LOGINWhen Alina Diaz, pride of her parents and village sweetheart is awarded a scholarship to study in America, everything seems perfect. Not only is she making history in her town but also setting the path for her younger ones to follow. Her life takes a tragic turn when she gets pregnant abroad and is forced to forfeit her scholarship. Now with her hope of a better life for herself and her family crushed, what happens from here? Instead of going back to Colombia in shame she chooses to stay back and fight for her survival. When her charming new billionaire boss falls for her and goes undercover to capture her heart, will Alina fall for his charms or has she had her fill of love?
View MoreSagara, dalam keputusasaan akibat pengusiran oleh ayah tirinya, menghadapi dilema tentang tempat tinggal yang layak baginya. Satu-satunya warisan yang dimilikinya kini hanyalah sebuah mobil hitam yang ditinggalkan oleh ayah yang telah tiada selamanya.
"Damar yang tak berbelas kasihan! Arrghhh!" teriaknya, diikuti dengan tendangan keras ke ban mobilnya. Ia juga menarik rambutnya dengan keras sebelum memejamkan matanya.
"Ke mana lagi saya harus pergi? Tabungan saya hanya cukup untuk bertahan seminggu," ucapnya dengan lirih, sambil mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya.
Saat ia hendak kembali ke dalam mobilnya, mata Sagara menangkap sosok yang berdiri di tepi jembatan, tampaknya siap untuk melompat ke bawah.
"Hei! Jangan melakukannya!" serunya, lalu ia berlari menuju perempuan tersebut dengan secepat mungkin.
"Jangan melakukannya!" ucap Sagara lagi, sambil menarik tubuh perempuan itu sehingga keduanya terjatuh ke aspal.
Meskipun terkesan tidak senang dengan bantuan yang diberikan, Hanna Andira memandang tajam wajah Sagara seolah-olah tidak menyukai fakta bahwa ia harus diselamatkan.
"Anda tidak perlu menolong saya! Saya tidak membutuhkan bantuan anda!" kata Hanna dengan penuh kekesalan.
Sagara menatap wajah Hanna yang sedang menangis. Pandangannya kemudian turun ke arah perut yang agak membuncit, menunjukkan bahwa perempuan itu sedang mengandung.
“Kamu sedang mengandung. Mengapa kamu ingin mengakhiri hidupmu seperti ini, huh? Apakah kamu benar-benar ingin mengakhiri segalanya dengan sia-sia?” ucap Sagara, sedikit kesal atas tindakan Hanna sebelumnya.
Hanna mendengus dengan kasar. “Orang yang menghamiliku saja tidak peduli padaku. Mengapa kamu begitu peduli padaku? Biarkan aku mati! Ayah dari anak ini juga sudah tidak peduli lagi padaku! Aku ingin mati bersama anak ini yang sedang aku kandung!”
Hanna bangkit dari duduknya lagi dan hendak menuju sungai yang mengalir deras di bawah sana. Sagara menahan tangan Hanna dan menghela napasnya panjang.
“Jangan lakukan itu. Kamu butuh seorang ayah untuk anak ini? Aku akan menikahimu. Saat ini, aku membutuhkan tempat tinggal. Aku akan bertanggung jawab atas kehamilanmu ini.”
Hanna tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sagara. “Apa? Kamu gila? Bagaimana bisa itu terjadi? Siapa namamu?” tanya Hanna.
“Sagara. Sagara. Aku butuh tempat tinggal, aku baru saja diusir oleh ayah tiriku. Ini semacam simbiosis mutualisme. Tolong!”
Hanna menelan ludahnya dan menatap wajah Sagara sekali lagi. “Apakah kamu yakin, ingin menikah denganku dan bertanggung jawab sebagai ayah bagi anakku?”
“Iya. Siapa namamu? Kita akan langsung pergi ke rumahmu sekarang jika kamu tidak percaya bahwa aku akan menikahimu. Kita akan bertemu dengan orangtuamu sekarang juga,” ujar Sagara.
Hanna menghela napas panjang. “Hanna. Aku tidak yakin bahwa kamu akan melanjutkan niatmu ini setelah bertemu dengan kedua orangtuaku, Sagara.”
“Kita akan mencoba. Selama kamu mau bekerja sama,” jawab Sagara.
Hanna terdiam sejenak, namun akhirnya menerima tawaran dari lelaki tersebut.
Keduanya pun berangkat ke rumah orangtua Hanna untuk meminta restu.
*Bugh!*
Sebuah hantaman keras mendarat dengan sempurna di wajah Sagara. Itu merupakan sambutan yang diberikan oleh ayah Hanna setelah Sagara menjelaskan maksud dan tujuannya datang.
