LOGINDi dalam pemikiran Dinala, pria yang sering pergi ke bar dan mencari wanita cantik adalah hal yang tidak wajar.Steven menyipitkan matanya. “Kenapa tatapanmu seperti ini? Wajar sekali seorang pria suka dengan cewek cantik. Kalau kamu nggak suka gadis cantik, jangan-jangan kamu suka sama cowok cantik?”Dinala segera membantah, “Aku nggak suka!”Hati Steven merasa penat. “Nggak suka semuanya?”“Emm!”Steven spontan menceramahinya, “Kamu nggak boleh seperti ini! Tahun ini kamu sudah berumur 20-an tahun. Kamu nggak suka cewek cantik dan juga nggak suka sama cowok! Berarti ada masalah sama kamu!”Dinala membalas, “Kamu yang bermasalah!”Steven tersenyum. “Apa kamu suka sama aku?”Dinala terbengong sejenak, lalu spontan menggeleng. “Nggak suka.”“Itu berarti … kamu nggak suka siapa pun, kecuali keluargamu?”Dinala berpikir sejenak. “Bukan begitu.”Steven merasa syok. “Kamu malah suka sama orang luar, selain keluargamu? Siapa?”“Yellow! Aku suka sama Yellow!”Steven terdiam.Yellow adalah see
Dinala terbengong, lalu bergegas menuruni mobil.Steven pun tertawa dan menutup pintu mobil. Dia mengunci pintu, lalu menarik pergelangan tangan Dinala untuk berjalan ke depan.Dinala melepaskan tangannya. “Aku … aku bisa jalan sendiri.”Steven menoleh untuk menatap Dinala. “Nanti aku akan selalu berada di sisimu. Kamu nggak usah merasa tegang. Kamu ….”Belum sempat Steven selesai berbicara, dia pun terbengong! Mereka berdua kebetulan berjalan ke bawah cahaya lampu. Steven dapat melihat wajah merona Dinala. Dia pun bertanya dengan nada perhatian, “Apa kamu nggak enak badan?”Tanpa menunggu jawaban dari Dinala, Steven mengangkat tangannya untuk menyentuh kening Dinala, lalu menyentuh keningnya sendiri. “Nggak panas, tapi kenapa wajahmu semerah itu?”Begitu mendengar ucapan Steven, wajah Dinala semakin merona lagi.Dinala memiliki paras indah. Wajah meronanya malah membuatnya kelihatan semakin indah lagi! Steven tanpa sadar melakukan gerakan menelan air liur. Dia pun berdeham dan berkat
Usai mendengar, Caden berkata, “Aku tahu kamu mencintai adikmu, ingin menyenangkan hatinya. Tapi karakter Hayden itu blak-blakan, ada banyak hal yang nggak dia mengerti. Kita mesti memberi arahan kepadanya. