Share

Bab 2

Author: Coldness
Aku tahu, dia ingin mempermalukanku.

Namun, aku tidak bodoh. Aku tidak akan kabur karena marah seperti dia di kehidupan lalu.

Kalau begitu, aku justru akan jadi bahan tertawaan semua orang dan dihina Keluarga Parta.

Aku ingat, saat itu semua orang bilang kakak tidak pantas jadi menantu tertua Keluarga Parta karena tidak tahu cara menempatkan diri.

Sejak resepsi pernikahan itu, Nyonya Frisia tidak pernah bersikap baik padanya dan Kakak menderita seumur hidup setelah menikah.

Aku mengambil mic dan tersenyum ke arah tamu.

“Hari ini, Sion ada urusan bisnis yang sangat penting. Nanti saat bersulang, saya akan mewakilinya. Mohon pengertiannya.”

Setelah aku mengatakannya, ruangan langsung tenang.

Nyonya Frisia yang duduk di kursi utama, menatapku dengan pandangan kagum.

Keluarga Parta punya kekayaan dan pengaruh yang besar, mereka sangat mementingkan reputasi di hadapan publik.

Di saat seperti ini, sebagai menantu, kita tidak boleh panik dan harus tampil seperti nyonya besar.

Kakak melihat tatapan kagum Nyonya Frisia padaku dan tampak kesal.

'Menjijikkan. Nanti waktu minum teh, aku harus membuatmu malu!'

Sebenarnya, bisa mendengar suara hati orang lain adalah hal yang bagus.

Seperti punya alat canggih yang membuat segalanya menjadi lebih mudah.

Saat upacara minum teh, aku berjalan anggun ke arah Nyonya Frisia.

Kakak menatapku tajam dan menghitung dalam hati, 'Satu, dua, tiga.'

Kemudian, aku langsung menggeser posisiku dan mengambil cangkir.

Kakak terjatuh ke lantai dengan keras, air teh membasahi seluruh tubuhnya.

“Kamu nggak apa-apa?”

William buru-buru memapahnya, tapi dalam hati berkata, 'Bodoh sekali!'

Semua orang menatap ke arah kami.

Nyonya Frisia tampak sangat marah.

“Ceroboh sekali! Apa begini sikap menantu kedua Keluarga Parta?”

“Ibu, maafkan aku. Aku nggak sengaja melakukannya,” kata Kakak, meski matanya terlihat tidak terima.

Kalau aku jadi dia, di kehidupan kedua ini sudah kugunakan untuk hidup tenang, tidak buat onar lagi.

Namun, karena dia sendiri yang ingin mencari masalah denganku, aku juga tidak akan diam saja.

...

Karena Kakak sudah mempermalukan dirinya sendiri, resepsi pernikahan diselesaikan dengan cepat.

Nyonya Frisia terus memberinya tatapan tidak senang.

Sebaliknya, dia menatapku dengan tatapan puas.

Dia bahkan menggenggam tanganku dan berkata, “Nova, sebagai gantinya, aku akan menyuruh Sion untuk pulang dan menemanimu malam ini.”

Benar saja, malam itu Sion pulang.

Begitu membuka pintu, dia melepas dasi, wajahnya kelihatan sangat lelah.

Aku buru-buru mengambilkan baju untuknya.

“Sion, kamu pasti lelah hari ini.”

Dia menatapku sebentar tanpa menjawab, mengabaikanku.

Di kehidupan sebelumnya, aku pernah mendengar dari pembantu bahwa saat malam pertama, Sion tidak pulang.

Kakak menunggu sendirian di kamar pengantin dan ditertawakan oleh semua orang.

Saat mengadu ke Nyonya Frisia, dia malah dimarahi habis-habisan, mengatakan bahwa kakak tidak berguna, tidak bisa menarik hati pria.

Saat Sion mandi, aku menata tempat tidur dan menyiapkan teh.

Lalu aku menata sofa untuk tempatku tidur.

Ketika Sion datang dan melihat semuanya, matanya terlihat sedikit terkejut.

Aku cepat-cepat berkata, “Kamu tidur di ranjang, aku akan tidur di sofa.”

“Nova, apa kamu sedang bermain tarik ulur?”

Dia menyipitkan mata menatapku, dada bidangnya terlihat karena baju mandinya sedikit terbuka dan masih basah.

Aku harus mengakui bahwa tubuhnya bagus sekali.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan.

“Bukan begitu. Kita nggak punya perasaan apa-apa. Tidur bersama hanya akan membuat suasananya canggung. Kalau bisa, aku ingin bekerja sama denganmu.”

“Apa maksudmu?”