“Berani sekali kamu menghamili anak saya dan hanya meminta maaf karena telah membuatnya hamil! Brengsek!” bentak calon mertua yang memberikan pukulan tersebut.
Itu bukan kali pertama, dan kemungkinan bukan juga yang terakhir. Sagara harus bersabar menahan rasa sakit.
“Sekali lagi saya mohon maaf, Pak. Saya minta maaf atas kesalahan yang saya lakukan. Kedatangan saya ke sini adalah untuk bertanggung jawab. Saya akan menjadi suami yang baik bagi Hanna,” ujar Sagara, setelah Krisna, calon mertuanya itu, berhenti meninju.
Sagara memang datang untuk melamar Hanna yang sedang hamil. Namun, dia bukanlah ayah dari bayi yang dikandung Hanna. Itu hanyalah pura-pura belaka.
“Kamu pikir, dengan hanya mengatakan bahwa kamu akan bertanggung jawab dan menikahi anak saya, saya akan luluh? Tidak! Tidak semudah itu!" bentak Krisna, menatap tajam wajah Sagara yang penuh dengan lebam.
“Saya mohon, Pak. Izinkan saya untuk menikahi putri Bapak," pinta Sagara, sambil tetap menahan rasa sakit di beberapa titik di wajahnya.
“Siapa namamu?! Dan sejak kapan kalian menjalin hubungan?!” tanya Krisna dengan kasar.
“Nama saya Sagara, Pak. Kami sudah menjalin hubungan selama enam bulan terakhir. Kehamilan Hanna sudah memasuki usia tiga bulan. Kami baru mengetahuinya karena Hanna baru saja melakukan tes kehamilan. Dia datang kepada saya dan memberitahu bahwa dia sedang hamil,” jelaskannya dengan tenang.
Namun, Krisna mengubah ekspresinya ketika mendengar penjelasan yang benar-benar dia karang sendiri oleh Sagara. Hanya demi keinginan untuk menumpang hidup, Sagara rela melakukan segala sesuatu asalkan bisa menikahi Hanna.
“Saya berjanji akan membuat Hanna bahagia seperti yang telah kami lakukan selama kami menjalin hubungan. Kita harus segera melaksanakan pernikahan ini, mengingat usia kandungan Hanna sudah tiga bulan,” tambahnya kemudian.
*Bugh!*
Krisna kembali memukul Sagara.
“Papa! Berhenti memukul Sagara lagi. Dia sudah setuju untuk bertanggung jawab. Coba pikir, kalau dia kabur! Sudahlah, Pa. Jangan bersikap arogan seperti ini!” seru Sinta—istri Krisna dan ibu dari Hanna.
“Diam! Saya sedang menghukum anak ini. Dia telah membuat keluarga kita malu. Ini adalah aib, Sinta! Aib!” pekik Krisna sambil memegang kerah kemeja Sagara.
Tidak ada perlawanan sedikit pun dari Sagara. Ia pasrah, seolah-olah memang dialah yang telah menghamili Hanna. Pria itu malah menatap Hanna yang tengah menangis, mengulas senyum tipis, lalu kembali menatap Krisna.
“Apa yang ingin Bapak lakukan pada saya, lakukanlah. Asalkan izinkan saya bertanggung jawab dan menikahi Hanna. Saya mencintainya, Pak. Saya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan padanya,” ujar Sagara, memohon kepada Krisna.
Pria itu sangat pandai dalam bertutur kata, membuat Krisna bingung dan tak tahu lagi harus berkata apa. Sorot mata yang penuh dengan ketidaksetujuan terlihat jelas pada Sagara.
“Siapa nama asli kamu?” tanya Krisna datar.
“Sagara.”
“Di mana kamu tinggal? Apa pekerjaanmu?”
Sagara menelan ludahnya, karena tidak bisa memberikan jawaban yang sebenarnya tidak ia miliki.
“Saya tinggal di Perumahan Indah Permai, Pak. Saya tidak memiliki pekerjaan tetap karena saya masih kuliah. Mungkin saya tidak akan melanjutkan S2 karena akan fokus pada pernikahan kami. Tetapi, jangan khawatir, setelah kami menikah, saya akan mencari pekerjaan untuk menafkahi Hanna dan calon anak kami,” jelaskannya dengan jujur.
Hanna merasa iba mendengar penjelasan Sagara yang tulus. Tidak punya pekerjaan, padahal ia adalah pewaris tunggal Anumerta Corporation—yang sekarang sudah dirampas oleh ayah tirinya, Damar.
