分享

Part 13

last update publish date: 2026-05-01 13:06:42
“Sekarang kamu sudah percaya? Masih mau bilang aku lagi mabuk?”

Kaivan terpaku. Suara Aira dari seberang telepon tadi seolah merobek seluruh sisa kepercayaan yang ia miliki terhadap Ariyan. Ia menatap Zivanya yang terlihat sangat sedih. Belum pernah ia melihat perempuan sesedih ini.

​“Aku percaya, Ziva,” jawab Kaivan kemudian. “Aku minta maaf karena meragukanmu tadi.”

​Zivanya tertawa sumbang yang berakhir dengan isakan kecil. “Percaya pun nggak mengubah kenyataan, kan? Dia bahagia, Kai. D
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (10)
goodnovel comment avatar
Suherni 123
di bikin miskin aja tuh Ari ntar masih mau gak Aira nya yg sudah terbiasa hidup hedon
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
semoga sja endingnya Kai dan Ziva bersatu dalam ikatan pernikahan yg sah
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
syukurlah Kai masih waras..ayo Kai bantu Ziva..
查看全部評論

最新章節

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 60

    Zivanya menyeka air matanya dengan cepat, mencoba menata kembali serpihan emosinya sebelum melangkah masuk ke kamar tamu. Ia tidak ingin Kaivan melihat kesedihannya. Ia mendapati Kaivan sedang berusaha mengubah posisinya menjadi setengah bersandar di headboard sambil meringis menahan nyeri. “Kai, tiduran aja dulu,” kata Zivanya sembari mendekat. ​"Maaf, Ziva, aku malah jadi beban dan merusak rumah tanggamu,” suara Kaivan agak kaku karena jahitan di dalam mulutnya. Kaivan tahu di luar tadi Zivanya dan Ariyan pasti bertengkar hebat. ​"Nggak, Kai. Jangan bicara begitu. Ini bukan salahmu. Rumah tanggaku emang sudah rusak sejak awal. Dan itu bukan karena kamu.” ​Kaivan menurunkan kakinya. "Aku udah agak baikan. Pusingnya sudah berkurang, dan kurasa aku sudah bisa pulang ke apartemenku sendiri sekarang." ​"Tapi luka-lukamu–” ​"Aku bisa pesan taksi, dan nanti Adit pasti mau datang ke apartemen buat bantu-bantu," potong Kaivan memutus perkataan Zivanya. Ia menatap perempuan itu dan m

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 59

    “Kamu nggak perlu teriak-teriak! Aku bukan orang tuli!” seru Zivanya membalas hardikan suaminya. Ariyan sontak mengatupkan mulutnya. Hari-hari belakangan Zivanya memang tidak pernah bersikap lembut lagi padanya. Tapi inilah bentakannya yang paling keras. ​"Aku membawanya ke sini murni karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab.” Zivanya melanjutkan perkataannya. "Kalau kamu masih punya sedikit hati nurani, kamu harusnya sadar kalau semua kekacauan ini bermula dari tanganmu sendiri.” ​"Nggak perlu ada hati nurani untuk orang seperti dia. Kamu ingin menghancurkanku lewat jalur hukum tapi dilarang oleh bajingan itu, jadi sekarang kamu memilih cara ini? Menghancurkan harga diriku sebagai suami di rumahku sendiri?" ​"Ini bukan rumahmu!" bantah Zivanya. "Ini tempatku untuk bernafas dari semua kegilaanmu, Ariyan! Tapi kamu bahkan nggak membiarkanku tenang walau cuma sehari. Kamu egois!" ​Zivanya memalingkan wajah lalu menunjuk ke arah koridor menuju kamar tamu. ​"Dia sedang kesakitan di

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 58

    Sulit untuk tidak emosi menyikapi pemandangan yang tersaji di hadapannya. Cukup sudah Zivanya menginjak-injak harga dirinya. Jadi, Ariyan memutuskan untuk menampakkan diri.Ariyan berdeham cukup keras yang membuat keduanya terperanjat.Zivanya hampir menjatuhkan sendok yang sedang dipegangnya. Sementara Kaivan hanya bisa tersentak kaku di atas bantalnya. Ia mencoba menoleh ke sumber suara, namun gerakan mendadaknya menarik jahitan di pipinya. Ia mengerang tertahan dan mencengkeram pinggiran sprei saat rasa pening dan nyeri hebat kembali menghantam kepalanya akibat kehadiran Ariyan yang tiba-tiba.​Ariyan berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terbenam di saku celana. Posturnya tegak, angkuh, dan penuh dominasi.​“Enak buburnya, Kai?” tanya Ariyan dengan suara yang terdengar sangat tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja menyaksikan istrinya memberikan perhatian luar biasa pada pria lain. ​Ariyan melangkah masuk lebih dalam. Ia melihat mangkuk

