Compartilhar

Bab 2

Autor: Jiji
Jadi begitu rupanya.

Dibandingkan mereka, seharusnya aku justru lebih mengingat hari itu.

Saat itu aku sedang terbaring di atas meja operasi yang dingin, mengerahkan seluruh tenaga untuk melahirkan anak yang kami perjuangkan dengan susah payah.

Entah aku harus merasa sedih, atau justru bersyukur atas perkenalan pertama mereka, setidaknya aku mungkin sempat menjadi saksi pada momen itu.

Rasa nyeri tumpul terus-menerus menghantam jantungku. Aku mencubit telapak tanganku sendiri, memaksa diri mempertahankan profesionalisme di permukaan.

"Apa Nona Marisha masih punya permintaan lain untuk pernikahannya?"

Marisha memiringkan kepala, berpikir sejenak, lalu tiba-tiba membuka mulut.

"Oh ya, lantainya harus semuanya dilapisi karpet kasmir impor."

"Gaun pengantinku yang dibelikan pacarku itu dari sutra asli, nggak boleh ada sedikit pun gesekan."

"Berapa pun biayanya nggak penting, pacarku punya banyak uang."

Mendengar ucapannya, aku hampir tertawa terbahak.

Julian adalah mahasiswa miskin yang dulu kutarik keluar dari kemiskinan dengan tanganku sendiri.

Dari bocah melarat yang bahkan miskin sampai uang receh pun tidak ada, menjadi CEO bermodal ratusan miliar.

Jalan yang orang lain butuhkan dua puluh tahun untuk menempuhnya, dengan topanganku, dia hanya perlu tiga tahun.

Mungkin justru karena aku membuat jalannya terlalu mulus, dia jadi lupa dari mana asalnya, dan lupa siapa yang meratakan jalan untuknya.

Adapun gaun pengantin itu adalah merek mewah yang bahkan harus melalui verifikasi aset untuk bisa membelinya.

Di peragaan busana, kilau kagum di mata Julian membuatku saat itu juga yakin, gaun itu pasti akan kupakai.

Namun sampai saat itu, aku menerima surat konfirmasi dari pihak merek, memberi tahu bahwa pesanan sudah masuk tahap produksi.

Hanya saja ukurannya, dua nomor lebih kecil.

Awalnya kukira itu karena salah perkiraannya terhadap bentuk tubuhku pasca melahirkan.

Baru sekarang aku mengerti, gaun yang tak bisa kupakai itu sejak awal memang bukan disiapkan untukku.

Aku menutup berkas itu.

"Aku mengerti, Nona Marisha, aku pasti akan memberimu sebuah pernikahan yang 'tak ternilai harganya'."

Tersenyum sambil mengantar gadis itu ke pintu.

Aku lalu mencibir dingin dan menelepon sahabat karibku yang profesinya pengacara.

"Julian berselingkuh. Aku ingin dia cerai tanpa membawa apa pun."

"Setelah berhasil, seluruh aset atas namanya akan menjadi honormu sebagai pengacara."

Tak sampai setengah jam, bukti perselingkuhan Julian sudah dikirim ke emailku.

Hanya dalam dua bulan singkat, ukurannya malah mencapai 100GB.

Video pertama diambil pada hari aku melahirkan.

Ucapan Marisha waktu itu belum sepenuhnya selesai.

Setidaknya, ketika aku masih berjuang melahirkan di atas meja operasi, Julian sudah membawanya ke hotel.

Saat aku keluar, dia berlari kembali dengan pakaian berantakan, tetapi mengaku pergi membelikanku cokelat.

Video kedua diambil pada hari anak kami genap satu bulan.

Entah siapa yang dalam keadaan mabuk, sempat menggendong bayi itu. Tak lama kemudian, sekujur tubuhnya dipenuhi ruam merah, napasnya mulai tersengal. Sang bayi segera dilarikan ke ruang gawat darurat.

Saat aku gemetar menunggu di lorong, Julian justru masuk ke ruang periksa lain, berbisik mesra dengan Marisha yang sedang jaga malam.

Video ketiga adalah saat aku sedang masa nifas, ketika dia beralasan pergi dinas luar kota.

Sebenarnya alasan Julian sangat ceroboh.

Perusahaannya semua didirikan olehku, mana mungkin aku tidak tahu apakah dia pergi dinas atau tidak.

Akan tetapi, kulihat dia terbangun berulang kali di malam hari karena tangisan anak.