“Karena kita hanya melakukan pernikahan bisnis. Banyak pasangan seperti ini punya hidup masing-masing dan terlihat harmonis di luar. Aku hanya ingin hidup berkecukupan dengan menikah denganmu. Aku nggak akan menuntut cinta darimu.”

Mendengar itu, dia tersenyum tipis. Dia berkata, “Kamu pintar. Kebetulan aku juga ingin begitu. Aku setuju.”

Aku adalah manusia biasa. Aku tidak punya kemampuan untuk menaklukkan pria seperti Sion.

Lagi pula, di Keluarga Parta, sikapnya padaku bergantung pada Nyonya Frisia.

Aku tidak mau hidup seperti Kakak di kehidupan sebelumnya dan jadi sasaran hinaan semua orang.

Itu tidak ada untungnya bagiku.

Bahkan, dia dulu memukuli Kakak.

Aku tidak mau menyinggungnya, lalu dipukuli.

Jadi aku memilih untuk hidup damai bersama Sion.

Di kehidupan ini, aku hanya ingin mendapatkan uang dan membangun bisnisku sendiri. Aku ingin sukses dengan tanganku sendiri!
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku menikahi Suami Kasar Kakakku!   Bab 10

    Malam itu, Sion pulang.Dia mabuk. Begitu masuk kamar, dia langsung jatuh menimpaku. Kami berdua sampai terjatuh ke lantai.“Kamu mabuk. Aku buatkan sup pereda mabuk dulu.”Aku mencoba mendorongnya, tapi tubuhnya tidak bergerak.Tangannya justru sibuk membuka bajunya sendiri, kedua matanya dipenuhi nafsu dan terus menatapku tajam.Aku langsung sadar, dia tidak benar-benar mabuk.“Sion, sadarlah, kamu ini sedang apa? Hubungan kita hanya kerja sama! Jangan sentuh aku!”Dia menutup mulutku dengan tangan dan berbisik di telingaku, “Bagaimanapun juga, kamu adalah istriku. Aku tetap akan menyentuhmu.”Aku mendorongnya lebih keras.“Nggak mau! Aku ingin cerai! Kamu nggak boleh menyentuhku!”Setelah aku mengatakannya, ruangan langsung hening.Raut wajah Sion menggelap.“Aku sudah tahu kamu ingin meninggalkanku.”Saat mengatakannya, dia melepaskanku. Nada suaranya terdengar terluka.“Nova, kamu wanita yang jahat. Kamu pasti sudah lama melupakanku, ‘kan?”“Maksudmu apa?”Aku mengernyit menatapny

  • Aku menikahi Suami Kasar Kakakku!   Bab 9

    “Aku sudah beri tahu Ibu untuk memasang kamera di seluruh rumah. Saat terlihat William menaruh racun ke dalam minuman, Ibu langsung membuangnya dan menggantinya dengan obat penenang pada minuman mereka.”Kemudian dia merendahkan suaranya, nyaris berbisik.“Tapi kamu sepertinya sangat takut aku mati. Jangan-jangan, kamu jatuh cinta padaku?”Entah kenapa, saat dia mengatakan itu, jantungku berdebar keras.“Nggak. Aku cuma takut kalau kau mati, aku nggak punya siapa pun untuk diandalkan lagi.”Dia tersenyum cerah dan berkata, “Benarkah?”...Setelah Kakak dan William dipenjara di ruang bawah tanah, aku akhirnya bisa bernapas lega.Dua orang yang paling kutakuti sudah tidak ada lagi.Uang yang aku kumpulkan juga sudah cukup. Langkah selanjutnya adalah mengajukan cerai pada Sion.Aku terus menunggu kesempatan, tapi Sion sangat sibuk akhir-akhir ini dan jarang pulang.Aku hanya bisa menunggu kesempatan datang.Suatu hari, para pelayan bilang Kakak dan William memohon untuk menemuiku.Aku per

  • Aku menikahi Suami Kasar Kakakku!   Bab 8

    Begitu mendengarku, William langsung percaya. Karena urusan ‘penyiksaan’ itu hanya diketahui dia dan Kakak.Dia berkata, “Lihat saja nanti bagaimana aku akan membereskannya!”“Kakak Ipar, kalau aku sudah bunuh Sion dan Hera, kamu akan menjadi istriku. Aku akan menanggung hidupmu.”Setelah mengatakannya, lalu dia pergi.Aku hanya tersenyum dingin.'Heh, kamu pikir aku sebodoh itu?''Aku tidak akan pernah menikah denganmu!'Aku segera pergi mencari Sion.Meskipun hidup-matinya sebenarnya tidak terlalu berhubungan denganku, tapi di kehidupan ini, dia sudah banyak membantuku dan membuatku bisa menghasilkan uang.Dia bahkan membagi pengalaman kerjanya dengan sangat teliti.Di kantor, dia terlihat terkejut ketika mendengar ceritaku.“Apa kamu punya bukti bahwa William ingin mencelakaiku?”Aku mengeluarkan alat perekam dan memutarkan percakapan antara aku dan William barusan.Bagian awalnya adalah bagian yang kusengaja untuk permainkan William, bahkan aku sendiri merinding mendengarnya.Aku

