Share

Bab 4

Author: Jiji
Saat dia dikucilkan rekan kerja, Julian-lah yang membelanya.

"Aku bisa bertemu pria seperti ini, benar-benar berkah dari beberapa kehidupan!"

Melihat mereka saling bersahut dengan wajah munafik, aku hanya merasa mual.

Aku sudah menyelidiki dengan jelas, pekerjaan perawat Marisha itu dibeli.

Dia sama sekali tidak memahami pengetahuan medis apa pun.

Bahkan mengikuti resep pun dia masih salah memberikan obat kepada pasien, membuat kondisi pasien makin parah, dan pada akhirnya rekan kerjanya-lah yang harus membereskan kekacauan itu.

Namun Julian tidak peduli semua itu. Cukup Marisha meneteskan beberapa tetes air mata, dia tega menjadikan anakku alat peraga manusia bagi Marisha.

Pada saat itu, Julian merangkul bahu Marisha dan menghadap penonton.

Karena terlalu emosional, pria itu bahkan sempat tercekat hingga tak mampu berkata-kata.

"Hari ini, sebenarnya masih ada satu kabar baik lagi yang ingin kami sampaikan."

"Risha hamil!"

"Kami akan segera menyambut anak pertama kami!"

Penonton segera bergemuruh, seruan kaget bersahut-sahutan.

Di tengah hiruk-pikuk itu, aku mendengar dengan jelas paman yang pernah meminjam lebih dari empat miliar dariku, tertawa keras.

"Julian memang hebat! Karier sukses, keluarga bahagia, memang kebanggaan Keluarga Morin!"

Bi Shinta yang dulu membuatku mengerahkan segala koneksi untuk mengirim putrinya ke luar negeri, bertepuk tangan sambil menghapus air mata.

"Hebat sekali, dari pertama aku lihat Marisha, sudah tahu gadis ini membawa keberuntungan. Benar saja secepat ini mengandung cucu kesayangan keluarga kami!"

Ada pula adik Julian yang usahanya berkali-kali gagal, setiap kali akulah yang menjembatani jalannya, dia bahkan berdiri dengan penuh semangat.

"Kak, Kak Marisha! Semoga kalian segera memberiku keponakan laki-laki pertama!"

Mereka semua, satu per satu, pernah sungguh-sungguh menerima bantuanku, berutang budi padaku, menikmati kebaikanku.

Namun pada saat ini, tak satu pun mengingat keberadaanku, tak satu pun menyebut namaku.

Tepat saat itu, sepupu perempuan Julian yang berusia lima tahun tiba-tiba bersuara nyaring menyela sanjungan yang memenuhi ruangan, "Bukankah ini yang kedua? Kak Nita 'kan sudah melahirkan seorang keponakan laki-laki!"

Kepolosan kata-katanya membuat wajah Marisha seketika memucat, tubuhnya hampir roboh dan jatuh ke pelukan Julian, tatapannya kacau, penuh rasa bersalah dan keluhan.

Julian sendiri jelas sempat panik sesaat, tetapi segera bereaksi. Sambil memeluk Marisha erat dengan penuh rasa iba, dia melontarkan tatapan dingin ke arah sana, suaranya mendadak keras.

"Hanya yang kuakui, yang layak disebut anak pertamaku. Soal anak bajingan lain, nggak perlu dibahas lagi."

Mendengar itu, aku beremosi sampai kuku-kukuku menancap dalam ke telapak tangan.

Bertahun-tahun ini, Julian mengatakan menginginkan seorang anak.

Karena itu, aku telah menanggung segala penderitaan.

Minum obat, bayi tabung, bahkan meninggalkan karier, semua demi melahirkan buah cinta kami.

Pada akhirnya, yang kudapat hanyalah kalimat ringannya, "Anak bajingan lain, nggak perlu dibahas lagi!"

Melihat situasi itu, Bu Elisa langsung tersenyum dan mencoba meredakan suasana, "Hari bahagia seperti ini tak usah membicarakan hal-hal yang nggak berguna."

Sambil berkata begitu, dia memberi isyarat pada Julian, "Julian, upacara belum selesai, jangan sampai melewatkan waktu baik."

Ekspresi Julian melunak, dia perlahan mengeluarkan cincin berlian.

"Risha, sebelum bertemu denganmu, aku tak pernah mengerti apa itu cinta."

"Kamulah yang membuatku memahami seperti apa rasanya menikah dan punya anak."

"Apa kamu bersedia menikah denganku, dan membiarkanku melindungimu seumur hidup?"

Wajah Marisha sudah dibanjiri air mata, dengan gemetar dia mengulurkan tangannya.

"Aku bersedia."

"Julian, mulai hari ini, entah dalam suka maupun duka, aku akan selalu berada di sisimu."

Mereka lalu saling menukar cincin.

Di saat itu, seember cairan merah menyala tumpah dari atas kepala mereka, tepat mengguyur dua orang di atas panggung.

Seluruh tamu bangkit dengan gempar, teriakan menyebar ke seluruh aula.

Julian dengan canggung menyeka wajahnya, sepasang matanya terlihat penuh amarah.

"Mana perencana pernikahan? Pernikahan macam apa yang direncanakan ini?"

Menyapukan pandangan ke arah dua orang yang murka di panggung itu, aku beranjak dari kursiku dan melangkah perlahan ke depan.

"Kenapa? Kamu nggak puas sama pernikahan yang secara pribadi kurancang sebagai istri sahmu ini?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 9

    "Julian, dengarkan baik-baik. Aku nggak akan pernah membiarkan anakku tahu bahwa dia punya ayah sekejam binatang sepertimu. Di akta kelahirannya, kolom ayah sebentar lagi akan kosong. Hidupnya nggak membutuhkan noda darimu."Julian seperti tersambar petir, wajahnya seketika pucat pasi.Melihat keputusasaannya, aku tiba-tiba teringat, sepertinya dia masih belum tahu, seperti apa sebenarnya "cinta sejatinya" itu."Namun, demi 'ketulusan' penyesalanmu, aku beri satu kabar. Marisha sudah mengaku semuanya. Sejak awal, dia mendekatimu karena uangmu.""Oh, dan juga tentang anaknya itu ...."Aku sengaja berhenti sejenak, melihat wajah Julian yang mendadak tegang, lalu berkata perlahan, "Berdasarkan perhitungan waktu dan beberapa riwayat pesan yang tanpa sengaja dia tinggalkan, anak itu sama sekali bukan milikmu.""Nggak mungkin! Kamu bohong!"Julian mendongak tajam, matanya merah menyala, hampir menerjang kaca."Dia sangat mencintaiku! Demi aku, dia ...."Dengan tenang, aku menambahkan pukulan

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 8

    Saat dia menemukanku, wajahnya pucat kekuningan, tetapi sorot matanya membawa keganasan nekat seolah sudah tak peduli lagi apa yang akan terjadi."Vianita, kamu! Kamu yang menghancurkan segalanya milikku! Menghancurkan pernikahanku, anakku, masa depanku!"Dia menuding sambil menjerit tajam.Aku dengan tenang mengaduk kopi di cangkirku, mengangkat mata menatapnya."Aku menghancurkanmu? Bukankah justru kamu sendiri yang memilih menyelusup ke dalam rumah tangga orang lain, mengkhianati etika profesi perawat, dan melukai seorang bayi yang nggak bersalah?"Marisha mendengus dingin. Di wajahnya tak tersisa lagi kepolosan malu-malu yang dulu dia pura-purakan, hanya tinggal kecemburuan dan kebencian yang tidak bisa ditutupi lagi."Ya! Aku memang sengaja, lalu kenapa? Aku sudah lama mengenalimu! Sejak hari aku datang ke studiomu, aku sudah mengenalimu!"Mendengar itu, aku menunduk sambil tersenyum tipis, ternyata benar.Marisha melangkah mendekat, merendahkan suara, tetapi kegilaan di dalamnya

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 7

    Sahabatku menatapku, ada sedikit kekhawatiran di matanya."Nita, begitu semua ini diajukan, ancaman hukuman Julian nggak akan singkat. Kamu ... sudah yakin? Ini mungkin akan memengaruhi penilaian latar belakang anak di masa depan, atau bidang-bidang tertentu yang membutuhkan pemeriksaan riwayat."Aku menerima map dokumen itu, terasa berat di tangan.Sambil menatap sinar matahari cerah di luar jendela, aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.Suaraku terdengar mantap."Yakin. Anakku akan memiliki bagian dariku. Kekayaan yang umumnya nggak akan bisa dikumpulkan orang seumur hidup, serta dana perwalian yang cukup untuk membuatnya hidup tanpa kekhawatiran sepanjang usia.""Dia nggak membutuhkan seorang ayah yang reputasinya hancur untuk menambah apa pun yang disebut 'kasih sayang ayah' ataupun 'latar belakang'."Sahabatku pun mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi.Sore itu juga, seluruh berkas bukti kejahatan Julian diserahkan dengan rapi kepada pihak kepolisian....