“Cih!” Krisna mendecak kesal. “Tidak punya pekerjaan! Masih mahasiswa, masih bau kencur, dan berani menghamili anak saya! Di mana orang tua kamu? Biar saya yang menghadap langsung.”
Epilogue | Two Years LaterNiguez sprinted down the stairs and skidded to a stop in front of Trent. "Hola, Dad," he grinned. "¿Cómo estás, hijo?" Trent leaned down, giving the kid a fist bump as they did their signature handshakes. Niguez frowned a little, finding it hard to understand Spanish. Trent grinned with a knowing smile. "Don't worry about it; you're in Colombia, so it'll come naturally."Trent had married Alina two years ago and adopted Niguez, vowing to take care of them for as long as he lived. He had amassed wealth, ensuring Alina's financial security. He still traveled to America for business but built mansions in Colombia, where they resided. At Alina's request, he started a small company in Colombia and sent her back to university to study Business, hoping she would become a CEO in a couple of years.The doorbell rang, and Niguez rushed to the door, hoping Alina was back. A tall man in a bright red suit, stood at the doorway with a small smile. — Clarence. "Hey,
—Alina pov I work in beside Trent. He give his sister Evelyn a hard stare and proceeded to enter the room, slipping into the chair opposite her. This is the first time that I met with her and for some reason, I didn't like the superior look she gave him. Did she even know who he was?He was CEO Alexander, everyone in America had heard of him. Who gave her the right to even stare directly at him?Then I reminded myself that she was his sister, and being directly related to him gave her that kind of leverage. From what I heard of her, she was a pain in the ass. And meeting her now, I didn't exactly have any reason to think any different. He promised me that this will be the last time she would come between us and I believed him. It was time we settled this matter for good.I already the basics about his sister she was beautiful and deadly with her brown hair and cunning blue eyes. I also knew that she was dangerous and mafe his life a living hell until he was forced to leave Britain
TRENT povI managed to control my emotions and look away from Alina. My eyes roamed across the hall and fell on Gomes Allen. The latter glared at me and I could see his muscles clench. Oh I was sure he could do without my presence. It made me smile a little. He should be shaking in his boots at the sight of me. His eyes narrowed on my expensive clothes that match his, my identity card as CEO Alexander in full view. That's right, enjoy the view mother fucker because I'm not hiding anymore. “Can I help you young man?” the judge looked up at me with a flicker of surprise. “I have evidence that changes everything. ” my hands tightened around the document in my hand. I had it printed out in the jet and made copies of it. Clarence was a real genius and I couldn't wait to see the look on Gomes' face when I pulled off his mask in front of everyone. I might have hidden my identity but he was the real fraud.I marched forward and stopped in front of the witness box. My eyes locked with
Trent pov A day had passed. I sat in the board room with Clarence by my side. We were around a big round table where about six powerful figures sat, trying to engage me in a conversation. I was dressed in a half a million dollar red suit and black pants, the CEO look complete with cufflinks and I might have taken extra time styling my hair that morning. I checked my swizz watch for the fourth time since the meeting. I maintained a fuck off look with an expressionless gaze that could pass off for bored. Your darling CEO Alexander was back. “Shouldn't we at least have an explanation for your disappearance for almost three years?” one of the men demanded. I seemed to remember him to be one of my long term partners... Now let me check if I gave a fuck. I looked up from my phone. It was still on my chat with Alina. I had been staring at it all morning, expecting a word or two from her. I would even go with “fuck you Trent.” Her silence was worse that her an
TRENT povWe sat in the restaurant, an unmistakable tension building up in the air. I wished that she would say something instead of looking at me with her lips slightly parted in confusion as she waited for me to drop the next bomb. I couldn't believe that I was taking Clarence's advice. It just see
Alina PovI couldn't stop thinking about Niguez's birthday. My whole world has flipped from the minute he stepped a foot into the house and he would see me in court. Like hell he would. Who did he think he was, trying to take my son away from me?I was more protective of Niguez now, and it broke me e
TRENT'S POV —I glare at the documents in front of me. Working from home and having Clarence over was the worst idea I had ever came through with. I left Alina at my apartment. It was safe to say that she needed some space. Plus I badly wanted to strangle the mother fucker Gomes Allen for daring to s
ALINA'S POV —Nothing was happening... That's usually my cue to figure out that there is something terrible going on in the background and I just don't know all about it yet. It was hard to actually think that Gomes was smart enough to heed to my warning and stay the fuck away from us. Not that I was






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.