LOGINDiana, seorang ilmuwan jenius dengan spesialisasi perilaku hewan, tewas dalam kecelakaan laboratorium. Ketika dia membuka matanya kembali, dia telah bertransmigrasi menjadi "Iblis Bulan Merah" dalam novel fantasi binatang yang pernah dia baca sekilas. Dia bukanlah sang tokoh utama yang polos dan dicintai semua orang, melainkan antagonis wanita yang kejam dan haus kuasa, pemimpin klan serigala hitam yang ditakuti, yang memiliki sembilan pasangan semua penguasa klan hewan yang kuat dan dominan. Nasibnya lebih buruk dari sekadar karakter yang dibenci: dunia memberinya sebuah "Sistem Pasangan Sempurna" dengan misi tunggal: *"Tingkatkan ikatan romantis dengan ke-9 pasanganmu hingga level 'Cinta Sejati' sebelum bulan purnama kesembilan. Gagal = penghapusan jiwa."* Diana yang rasional terperangah. Dia harus menggunakan kecerdasannya—bukan untuk meraih Nobel, tapi untuk memanipulasi hati sembilan raja binatang yang keras kepala, sambil menghadapi intrik harem, persaingan klan, dan warisan kebencian yang ditinggalkan tubuh lamanya. Semua demi bertahan hidup.
View MoreDunia terasa berbeda.
Itu adalah kesadaran pertama yang merayap dalam benak Elara semenjak tinggal didunia asing.
Bukan langit beton Jakarta yang biasa ia lihat dari jendela laboratorium, melainkan kanopi dedaunan raksasa yang meranggas di bawah cahaya bulan kemerahan.
Aroma tanah lembap, lumut, dan sesuatu yang metalik darah? memenuhi indranya dengan kejelasan yang mengganggu.
Dia mencoba duduk, tapi tubuhnya bergerak dengan cara yang asing. Lebih ringan.
Lebih gesit. Setiap otot terasa terisi kekuatan yang tak pernah ia miliki sebagai Diana, ilmuwan berusia 29 tahun yang lebih akrab dengan mikroskop daripada medan perang.
"Ding!"
Elara hampir melompat mendengar suara mekanis yang bergema di dalam kepalanya.
[Selamat datang, Pengguna. Sistem Pasangan Sempurna telah diaktifkan.]
[Identitas: Elara, dijuluki 'Iblis Bulan Merah', Alpha Klan Serigala Hitam Nightshade.]
[Status: Memiliki 9 Ikatan Pasangan Resmi.]
[Misi Utama: Capai level 'Cinta Sejati' (100/100) dengan semua pasangan sebelum Bulan Purnama Kesembilan.]
[Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan penghapusan jiwa pengguna secara permanen.]
[Waktu: 9 bulan (dalam waktu dunia ini).]
Panel hologram biru terbentang di depan mata batinnya, menampilkan sembilan nama dengan bar progres kosong berjejer rapi.
Kaelar. Ryker. Thorne. Zephyr. Corbin. Orion. Silas. Dan dua nama lain yang belum sempat ia baca karena suara berat menggema di antara pepohonan.
"Dia bangun."
Elara menoleh. Dari balik batang pohon raksasa, muncul sesosok pria yang membuatnya sulit bernapas sejenak.
Bukan karena ketakutan meski instingnya menjerit waspada tapi karena pesona mentah yang terpancar dari figur itu.
Pria itu tinggi, mungkin lebih dari 190 sentimeter, dengan rambut pirang keemasan seperti surai singa yang tergerai hingga bahu.
Matanya... Tuhan, matanya seperti dua koin emas cair yang menatapnya dengan campuran kecurigaan dan kekuasaan murni.
Tubuhnya terbungkus jubah sederhana dari kulit hewan, tapi otot-otot di bawahnya terlihat jelas sebuah tubuh yang dibangun untuk berburu dan membunuh.
Kaelar. Elara tahu namanya bahkan tanpa melihat sistem.
Ini adalah Alpha dari Klan Singa Emas, penguasa wilayah padang rumput yang berbatasan dengan wilayahnya.
Dan menurut ingatan fragmentaris yang tiba-tiba membanjiri pikirannya, hubungan mereka... rumit.
"Bermimpi merencanakan pengkhianatan lain?" Kaelar berhenti beberapa meter darinya, posturnya tegang seperti predator yang siap menyerang.
"Atau mungkin kau sedang menghitung berapa banyak pasanganmu yang harus kau singkirkan kali ini?"
Sarkasme dalam suaranya tajam. Elara bisa merasakannya secara fisik—seperti duri yang menusuk kulit.
Kenangan Elara lama membanjiri pikirannya dalam gelombang yang menyakitkan.
