ANMELDEN“Mami mau bikin acara syukuran kehamilanku. Mami dan lain mikir kandunganku udah lima bulan. Aku nggak tahu harus bilang apa kalau anakku belum lahir di bulan ke sembilan menurut mereka.” Zivanya langsung mengadu saat Ariyan pulang hari itu. “Tenang aja,” jawab Ariyan ringan yang kemudian duduk di dekat Zivanya. “Gimana aku bisa tenang? Empat bulan lagi mereka bakal nuntut aku untuk melahirkan! Sementara kandungan asliku baru tujuh bulan." "Jangan khawatir. Aku yang cari solusi.” Zivanya ternganga. Ia menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. "Maksud kamu solusi apa?” Ariyan mengambil napas sebelum menjawab. Ia terlihat tetap tenang seolah tidak ada masalah apa-apa. “Empat bulan lagi masih lama, Ziva. Masih ada waktu. Biar aku yang cari cara. Kamu tinggal duduk manis jaga kandungan. Jangan sampai anakmu yang satunya juga ikut gugur.” Zivanya tertegun mendengarkan untaian kata yang meluncur dari bibir suami
Saat Zivanya melangkah keluar kamar di hari berikutnya, ia mendapati suaminya tidak sendirian. Di ruang tengah, seorang wanita paruh baya sedang duduk di hadapan Ariyan.Mendengar langkah kaki bersandal mendekat, Ariyan yang semula sedang bicara langsung menoleh. Ekspresi datarnya seketika mencair, berganti dengan gurat kehangatan yang mendadak terpasang."Eh, kamu sudah bangun, Sayang?" sapa Ariyan. Ia melangkah mendekat, lalu dengan natural melingkarkan tangannya di punggung Zivanya, menuntun istrinya dengan gestur yang teramat lembut.Zivanya sempat menegang akibat kontak fisik yang tiba-tiba itu, namun ia menahan diri untuk tidak memberontak saat menyadari ada sepasang mata lain yang sedang memerhatikan mereka."Ziva, kenalin, ini Bi Jumi. Mulai hari ini Bi Jumi akan tinggal di sini untuk mengurus semua kebutuhan rumah dan bantu jaga kamu kalau aku nggak ada.”Bi Jumi segera membungkuk hormat dengan senyum yang terkembang di wajah keriputnya.
Aira tersentak saat menyadari kemunculan istri kekasihnya. Ia buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk di tengah kasur. Namun, alih-alih merasa bersalah karena tertangkap basah, ia malah menyapa Zivanya dengan ramah."Oh, udah pulang?" tanyanya begitu santai.Ia merapikan pakaiannya sedikit lalu turun dengan gerakan lambat. "Maaf ya, Ziva. Tadi aku agak pusing, jadi numpang rebahan sebentar di sini."Zivanya tidak mendengarkan rentetan kalimat Aira. Matanya bergerak lambat, menatap sprei yang kini sedikit kusut karena bekas tubuh wanita lain. Sudut matanya terasa panas. Memanas bukan karena air mata kesedihan, melainkan oleh harga diri yang diinjak-injak hingga lumat di rumahnya sendiri."Nggak punya sopan-santun ya kamu? Ini kamar suami istri, bukan penginapan selingkuhan. Keluar sekarang sebelum aku seret kamu!” usir Kaivan yang juga muak pada Aira. Aira kaget mendengar bentakan keras Kaivan, namun ia tetap berusaha menegakkan kepalanya. Ia merasa aman karena tahu Ariyan ada d
Ariyan tentu terkejut oleh tindakan Zivanya yang tidak pernah disangka-sangka. Tapi entah kenapa lelaki itu tidak membalas atau marah. Ia tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.“Oke, aku pergi sekarang kalau kamu nggak suka aku ada di sini,” ucapnya lalu mengembalikan mangkuk ke tempatnya dan berdiri.Mengambil map berisi dokumen serta pulpen dari balik jasnya, Ariyan memberikannya pada Zivanya. Tanpa banyak tanya Zivanya menandatanganinya.“Makasih, Ziva. Cepat sehat ya. Aku tunggu di rumah,” ucap Ariyan sebelum pergi sembari membelai lembut kepala Zivanya.Zivanya membeku di tempat tidur. Apa Ariyan tahu? Sentuhannya itu yang seolah-olah menyayangi Zivanya, membuat Zivanya semakin terksiksa. Lelaki itu tidak mencintainya, hubungan mereka bagai anjing dan kucing dan begitu rumit. Tapi terkadang sikap yang ditunjukkan Ariyan benar-benar membingungkan. Setelah Ariyan benar-benar lenyap dari pandangan, Zivanya termenung lama.Sentuhan lembut jem
“B-bang Ari?” Zevia sedikit tergagap membalas sapaan Ariyan.“Kamu ngapain di sini?”“Lagi gantiin Bang Kai jaga Kak Ziva, Bang. Bang Kai ada sidang yang nggak bisa ditinggalin. Kasihan Kak Ziva sendirian. Katanya Abang sibuk banget, ada pekerjaan penting, jadi nggak bisa nemenin di sini.”“Ziva yang bilang begitu?”Gadis itu menganggukkan kepalanya.Anggukan kepala Zevia membuat Ariyan tertegun. Ia pikir Zivanya akan bercerita yang buruk-buruk mengenainya pada orang-orang. Ternyata dugaannya salah.“Iya, memang ada pekerjaan penting yang nggak bisa ditinggalin. Ini kerjaannya pun belum selesai sebenarnya,” ucapnya kemudian.“Ya udah, Bang. Sana gih, temui Kak Ziva. Kamarnya yang ini.”Ariyan langsung melangkah membuka pintu kamar Zivanya.Saat sadar siapa yang datang, Zivanya tersentak. Ekspresinya langsung berubah. Ia tidak tahu apa maksud kedatangan Ariyan. Setelah semua yang Zivanya alami, apa lelaki itu masih ingin menghakimi dan memakinya dengan kata-kata kasar?Semakin Ariyan m
Ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Ariyan di saat ia sedang fokus-fokusnya. "Masuk."Pintu terbuka, memperlihatkan Mita yang melangkah dengan hati-hati dan sedikit bimbang. Terlebih saat melihat muka keruh bosnya."Maaf mengganggu waktunya, Pak," ujar Mita sopan. "Saya mau menyerahkan laporan yang Bapak minta. Sekalian saya mau bertanya. Bu Zivanya hari ini ke mana ya, Pak? Saya telepon dari pagi nomornya tidak aktif, padahal siang ini ada janji temu penting dengan klien dari Bandung. Nggak biasanya Bu Zivanya ghosting pekerjaan tanpa kabar seperti ini."Mendengar nama Zivanya disebut, rahang Ariyan kembali mengetat. Sisa-sisa amarahnya dari telepon Kaivan tadi mendadak menyengat egonya kembali. Dengan tatapan dingin, Ariyan mengambil pulpen di mejanya, kembali menyibukkan diri memeriksa dokumen lain tanpa memandang Mita."Zivanya nggak masuk hari ini," jawab Ariyan datar dan acuh. Mita mengerjap. Ia agak terkejut dengan respons dingin sang atasan. "Oh... Bu Zivanya sakit,