  • Aku menikahi Suami Kasar Kakakku!   Bab 7

    Aku langsung bereaksi dan berpikir dia pasti sedang salah paham. Aku melambaikan tanganku dan berkata, “Bukan! Bukan maksudku begitu! Aku hanya menjelaskan kenapa kami bisa bertengkar.”“Nova, kamu pernah terpikir melakukan itu denganku?” tanya Sion pelan sambil menatapku.“Tentu saja nggak pernah.”Aku menjawab dengan cepat, “Aku sudah bilang, aku cuma ingin hidup aman dan berkecukupan.”“Hanya itu?”Aku mengangguk tegas. Sion terdiam, lalu tiba-tiba pergi sambil membanting pintu.Aku tidak tahu, kata-kata mana dari jawabanku yang membuatnya marah.Dan aku tidak mau memikirkannya.Aku hanya ingin menjalankan rencanaku....Besoknya, dia tidak mengajakku pergi bersama ke kantor pusat. Dia menyuruhku langsung mengurus kantor cabang.Jadi aku pun mulai fokus mengelola perusahaan.Targetku sederhana, mengumpulkan 20 miliar lalu berhenti.Setiap hari aku menjalankan proyek dan mendiskusikan kerja sama, sehingga memberikan banyak keuntungan untuk perusahaan.Perusahaan cabang berkembang pes

  • Aku menikahi Suami Kasar Kakakku!   Bab 6

    Beberapa hari berikutnya, aku terus mengikuti Sion bekerja.Aku belajar banyak tentang bisnis dan hubungan manusia.Hari ini, dia mengajakku pergi makan.Bahkan di restoran masakan Barat paling mewah.Tak kusangka, kami bertemu Kakak dan William.Kakak sedang memotong steak untuk William. Melihat kami datang, dia buru-buru meletakkan pisau dan garpu, lalu pura-pura kaget melihatku.“Nova, kamu juga datang?”Setelah berteriak dan mengaku bersalah, dia segera mengganti caranya memanggilku, “Ah! Kakak Ipar, Kakak, kalian juga makan di sini?”Dalam hati dia berkata, 'Sial banget ketemu Nova sekarang. Aku nggak boleh dipermalukan olehnya!'“Ya, aku dan Sion akan makan bersama.”Aku otomatis tersenyum dan memeluk lengan Sion. Dia tidak menolak.William segera menghampiri dan ikut menyapa, “Kak, Kakak Ipar.”Tapi Sion mengabaikan mereka dan menarikku duduk.Aku bisa melihat Kakak di belakang sana sedang menggigit bibir, menahan amarah.Dia pasti bingung, kenapa Sion memperlakukanku dengan bai

  • Aku menikahi Suami Kasar Kakakku!   Bab 5

    Saat Sion hampir setuju, aku masuk.Aku menyapa pria itu dengan bahasa Inggris, lalu mengambil botol serum yang dia buat.“Aku ini wanita. Aku lebih paham produk kecantikan. Formula ini hanya punya efek mencerahkan, nggak bisa mengencangkan dan nggak mencegah penuaan. Sebagai ilmuwan, kamu sendiri lebih tahu bahwa efek mencerahkan itu hanya sementara dengan hasil minimal. Jadi aku ingin tahu, atas dasar apa formula ini layak dihargai 6 miliar?”Pria itu terdiam.Sion terlihat tertarik dan tidak menghentikankuAku tahu, dia mengizinkanku berbicara dengan pria itu.Jadi aku melanjutkan, “Tapi ini adalah barang impor dan memang terkenal di media sosial. Produkmu ini sangat populer dan sangat meyakinkan. Jadi aku bisa memberimu harga segini.”Aku menunjukkan dua jari.Dia bertanya, “Dua miliar?”Sion menatapnya sambil berkata, “Jack, dua miliar itu sudah bagus. Pertimbangkan dulu.”“Nggak.”Aku memotong kata-kata Sion.“Aku akan memberimu 20 juta.”Nilainya cuma beberapa ratus ribu, jadi 2

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status