เข้าสู่ระบบZivanya memandang sekelilingnya dengan embusan napas lega.Jendela kaca setinggi langit-langit di hadapannya menyajikan panorama megah kelap-kelip lampu metropolitan. Angin malam berembus tenang di balkon unit apartemen seluas lebih dari dua ratus meter persegi itu. Modern, elegan, berpencahayaan hangat, dan didominasi warna-warna netral yang menenangkan.Meskipun ia harus mengembalikan seluruh fasilitas mewah pemberian Ariyan dan menolak bergantung pada orang tuanya, Zivanya bukanlah wanita yang tidak punya apa-apa. Selama bertahun-tahun, dari hasil kerja keras, investasi pribadi, serta tabungan mandiri yang ia kelola sendiri tanpa campur tangan siapa pun, ia memiliki finansial yang lebih dari sekadar mapan. Ia tidak butuh harta mantan suami atau kekayaan orang tuanya untuk bisa hidup sangat layak. Dan penthouse ini adalah salah satu investasinya yang ia beli sejak lama."Ibu,” celetuk Kaisar yang baru saja selesai room tour. Sepasang matanya berbinar-binar memandangi ruang keluarga
“Ibu mau ke mana? Kenapa baju-baju Ibu dimasukkan semua ke dalam tas?”Pertanyaan yang diajukan Kaisar membuat Zivanya menoleh pada anak itu."Kai," bisik Zivanya lembut sambil mengusap pipi putranya dengan penuh kasih sayang. "Kita pindah rumah ya, Sayang?”“Kok pindah? Kita pindah ke mana? Kai juga ikut sama Ibu.”"Kai memang ikut Ibu. Tapi… tempat tinggal kita yang baru nanti nggak sebesar dan semewah rumah ini," jelas Zivanya memberi pengertian. “Nggak ada halaman luas buat Kai main bola, nggak ada kolam renang pribadi, dan kamarnya juga lebih kecil dari kamar Kai yang sekarang."Kaisar mengerjapkan matanya polos, lalu menyunggingkan senyum lebar tanpa beban. "Nggak apa-apa, Bu. Nggak apa-apa kalau rumahnya kecil. Yang penting ada Ibu, kan? Kai mau ikut Ibu ke mana aja. Kai nggak mau ditinggal," jawab Kaisar penuh semangat.Zivanya mengangguk. Diusapnya kepala anak berambut legam itu sebelum melanjutkan aktivitasnya mengemasi barang.*Semua barang-barang sudah Zivanya kemasi. Ia
"Mesra sekali ya ayah dan anak ini.” Suara Seruni terdengar dari arah belakang mereka. Zivanya buru-buru menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu mengurai pelukan. Ia menoleh dan mendapati Maminya melangkah mendekat dengan tangan bersedekap. “Mami nguping aku dan Papi?” “Memangnya kenapa? Pembicaraan kalian terlalu penting sampai Mami nggak boleh tahu?” balas Seruni sewot. “Bukannya gitu, Mi. Malah bagus kalau Mami dengar. Jadi aku nggak perlu lagi jelasin sama Mami.” “Mami memang udah dengar semuanya tapi kamu tetap harus menikah sama Ariyan. Masalahnya, Ariyan dan Tante Zelena sudah setuju.” Zivanya sama sekali tidak tahu bahwasanya Maminya baru saja menelepon Zelena di luar dan mendapat penolakan halus. Yang ada di pikiran Zivanya saat ini hanyalah rasa lega yang teramat besar karena Papinya telah memberinya izin untuk berdiri di atas keputusannya sendiri. “Tapi aku yang nggak mau, Mi,” jawab Zivanya. “Aku nggak akan menikah dengan Ariyan atau siapa pun y
Seruni tentu saja terkejut mendengar jawaban Zelena yang tidak disangka-sangka. Tadinya ia mengira akan mendengar kabar bahagia. Tapi ternyata ia harus kecewa.“Masa sih, Zel? Ariyan itu masih cinta banget sama Ziva. Dia nggak mungkin menolak!” balas Seruni denial.“Aku paham, Run," tutur Zelena dengan nada yang begitu lembut, mencoba meredam penyangkalan mantan besannya di seberang sana. "Tapi kita nggak bisa memaksakan perasaan Ariyan sekarang. Dulu mereka berpisah juga bukan hal yang mudah. Ari punya sikapnya sendiri, dan sebagai ibunya, aku harus menghargai keputusannya.""Tapi kamu ibu kandungnya!" balas Seruni cepat. "Kalau kamu yang minta, kalau kamu yang mohon sama Ariyan, dia pasti nggak tega. Ini demi Ziva, demi cucu kamu juga, demi Kaisar! Apa kamu nggak kasihan sama mereka?”Zelena mengusap dadanya yang terasa semakin sesak. Mendengar nama Kaisar dan Zivanya sungguh menyentuh sudut terlembut di hatinya. Tetapi Zelena tetap harus memegang kendali agar tidak terbawa arus kep
Semakin mendekati hari pernikahan Zivanya, Zelena menjaga Ariyan extra ketat. Ia selalu berada di dekat putranya itu agar tidak lolos menemui Zivanya. Ia juga menyibukkan Ariyan di Kaisar Fitness agar tidak terus mengingat Zivanya. Sejak tadi pagi handphone Zelena terus berdering, yang akhirnya ia silent-kan. Panggilan telepon hingga pesan datang dari Seruni yang terus menanyakan kesediaan Ariyan dan apa Zelena sudah membujuk Zivanya. Dari tempatnya duduk, Zelena memerhatikan putranya. Tampak olehnya Ariyan sedang sibuk memandu seorang klien secara langsung. Kaus hitam yang membalut tubuh tegapnya sedikit basah oleh keringat, raut wajahnya fokus dan serius seolah tidak ada beban lain yang mengganggu pikirannya. Zelena terus membebani Ariyan dengan jadwal pelatihan di tempat fitness ini, semata-mata agar pikiran Ariyan teralihkan dan tidak terus-terusan memikirkan Zivanya. Ponsel Zelena yang tergeletak di atas meja kembali menyala terang, menampilkan nama yang tidak asing. Untuk pu
Malam kian larut. Jarum jam baru saja melewati angka dua dini hari. Zivanya merapatkan selimut yang dibawakan Syabila ke bahunya. Tadi setelah bertengkar dengan Seruni akhirnya ia kembali ke rumah sakit. Semua demi sang ayah. Kalau saja tidak ingat kesehatan Abi, Zivanya tidak akan sudi kembali lagi ke sana.Seruni tampak sudah jauh lebih tenang usai meluapkan tangis dan desakannya pada Zelena di telepon. Seruni percaya penuh bahwa Zelena yang teramat menyayangi Zivanya pasti sanggup membujuk Ariyan dan membuat Zivanya tidak berkutik. Bagi Seruni, masalah ini dianggap selesai. Ia tinggal menunggu besok pagi."Kak Ziva, tidur sebentar yuk. Kakak dari sore belum makan, belum istirahat sama sekali," bujuk Syabila lembut seraya mengusap jemari Zivanya yang sedingin es."Aku nggak bisa tidur. Baru satu detik nutup mata rasanya kayak mau tenggelam.”"Jangan dipikirin omongan Mami tadi ya, Kak,” bujuk Syabila prihatin. Ia tahu betul betapa dalamnya luka yang digoreskan
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it







