Share

Bab 3

Author: Jihan
Hatiku terasa seperti ditusuk ribuan jarum.

Aku menahan diri mati-matian agar tidak memikirkan semua kenangan itu, tetapi ingatan itu tetap datang seperti ombak besar yang hampir menelanku.

Kevin ....

Apa dia memang hanya memperlakukanku seperti ini?

Dia ... Selalu menganggapku kotor.

Ketika Kevin kembali, pengacaraku sudah mengirimkan kontrak yang telah dicetak ke kamar rawat inap.

Aku membuka tutup pena dan menyerahkan kepadanya, “Tanda tanganilah.”

Kevin refleks hendak menerimanya. Namun melihat bahwa pena itu berada di tanganku, tangannya yang menggantung di udara langsung ditarik kembali.

Sorot matanya sedikit berubah. Setelah terdiam beberapa saat, dia berpura-pura santai dan bertanya, “Kontrak apa?”

Aku menjawab seadanya, “Kontrak kecil.”

Kevin langsung mengerti, “Kontrak kerja sama dengan Grup Vernon yang sebelumnya kamu bantu hubungkan itu, ya? Taruh saja di sana, nanti kutanda tangani.”

Aku menatapnya tanpa berkedip, “Tanda tangani sekarang. Kevin, kenapa kamu tidak mau tanda tangan? Hanya karena aku sudah menyentuh pena ini, kamu jadi tidak mau memakainya, ya?”

Kevin menghela napas, “Felly, jangan berpikir sembarangan. Justru karena menganggapmu sebagai wanita, aku baru akan alergi saat menyentuhmu. Itu bukti kalau aku mencintaimu. Jangan cemburu tanpa alasan.”

Setelah berkata demikian, Kevin mengalihkan pandangannya dariku.

Dia duduk di tempat yang tadi diduduki Vera, lalu mengangkat dagunya ke arah wanita itu “Vera, sebagai asisten pribadiku, tolong tanda tangani kontrak ini. Kerja sama ini didapatkan oleh Felly dan aku percaya padanya. Langsung tanda tangan saja.”

Vera mengedipkan mata dengan nakal, “Siap, Direktur.”

Kemudian dia mengambil kontrak dari tanganku, membalik ke halaman terakhir dan dengan cekatan meniru tanda tangan Kevin.

Saat hendak membubuhkan stempel pribadi Kevin, Vera tampaknya menyadari bahwa itu adalah surat perjanjian perceraian.

Dia menatapku dengan penuh arti. Namun pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa.

“Kevin, kontraknya sudah ditandatangani. Aku simpan di tasmu, ya.”

Kevin mengangguk malas dan meletakkan ponselnya, “Felly, jangan marah lagi. Aku sudah memesan makan malam di restoran sky dining. Malam ini aku akan mengajakmu makan enak ya.”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

Aku tertawa sinis, “Kevin, apa kamu lupa aku baru saja menjalani prosedur bayi tabung? Apa kamu masih ingat kalau aku sedang hamil?”

Kevin tersinggung dan merasa dipermalukan. Raut wajahnya berubah antara merah dan pucat, lalu akhirnya dia tidak bisa menahan diri dan memasang wajah marah.

“Bisakah kamu berhenti bersikap berlebihan? Aku sudah bilang bahwa tubuhmu sebenarnya tidak cocok untuk hamil. Bukankah dirimu sendiri yang bersikeras ingin punya anak? Aku alergi terhadap perempuan dan tidak bisa melakukan hal seperti itu. Kamu sudah tahu sejak awal bahwa satu-satunya cara adalah bayi tabung.”

“Semua ini pilihanmu sendiri. Sekarang kenapa malah menyalahkanku?”

“Aku setiap hari sangat sibuk dan masih harus meluangkan waktu untuk menemani dan menenangkanmu. Sebenarnya apa lagi yang kamu inginkan?”

Setelah mengatakan itu, Kevin berdiri dan mengenakan jasnya, “Awalnya aku ingin merayakan keberhasilan kontrak dengan Grup Vernon bersamamu. Tetapi karena kamu tidak mau pergi, aku akan mengajak Vera dan rekan-rekan kantor makan malam saja. Beristirahatlah sendiri.”

Mendengar itu, Vera langsung menempel padanya. Dia menarik lengan baju Kevin sambil bermanja-manja, “Baik! Baik! Kevin, sudah lama sekali kita tidak pergi makan bersama. Malam ini kita harus bersenang-senang sampai puas!”

Aku menatap pemandangan di depan mataku.

Tiba-tiba kepalaku terasa berputar. Perut bagian bawahku kejang hebat. Hatiku langsung dipenuhi firasat buruk.

