LOGIN“Nothing could stop me, no one could, Kamilah, and I know that you know that. But unless you say no, then I’ll quit right here and there.” He said, his dark brown eyes melting my own. I avoided his heavy gaze, "Just leave, Magnus." He gritted his teeth, gold hues circling around his eyes, “No, let’s fight together. Me and you. Having you by my side gives me peace, Kamilah.” **** It’s a taboo to have a female alpha, but what more when the alpha queen gets together with the unwanted hybrid? Chaos. Kamilah Ziraili was born as an omega, and been obsessed with the son of the Alpha, Darian. But when the most feared Alpha Magnus, suddenly took an interest to her, things took a turn. Kamilah broke the werewolf rules, gaining her own power an making her the target for enemies for disrupting the balance. Finding out that her mate is Alpha Magnus himself, and what more, a hybrid, who offers to help her, chaos erupted in the world, along with her heart. And with her past love coming back into life, she’s forced what to choose. Her past, identity, or her own pack? “You can’t lead, you’re a female who can’t have her own pack.” He said, and I gave him a smirk. “No one loves a female who could lead. They want someone who would be willing to submit and don't expect me to do that. I won’t kneel down before any man no matter what." Book 1 of Destined Series (can be read as standalone)
View MoreDi Elyria, kota megah dengan menara kaca yang bersinar oleh mantra dan mobil terbang yang berdengung pelan seperti lebah raksasa, pagi selalu dimulai dengan hiruk-pikuk.
Jalan-jalan dipenuhi pedagang yang menjajakan kristal sihir, penyihir jalanan yang memamerkan trik kecil untuk koin, dan tentara kerajaan yang berpatroli dengan jubah berlapis rune. Di tengah itu semua, markas Aliansi Aurora berdiri megah, sebuah gedung lima lantai dengan dinding marmer yang diukir simbol matahari terbit, lambang harapan kerajaan. Eiran Voss berdiri di balkon lantai tiga, menatap kota dengan mata abu-abunya yang dingin. Rambut hitamnya yang acak-acakan tertiup angin, dan pedang roh di pinggangnya 'Zephyrion' berdengung pelan, seolah merasakan kegelisahannya. Dia tidak suka pagi. Terlalu berisik, terlalu ramai, terlalu... cerah. “Manusia dan sihir mereka,” gumamnya, “selalu bikin kekacauan.” “Eiran! Kau sudah lihat koran pagi ini?” Suara ceria yang tidak asing menyeruak, memecah keheningan. Liora Faye muncul di pintu balkon, memegang gulungan kertas ajaib yang memproyeksikan berita dalam gambar bergerak. Rambut pirangnya bergoyang seperti ombak, dan senyum lebarnya seolah menantang matahari untuk bersaing. “Ada Badai Roh lagi di desa utara! Kita pasti disuruh ke sana!” Eiran memutar mata, tidak menoleh. “Jangan berteriak di dekatku, Liora. Aku belum minum teh.” Liora mendengus, lalu dengan iseng mengibaskan tangannya. Seketika, bunga-bunga kecil bermunculan dari lantai balkon, melingkari kaki Eiran seperti karpet hidup. Bunga-bunga itu tiba-tiba berputar, menciptakan hembusan angin kecil yang mengacaukan rambut Eiran lebih parah. “Oops,” kata Liora, pura-pura tak bersalah, “tanganku tergelincir.” Eiran menatap bunga-bunga itu dengan ekspresi datar, tapi tangannya sudah di gagang Zephyrion. “Liora, kalau kau ingin pedangku mengenal lelet mu, teruskan main-main.” Liora tertawa, suaranya seperti lonceng. “Oh, ayolah, Voss. Kau terlalu serius! Lihat, bunga ini kuberi nama ‘Eiran Kesal’ cantik, tapi berduri.” Dia mengedipkan mata, lalu melompat mondar-mandir di balkon, jelas sengaja mengganggu. Sebelum Eiran bisa membalas, pintu balkon terbuka lagi dengan bunyi keras. Kairos Thorne masuk dengan langkah lebar, seragam militernya yang rapi kontras dengan rambut merahnya yang sedikit berantakan. “Kalian berdua sudah bertengkar lagi?” katanya, suaranya berat tapi ada nada geli. “Liora, berhenti ganggu Eiran. Dan Eiran, lepaskan tanganmu dari pedang itu sebelum kau bikin markas meledak.” “Dia mulai duluan,” protes Liora, tapi matanya berbinar nakal. Dia memanggil bunga lain, kali ini membentuk mahkota kecil di kepala Kairos. “Lihat, sekarang kau Raja Bunga!” Kairos menyentuh mahkota itu, lalu terkekeh. “Kau beruntung aku suka bunga, Faye.” Dia menoleh