LOGINMaya looked at the broad back of Alpha Ashton, had not intended to eavesdrop on his conversation with his beta.What was she supposed to do now? She was just a lonely omega who has been enslaved ever since she was a little child.She didn't know anything concerning her life and worst of all, her wolf has not even awakened.But something deep inside told her that if she did not take this step, she will regret for the rest of her life.Thus with all the courage she has accumulated over the years, Maya approached the almighty Alpha Ashton."Alpha, I did not intend to listen to your conversation but..." Maya said with her head lowered."I mean, we can make a deal, how about you take me as your Luna and we can discuss the terms?"Alpha Ashton looked at her with a very dangerous gaze but just as his beta was about to make a move, he stopped him."Okay." He replied.
View More"Eh, dengar-dengar si Hamid habis nikah sama istrinya itu jadi jarang pulang ya?”
Langkah Analea terhenti saat mendengar nama suaminya disebut ketika ia ingin keluar membeli sayur. Wanita sederhana berusia 24 tahun yang mengenakan daster murahan itu terpaku di balik pintu. Rambut panjangnya yang hitam ia selipkan di balik telinga, ingin mempertajam pendengaran tentang obrolan itu."Beneran, Mbak?” Suara lain menyahut. “Tapi nggak heran sih. Aku malah dengar kalau istrinya Hamid itu anak pelacur!" Dada Analea semakin sesak mendengar kalimat yang keluar dari mulut para tetangganya itu. Tubuhnya yang tadi tegak, seketika lemas."Ih, kalau ibunya pelacur, jangan-jangan anaknya nggak perawan lagi."Terdengar suara tawa mengejek dari beberapa tetangga lain yang sedang memilih sayuran."Wah, kalau gitu kasian Hamid, dong. Dapat istri udah nggak perawan. Duh, mana anaknya Bu Irma itu gantengnya selangit, kerja kantoran pula. Sayang banget malah nikah sama pelacur." "Waduh! Jangan-jangan si Hamid jarang pulang karena punya istrinya udah gak rapet," cetus seorang ibu-ibu."Oh! Jangan-jangan si Hamid jarang pulang karena sudah punya wanita lain di luar sana," timpal tetangga lainnya, kembali berasumsi.Tubuh Analea semakin menegang. Tidak hanya menghina ibu angkat yang telah membesarkan dirinya, para tetangga itu juga menjadikan urusan rumah tangga Analea sebagai bahan gunjingan. Di depan rumahnya, pula!Namun, Analea tidak mungkin marah dan membuat keributan di depan rumah mertuanya ini. Apalagi ia baru tiga minggu tinggal di rumah itu sebagai menantu.Baru saja, Analea hendak membuka pintu, kembali terdengar suara salah satu tetangganya bicara sedikit pelan, tapi tetap terdengar jelas olehnya."Sssttt ... denger-denger nih, katanya mereka tidurnya udah nggak satu kamar, loh!" Betapa terkejutnya Analea mendengar ucapan tetanggaanya itu."Bagaimana bisa …?" gumam Analea, tidak menyangka. Meskipun kabar tersebut benar, tetapi hal itu tidak seharusnya diketahui oleh para tetangga di sekitar rumahnya.Sedetik kemudian, wanita berhidung mancung itu menarik napas panjang seraya memejamkan netra bulatnya, menenangkan diri.Setelah tenang, Analea membuka mata dan melanjutkan langkahnya, menghampiri para tetangga yang sejak tadi sibuk membicarakannya."Selamat pagi, Ibu-Ibu!" sapa Analea dengan senyum manisnya. Para tetangga yang tadi membicarakannya spontan terdiam dan terkejut. Ada yang saling colek, ada pula yang saling mencibir dengan lirikan sinis ke arah Analea. Wanita berwajah oval itu pura-pura tidak tahu. Ia tetap berusaha fokus memilih belanjaannya."Eeh ..., Mbak Ana. Tumben belanja. Biasanya Bu Irma yang belanja dan masak."Analea hanya membalas dengan senyuman pertanyaan seorang ibu yang berdiri di sebelahnya. Ada serenteng gelang emas di pergelangan tangan kanannya, terpampang saat ibu itu meraih satu papan tempe di hadapan Analea.