Pertengkaran sengit dengan Kaelar soal perbatasan. Upayanya meracuni salah satu saingan politik.
Tatapan dingin para anggota klan yang menganggapnya pengkhianat.
Dan di antara semua itu, kilasan momen-momen intim dengan pria di hadapannya perkelahian yang berubah menjadi hasrat, pertemuan rahasia di bawah bulan merah, sumpah yang diucapkan dalam bisikan tapi dilanggar dalam tindakan.
Dia bukan hanya antagonis dalam cerita ini. Dia adalah monster sesungguhnya.
*"Misi Situasional: Redakan ketegangan dengan Kaelar. Hadiah: +5 poin ikatan. Bonus: Petunjuk kelemahan pasangan."*
Elara menarik napas dalam-dalam. Oke. Ini bukan laboratorium.
Tapi sebagai ilmuwan, dia tahu satu hal: setiap sistem punya pola. Setiap makhluk punya celah. Dan dia baru saja diberi akses ke manual rahasia sembilan pria yang harus ia buat jatuh cinta padanya dalam sembilan bulan.
Atau mati.
Dia memaksakan diri berdiri, mengadopsi postur yang dia ingat dari penelitiannya tentang bahasa tubuh predator. Tegak, tapi tidak menantang.
Matanya bertemu langsung dengan tatapan Kaelar sesuatu yang tidak pernah dilakukan Elara lama, karena menganggapnya terlalu berisiko.
"Tidak, Kaelar." Suaranya, asing baginya, terdengar serak tapi jernih.
"Aku... memikirkan betapa tidak stabilnya aliansi kita jika terus begini."
Keheningan.
Kaelar menyipitkan mata. Itu bukan reaksi yang dia harapkan. Biasanya, Elara akan membalas dengan cemoohan atau siasat licik mengalihkan, menuduh balik, atau menggunakan kata-kata sebagai senjata.
Tapi wanita di hadapannya ini... berbeda.
"Oh?" Kaelar melangkah maju, satu langkah. Hanya satu, tapi Elara merasakan tekanan di dadanya seperti ombak.
"Dan apa usul 'Iblis Bulan Merah'?"
Pikiran Elara berpacu. Dia ingat dari novel yang pernah dia baca di dunia lamanya karena situasi ini persis seperti plot cerita-cerita itu bahwa ada tiga pilihan biasanya.
Sistem bahkan menampilkannya di sudut pandangannya:
[Pilihan:
A. Tawarkan perjanjian berburu bersama. (Berisiko, kemungkinan besar ditolak)B. Akui kesalahan di masa lalu. (Rentan, bisa dilihat sebagai kelemahan)C. Alihkan pembicaraan dengan informasi tentang ancaman eksternal. (Membutuhkan data)]Dia memilih C. Tapi dia butuh data.
Ingatan Elara lama tentang konflik samar gangguan di perbatasan, desas-desus tentang 'Para Penggembara', kelompok predator nomaden yang sering berpindah-pindah.
Dan sesuatu tentang mata air suci... di wilayah siapa?
Thorne. Raja Buaya. Itu dia.
"Percayakah kau," Elara memulai, suaranya tenang meski jantungnya berdebar kencang, "aku memiliki firasat tentang Para Penggembara?"
Kaelar mengangkat satu alis. "Firasat?"
"Bukan sekadar firasat." Elara mempertaruhkan segalanya pada tebakan berdasarkan pola migrasi yang dia pelajari di dunia lama bahwa predator nomaden selalu mengikuti sumber air.
"Mereka tidak hanya mengganggu perbatasanmu. Mereka mengincar mata air suci di wilayah Thorne."
Keheningan kembali. Tapi kali ini berbeda.
Kaelar menatapnya dengan intensitas yang membuat bulu kuduknya merinding bukan karena takut, tapi karena fokus penuh dari predator puncak.
"Informasi itu..." Kaelar menjeda, matanya menyelidik.
"Mata air Thorne bukan rahasia umum. Bahkan para Alpha lain mungkin tidak tahu nilainya. Bagaimana kau tahu?"
Elara menahan napas. Satu langkah salah, dan semua akan hancur.
"Aku punya... sumber," katanya akhirnya.
"Tapi bukan itu intinya. Intinya adalah, jika Para Penggembara berhasil mengambil alih mata air itu, mereka akan memiliki pijakan di tiga wilayah sekaligus wilayah rawa Thorne, padang rumputmu, dan hutan tempatku tinggal."
Kaelar terdiam lama. Matanya yang emas seolah mencoba mengupas lapisan demi lapisan kebohongan dari diri Elara. Tapi yang dia temukan... mungkin hanya kegelisahan tulus.