Aku buru-buru menarik lengan Kevin, “Kevin ... anak kita ....”

Siapa sangka, wajah Kevin seketika dipenuhi ketakutan. Seolah-olah dia melihat wabah penyakit yang mematikan dan mundur satu langkah lalu mendorongku hingga terjatuh.

“Kubilang jangan menyetuhku! Aku akan alergi! Aku bisa mati!”

Kevin langsung melepas jasnya. Bagian yang tadi kusentuh sudah memerah dan membengkak.

Sementara itu, punggungku membentur sudut dinding dengan keras. Rasa sakitnya membuatku terengah-engah.

Saat membuka mata lagi, cairan bercampur darah sudah mengalir dari bawah tubuhku.

Aku ketakutan.

Sambil menahan rasa sakit, aku meraih lengan Kevin dan memohon, “Tolong selamatkan anakku ... Tolong selamatkan anakku ....”

Namun melihat tangannya yang kusentuh mulai membengkak dan masih terdapat darah serta cairan tubuhku di sana, dia langsung panik seperti orang kehilangan akal.

Kevin mendorongku menjauh dengan kasar.

Sambil muntah-muntah karena jijik, dia melepaskan seluruh pakaian atasnya dan berlari masuk ke kamar mandi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Alergi Wanita, Tetapi Malah Selingkuh   Bab 10

    “Tentu saja! Aku sudah mengambil risiko besar untuk menculiknya. Kalau tidak segera diselamatkan, dia bisa diselamatkan oleh orang lain. Kita harus cepat!”“Hanya saja kamu harus sedikit berkorban. Setelah ini kita harus menjaga jarak di depan umum, mengerti? Kalau tidak, aku akan sulit mendekatinya. Ketika aku berhasil mendapatkannya dan menguasai sumber dayanya, aku akan membawamu masuk ke keluarga.”“Baik, Kevin, aku mau kamu berjanji tidak menyentuhnya sedikit pun. Kalau tidak, aku akan membongkar semuanya!”“Tentu saja. Dia sudah dipermainkan hingga seperti itu, aku bahkan merasa jijik menyentuhnya.”Kevin terkejut, “Felly … dari mana kamu mendapatkan ini? Ini percakapan kami di dalam mobil bekas itu. Tidak mungkin ada yang tahu .…”Aku tersenyum tipis, “Sekarang aku adalah Nyonya Vernon. Apa yang tidak bisa kucari?”Mata Kevin memerah. Dia berlutut dengan satu kaki, “Felly, aku benar-benar salah! Mungkin dulu aku punya niat buruk, tetapi selama tiga tahun ini aku bersungguh-sungg

  • Alergi Wanita, Tetapi Malah Selingkuh   Bab 9

    Robin menyeka sepatu kulitnya dengan jijik, lalu berkata datar, “Kenapa? Kalian kira aku tidak memukul wanita?”Begitu Vera tidak berani berkata apa-apa lagi, dia melempar setumpuk dokumen ke depan mereka berdua.“Awalnya aku menyusup ke perusahaan kalian hanya untuk melindungi Felly. Tidak kusangka kalian begitu bodoh. Aku hanya perlu sedikit memeriksa lalu sudah penuh bukti korupsi dan penggelapan. Bahkan laporan keuangan palsu kalian cukup rapi.”“Karena sudah terlanjur datang dan aku juga tidak punya jamuan khusus untuk kalian ... Jadi anggap saja aku mengundang kalian untuk menikmati beberapa hari di balik jeruji besi.”Melihat polisi yang masuk, Kevin benar-benar panik.“Robin! Kamu berani menangkapku?! Kamu merebut istriku, menghancurkan perusahaanku, dan sekarang mau memasukkanku ke penjara?! Aku akan mengingatmu!”“Tunggu saja! Kamu pikir Keluarga Ace mudah dipermainkan?!”Robin bahkan tidak mengangkat kepalanya. Dia melambaikan tangan, memberi isyarat agar mereka dibawa pergi

  • Alergi Wanita, Tetapi Malah Selingkuh   Bab 8

    Kevin hanya meremas surat perjanjian perceraian itu, lalu melemparkannya ke tempat sampah.“Felly, hari ini kamu harus menjelaskan semuanya padaku! Kamu pasti masih mencintaiku dan hanya sedang marah, kan? Aku tidak setuju! Jadi jangan harap bisa bercerai!”Vera sudah tidak tahan lagi.Dia menarik Kevin dengan sekuat tenaga, “Kevin, kamu gila ya?! Tidak tahu malu! Kalian sudah bercerai! Cepat ikut aku pergi!”Namun kemudian, pintu dikunci oleh para pengawal.Robin bersandar di pintu dan berkata santai, “Kalian menganggap tempat Keluarga Vernon ini sebagai pasar, ya? Mau datang dan pergi seenaknya? Sudah cukup lama kamu berbincang dengan istriku, sekarang giliranku yang bicara, kan?”Robin melangkah ke arahku.Dia merapikan selimutku yang kusut dengan lembut. Lalu menyisir rambutku dengan hati-hati, “Aku membelikanmu minuman manis saat perjalanan pulang. Kamu dulu sangat suka ini.”Melihatku bisa minum dengan baik, Robin perlahan melepas jas dan kacamata hitamnya.Pada saat itu juga,

  • Alergi Wanita, Tetapi Malah Selingkuh   Bab 7

    Setelah berkata demikian, Kevin pun memejamkan mata.Dengan ekspresi seolah siap menerima hukuman apa pun, dia menggenggam tanganku dan hendak menamparkan tanganku ke wajahnya sendiri.Aku menarik tanganku kembali dan berkata datar, “Sudahlah.”Lucu sekali.Selama tiga tahun pernikahan, aku harus berjalan sampai di ambang kematian terlebih dahulu sebelum akhirnya mendapat “anugerah” berupa sentuhan dari suamiku sendiri.Sudahlah. Aku merasa jijik dan kotor.Kevin hendak mengatakan sesuatu ketika asistennya menerobos masuk dengan wajah panik.“Gawat, Direktur! Grup Vernon membatalkan kerja sama dengan kita! Arus kas perusahaan sudah tidak sanggup menutup kebutuhan operasional! Dan barusan Grup Vernon mengadakan konferensi pers yang menyatakan bahwa siapa pun yang masih bekerja sama dengan perusahaan kita akan dimasukkan ke daftar hitam grup mereka!”“Begitu mendengar kabar itu, para investor langsung menarik dana mereka! Perusahaan kita akan bangkrut!”“Apa?!”Vera bahkan terlihat lebih

  • Alergi Wanita, Tetapi Malah Selingkuh   Bab 6

    Kini aku akhirnya mengerti.Ternyata dia hanya jijik pada aku. Semua penjelasan yang selama ini diberikan hanyalah alasan untuk menutupi rasa muaknya terhadapku.Melihatku mulai melambat, Robin mengulurkan punggung tangannya dan menyentuh dahiku untuk memastikan apakah demamku sudah turun.Setelah itu dia menjentik pelan dahiku, “Jangan melamun saat makan. Fokuslah.”Melihatku tetap meminum seteguk lalu berhenti lama, dia langsung mengambil mangkukku dan mencicipinya.Dia mengernyit, “Benar juga, rasanya berubah setelah dingin. Jangan diminum lagi. Aku ambilkan yang baru.”Aku pun mengangguk. Menurut seperti gadis polos yang belum mengenal dunia lima tahun lalu.Ketika Robin pergi ke kantor untuk mengurus beberapa urusan, aku sendirian di kamar rawat sambil mempelajari proposal proyek Grup Vernon.Bisnis Keluarga Amour sebenarnya bukan urusanku. Karena ingin memberiku kesibukan, Robin mengusulkan agar aku membeli saham Grup Vernon sekaligus menjabat sebagai direktur umum di salah satu

  • Alergi Wanita, Tetapi Malah Selingkuh   Bab 5

    Saat tersadar kembali, aku sudah dipindahkan ke rumah sakit swasta. Robin berdiri di hadapanku dengan lingkar mata yang menghitam karena kurang tidur.Aku bertanya dengan suara serak, “Kenapa kamu datang?”Dia menjawab pelan, “Saat kamu mengirim pesan kepadaku, aku merasa ada yang tidak beres dengan emosimu. Jadi aku diam-diam melacak lokasi ponselmu dan menemukan bahwa kamu berada di rumah sakit.”“Aku khawatir sesuatu terjadi padamu, jadi langsung bergegas ke sini. Untung saja aku datang tepat waktu ....”Saat mengatakan itu, mata Robin sedikit memerah.Pria bertubuh tinggi 186 sentimeter yang biasanya tampak kuat itu kini mengusap punggung tanganku dengan hati-hati. Dia terlihat sedih seperti anak kecil yang ketakutan.“Felly ... kamu benar-benar mengejutkanku. Aku baru saja mendapatkanmu kembali. Kukira kamu akan meninggalkanku lagi.”Aku memaksakan sebuah senyum.Merasakan tubuhku yang baru saja kembali dari ambang kematian, aku berkata dengan lemah, “Tidak akan. Kali ini, aku ing

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status