Compartilhar

Bab 3

Autor: Jiji
Tak kusangka, dia bisa sekejam ini pada anak kandungnya sendiri.

Melihat di video Julian merentangkan lengan dan kaki putraku dengan paksa, membiarkan jarum perak Marisha menusuk tubuh anakku ....

Tangisan anakku perlahan melemah, sementara hatiku sakit sampai terasa sesak, rasanya ingin menerobos layar dan membunuh sepasang pria dan wanita sampah itu!

Namun detik berikutnya, nada dering ponsel tiba-tiba berbunyi.

Setelah diangkat, terdengar suara Marisha yang manja dan malu-malu.

"Bu Vianita, sepertinya pernikahan harus dimajukan."

"Ibu mertuaku khusus pergi menghitung hari baik untuk kami. Menikah tiga hari lagi, pas untuk membantu kami sekali langsung dapat anak laki-laki."

Hampir di saat yang sama, Julian juga mengirim pesan kepadaku:

[Istriku, perjalanan dinasku dimajukan, mungkin besok aku sudah harus berangkat.]

[Kamu dan bayi baik-baik di rumah ya, tunggu aku bawakan oleh-oleh.]

Melihat wallpaper ponsel berisi wajah tidur anakku yang tenang, aku tiba-tiba tertawa.

Karena pernikahan suamiku akan segera dilangsungkan, lalu aku ini sebagai istri sah sekaligus perencana pernikahan, bagaimana mungkin tidak hadir?

Aku pun terbang ke Negara Faricia lebih dulu daripada Julian.

Baru saja mendarat dan menyalakan ponsel, pesannya langsung muncul:

[Istriku, bagaimana keadaanmu dan anak kita?]

Dengan wajah dingin, aku asal mengirimkan foto diriku dan anakku.

Dia hampir langsung membalas:

[Anak kita manis sekali, istriku juga cantik.]

[Maunya aku nggak usah dinas saja, ingin sekali lekas pulang menemani kalian.]

Aku menatap barisan kata itu, sudut bibirku terangkat dengan senyum dingin.

Foto ini diambil bulan lalu.

Saat itu aku belum sekurus sekarang, dan anakku juga masih jauh lebih kecil.

Bahkan foto itu dia sendiri yang memotretnya, tetapi tetap saja dia tidak menyadarinya.

Pada hari pernikahannya, aku berdiri di balik layar sebagai perencana pernikahan.

Kerabat dan sahabat Julian hampir semuanya hadir. Ibunya tampak berseri-seri, sibuk kian kemari.

Sikapnya yang ramah dan penuh perhatian, benar-benar seperti seorang ibu mertua teladan tanpa cela.

Pernah suatu masa, dia juga memperlakukanku dengan sepenuh hati seperti ini, sebagai tanda betapa Keluarga Morin menghargai diriku.

Ketika aku dan Julian mendaftarkan pernikahan, karena pandemi, tak ada tamu, tak ada jamuan.

Dia menggenggam tanganku erat, suaranya tersendat.

"Keluarga Morin telah mengecewakanmu. Kami pasti akan tebus semua ini nanti."

Aku tak terbiasa tinggal di desa, dia pun rela mengeluarkan jutaan agar aku bisa menginap di hotel kota kecil.

Reaksi kehamilanku parah, dia mengakali berbagai cara memasak agar aku bisa makan.

Di hari persalinan, dialah orang pertama yang bergegas ke ranjangku, menarik tanganku sambil menangis dan berkata, "Kita nggak usah punya anak lagi, banyak anak itu berat bagi seorang ibu. Ibuku kasihan padamu, nggak ingin kamu menderita sekali lagi."

Ibuku telah lama meninggal. Perhatian dan perlindungan yang disengaja itu membuatku sempat terhanyut, mengira telah menemukan kembali kasih ibu yang lama hilang.

Namun sekarang, di sisi Julian berdiri Marisha yang tersenyum semanis bunga, di belakang mereka ada Bu Elisa yang menatap penuh sayang. Pemandangan itu benar-benar seperti keluarga yang hangat.

Hanya aku seorang, seperti orang asing yang tersisih, sama sekali tidak sadar bahwa aku telah lama menjadi pihak luar.

Ternyata, semua kehangatan sebelumnya hanyalah palsu.

Terdengar dentangan lonceng, upacara pernikahan pun dimulai.

Di bawah tatapan semua orang, Julian menggandeng tangan Marisha berjalan ke tengah panggung.

Gaun pengantin, mawar, gereja, dan Julian, semuanya sama persis seperti dalam bayanganku.

Hanya saja perempuan di sampingnya telah berganti menjadi Marisha.

Pembawa acara diminta Julian untuk mundur.

Dengan ekspresi bersemangat, dia ingin memimpin pernikahannya sendiri.

"Sejak pertama kali bertemu Risha, aku sudah membayangkan adegan ini berkali-kali."

"Aku pikir, perawat kecil yang menghiburku di luar ruang operasi itu pantas mendapatkan pernikahan terbaik."

"Karena itu, aku menggunakan dua bulan untuk menghadiahkan semua ini padanya."

"Bukan karena aku butuh dua bulan untuk memutuskan menikahi Risha, melainkan karena persiapan pernikahan memang memerlukan dua bulan."

Semua orang di bawah panggung terharu dan bertepuk tangan untuk "cinta yang biasa tetapi agung" ini.

Aku duduk di barisan paling belakang, menatap pria penuh kasih di atas panggung, dan wanita yang genit itu.

Kalau tidak ikut bertepuk tangan, rasanya malah tidak pantas.

Lalu, Marisha mengambil mikrofon, suaranya sudah terdengar tercekat.

Dia berkata Julian adalah pria terbaik di dunia.

Dia berkata, saat dirinya diperlakukan tidak adil oleh pasien, Julian-lah yang melindunginya.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 9

    "Julian, dengarkan baik-baik. Aku nggak akan pernah membiarkan anakku tahu bahwa dia punya ayah sekejam binatang sepertimu. Di akta kelahirannya, kolom ayah sebentar lagi akan kosong. Hidupnya nggak membutuhkan noda darimu."Julian seperti tersambar petir, wajahnya seketika pucat pasi.Melihat keputusasaannya, aku tiba-tiba teringat, sepertinya dia masih belum tahu, seperti apa sebenarnya "cinta sejatinya" itu."Namun, demi 'ketulusan' penyesalanmu, aku beri satu kabar. Marisha sudah mengaku semuanya. Sejak awal, dia mendekatimu karena uangmu.""Oh, dan juga tentang anaknya itu ...."Aku sengaja berhenti sejenak, melihat wajah Julian yang mendadak tegang, lalu berkata perlahan, "Berdasarkan perhitungan waktu dan beberapa riwayat pesan yang tanpa sengaja dia tinggalkan, anak itu sama sekali bukan milikmu.""Nggak mungkin! Kamu bohong!"Julian mendongak tajam, matanya merah menyala, hampir menerjang kaca."Dia sangat mencintaiku! Demi aku, dia ...."Dengan tenang, aku menambahkan pukulan

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 8

    Saat dia menemukanku, wajahnya pucat kekuningan, tetapi sorot matanya membawa keganasan nekat seolah sudah tak peduli lagi apa yang akan terjadi."Vianita, kamu! Kamu yang menghancurkan segalanya milikku! Menghancurkan pernikahanku, anakku, masa depanku!"Dia menuding sambil menjerit tajam.Aku dengan tenang mengaduk kopi di cangkirku, mengangkat mata menatapnya."Aku menghancurkanmu? Bukankah justru kamu sendiri yang memilih menyelusup ke dalam rumah tangga orang lain, mengkhianati etika profesi perawat, dan melukai seorang bayi yang nggak bersalah?"Marisha mendengus dingin. Di wajahnya tak tersisa lagi kepolosan malu-malu yang dulu dia pura-purakan, hanya tinggal kecemburuan dan kebencian yang tidak bisa ditutupi lagi."Ya! Aku memang sengaja, lalu kenapa? Aku sudah lama mengenalimu! Sejak hari aku datang ke studiomu, aku sudah mengenalimu!"Mendengar itu, aku menunduk sambil tersenyum tipis, ternyata benar.Marisha melangkah mendekat, merendahkan suara, tetapi kegilaan di dalamnya

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 7

    Sahabatku menatapku, ada sedikit kekhawatiran di matanya."Nita, begitu semua ini diajukan, ancaman hukuman Julian nggak akan singkat. Kamu ... sudah yakin? Ini mungkin akan memengaruhi penilaian latar belakang anak di masa depan, atau bidang-bidang tertentu yang membutuhkan pemeriksaan riwayat."Aku menerima map dokumen itu, terasa berat di tangan.Sambil menatap sinar matahari cerah di luar jendela, aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.Suaraku terdengar mantap."Yakin. Anakku akan memiliki bagian dariku. Kekayaan yang umumnya nggak akan bisa dikumpulkan orang seumur hidup, serta dana perwalian yang cukup untuk membuatnya hidup tanpa kekhawatiran sepanjang usia.""Dia nggak membutuhkan seorang ayah yang reputasinya hancur untuk menambah apa pun yang disebut 'kasih sayang ayah' ataupun 'latar belakang'."Sahabatku pun mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi.Sore itu juga, seluruh berkas bukti kejahatan Julian diserahkan dengan rapi kepada pihak kepolisian....

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 6

    Video itu dengan jelas memperlihatkan bagaimana Julian dan Marisha menjadikan putraku yang baru berusia dua bulan sebagai "alat peraga hidup".Wajah Julian pucat pasi, dan dia tak lagi mampu mengucapkan kata-kata permohonan ampun.Bu Elisa membelalakkan mata dengan tak percaya. Meski karena kehamilan Marisha membuatnya cenderung membela putranya, tetapi terhadap cucu yang didapat dengan susah payah ini, Bu Elisa benar-benar mempunyai rasa sayang yang tulus.Dia tiba-tiba menoleh tajam ke arah Julian, suaranya melengking."Julian! Ini ... ini benar? Bagaimana mungkin kamu ... bagaimana mungkin kamu memperlakukan anak kandungmu sendiri seperti ini?!"Walau tubuh Bu Elisa gemetar karena marah, dia tetap tak tega memukul anaknya sendiri.Saat melihat Marisha, dirinya langsung menemukan sasaran amarah dan pelampiasan.Dia menerjang ke atas panggung menuju Marisha yang masih gemetar ketakutan, lalu tanpa ragu mengayunkan tangannya, PLAK!"Ini pasti ulahmu! Pasti kamu, perempuan bejat, yang m

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 5

    Amarah di wajah Julian seketika digantikan oleh kepanikan. Dia berusaha memaksakan senyum, tetapi wajahnya tampak lebih buruk daripada menangis,"Nita, kamu ... kamu kok bisa ada di sini?"Belum sempat kalimat itu selesai, cat merah menyala di atas kepalanya kembali menetes ke matanya, membuat ketenangan yang coba dia pertahankan tampak makin menggelikan.Marisha berdiri terpaku di tempat, kedua tangannya secara alami melindungi perut bagian bawahnya dengan erat, wajahnya pucat pasi seperti kertas.Dia menatapku, lalu menatap Julian, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.Bu Elisa adalah yang pertama bereaksi. Wajahnya dipenuhi senyum menjilat sekaligus panik. Tanpa sadar dia hendak bergegas menarik tanganku.Namun kakinya menginjak cat, membuatnya tergelincir dan jatuh terjerembap ke lantai.Dia berusaha bangkit, tetapi karena lantai licin oleh cat, dia kembali terjatuh dengan keras.Para sesepuh yang barusan mengerubungi Marisha sambil memberi ucapan selamat, diam-diam menyindirku

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 4

    Saat dia dikucilkan rekan kerja, Julian-lah yang membelanya."Aku bisa bertemu pria seperti ini, benar-benar berkah dari beberapa kehidupan!"Melihat mereka saling bersahut dengan wajah munafik, aku hanya merasa mual.Aku sudah menyelidiki dengan jelas, pekerjaan perawat Marisha itu dibeli.Dia sama sekali tidak memahami pengetahuan medis apa pun.Bahkan mengikuti resep pun dia masih salah memberikan obat kepada pasien, membuat kondisi pasien makin parah, dan pada akhirnya rekan kerjanya-lah yang harus membereskan kekacauan itu.Namun Julian tidak peduli semua itu. Cukup Marisha meneteskan beberapa tetes air mata, dia tega menjadikan anakku alat peraga manusia bagi Marisha.Pada saat itu, Julian merangkul bahu Marisha dan menghadap penonton.Karena terlalu emosional, pria itu bahkan sempat tercekat hingga tak mampu berkata-kata."Hari ini, sebenarnya masih ada satu kabar baik lagi yang ingin kami sampaikan.""Risha hamil!""Kami akan segera menyambut anak pertama kami!"Penonton segera

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status