Compartir

Part 58

last update Fecha de publicación: 2026-05-16 00:00:15
Sulit untuk tidak emosi menyikapi pemandangan yang tersaji di hadapannya. Cukup sudah Zivanya menginjak-injak harga dirinya. Jadi, Ariyan memutuskan untuk menampakkan diri.

Ariyan berdeham cukup keras yang membuat keduanya terperanjat.

Zivanya hampir menjatuhkan sendok yang sedang dipegangnya. Sementara Kaivan hanya bisa tersentak kaku di atas bantalnya. Ia mencoba menoleh ke sumber suara, namun gerakan mendadaknya menarik jahitan di pipinya. Ia mengerang tertahan dan mencengkeram pinggiran
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (3)
goodnovel comment avatar
Putri Rahmadina Nasution
tapi kelewatan sihh
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
heran sja sm si Ari katanya gak cinta sm Ziva tp emosinya meledak begitu melihat Ziva dan Kai bersama..haha..
goodnovel comment avatar
Siti Hayatul Amalia
Ga pernah bawa pulang ke rumah tp kagak pulang2 kayak bang Thoyib & plesiran mewah. Jgn mau kalah Ziva, bawa aja Kai keluar dr rumah, rawat Kai di apartemennya. Kamu juga bisa jadi bang Thoyib, kagak usah pulang biar makin mrmbara si bangke
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 88

    Air hujan mengguyur kaca depan mobil dengan brutal, membuat pandangan ke depan menjadi buram meski wiper blade telah bekerja dengan kecepatan maksimal. Di balik kemudi, Zivanya mencengkeram setir dengan jemari yang bergetar hebat. Kakinya yang menekan pedal gas terasa lemas, namun ia terus melajukan kendaraannya menembus hujan, membelah jalanan kota tanpa arah dan tujuan.​Ia ketakutan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Zivanya merasakan kengerian yang teramat sangat terhadap suaminya sendiri.​Pikirannya kalut, berputar-putar pada kilasan kejadian di kamar bayi tadi. Sentuhan Ariyan, bisikan manipulatifnya, dan ciuman paksa yang terasa begitu menjijikkan masih menyisakan rasa mual yang menekan ulu hatinya. Zivanya tidak pernah menyangka bahwa Ariyan akan senekat dan sekejam itu. Hubungan terlarang pria itu dengan Aira benar-benar telah merenggut seluruh akal sehat dan nurani yang tersisa dari dalam diri seorang Ariyan. Bagaimana bisa lelaki itu tega meminta calon anaknya yang baru

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 87

    Ucapan suaminya membuat Zivanya refleks berdiri yang membuat Ariyan ikut tegak. “Maksud kamu apa anakku harus lahir minggu depan?” tatap Zivanya tajam. “Maksudku sudah jelas, Ziva. Kamu pasti ngerti tanpa aku jelasin panjang lebar. Bahkan kalau bisa besok anak itu sudah lahir. Mama dan yang lain nggak akan curiga karena Mama sendiri yang bilang HPL maju adalah hal yang biasa. Please, aku mohon kerja samanya,” pinta Ariyan dengan tatapan ala puppy eyes. “Jadi kamu minta aku buat lahiran prematur? Kamu udah gila atau apa?!” kecam Zivanya yang tidak sanggup lagi menahan emosinya. “Sebut aku gila, brengsek, bajingan atau apa pun yang kamu mau. Tapi ini demi kebaikan kita bersama.” ​"Demi kebaikan kita bersama kamu bilang?" Zivanya tertawa penuh rasa sakit. "Kebaikan siapa yang kamu maksud? Kebaikan kamu dan Aira agar sandiwara menjijikkan ini nggak terbongkar di depan Mama?" ​Ariyan mengusap wajahnya kasar, frustrasi karena reaksi Zivanya yang di luar kendalinya. “Ziva, tolong

