Mag-log inCafé HDS sore itu belum begitu ramai, hanya ada beberapa orang terlihat di dalam café. Waktu menunjukkan Pukul 14.55 WIB. Ana masih duduk dengan pandangan hampa, masih ada seribu tanya yang mungkin dia akan temukan jawabnya sore ini. Aini nampak belum tiba, hanya segelas es kopi susu alpukat favorit Ana yang menemani Ana menunggu kedatangan Aini. Tak lama waktu berselang, sebuah sedan berwarna ungu tiba di halaman Café HDS. Ana menebak-nebak bahwa itu adalah mobil Aini. S
Amanda berjalan melewati koridor rumah sakit, ia hendak menenangkan dirinya sejenak. Pernikahan yang sudah tak tahu harus dibawa kemana arahnya. Dulu Puja adalah sosok yang dia puja. “Halo, Ma!”Amanda mengangkat telepon yang sedari tadi berdering. “Halo,sayang! Apa kabar?”tanya suara diseberang sana. “Baik,Ma! Mama apa kabar?”Amanda balik bertanya. “Baik juga sayang, Nda ini udah tanggal 30, Aida belum bayar semesterannya. Katanya besok terakhir, Nda!”ujar sang Mama. “Ya, ma! Manda ngerti, nanti malam Manda transfer ya.
“Nda, kok gak kasih tau Mbk sih.”protes Ana pada Amanda setibanya dikamar Zea dirawat. “Udah dikasih tau kali Mbk, coba liat WA Mbk deh! Telpon juga nggak diangkat-angkat.”sambar Angel pada Ana. “Iya…ya…maaf yah. Mbk, tadi pusing banget. Terus juga tadi mbk ketemuan sama Istrinya Mas Danu.” “Apa?” Amanda dan Angel kaget berbarengan. “Biasa aja dong. Nanti aja ceritanya. Gimana Zea?”Ana menolak bercerita, sebelum ditagih dua sahabtnya itu. Sambil duduk disebelah ranjang Zea yang sedang tidur. Anak berumur 3 th itu tampak lemas dengan jarum infus ditangannya. &nbs
Café HDS sore itu belum begitu ramai, hanya ada beberapa orang terlihat di dalam café. Waktu menunjukkan Pukul 14.55 WIB. Ana masih duduk dengan pandangan hampa, masih ada seribu tanya yang mungkin dia akan temukan jawabnya sore ini. Aini nampak belum tiba, hanya segelas es kopi susu alpukat favorit Ana yang menemani Ana menunggu kedatangan Aini. Tak lama waktu berselang, sebuah sedan berwarna ungu tiba di halaman Café HDS. Ana menebak-nebak bahwa itu adalah mobil Aini. Sedikit banyak Danu menceritakan sosok istrinya ini. Aini istri yang baik menurut Danu. Hanya menjadi baik saja tidak cukup. Betul dugaan Ana, mobil sedan berwarna ungu itu memanglah Aini. “ Sudah lama An?”tanya Aini sesampainya dia di café itu. “Nggak mbk, baru sebentar juga.”jawab Ana. Aini pun langsung dud
Tok..tok.”seseorang mengetuk jendela mobil Angel. Sontak mereka bertiga kaget melihat sosok yang mengetuk jendela. “Mbk, gimana?”tanya Angel panik. “Ya uda buka aja gih.”jawab Ana. Angel pun membuka kaca jendelanya. “Ada apa bu?”tanya Angel kepada perempuan yang ada diluar mobilnya “Cuma mau balikin ini, kayaknya ini punya Ana. Iya bukan An?”ungkap wanita itu dengan menunjukkan sebuah gelang. Gelang itu gelang yang sama dengan milik Angel dan Amanda. Kebetulan hari ini gelang itu dipakai oleh Angel dan Amanda. Sedangkan Ana tidak mengenakannya. “Eh…hmm…iya Mbk, itu pu
“Woy!” Amanda mengagetkan Angel. “Melamun aja, masih pagi kali Buuu, bagi minum aku haus!” “Noh…”Angel melempar botol minumnya pada Amanda. “Mana Mbak Ana?”tanya Angel karena melihat Ana tidak bersama Amanda. “Tuh, nyangkut! Amanda menunjuk ke arah Ana yang sedang membeli siomay. “Huh… percuma aja lari keliling-keliling udahnya langsung beli siomay.”gerutu Angel. “Itu seimbang namanya, Jumlah kalori keluar dan masuknya!”protes Amanda. 
Pagi minggu yang cerah, ketika matahari baru saja menunjukkan wajahnya dilangit biru. Amanda, Angel dan Ana sudah berada di Pantai Rindu. Ini adalah agenda rutin mereka, olahraga pagi sekaligus melepas penat setelah seminggu full beraktivitas. “Berasa gadis ya bu!”ledek Angel pada Amanda. “Ho oh, nggak keliatan kan diriku ini emak anak dua.” Amanda memuji dirinya sendiri. “Nggak usah sok deh, Mbk ni keliatan sebaya kan dengan kalian? Padahal 10 tahun lo jarak kita.”ungkap Ana sambil berkacak pinggang. “Ya…ya… itu lebih tepat memang.”aku Angel atas peenyataan Ana. Mereka pun melanjutkan olahraga pagi mereka. Dinginnya pagi cukup menusuk ku
“Ya, kalo Mbk sih mendingan kamu ambil keputusan. Pisah atau lanjut. Udah gitu aja!”ungkap Ana pada Amanda. “Anak-anak aku gimana mbk?”tanya Amanda sambil menyeka air matanya. “Dar
POV Ana “Iya, sayang! Nanti, perginya cuma ama Manda dan Angel kok. Klo gak percaya telepon saja si Angel.” Ujarku pada Mas Danu. Pria ber
POV ANGEL Waktu menunjukkan Pukul 11.00 WIB, hari ini Amanda menelpon mengajak aku dan Mbak Ana untuk makan siang bersama. Bukan karena dia mau menraktir kami berdua, tetapi dia sedang ada masalah dan ingin berbagi dengan
POV AMANDAAku, Angel dan Ana makan siang bersama siang ini. Ada hal yang ingin kuceritakan pada dua sahabatku ini. Hal yang membuat sesak dadaku beberapa minggu belakangan ini. Saat asyik becengkrama mengeluarkan segala keluh kesah dan cerita dengan mereka, aku teringat H