Ini membuatku merasa iba dan membiarkannya keluar untuk bersantai sejenak.

Tak kusangka toleransiku justru memuluskan dia dan Marisha.

Alhasil, mereka berdua menikmati perjalanan berdua yang tak terusik, penuh kemesraan bak madu.

Tanganku yang memegang ponsel bergetar, aku membuka video terpanjang itu.

Begitu diputar, terdengar tangisan melengking.

Suara yang terlalu kukenal, tangisan anakku.

Dengan tangan gemetar, aku menggeser bilah pemutar.

Terdengar suara Marisha yang manis dan lengket.

"Kamu benar-benar membawa putramu ke sini supaya aku bisa latihan menerapkan jarum akupunktur, apa memang nggak masalah?"

Nada Julian terdengar santai.

"Kenapa nggak? Orang-orang itu selalu mempersulitmu karena kamu kurang tepat saat menerapkan terapi akupunktur."

"Latihan di alat peraga tetap nggak sebanding dengan praktik langsung."

"Kalau rasa sakit begini saja nggak sanggup ditahan, dia juga nggak pantas jadi anakku, Julian."

Dulu, aku selalu menganggap Julian adalah ayah yang layak.

Dari awal yang serba canggung, sampai kemudian terampil menepuk sendawa anak dan mengganti popok.

Terutama setelah dia berbohong soal dinas luar kota, dia justru makin cekatan dan teliti merawat anak.

Karena itu, aku pun dengan tenang membiarkannya membawa anak keluar sendirian.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 9

    "Julian, dengarkan baik-baik. Aku nggak akan pernah membiarkan anakku tahu bahwa dia punya ayah sekejam binatang sepertimu. Di akta kelahirannya, kolom ayah sebentar lagi akan kosong. Hidupnya nggak membutuhkan noda darimu."Julian seperti tersambar petir, wajahnya seketika pucat pasi.Melihat keputusasaannya, aku tiba-tiba teringat, sepertinya dia masih belum tahu, seperti apa sebenarnya "cinta sejatinya" itu."Namun, demi 'ketulusan' penyesalanmu, aku beri satu kabar. Marisha sudah mengaku semuanya. Sejak awal, dia mendekatimu karena uangmu.""Oh, dan juga tentang anaknya itu ...."Aku sengaja berhenti sejenak, melihat wajah Julian yang mendadak tegang, lalu berkata perlahan, "Berdasarkan perhitungan waktu dan beberapa riwayat pesan yang tanpa sengaja dia tinggalkan, anak itu sama sekali bukan milikmu.""Nggak mungkin! Kamu bohong!"Julian mendongak tajam, matanya merah menyala, hampir menerjang kaca."Dia sangat mencintaiku! Demi aku, dia ...."Dengan tenang, aku menambahkan pukulan

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 8

    Saat dia menemukanku, wajahnya pucat kekuningan, tetapi sorot matanya membawa keganasan nekat seolah sudah tak peduli lagi apa yang akan terjadi."Vianita, kamu! Kamu yang menghancurkan segalanya milikku! Menghancurkan pernikahanku, anakku, masa depanku!"Dia menuding sambil menjerit tajam.Aku dengan tenang mengaduk kopi di cangkirku, mengangkat mata menatapnya."Aku menghancurkanmu? Bukankah justru kamu sendiri yang memilih menyelusup ke dalam rumah tangga orang lain, mengkhianati etika profesi perawat, dan melukai seorang bayi yang nggak bersalah?"Marisha mendengus dingin. Di wajahnya tak tersisa lagi kepolosan malu-malu yang dulu dia pura-purakan, hanya tinggal kecemburuan dan kebencian yang tidak bisa ditutupi lagi."Ya! Aku memang sengaja, lalu kenapa? Aku sudah lama mengenalimu! Sejak hari aku datang ke studiomu, aku sudah mengenalimu!"Mendengar itu, aku menunduk sambil tersenyum tipis, ternyata benar.Marisha melangkah mendekat, merendahkan suara, tetapi kegilaan di dalamnya

