Compartilhar

Part 38

last update Data de publicação: 2026-05-09 15:38:57

Mereka mendengar deru mesin mobil yang semakin dekat, lalu mati, disusul pintu mobil yang dibuka lalu ditutup.

​"Ikut aku, Ra! Cepat!" Ariyan mencekal lengan Aira dengan keras, mencoba menarik wanita itu. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya hanyalah menyembunyikan bukti perselingkuhannya sebelum sang ibu melangkah masuk ke ruang tamu.

​Namun, belum sempat ia menyeret Aira lebih jauh, suara dingin Zivanya menghentikan langkahnya.

​"Kenapa harus disembunyikan, Ari? Mama pasti senang kalau t
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (5)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
ternyata si Ari sdh nyiapin tempat untuk bersembunyi juga di rumah..
goodnovel comment avatar
Ekarini
atau sekalian saja anak aira itu bukan anak Ari tapi aira selingkuh biar hancur sekalian
goodnovel comment avatar
Ara
jangan lama2 terbongkarnya pliss...sudah muak dgn Aira dan Ari,,bisa2nya kebohongan besar begitu masih tersembunyi
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 50

    Seketika ruangan tersebut diliputi keheningan setelah penjelasan lugas Kaivan. Andara merasa tidak enak hati karena sudah salah sangka. Ia juga merasa kecewa karena sejak pertama melihat Zivanya tadi langsung menyukainya. Begitupun dengan Ananta yang terdiam. Setelah beberapa saat barulah lelaki itu membuka mulut.“Maksud kamu Ariyan Ari, sahabatmu, Bang?” tanya Ananta agar lebih jelas. Ia memang mengenal Ariyan.“Iya, Pa. Kalau Ari tahu Papa nyuruh aku ngelamar istrinya dia bisa ngamuk,” seloroh Kaivan.Ananta tertawa masam. “Tapi untungnya dia nggak di sini. Kalau dia tahu Papa bisa bonyok beneran.”Helaan napas kecewa pun terdengar dari mulut Zevia. “Gagal deh punya kakak ipar.”Sementara itu, ​​Andara masih mematung. Ia lalu menatap Zivanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada gurat kekecewaan yang terlukis jelas di wajahnya karena ia terlanjur menaruh harapan besar pada perempuan muda di sebelahnya ini. ​"Maaf ya, Ziva, Tante nggak tahu. Malah tadi langsung nyerocos. Tante b

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 49

    Kedua orang tua Kaivan muncul dari dalam rumah dan memberi senyum hangat pada Zivanya.​“Kenapa masih berdiri, Bang? Diajak duduk dong pacarnya,” titah Andara dengan senyum menggoda.​“Ma, Pa, kenalkan, ini Zivanya, teman aku, bukan p–” “Sudahlah, Kai, nggak usah malu,” potong Ananta, papanya Kaivan sebelum sang putra menyelesaikan perkataannya. Ia melangkah mendekat, mengabaikan usaha Kaivan untuk mengoreksi sebutan itu. “Papa tahu kamu memang sulit terbuka soal hati, tapi kalau sudah dibawa sampai ke rumah malam-malam begini, Papa rasa penjelasannya sudah cukup.”​Zivanya hanya bisa terpaku. Lidahnya terasa kelu. Ia ingin membantu menjelaskan, tapi tidak memiliki kesempatan​“Ayo duduk, Zivanya,” ujar Andara sambil menyentuh lengan Zivanya dengan lembut, seolah-olah dirinya memang benar kekasih Kaivan.​Zivanya segera menyalami keduanya dengan sopan. “Selamat malam, Om, Tante. Maaf saya mampir malam-malam begini,” ucap Zivanya sambil menyerahkan kotak macaron yang tadi sempat merek

