LOGINCassian mendesah dengan frustasi. Ia bukan berarti membeci kabar itu. Hanya saja, keadaan ia dan ibunya belum cukup stabil. Lalu tiba-tiba sebuah kehamilan? Sialan pak tua itu.Pantas saja tiba-tiba dia mengakui semuanya.Rupanya kau merasa bersalah karena hal ini. ***Cassian menggaruk bagian belakang kepalanya, kedua matanya yang sebelumnya tajam melerai dengan lembut. Kini wajahnya tak lagi kaku justru timbul dengan keteduhan."Aku turut senang kalau begitu, tolong jaga kesehatan ibu dengan baik. Apa ayah sudah tahu tentang ini?" tangannya mendekap kedua tangan Cassandra perlahan memberikan ketenangan. Cassandra mengangguk masih dengan wajah yang malu-malu, mata yang lebar berwarna biru, kulit yang masih kencang dan bentuk wajah bulat mungil dengan senyum bak mawar yang baru mekar itu, memang tak bisa dipungkiri tak akan ada yang mampu bertahan dengan godanya. Hanya saja kali ini waktunya memang
"Hahaha, sudah Bu. Kami tidak akan bertarung lagi." jelas Cassian dengan senyum canggungnya. ***Setelah Cassian kembali ke posisinya beserta Nolan, barulah Cassandra tersenyum lembut dengan napas yang lega. Di belakangnya, Wilona melirik dengan ketidaksukaan, pemicunya masih sama.Baginya bahkan bagi selir lainnya apalagi sang istri utama kaisar yakni permaisuri, kenyataan bahwa ia Cassandra seorang pelayan sangat menggores harga dirinya. Harga diri di sini adalah ketika Valerius menempatkan kedudukan yang sama antara istri lainnya yang merupakan seorang bangsawan bersama Cassandra yang hanya seorang rakyat jelata membuat mereka mempertanyakan kelayakan mereka sendiri. Status adalah segalanya di kekaisaran Magnus.Mungkin Valerius tak menyangka bahwa pikiran perempuan akan serumit itu, karena itu Wilona juga istri-istrinya yang lain tak pernah melakukan protes secara terang-terangan.Pernikahan mereka juga bagian dari politik bukan hal personal seperti yang ia dan Cassandra lakuka
"Kau mendapatkan elemen ganda? Trik apa yang kau gunakan? Apa ayah memberikanmu sesuatu?" tanya Ruby dengan suara menohok. Ia menutup ekspresi wajahnya dengan kipas lipat. ***Cassian mendengar pertanyaan Ruby bagai angin lalu. Ia menggunakan kelingking untuk mengorek telinga kanannya. Dari sana wajah Ruby semakin memerah dengan geram. "Bajingan sialan! Kau berani mengabaikanku?!" Cassian tersenyum miring, rasanya puas bisa memancing amarah gadis itu, ia hanya bermain-main karena tak berniat menjawab apapun dari orang yang tidak relevan. Ke empat elemen dari benih cahaya telah aktif, alasan kenapa petugas hanya bisa memindai dua elemen karena Seth telah melakukan sesuatu, entah apa ia perbuat dengan kekuatannya. Sekarang aku malah penasaran kemana tuan Seth selalu pergi.Katanya akan mengajariku sihir kuno, tapi yang ia lakukan selalu mondar mandir tidak jelas. Apa dia menemui seseorang? Setelah kejadian Kalaine di hutan merah, Seth yang memutuskan untuk menetap di hutan itu
Pagi hari Kekaisaran Magnus : Area Kompetisi Bunyi langkah sepatu satu persatu tiba di bangunan podium berdiameter seperkian yang amat luas. Sepuluh anak kaisar telah melangkah menuju kursi khusus pangeran dan para putri. Dari gerbang masuk, hiritan manusia dengan usia muda berbondong-bondong melaju dengan berbagai model kostum yang berbeda. TAKRuby membuka kipas lipatnya, ia menatap ke arah area luas dengan batu paving yang tertanam rapi, dari sana semua orang menetapkan pemberhentiannya masing-masing. Gadis itu membuka sela bibirnya "Sepertinya tahun ini lumayan banyak yang ikut. Mereka sungguh mendapatkan berkah dewa? Atau hanya ingin menonton?" cetus gadis itu dengan senyum miring. Cassian duduk menyilangkan kakinya, ia menatap setiap peserta yang hadir di area kompetisi, beberapa peserta mencuri perhatiannya dengan sesuatu yang menarik.Matanya menangkap seorang pemuda dengan tubuh tegak yang apik, rambutnya berwarna krim dengan kedua mata ungu cerah yang berkilauan. Se
Valerius mencengkeram secarik kain di lututnya, ia paham betul mata dengan cahaya emas adalah sesuatu yang terkait erat dengan Dewa Vanressan, sang Dewa benua yang juga merupakan leluhur Magnus. "Vanressan adalah kakak adopsiku." ucap Nin dengan berat.***Valerius tiba-tiba terangkat dari duduknya, seakan tak percaya yang baru saja ia dengar. "Apa maksudnya?" Valerius bertanya dengan niat memastikan, namun Nin hanya diam tak berniat menjelaskan lebih lanjut. Kaisar mendesah dengan kasar melihat sekeliling ruangan itu. "Lupakan saja, aku tak berniat menggali lebih lanjut jika kau memang benar tak mau menjawab." cetusnya meninggalkan ruangan. Namun sebelum melangkah ke garis pintu luar, Nin kembali bersuara dengan lantang. "Aku bisa menceritakan beberapa hal yang kutahu selama anda tidak membocorkannya ke sembarang orang." ucap Nin kembali menutup matanya dengan kain putih yang terbuat dari sutra itu. Valerius terdiam seraya memutar balik badannya. "Setuju." ucapnya kembali dudu
Pria itu mencengkeram kerah Cassian dengan wajah yang penuh keputusasaan. Namun daripada terbawa suasana emosional Cassian menepis jeratan pemuda itu dan berkata. "Tunjukkan jalannya!" ***Pemuda itu terhempas sedikit ke belakang, Ia berpaut pandang dengan Cassian untuk sesaat sampai akhirnya menyerah dan mulai memandu jalan. Langkah mereka terbilang cepat dan seirama. Dalam langkah itu juga Cassian melayangkan beberapa pertanyaan. "Apa yang sebenarnya terjadi?" cetusnya dengan napas yang terdorong gerakan cepat. "Dia keracunan makanan, katanya hari ini hanya makan sesuatu dari paviliunmu! Kau memberinya makan apa?!" pria berambut ungu muda itu mengatupkan rahangnya. "Siapa namamu?" Cassian bertanya dengan langkah cepat itu mengimbangi pelayan pria yang ada di hadapannya. "Dilaba." jawab pria itu singkat. Mereka berdua telah tiba di kamar para pelayan yang letaknya di dalam istana Bintang. Di sana Sena telah tergeletak dengan lemah mengucurkan cairan hitam dari ujung mulutn