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 57

    Setelah sekuriti menyeret Ariyan keluar, ia dimintai keterangan awal karena kegaduhan yang terjadi. Lantaran tidak bersikap kooperatif, ia diteruskan ke kantor polisi. Tapi tidak lama. Setelah pengacaranya datang Ariyan langsung dibebaskan. Meski demikian batinnya terasa jauh lebih terkurung daripada sebelumnya. "Bapak beruntung. Pak Kaivan tidak melapor dan menuntut Bapak. Dia bilang ini hanya kesalahpahaman antar sahabat,” kata Andre, pengacara Ariyan. ​Ariyan berhenti melangkah. Rahangnya mengeras. "Kesalahpahaman?" ​"Iya. Dia bahkan tidak meminta visumnya diproses untuk hukum. Dia sengaja melepaskan Bapak.” Andre melanjutkan sambil membukakan pintu mobil untuk Ariyan. ​Ariyan masuk ke dalam mobil dengan perasaan terhina yang luar biasa. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Kaivan. Kaivan bukan sedang berbaik hati. Kaivan sedang menunjukkan bahwa dia lebih berkelas daripada Ariyan. Kaivan ingin Zivanya melihat bahwa di saat Ariyan menggunakan otot, Kaivan menggunakan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 56

    Aroma rumah sakit yang khas menusuk indra penciuman Zivanya saat ia berdiri mematung di sudut ruang instalasi gawat darurat. Matanya tidak sedetik pun beralih dari sosok yang terbaring di atas bed rumah sakit. Kaivan kini tampak ringkih di bawah sorot lampu neon yang dingin. ​Dokter jaga sedang membersihkan robekan di rahang Kaivan. Zivanya berjengit kecil setiap kali kapas berlumur cairan steril menyentuh luka Kaivan, seolah rasa perih yang dirasakan Kaivan menjalar ke kulitnya sendiri. Ia masih mengenakan tank top hitamnya. Blazernya yang mahal kini hanyalah segumpal kain tak berbentuk yang tergeletak di kursi tunggu, kaku karena darah yang mengering. Bahunya yang terbuka terasa dingin kena embusan AC rumah sakit, namun ia tidak peduli. Rasa bersalah di dadanya jauh lebih membekukan daripada suhu ruangan ini. ​"Luka di bagian dalam pipi cukup dalam, perlu dua jahitan kecil agar pendarahannya benar-benar berhenti," beritahu dokter tanpa menoleh. "Benturannya sangat keras. Untungn

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 55

    Ariyan tidak langsung menyerang. Ia menarik kursi di hadapan Kaivan lalu duduk, menyandarkan punggungnya dengan angkuh dan melipat tangan di depan dada. ​"Nyali lo beneran dari baja ya, Kai?" Ariyan membuka percakapan. “Gue pikir lo bakal gemeteran dan sembunyi di balik meja bos lo." ​Kaivan tetap tenang. Ia meletakkan cangkir kosongnya di atas piring kecil. Sebenarnya Kaivan sudah menduga Ariyan akan mencarinya. Tadi sebelum sarapan ia menerima telepon dari Zivanya yang menjelaskan permasalahannya. "Gue nggak punya alasan buat sembunyi. Dan sejak kapan lo peduli sama nyali gue? Tapi tunggu... tunggu… lo pengen ketemu gue pagi-pagi pasti ada yang penting. Mau gue pesenin kopi nggak? Atau teh hangat manis? Biar hidup lo nggak pait-pait amat.” ​Ariyan terkekeh, namun matanya tidak bergerak sedikit pun dari wajah Kaivan. "Gue peduli karena lo udah lancang. Lo pikir dengan status lo sebagai pengacara, lo bisa seenaknya masuk ke wilayah gue? Lo pikir lo bisa menyentuh apa yang jadi

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status