“Iya, Ibu lagi ada urusan, jadi saya yang gantikan,” jawab Analea singkat, membuat para ibu-ibu mengangguk-anggukan kepala penuh arti."Ngomong-ngomong, Mas Hamidnya ke mana, Mbak?” Kali ini ibu-ibu di depan Analea bertanya saat Analea hendak membayar belanjaan. Nadanya terdengar menyindir. Tampaknya, ibu-ibu satu inilah yang menjadi pemimpin perkumpulan gosip ini. “Kok jarang kelihatan, sih? Padahal pengantin baru, loh!" "Harusnya tuh, ya. Pengantin baru itu ke mana-mana berdua. Bulan madu, kek. Ini kok yang lakinya malah jarang di rumah." lanjut ibu itu lagi dengan senyuman sinis.Mendengar ucapan itu, para tetangga yang lainnya menoleh pada Analea yang masih saja tersenyum."Suami saya kerja, Bu,” jawab wanita berkulit putih tersebut sembari mengambil belanjaannya. Ia mencoba tetap tampak tenang, meskipun hatinya sudah merasa sangat tidak nyaman. “Maaf Ibu-ibu, Saya sudah selesai. Pamit masuk dulu!" Analea mengangguk ramah, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dengan dada bergemuruh. Air mata telah membendung di kedua kelopak matanya, tetapi alih-alih meloloskan emosinya meskipun tidak ada orang di rumah, wanita itu memilih untuk memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.“Tidak. Itu hanya gosip biasa,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Itu biasa terjadi.”Setelah berhasil menenangkan diri, Analea melangkah ke dapur dan mulai memilah bahan belanjaan untuk dimasak hari ini. Akan tetapi, tidak dapat ditahan, ucapan-ucapan para tetangganya tadi terngiang di kepala.Sebenarnya Analea memang menyadari. Sejak menikah tiga minggu yang lalu, sikap Hamid padanya sangat jauh berbeda dibanding masa mereka pacaran. Hamid kini lebih dingin padanya. Suaminya itu juga kerap kali pulang larut malam.Selama ini Analea berusaha berpikir positif saja. Mungkin suaminya itu sedang banyak pekerjaan di kantor. Namun, setelah mendengar obrolan tetangganya tadi, Analea sempat menduga-duga sesuatu yang tidak ia harapkan.Apa benar Hamid punya wanita lain? Apa benar Hamid mempermasalahkan asal usul Analea? Akan tetapi, bukankah sejak awal ia tahu asal Analea dari mana? Yang paling utama dan paling mengganggu adalah … dari mana para tetangga itu tahu kalau mereka tidak tidur di kamar yang sama?! Wajah Analea mendadak pucat. Rasa khawatir yang amat besar pada pernikahannya mulai menyelimuti hatinya."Mas, Aku mau bicara, boleh?" Malam harinya, Analea menghampiri Hamid saat suaminya itu selesai membersihkan diri."Aku capek. Mau tidur," sahut Hamid dingin tanpa menoleh pada sang istri . Pria bertubuh gempal itu meraih kaos dan celana pendek yang sudah disediakan oleh Analea di tepi ranjang, lalu memakainya.Analea merasa dadanya penuh sesak melihat sikap suaminya tersebut."Tapi ini penting, Mas. Aku merasa sikap Mas padaku berubah. Kenapa, Mas?" Ekspresi Hamid seketika menggelap. "Sudah aku bilang aku capek!" sentaknya. Suara pria berumur 27 tahun itu semakin meninggi. "Tapi, Mas–""Berisik! Aku mau tidur di kamar tamu aja!" bentak Hamid pada Analea. Ia membuka pintu kamar dan hendak keluar. "Tunggu, Mas!” Analea menggenggam lengan Hamid. ”Dengarkan aku dulu. Aku mendengar kabar tidak enak dari tetangga kita. Mereka bilang pernikahan kita bermasalah karena kita tidak akur." Langkah Hamid terhenti di ambang pintu. Wajahnya menyeringai. Tatapannya sinis memandang wanita yang belum genap satu bulan ia nikahi."Asap tidak akan muncul jika tidak ada api!" ucap Hamid ketus. Ia kibaskan tangan Analea dan berkacak pinggang. Tatapannya makin tajam pada iris mata Analea. Napasnya mulai naik turun."Maksud Mas apa?" Wajah Analea tampak bingung. "Halah! Jangan pura-pura nggak ngerti kamu!” Hamid mendengus, kemudian menudingkan jarinya ke depan wajah sang istri. "Kamu telah membohongiku selama ini!” bentak Hamid geram. Pria berambut keriting itu menunjuk wajah Analea yang tampak nyaris menangis. “Dengan wajah sok polosmu itu kamu berbohong kalau kamu masih suci! Padahal saat menikah denganku, kamu sudah tidak perawan!”Chapter 60 Three days went by in a flash and before they noticed it, Ashton and his pack were already at the borders of the ash band pack. Their journey had been smooth and they had not faced a lot of dangers on their way. They only had some rogues and a few wild animals that pack members took care of with ease. Ashton did not even have to lift his finger. "If we go for about one hour, we will be able to make it in time before the challenge began," Theo told Ashton, who was resting with his eyes closed. "That is good. We will wait until they tire themselves out then can begin our operation." Ashton said. He knew that even if he did not use the opportunity to expose Kelly, he would still have a lot of chances. But he did not want to waste too much of his energy. Since he had such a great opportunity to expose himself to the whole world, he will not waste it. At the ash band pack fighting arena…. Although it was still early, the arena was already fully packed. Since they said that