ke Eiran. “Raja memanggil kita. Badai Roh itu bukan cuma bencana alam, ada jejak sihir gelap di baliknya.” Eiran mengerutkan kening, akhirnya tertarik. “Sihir gelap? Dari mana?” “Belum tahu,” jawab Kairos. “Makanya kita harus ke ruang rapat sekarang. Sylva, Draven, dan Vesper sudah di sana, cuma kalian berdua yang sibuk... apa, main bunga dan pedang?” Liora terkikik, tapi Eiran hanya mendengus dan berjalan menuju pintu, pedangnya berdengung lebih keras seolah setuju dengan kekesalannya. Liora mengikuti di belakang, sengaja melangkah terlalu dekat sampai Eiran memelototinya. “Jarak, Faye,” geramnya. “Jarak apa? Kita satu tim, Eiran!” Liora menyeringai, lalu berbisik, “Kau tahu, kalau kau tersenyum sekali saja, mungkin dunia nggak akan kiamat.” Eiran mengabaikannya, tapi sudut bibirnya sedikit berkedut, hampir tersenyum, tapi dia cepat menyembunyikannya. Di ruang rapat, suasana lebih serius. Meja bundar besar dari kayu mistis bersinar lembut, dan peta holografik Elyria mengambang di tengah, menunjukkan desa-desa yang hancur oleh Badai Roh. Sylva Reed duduk dengan kacamata tipisnya, menatap peta dengan fokus, bayangannya di lantai bergerak aneh seolah hidup. Draven Quill, yang duduk dengan kaki di atas meja, bersiul pelan, membuat angin kecil membawa kertas-kertas beterbangan, sampai Sylva memelototinya. Vesper Hale, dengan rambut hijau keabuannya, mengamati peta sambil mengelus akar kecil yang muncul dari lengan bajunya. Raja Eldrin, proyeksi sihirnya berdiri di ujung ruang, berbicara dengan suara berwibawa. “Aliansi Aurora, Badai Roh ini bukan bencana biasa. Ada laporan tentang bangsawan yang menyalahgunakan sihir alam untuk keuntungan pribadi, dan itu memicu kemarahan roh bumi. Kalian harus ke Desa Varyn, selidiki sumbernya, dan hentikan sebelum menyebar.” Eiran, yang berdiri di sudut dengan tangan disilang, berkata pelan, “Bangsawan, lagi. Selalu mereka.” Nada dinginnya membuat ruangan hening sejenak, dan Liora menatapnya, mendadak serius. Dia tahu Eiran benci bangsawan karena masa lalunya, tapi tidak pernah bertanya lebih jauh. “Jadi, kita ke Varyn, lawan badai, dan cari tahu siapa yang main-main dengan sihir gelap?” tanya Draven, menyeringai. “Keren. Aku bawa playlist sihirku buat perjalanan.” “Jangan nyanyi di mobil terbang lagi,” kata Sylva tanpa menoleh, tapi sudut bibirnya naik. “Kau bikin burung-burung kabur terakhir kali.” Vesper tertawa pelan. “Draven, kalau kau mau nyanyi, setidaknya minta akar-akar ku untuk ikut menari.” Kairos mengangkat tangan, menghentikan candaan. “Fokus, tim. Kita berangkat sore ini. Eiran, kau pimpin strategi tempur. Liora, kau tangani analisis sihir alam. Sisanya, kita bagi tugas di jalan.” Liora mengangguk, tapi matanya kembali ke Eiran, yang masih menatap peta dengan ekspresi gelap. Untuk sesaat, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi bunga kecil di sakunya bergerak sendiri, seolah merasakan perasaannya. Dia menghela napas, lalu tersenyum tipis. Kalau kau nggak mau cerita, Eiran Voss, aku akan cari tahu sendiri. Di luar markas, langit Elyria mulai mendung, tanda Badai Roh mendekat. Di suatu tempat di kota, di kastel mewah, seorang bangsawan bernama Lord Zoltar memandang kristal gelap di tangannya, tersenyum licik. “Mereka akan datang,” gumamnya. “Dan Aliansi Aurora akan jatuh.”I woke up with a pair of warm big arms wrapped around my body. At this point, waking up every morning in Magnus's arms doesn’t feel strange at all. If anything, it feels...at home. I looked at Magnus's thick eyelashes as the sun gleamed on his skin, making his now olive skin shiny. Really, what does this guy put on his face? His skin was smooth as skin, with no pores visible. His nicely cut dark hair shows that he really maintains himself well Plus, he sleeps shirtless. I had somehow gotten used to seeing his abs every morning. His lean and muscular body was showing. I could feel his morning wood always poking my pregnant belly. It has been two months in my pregnancy journey and my belly was aching from carrying all my pups. Other pregnant wolves get their morning sickness, but I’m here chilling and enjoying myself, eating everything I want whenever I could. Standing up, I went into the bathroom to pee when strong hands stopped me. I Looked at Magnus who was still closing h