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 7

    Sahabatku menatapku, ada sedikit kekhawatiran di matanya."Nita, begitu semua ini diajukan, ancaman hukuman Julian nggak akan singkat. Kamu ... sudah yakin? Ini mungkin akan memengaruhi penilaian latar belakang anak di masa depan, atau bidang-bidang tertentu yang membutuhkan pemeriksaan riwayat."Aku menerima map dokumen itu, terasa berat di tangan.Sambil menatap sinar matahari cerah di luar jendela, aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.Suaraku terdengar mantap."Yakin. Anakku akan memiliki bagian dariku. Kekayaan yang umumnya nggak akan bisa dikumpulkan orang seumur hidup, serta dana perwalian yang cukup untuk membuatnya hidup tanpa kekhawatiran sepanjang usia.""Dia nggak membutuhkan seorang ayah yang reputasinya hancur untuk menambah apa pun yang disebut 'kasih sayang ayah' ataupun 'latar belakang'."Sahabatku pun mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi.Sore itu juga, seluruh berkas bukti kejahatan Julian diserahkan dengan rapi kepada pihak kepolisian....

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 6

    Video itu dengan jelas memperlihatkan bagaimana Julian dan Marisha menjadikan putraku yang baru berusia dua bulan sebagai "alat peraga hidup".Wajah Julian pucat pasi, dan dia tak lagi mampu mengucapkan kata-kata permohonan ampun.Bu Elisa membelalakkan mata dengan tak percaya. Meski karena kehamilan Marisha membuatnya cenderung membela putranya, tetapi terhadap cucu yang didapat dengan susah payah ini, Bu Elisa benar-benar mempunyai rasa sayang yang tulus.Dia tiba-tiba menoleh tajam ke arah Julian, suaranya melengking."Julian! Ini ... ini benar? Bagaimana mungkin kamu ... bagaimana mungkin kamu memperlakukan anak kandungmu sendiri seperti ini?!"Walau tubuh Bu Elisa gemetar karena marah, dia tetap tak tega memukul anaknya sendiri.Saat melihat Marisha, dirinya langsung menemukan sasaran amarah dan pelampiasan.Dia menerjang ke atas panggung menuju Marisha yang masih gemetar ketakutan, lalu tanpa ragu mengayunkan tangannya, PLAK!"Ini pasti ulahmu! Pasti kamu, perempuan bejat, yang m

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 5

    Amarah di wajah Julian seketika digantikan oleh kepanikan. Dia berusaha memaksakan senyum, tetapi wajahnya tampak lebih buruk daripada menangis,"Nita, kamu ... kamu kok bisa ada di sini?"Belum sempat kalimat itu selesai, cat merah menyala di atas kepalanya kembali menetes ke matanya, membuat ketenangan yang coba dia pertahankan tampak makin menggelikan.Marisha berdiri terpaku di tempat, kedua tangannya secara alami melindungi perut bagian bawahnya dengan erat, wajahnya pucat pasi seperti kertas.Dia menatapku, lalu menatap Julian, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.Bu Elisa adalah yang pertama bereaksi. Wajahnya dipenuhi senyum menjilat sekaligus panik. Tanpa sadar dia hendak bergegas menarik tanganku.Namun kakinya menginjak cat, membuatnya tergelincir dan jatuh terjerembap ke lantai.Dia berusaha bangkit, tetapi karena lantai licin oleh cat, dia kembali terjatuh dengan keras.Para sesepuh yang barusan mengerubungi Marisha sambil memberi ucapan selamat, diam-diam menyindirku

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 4

    Saat dia dikucilkan rekan kerja, Julian-lah yang membelanya."Aku bisa bertemu pria seperti ini, benar-benar berkah dari beberapa kehidupan!"Melihat mereka saling bersahut dengan wajah munafik, aku hanya merasa mual.Aku sudah menyelidiki dengan jelas, pekerjaan perawat Marisha itu dibeli.Dia sama sekali tidak memahami pengetahuan medis apa pun.Bahkan mengikuti resep pun dia masih salah memberikan obat kepada pasien, membuat kondisi pasien makin parah, dan pada akhirnya rekan kerjanya-lah yang harus membereskan kekacauan itu.Namun Julian tidak peduli semua itu. Cukup Marisha meneteskan beberapa tetes air mata, dia tega menjadikan anakku alat peraga manusia bagi Marisha.Pada saat itu, Julian merangkul bahu Marisha dan menghadap penonton.Karena terlalu emosional, pria itu bahkan sempat tercekat hingga tak mampu berkata-kata."Hari ini, sebenarnya masih ada satu kabar baik lagi yang ingin kami sampaikan.""Risha hamil!""Kami akan segera menyambut anak pertama kami!"Penonton segera

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status