Bulan merah menggantung seperti saksi bisu.Udara malam terasa lebih berat, seolah hutan sendiri menahan napas.Di hadapan Elara, Kaelar berdiri kaku bahunya tegang, rahangnya mengeras, mata emasnya menyala bukan karena amarah… melainkan sesuatu yang lebih mentah.Keterikatan.Ia bisa merasakannya.Bukan hanya detak jantung Kaelar yang kini seirama dengannya, tetapi juga semburan emosi yang mengalir tanpa izin amarah yang belum padam, protektif yang hampir brutal, dan di bawah semuanya… ketertarikan yang liar dan membara.Enam menit menuju kedatangan Silas.Enam menit menuju niat membunuh.Namun dunia di antara mereka terasa seperti terhenti.Kaelar melangkah mendekat.Satu langkah.Elara menelan ludah.Ia bisa mencium aroma tanah basah di kulit pria itu, campuran kayu hangus dan madu hutan.Hangat. Maskulin. Menggoda inderanya dengan cara yang mengganggu konsentrasinya.“Kau berdarah,” ulang Kaelar pelan.Tangannya terangkat.Bukan untuk menyerang.Untuk menyentuh.Jari-jarinya menye
Read more