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 48

    Zivanya menyandarkan punggungnya di kursi mobil Kaivan. Ia mencoba melepaskan sesak yang menghimpit dada sejak di pesta tadi. Keheningan malam yang menembus kaca jendela perlahan menenangkannya, meski bayangan wajah dingin Ariyan masih enggan pergi dari benaknya.​Kaivan melirik sekilas, lalu memecah keheningan dengan suara rendahnya yang menenangkan. "Masih kesal?"​"Menurutmu?"Kaivan menjawab dengan senyum tipis.“Dia benar-benar ngerusak suasana. Dan cara dia memperlakukan aku tadi seolah-olah aku ini barang miliknya yang bisa ditarik ke sana kemari.”“Sabar ya. Orang yang lagi cemburu memang kayak gitu.”Zivanya sontak mendengkus. “Kayaknya aku udah pernah bilang deh. Dia itu bukan cemburu, Kai. Tapi egois.”"Mungkin batas antara cemburu dan egois bagi Ariyan itu setipis benang, Ziva," sahut Kaivan pelan sambil memutar kemudi, memasuki jalan yang lebih lengang.​Zivanya tidak membalas. Ia memalingkan wajah ke luar jendela, menatap deret

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 47

    Zivanya memasang tampang masam sambil melempar pandang pada suaminya. Lelaki itu benar-benar membuatnya jengkel setengah mati. Ariyan tidak bergerak, namun auranya yang mendominasi membuat suasana di sekitar meja katering terasa membeku. Kaivan yang menyadari arah pandang Zivanya ikut melempar mata pada Ariyan. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Entah sejak kapan Ariyan mengekori mereka, Kaivan tidak menyadarinya. “Kenapa sih tuh orang ngikutin kita terus?” kesal Zivanya. “Mungkin kangen istrinya.” “Ih!” dengkus Zivanya sebal yang membuat Kaivan tersenyum geli. “Mau disamperin ke sana?” tanya lelaki itu. “Ayo.” Zivanya langsung melingkarkan tangan di lengan Kaivan, bergelayut manja padanya. Seiring dengan langkah kakinya yang semakin mendekat, Zivanya sengaja mengeratkan pelukan tangannya di lengan Kaivan. Ia memastikan tubuh mereka menempel cukup dekat untuk dilihat oleh siapa pun yang memandang. Terutama suaminya. Ia ingin Ariyan merasakan apa yang selama ini ia ra

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 46

    Gedung hotel bintang lima yang mereka datangi berpendar oleh cahaya lampu yang menggantung megah di langit-langit ballroom. Aroma manis yang lembut menyeruak, bercampur dengan wangi parfum mahal dari para tamu undangan yang berlalu-lalang. Zivanya melangkah masuk dengan tangan yang tertaut di lengan Kaivan. Gaun haute couture-nya membuat perempuan itu semakin cantik dan anggun serta memberikan kesan berkelas yang membuat beberapa pasang mata menoleh kagum.​Zivanya mencoba mengatur napasnya. Berada di keramaian setelah kejadian di halaman rumah tadi bukan hal mudah, namun kehadiran Kaivan yang tenang di sampingnya memberikan sedikit rasa aman.​"Kamu baik-baik aja?" Kaivan bertanya lembut.​Zivanya menganggukkan kepala.​Baru saja mereka melangkah beberapa meter menuju area utama, seorang wanita cantik yang mengenakan ball gown menghampiri mereka. Tapi sepasang matanya tertuju hanya pada Kaivan.​"Kaivan!" seru wanita itu.​Tanpa aba-aba, wanita itu langsung menghambur memeluk Kaivan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 45

    Ariyan mengeratkan genggaman kunci mobil di tangannya sembari menatap Zivanya dan Kaivan bergantian. Alih-alih menerjang atau berteriak seperti pria yang kehilangan akal, ia tetap bersikap tenang. Ia melangkah mendekat dengan ritme yang lambat. ​"Malam, Kai," sapanya pada Kaivan. “Tumben lo mampir? Padahal gue sama istri gue baru mau istirahat." ​Kaivan yang berdiri tegak di samping mobilnya memberi senyum tipis. Ia bisa merasakan aura pasif agresif yang terpancar dari setiap gerak-gerik Ariyan. "Gue bukan kebetulan mampir. Gue ke sini buat jemput Ziva. Kami ada janji malam ini." ​Ariyan tertawa kecil guna menyamarkan sorot dingin di matanya. “Janji? Oh, kayaknya ada miskomunikasi di sini. Ziva mungkin lupa kalau kondisi tubuhnya lagi nggak memungkinkan buat keluyuran di jam seperti ini. Apalagi setelah berita bahagia yang baru menyebar di keluarga besar kami tentang kehamilan Ziva.” ​Ariyan lalu menggeser matanya pada Zivanya.

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status