Chapter 59 “Alpha, it is time. Everyone is waiting for you.” Theo said to Ashton, who was standing at the floor-to-ceiling window, looking at the setting sun. “Honey, you will do. I believe in you.” Maya who was beside him said in a low voice. “Mmh, we will do it.” Ashton nodded and lowered his head to kiss her on the lips. “Let us go. Has everyone gathered?’’ Ashton asked. “Yes, alpha. We are more than ready to set off.” “Good.” After gathering everyone, they decided that they won’t use the portals to travel back to the ash band pack. They wanted to run through the woods as they experienced the magic of nature. They had approximated that it will take them three days to reach the ash band pack. It was perfect timing because Kelly and Matthew will be facing each other on that same day. “Why don’t you stay and come with uncle Eliphas after three days?” Ashton looked at the woman beside him and asked. He remembered the first time they came to this place; they had spent weeks on t
Chapter 58 Kelly and Lily finally left the pack together. After everything that had happened, their parents were tired and there was no one to stop them. Melissa was only filled with regret as she looked at her daughter. She was partly to blame for everything that had happened. If she has not pushed her daughter, maybe it would have turned out well. The happiest person was probably Kelly. He did not imagine that he managed to get the woman of his dreams. He did not know when it started, but for a long time, Lily had become her only source of joy. Every time he saw her, he would feel happy and blissful. Lily on the other hand was moving around robotically. She could not imagine that her relationship with Mark has come to an end just like that! Although she had found herself another alpha, the feeling was not the same. ….. "Son please open the door. Everything happens for a reason, and I am sure that wherever Maya is, she won't be happy to see you like this!" Marcela shouted outsi
Chapter 57 She turned her head to look at Mark, only to find that he was sitting there with a calm face. It looked like he hadn't been affected by the words that she had just uttered. Lily felt despair consume her. Did this man care about her? Was the love he had been showering her with over the last few weeks all an act? "Oh, my God! So she is having an affair? This is big news!" Everyone in the house was dumbfounded. They never expected to come across such juicy news at this so-called pregnancy reveal party. The female lead was pregnant, but the child did not belong to the male lead. Everybody was shocked at the revelation. It was the female lead who revealed it herself! Melissa and Marcela came down the stairs at lightning speed. "My dear, what are you talking about?" Marcela was the first to open her mouth and ask lily, who was feebly leaning her body in Kelly's embrace. "It is just as you heard auntie, the child in Lily's belly is mine," Kelly said. He did not shy away no
Inside the sacred hall… After making the announcement, Gael staggered out of the hall with the help of one of his servants. Kelly did not even care about him anymore as he celebrated his success. He did not even remember that his grandfather could not walk on his own. All that excited him was the fa
The more Andrew looked at Maya the more he could not understand why Ashton would waste such a bright future just because of her! What did she have that made the almighty alpha Ashton so stupid and irresponsible to the extent of abandoning his people? "When did you meet with alpha Ashton?" Andrew inq
Ashton was puzzled. Hadn't he been fine when they came back from the northern mountain just now? What was going on with him? Maya who had been replenishing her energy opened her eyes. She felt that something was not right. Although she had to rest, she couldn't bring herself to do it. Ashton was her
As she hid with Ashton behind the secret door. She felt very lucky to have met someone like Ashton who was willing to shield her from all forms of the storm. The enemy was approaching because the footsteps were getting closer and closer. In her panic, her mind drifted to her past and her life in the
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore