.Angin yang biasa bergerak liar di wilayah Zephyr kini berhembus lebih lembut, berputar perlahan seperti sedang mempelajari pola baru. Cahaya dari wilayah Elias di kejauhan tidak lagi menyilaukan—ia mengalir seperti sungai yang tenang.Dan di tengah semua itu, Elena berdiri.Tangannya masih digenggam oleh Zephyr dan Elias.Namun ada sesuatu yang berbeda.Ikatan mereka tidak lagi terasa seperti tiga inti yang terhubung.Sekarang terasa… lebih luas.Seolah ada ruang kosong dalam simpul itu.Ruang yang menunggu untuk diisi.Zephyr adalah yang pertama merasakannya.Alisnya sedikit berkerut.“Apakah kau merasakannya?”Elias menoleh.“Apa?”Zephyr tidak langsung menjawab. Ia menatap langit yang baru saja pulih dari retakan merah.“Tekanan.”Elena ikut mengangkat kepala.Dan saat itulah ia merasakannya.Bukan serangan.Bukan an

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 14 : Fase Beta selesai

    Langit tidak langsung pecah.Ia mengembang.Seperti paru-paru raksasa yang untuk pertama kalinya menarik napas terlalu dalam.Garis hitam di cakrawala tidak lagi tampak seperti ancaman. Ia membentuk lingkaran perlahan simbol yang berdenyut selaras dengan detak jantung Elena.Sistem berbunyi.[Uji Coba Beta — Fase Empat][Parameter: Dunia Nyata][Tidak Ada Simulasi][Tidak Ada Ilusi]Sunyi turun.Zephyr adalah yang pertama mengerti.“Ini bukan ruang distorsi,” gumamnya. Angin di sekelilingnya bergerak, tapi tidak terpantul. Tidak tertahan. Tidak dipaksa.Elias menatap tangannya sendiri. Energi putih yang biasanya stabil kini bergetar halus bukan karena gangguan, melainkan karena resonansi eksternal.Elena merasakan sesuatu yang lebih dalam.Ikatan mereka yang sebelumnya seperti tiga benang terpisah yang saling melilit kini terasa seperti satu simpul pusat dengan tiga inti.Dan simpul itu… mulai meluas.Tanah bergetar.Namun bukan karena serangan.Wilayah Zephyr berubah lebih dulu. Pepoh

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 13 : Pengorbanan

    Langit yang tadi jernih kembali bergetar.Bukan oleh badai.Bukan oleh retakan dimensi.Melainkan oleh satu kata yang menggantung terlalu berat di udara.Pengorbanan.Elena merasakannya lebih dulu.Bukan sebagai rasa takut.Melainkan sebagai tarikan halus di dadanya seperti ada benang tak terlihat yang mulai ditarik ke arah yang berbeda.Sistem berbunyi pelan.[Simulasi: Pengorbanan][Parameter: Pilihan Eksklusif][Hanya Satu yang Dapat Diselamatkan]Zephyr langsung menegang. Angin di sekelilingnya bergetar, namun kali ini tidak liar lebih seperti refleks protektif.Elias berdiri lebih dekat ke Elena tanpa sadar.“Kita tidak perlu mengikuti skenario mereka,” Elias berkata tenang, tapi rahangnya mengeras.Elena tidak menjawab.Karena dunia sudah berubah.Tanah di bawah kaki mereka terbelah.Namun bukan menjadi jurang.Melainkan menjadi dua jalur cahaya yang berlawanan arah.Di ujung jalur pertama Zephyr berdiri, terikat rantai energi hitam yang perlahan menggerogoti dadanya.Di ujung j

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 12 : Uji Coba Beta

    Langit tidak lagi retak.Ia terbelah.Bukan oleh badai.Bukan oleh energi yang saling bertabrakan.Melainkan oleh sesuatu yang lebih halus lebih berbahaya.Penilaian.Elena berdiri di balkon wilayah Zephyr ketika notifikasi itu muncul lagi.Tidak merah.Tidak agresif.Putih.[Uji Coba Beta — Aktif][Target: Integritas Hati][Metode: Distorsi Persepsi][Mode: Tanpa Peringatan]“Distorsi?” Elena berbisik.Di belakangnya, angin bergerak terlalu pelan.Zephyr muncul tanpa suara.“Ada perubahan.”Elias sudah berdiri di ambang pintu sebelum Elena sempat menjawab.“Aku merasakannya juga.”Namun kali ini bukan rasa sakit.Bukan tekanan.Melainkan… keraguan.Halus.Seperti benih kecil yang tidak ia tanam.Hari itu berjalan aneh.Tidak ada serangan.Tidak ada ancaman langsung.Namun setiap interaksi terasa sedikit… meleset.Ketika Zephyr berbicara, Elena merasa ada jarak tipis di antara kata-katanya.Ketika Elias menyentuh tangannya, kehangatan itu terasa sepersekian detik terlambat.Bukan kare

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 11 : Memilih Satu Diantara Dua

    Langit malam itu tetap gelisah.Namun bukan oleh angin.Bukan pula oleh energi gelap.Melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih sunyi sesuatu yang menunggu saat paling rapuh untuk menyerang.Elena terbangun dengan napas terputus.Bukan karena mimpi.Bukan karena suara.Melainkan karena rasa sakit.Bukan sakit fisik biasa. Bukan luka luar.Melainkan tekanan dari dalam seolah sistemnya sendiri mencoba menekan jantungnya.Di dalam kepalanya, layar merah berpendar.[Override Fisik — Aktif][Target: Subjek Elena][Uji Coba Alfa — Dimulai][Tujuan: Evaluasi Ketahanan Multi-Ikatan][Mode: Tanpa Bantuan Sistem]“Tidak…” bisiknya lemah.Di sisi kiri, angin langsung berubah arah.Zephyr terbangun seketika.“Elena.”Di sisi kanan, energi gelap mengeras.Elias sudah duduk bahkan sebelum Elena sempat merintih kedua kalinya.“Apa yang terjadi?”Elena menggenggam dadanya.“Bukan serangan… ini… dari dalam.”Sistem kembali menyala.[Ikatan Multi-Alpha — Tidak Stabil][Resonansi Emosional Berlebih][Solus

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 10 : Administrator Asli

    Langit malam itu tetap gelisah.Bukan karena serangan.Bukan karena niat membunuh.Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih… manusiawi.Persaingan.Pagi datang tanpa matahari yang jelas. Di wilayah Zephyr, cahaya selalu disaring oleh awan yang bergerak pelan seperti tirai raksasa.Elena terbangun l

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 9 : Persaingan

    Langit tidak langsung runtuh.Namun ia berubah.Angin yang tadi hanya bergetar pelan kini bergerak tidak alami berlawanan arus, berputar dalam pusaran kecil yang tidak dikendalikan Zephyr.Elena merasakannya pertama kali melalui ikatan.Bukan kemarahan.Bukan niat membunuh.Melainkan… gangguan.Zep

  • Aku dan Sembilan Raja Beast yang Mengiginkanku   Bab 8 : Masa lalu Zephyr

    Angin di wilayah Zephyr tidak pernah benar-benar diam.Ia berbisik.Mengamati.Menguji.Malam itu, angin terdengar berbeda.Lebih berat.Elena berdiri di balkon batu yang menghadap lautan awan.Luka di bahunya sudah dibalut, namun rasa nyeri masih tertinggal samar denyut kecil yang mengingatkannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status