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 86

    ​Mobil Kaivan melaju membelah rintik hujan yang kian deras, meninggalkan area rumah sakit yang penuh kepahitan di belakang mereka. Zivanya termenung sambil memandang kosong deretan lampu jalanan yang membias buram karena air hujan.​"Kita mampir sebentar ya," ujar Kaivan memecah keheningan.​Zivanya tidak menyahut. Ia hanya mengerjapkan matanya sekali tanpa menoleh. Ia terlalu lelah bahkan hanya untuk sekadar mengeluarkan satu kata.​Kaivan membelokkan setir ke arah sebuah toko kue. Tanpa menunggu lama, pria itu turun menembus gerimis dan kembali kurang dari lima menit kemudian dengan sebuah kantong kertas di tangannya. Aroma manis yang familier langsung menguar begitu Kaivan kembali masuk ke dalam mobil.“Tiramisu kesukaan kamu. Sengaja aku minta yang decaf dan less sugar," kata Kaivan sembari meletakkan kantong di jok belakang. "Nanti sampai rumah dicicipi beberapa suap aja ya, yang penting perut kamu nggak kosong sebelum tidur.”​​Zivanya memaksakan sebuah senyuman tipis. Sekalipun

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 85

    Selagi menunggu Kaivan, Zivanya menekuri layar ponselnya. Ia cepat-cepat membuka aplikasi transportasi online. Dengan gerakan jemari yang sedikit gemetar, ia menekan tanda cancel order dan menerima konsekuensi berupa saldonya yang langsung dipotong, yang tentu saja tidak seberapa bagi Zivanya. Setelah urusan taksi beres, Zivanya tercenung. Pikirannya melayang pada kejadian di kamar rawat Aira beberapa menit yang lalu. Rasa perih kembali melingkupi hati saat mengingat nama yang diucapkan Aira tadi. Arabella. ​Detik di mana nama itu meluncur dari bibir Aira, Zivanya seolah dihantam petir di siang bolong. Jiwanya terguncang hebat, meski wajahnya berhasil menampilkan ekspresi yang begitu sempurna. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa Arabella yang menjadi nama anak Aira? ​Selama dua bulan terakhir, di keheningan malam saat ia mengelus perutnya sendirian, Zivanya berpikir keras dan berhasil me

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 84

    “Aira mau ketemu kamu. Ke dalam bentar ya?” pinta Ariyan setelah mengurai pelukan. Zivanya hampir tidak percaya mendengar perkataan Ariyan. Untuk apa Aira ingin bertemu dengannya? Ingin memanas-manasinyakah? Setelah semua yang Zivanya lakukan, apa perempuan itu masih ingin merobek-robek hatinya? Tapi entah mengapa Zivanya mengangguk setuju memenuhi permintaan Ariyan. Ariyan tak menyangka istrinya mau. Setelah menunggu sebentar, ia membawa Zivanya memasuki ruang perawatan pasca bersalin yang bernuansa hangat. Aroma minyak-minyakan bayi langsung menyapa indra penciuman mereka. ​Di tempat tidur, Aira tengah berbaring dengan bayi di sisinya. Muka perempuan itu terlihat agak pucat dan kelelahan, namun gurat kebahagiaan seorang ibu terpancar jelas dari sepasang matanya. Zivanya melangkah masuk di belakang Ariyan. Mereka mendekati Aira. ​"Selamat, Kak Aira. Perjuangan kamu luar biasa tadi. Aku ikut senang,” ucap Zivanya dengan tulus, hati yang lapang, jiwa yang besar, tanpa dibua

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 83

    “Ari! Aku bilang stop! Turunin aku sekarang!” Zivanya berteriak dan meronta agar Ariyan menurunkannya. Tangannya bergerak nekat menyambar gagang pintu mobil yang terkunci, berniat memaksa keluar. "Aku nggak mau ikut kamu! Aku nggak mau ketemu perempuan itu! Buka pintunya, Ariyan!"​"Diam aja kenapa sih? Jangan bikin aku makin pusing!" bentak Ariyan tanpa menoleh. Sebelah tangannya dengan cepat menepis tangan Zivanya dari gagang pintu, sementara tangan kanannya mengetat mencengkeram kemudi. "Jalanan lagi padat, jangan bikin kita berdua mati kecelakaan di sini karena kelakuan nekat kamu!”​"Lebih baik kamu turunin aku di pinggir jalan sekarang daripada paksa aku melihat simpanan kamu!" Zivanya tidak menyerah. Ia terus meronta sekuat tenaga, memukul dasbor mobil dan mencoba melepaskan sabuk pengamannya secara paksa dengan gerakan frustrasi. "Kamu benar-benar keterlaluan. Kamu bohongin Mama, dan sekarang kamu seret aku buat ketemu perempuan itu?!"​"Aku nggak mungkin nurunin kamu di pingg

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status