The hollow darkness suffocated me, and I tried hard not to scream. I’m back to my pack as if nothing happened. And I tried hard to search for something but I didn’t know what it is. “It’s finished, you did so well.” I heard someone saying and I looked up to see Alpha Rufus. I blinked, now aware this is a dream. My eyes fluttered open and I was faced with an asleep Almiro. “Almiro.” I tried to call out but my throat was dry and the sharp pain in my mind was too loud. I flinched, and Almiro woke up, his eyes widened, and exclaimed, “Alpha Kamilah!” He offered me a glass of water which I downed in oke breath, too thirsty for now. When finished, I looked around, trying to look for someone. I noticed tubes were on my hands and a machine was running beside me. I raised my eyebrows, I’m back at my own pack? In my pack’s clinic? “What..happened? Why am I here?” I asked Almiro who avoided my eyes. “I’ll let your mate explain it to you.” He answered, and stood up to call Magnus
I chuckled at what he said, still, my senses were weakened, “Wow, what a pleasure. You're Taking many precautions. Scared I’ll get away again?” He scoffed, “Stop pretending you're a strong dear. This will be your last in living.” “No, you mean your last? We surrounded you now” I heard another voice chiming in. I didn’t have to see it as I instantly knew it was Magnus, carrying his own men. We have around 300 of us, but I couldn’t deny all the power we have. Quality always overpowers QuAntity. I could feel him approaching me and kissing my neck, “Did we arrive late?” “Just at the perfect time,” I said. “This will be fun.” Magnus then carried me and I felt him taking me to Dimitri. “Take care of her.” I shook my head, forcing myself to stand up as I felt a bit dizzy. “No, I’ll fight too.” “You’re weak now.” He argued. “Let Zefren heal you.” I felt Zefren approaching me and muttering some words and I instantly recovered. “Alpha Kamilah!” Someone called from the crowd and I s
The Lycan King turned to him. “My area, Europe, has been wreaking havoc. I noticed something strange going in. I came here today to inform you about the werewolves smuggling the werewolf steroids, under Druscilla’s men. They seem to be so keen on eradicating you two.” I gritted my teeth, “A few months back, my pack member Tamara was affected by this. She was killed by Rogues who digested the steroids.” “It was my past members who invaded her territory, because of Driscilla’s orders.” Magnus chided in. Lycan King Ace nodded, “A few days ago, I discovered a factory containing steroids and destroyed it. But I believe there are a few more factories located in this area.” Dimitri then grabbed a paper, “We had investigated the area and found a few more.” Lycan King Ace leaned back, “Why didn’t you destroy it?” Magnus stood up and smirked, “Because I believe it's your job. We are too preoccupied with killing Druscilla ourselves.” Lycan King closed his eyes, and sighed, “And in exc
I raised my eyebrows, “Why? It was him to willingly do it.” She cocked her head, “Come on! Your man just donated that huge amount, don’t you need to do something?” I stared
ALPHA MAGNUS' POV I gulped down the glass of wine in my hands and winced in disgust at the taste. My mate’s blood is much more appetizing than this. Ever since I tasted her blood, she’s always been the one I've been craving. It’s intoxicating me. And it kills me that she’s not aware that she’s m
The next training did nothing. Alpha Magnus was true to his words at “treating me harshly” as he decided to step in between my training with Dimitri. “Step aside Dimitri. From now on, I’ll be her training partner.” He said after a while and Dimitri glanced at me. He sighed, nodding at his alpha an
“Wake her up.” “Kamilah…you must wake up now.” I blinked as the bright sunlight hit me. What time is it? My body instantly alerted me to see two tall men standing by the door, watching me. I realized it was Alpha Magnus and Dimitri. “What-What’s wrong?” I asked curiously, not remembering wh


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore