Masuk“Ma, aku pergi dulu,” pamit Ariyan sembari menahan perasaan cemas. Aira sendiri di apartemen, sedang berjuang melawan sakit.“Kok buru-buru? Baru juga nyampe,” kata Zelena heran.“Iya, Ma, maaf banget. Ada urusan darurat. Aku harus ke site sekarang.” Begitu lancar Ariyan berdusta.“Kamu ini, katanya pekerjaan bisa didelegasikan sama yang lain.” Zelena geleng-geleng kepala mengingat ucapan Ariyan tadi.“Iya, Ma. Tapi yang ini nggak bisa. Ini urgent, Ma. Aku–”“Itu Ziva!” seru Zelena melihat menantu kesayangannya muncul.Ariyan ikut memandang ke arah yang sama. Tampak di sana Zivanya melangkah sedikit tertatih ke arah mereka, membawa perutnya yang membola. Sebelah tangannya menjinjing sesuatu. Mungkin makanan untuk Zelena. Perempuan itu memang pandai mengambil hati mertuanya. Setelah tiba di dekat mereka, Zivanya dan Zelena saling berpelukan lalu bertukar ciuman pipi kanan dan kiri.“Kamu dari mana, Ziva?” tanya Zelena lembut begitu pelukan mereka terurai. Ia menatap menantunya dengan
Hari demi hari terus bergulir pasca kejadian di acara tersebut. Bagi Ariyan, rahasia yang berhasil diredam hari itu bukanlah akhir dari masalah tapi awal dari masalah yang lain.Di satu sisi, ia berhasil menenangkan Aira dengan janji yang mengikat lehernya sendiri. Di sisi lain, ia sadar betul bahwa membujuk orang tuanya terutama mamanya bukanlah hal yang mudah.Sore itu Ariyan datang mengunjungikediaman orang tuanya. Ia sengaja pulang lebih awal dari kantor demi bertemu dengan wanita yang paling ia hormati di dunia ini.Ariyan melangkah masuk ke dalam rumah, mendapati Zelena sedang duduk di gazebo taman samping, menikmati teh hangat sembari membaca majalah interior. Di usia enam puluh tahun, Zelena yang berprofesi sebagai arsitek terkenal tetap terlihat cantik dan anggun."Sore, Ma," sapa Ariyan dan melangkah mendekat, lalu mencium punggung tangan Zelena. Zelena tersenyum atas kedatangan sang putra. “Tumben jam segini udah pulang? Kantor lagi senggang?""Pekerjaan bisa didelega
Sosok berkacamata itu berjalan mendekat menghampiri Zivanya yang masih mencoba menguasai diri mengendalikan keterkejutannya.“Hai, Ziva, selamat ya atas acara syukurannya. Aku ikut senang deh.”“Makasih. Siapa yang ngundang kamu ke sini, Kak?”Seulas senyum tipis terukir di bibir Aira yang dipulas lipstik berwarna burgundy."Nggak perlu ada yang mengundangku, Ziva. Rumah ini, kan, sudah seperti rumahku sendiri," jawab Aira santai dengan suara mengalun rendah yang menusuk. Ia melangkah lebih dekat hingga hampir tidak berjarak dengan Zivanya lalu melirik perutnya. "Lagian, sebagai sesama perempuan yang sedang mengandung, aku tentu harus menunjukkan dukunganku, kan?" lanjut Aira setengah berbisik, sembari sebelah tangannya mengusap permukaan perutnya sendiri di balik blus longgar yang ia kenakan."Kak Aira, aku nggak tahu apa tujuanmu datang ke sini. Tapi tolong pergi dari sini sebelum–”"Sebelum apa, Ziva? Sebelum Mama mertuamu melihat?" potong Aira cepat lalu tertawa lepas. "Aku ma
Acara syukuran kehamilan Zivanya akhirnya tiba. Kediaman mewah mereka hari itu dibanjiri oleh para tamu dan anak-anak dari panti asuhan. Lantunan ayat-ayat suci dari puluhan anak yatim bergaung khidmat yang menambah kesakralan acara tersebut. Orang tua dan mertua Zivanya tampak begitu bahagia. Senyum ceria tidak habis-habis dari wajah mereka. Di balik penampilannya yang anggun, Zivanya merasa sangat bersalah telah membohongi orang-orang. Gara-gara Ariyan, ia berdosa. Tangannya yang dingin terus meremas jemarinya sendiri. Setiap kali ada tamu yang menyalami dan mendoakan kandungannya yang sudah masuk lima bulan, jantung Zivanya berdegup dua kali lebih cepat. Ia melirik Ariyan yang berdiri di sisinya. Pria itu tampak teramat tenang, sesekali mengulas senyum tipis seolah tidak ada beban bom waktu yang sedang mengintai mereka. Setelah sesi doa bersama selesai, para tamu dipersilakan menikmati hidangan. Kesempatan itu digunakan Zivanya untuk memisahkan diri dari Ariyan. "Selamat
Ariyan membalas tatapan Aira jauh lebih tajam dari yang perempuan itu berikan. Selamat ini Aira berada di bawah kendalinya. Ariyan memenuhi semua kebutuhannya, selalu menuruti apa pun yang ia inginkan. Tapi entah mengapa kali ini perempuan itu melawan.“Kita akan ke Singapura, tapi tunggu dulu setelah acara itu selesai,” kata Ariyan membujuk, berharap Aira akan luluh.“Aku nggak mau. Aku maunya lusa,” tolak Aira lugas.“Kamu kenapa sih, Ra? Aku cuma minta sabar sedikit. Apa susahnya?” Aira betul-betul menguji kesabaran Ariyan. “Dari dulu aku sabar. Dan sekarang kesabaranku sudah habis. Aku tetap akan datang ke acara itu dan bicara sama Mama.”“Jangan, Ra. Aku bilang jangan. Jangan hancurkan semuanya karena kecemburuan kamu. Kalau memang kamu ingin acara syukuran seperti Zivanya aku akan kasih lebih dari itu.”Aira tertawa terpingkal-pingkal bersama cengkeraman Ariyan yang ia lepaskan dari tangannya dengan paksa."Uang lagi? Kemewahan lagi? Kamu pikir semua itu bisa menutup mulut ora
“Mami mau bikin acara syukuran kehamilanku. Mami dan lain mikir kandunganku udah lima bulan. Aku nggak tahu harus bilang apa kalau anakku belum lahir di bulan ke sembilan menurut mereka.” Zivanya langsung mengadu saat Ariyan pulang hari itu. “Tenang aja,” jawab Ariyan ringan yang kemudian duduk di dekat Zivanya. “Gimana aku bisa tenang? Empat bulan lagi mereka bakal nuntut aku untuk melahirkan! Sementara kandungan asliku baru tujuh bulan." "Jangan khawatir. Aku yang cari solusi.” Zivanya ternganga. Ia menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. "Maksud kamu solusi apa?” Ariyan mengambil napas sebelum menjawab. Ia terlihat tetap tenang seolah tidak ada masalah apa-apa. “Empat bulan lagi masih lama, Ziva. Masih ada waktu. Biar aku yang cari cara. Kamu tinggal duduk manis jaga kandungan. Jangan sampai anakmu yang satunya juga ikut gugur.” Zivanya tertegun mendengarkan untaian kata yang meluncur dari bibir suaminya. Rasa sakit menohok hatinya, tapi ia memilih untuk tidak m