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 6

    Video itu dengan jelas memperlihatkan bagaimana Julian dan Marisha menjadikan putraku yang baru berusia dua bulan sebagai "alat peraga hidup".Wajah Julian pucat pasi, dan dia tak lagi mampu mengucapkan kata-kata permohonan ampun.Bu Elisa membelalakkan mata dengan tak percaya. Meski karena kehamilan Marisha membuatnya cenderung membela putranya, tetapi terhadap cucu yang didapat dengan susah payah ini, Bu Elisa benar-benar mempunyai rasa sayang yang tulus.Dia tiba-tiba menoleh tajam ke arah Julian, suaranya melengking."Julian! Ini ... ini benar? Bagaimana mungkin kamu ... bagaimana mungkin kamu memperlakukan anak kandungmu sendiri seperti ini?!"Walau tubuh Bu Elisa gemetar karena marah, dia tetap tak tega memukul anaknya sendiri.Saat melihat Marisha, dirinya langsung menemukan sasaran amarah dan pelampiasan.Dia menerjang ke atas panggung menuju Marisha yang masih gemetar ketakutan, lalu tanpa ragu mengayunkan tangannya, PLAK!"Ini pasti ulahmu! Pasti kamu, perempuan bejat, yang m

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 5

    Amarah di wajah Julian seketika digantikan oleh kepanikan. Dia berusaha memaksakan senyum, tetapi wajahnya tampak lebih buruk daripada menangis,"Nita, kamu ... kamu kok bisa ada di sini?"Belum sempat kalimat itu selesai, cat merah menyala di atas kepalanya kembali menetes ke matanya, membuat ketenangan yang coba dia pertahankan tampak makin menggelikan.Marisha berdiri terpaku di tempat, kedua tangannya secara alami melindungi perut bagian bawahnya dengan erat, wajahnya pucat pasi seperti kertas.Dia menatapku, lalu menatap Julian, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.Bu Elisa adalah yang pertama bereaksi. Wajahnya dipenuhi senyum menjilat sekaligus panik. Tanpa sadar dia hendak bergegas menarik tanganku.Namun kakinya menginjak cat, membuatnya tergelincir dan jatuh terjerembap ke lantai.Dia berusaha bangkit, tetapi karena lantai licin oleh cat, dia kembali terjatuh dengan keras.Para sesepuh yang barusan mengerubungi Marisha sambil memberi ucapan selamat, diam-diam menyindirku

  • Akulah Perancang Pernikahan Suamiku   Bab 4

    Saat dia dikucilkan rekan kerja, Julian-lah yang membelanya."Aku bisa bertemu pria seperti ini, benar-benar berkah dari beberapa kehidupan!"Melihat mereka saling bersahut dengan wajah munafik, aku hanya merasa mual.Aku sudah menyelidiki dengan jelas, pekerjaan perawat Marisha itu dibeli.Dia sama sekali tidak memahami pengetahuan medis apa pun.Bahkan mengikuti resep pun dia masih salah memberikan obat kepada pasien, membuat kondisi pasien makin parah, dan pada akhirnya rekan kerjanya-lah yang harus membereskan kekacauan itu.Namun Julian tidak peduli semua itu. Cukup Marisha meneteskan beberapa tetes air mata, dia tega menjadikan anakku alat peraga manusia bagi Marisha.Pada saat itu, Julian merangkul bahu Marisha dan menghadap penonton.Karena terlalu emosional, pria itu bahkan sempat tercekat hingga tak mampu berkata-kata."Hari ini, sebenarnya masih ada satu kabar baik lagi yang ingin kami sampaikan.""Risha hamil!""Kami akan segera menyambut anak pertama kami!"Penonton segera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status