"Mengapa kau memberitahuku ini?" tanyanya akhirnya, nada suaranya berubah masih curiga, tapi ada nada lain di sana. Kebingungan.
"Biasanya kau menyimpan informasi untuk keuntunganmu sendiri. Kau akan membiarkan kami semua bertarung, lalu mengambil sisa-sisanya."
Itu benar. Elara lama persis seperti itu.
"Karena aliansi yang kuat menguntungkan semua," kata Elara, menatapnya langsung. "Aku lelah terus-menerus berperang di semua front."
Jujur. Untuk pertama kalinya, dia mengatakan sesuatu yang sepenuhnya jujur pada pria ini. Dia sangat, sangat lelah.
Dunia ini asing. Tubuh ini asing. Dan dia harus membuat sembilan pria jatuh cinta padanya atau mati.
Kaelar menatapnya untuk waktu yang lama.
Angin malam berbisik di antara dedaunan, membawa aroma hutan dan sesuatu yang manis mungkin bunga malam.
Dan di bawah cahaya bulan merah, Elara bisa melihat perubahan kecil di wajah Kaelar. Kerutan di antara alisnya sedikit berkurang. Bahunya, yang tegang seperti tali busur, menurun sedikit.
"Dengar," kata Kaelar akhirnya, suaranya rendah.
"Aku tidak percaya padamu. Mungkin tidak akan pernah. Tapi informasi ini... berguna." Dia berbalik, setengah membelakanginya.
"Jika ini tipuan, aku akan memastikan kematianmu lebih lambat dari yang bisa kau bayangkan."
"Aku mengerti."
Kaelar menoleh, menatapnya sekali lagi. Dan untuk sesaat, di antara bayangan dan cahaya bulan, Elara melihat sesuatu di matanya bukan kepercayaan, belum.
Tapi mungkin... keraguan? Keraguan terhadap penilaiannya sendiri tentang 'Iblis Bulan Merah'?
Lalu dia pergi. Menghilang di antara pepohonan tanpa suara, seperti hantu emas.
*"Ding! Poin ikatan dengan Kaelar +7. Total: 12/100. Hadiah diterima: Kaelar memiliki rasa takut tersembunyi terhadap kehilangan kontrol akibat racun bunga 'Moon's Sorrow'."*
Moon’s Sorrow.
Nama itu terasa asing sekaligus berbahaya.
Racun yang bisa membuat seekor Alpha kehilangan kendali.
Kehilangan kendali… berarti kehilangan wibawa. Kehilangan kekuasaan. Kehilangan segalanya.
Elara belum sempat memproses informasi itu ketika suara sistem kembali terdengar kali ini bukan lembut, melainkan tajam.
"Ding!"
[Hadiah Tambahan Terbuka.]
[Karena keberhasilan pertama, pengguna berhak melihat satu data tersembunyi.]
Panel biru bergetar, lalu satu baris teks perlahan muncul di bawah nama Kaelar.
[Status Rahasia: Kaelar pernah mencoba membunuh pengguna.]
Langit tidak langsung runtuh.Namun warnanya berubah.Gradasi lembut yang sebelumnya menenangkan kini mulai berdenyut tidak stabil seperti permukaan air yang diganggu batu besar.Retakan merah yang tadi hanya beberapa kini menyebar lebih jauh.Seperti urat yang menjalar di tubuh dunia.Elena merasakannya lebih dulu.Bukan melalui mata.Melainkan melalui ikatan.Empat inti yang kini terhubung dirinya, Zephyr, Elias, dan Kael bergetar bersama.Namun getaran itu tidak harmonis.Sesuatu… menekan dari luar.Sistem berbunyi.[PERINGATAN GLOBAL][Entitas Seleksi Tingkat Tinggi: Mendekat][Jumlah: Tidak Teridentifikasi]Zephyr memandang langit dengan rahang mengeras.Angin di sekelilingnya mulai bergerak liar.“Aku tidak suka cara mereka datang.”Elias menyipitkan mata.Kilatan cahaya tipis mulai mengelilingi tubuhnya.“Mereka tidak datang untuk berbicara.”Kael berdiri sedikit di belakang Elena, tetapi kehadirannya terasa seperti dinding tak terlihat.Udara di sekitar mereka menjadi lebih be
Langit kembali tenang.Namun ketenangan itu bukan seperti sebelumnya.Ia terasa… menunggu.Seolah dunia sendiri menahan napas setelah perubahan yang baru saja terjadi.Angin yang biasa bergerak liar di wilayah Zephyr kini berhembus lebih lembut, berputar perlahan seperti sedang mempelajari pola baru. Cahaya dari wilayah Elias di kejauhan tidak lagi menyilaukan—ia mengalir seperti sungai yang tenang.Dan di tengah semua itu, Elena berdiri.Tangannya masih digenggam oleh Zephyr dan Elias.Namun ada sesuatu yang berbeda.Ikatan mereka tidak lagi terasa seperti tiga inti yang terhubung.Sekarang terasa… lebih luas.Seolah ada ruang kosong dalam simpul itu.Ruang yang menunggu untuk diisi.Zephyr adalah yang pertama merasakannya.Alisnya sedikit berkerut.“Apakah kau merasakannya?”Elias menoleh.“Apa?”Zephyr tidak langsung menjawab. Ia menatap langit yang baru saja pulih dari retakan merah.“Tekanan.”Elena ikut mengangkat kepala.Dan saat itulah ia merasakannya.Bukan serangan.Bukan an
Langit tidak langsung pecah.Ia mengembang.Seperti paru-paru raksasa yang untuk pertama kalinya menarik napas terlalu dalam.Garis hitam di cakrawala tidak lagi tampak seperti ancaman. Ia membentuk lingkaran perlahan simbol yang berdenyut selaras dengan detak jantung Elena.Sistem berbunyi.[Uji Coba Beta — Fase Empat][Parameter: Dunia Nyata][Tidak Ada Simulasi][Tidak Ada Ilusi]Sunyi turun.Zephyr adalah yang pertama mengerti.“Ini bukan ruang distorsi,” gumamnya. Angin di sekelilingnya bergerak, tapi tidak terpantul. Tidak tertahan. Tidak dipaksa.Elias menatap tangannya sendiri. Energi putih yang biasanya stabil kini bergetar halus bukan karena gangguan, melainkan karena resonansi eksternal.Elena merasakan sesuatu yang lebih dalam.Ikatan mereka yang sebelumnya seperti tiga benang terpisah yang saling melilit kini terasa seperti satu simpul pusat dengan tiga inti.Dan simpul itu… mulai meluas.Tanah bergetar.Namun bukan karena serangan.Wilayah Zephyr berubah lebih dulu. Pepoh
Langit yang tadi jernih kembali bergetar.Bukan oleh badai.Bukan oleh retakan dimensi.Melainkan oleh satu kata yang menggantung terlalu berat di udara.Pengorbanan.Elena merasakannya lebih dulu.Bukan sebagai rasa takut.Melainkan sebagai tarikan halus di dadanya seperti ada benang tak terlihat yang mulai ditarik ke arah yang berbeda.Sistem berbunyi pelan.[Simulasi: Pengorbanan][Parameter: Pilihan Eksklusif][Hanya Satu yang Dapat Diselamatkan]Zephyr langsung menegang. Angin di sekelilingnya bergetar, namun kali ini tidak liar lebih seperti refleks protektif.Elias berdiri lebih dekat ke Elena tanpa sadar.“Kita tidak perlu mengikuti skenario mereka,” Elias berkata tenang, tapi rahangnya mengeras.Elena tidak menjawab.Karena dunia sudah berubah.Tanah di bawah kaki mereka terbelah.Namun bukan menjadi jurang.Melainkan menjadi dua jalur cahaya yang berlawanan arah.Di ujung jalur pertama Zephyr berdiri, terikat rantai energi hitam yang perlahan menggerogoti dadanya.Di ujung j
Langit tidak lagi retak.Ia terbelah.Bukan oleh badai.Bukan oleh energi yang saling bertabrakan.Melainkan oleh sesuatu yang lebih halus lebih berbahaya.Penilaian.Elena berdiri di balkon wilayah Zephyr ketika notifikasi itu muncul lagi.Tidak merah.Tidak agresif.Putih.[Uji Coba Beta — Aktif]
Langit malam itu tetap gelisah.Namun bukan oleh angin.Bukan pula oleh energi gelap.Melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih sunyi sesuatu yang menunggu saat paling rapuh untuk menyerang.Elena terbangun dengan napas terputus.Bukan karena mimpi.Bukan karena suara.Melainkan karena rasa sakit.Buk
Langit malam itu tetap gelisah.Bukan karena serangan.Bukan karena niat membunuh.Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih… manusiawi.Persaingan.Pagi datang tanpa matahari yang jelas. Di wilayah Zephyr, cahaya selalu disaring oleh awan yang bergerak pelan seperti tirai raksasa.Elena terbangun l
Langit tidak langsung runtuh.Namun ia berubah.Angin yang tadi hanya bergetar pelan kini bergerak tidak alami berlawanan arus, berputar dalam pusaran kecil yang tidak dikendalikan Zephyr.Elena merasakannya pertama kali melalui ikatan.Bukan kemarahan.Bukan niat membunuh.Melainkan… gangguan.Zep
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.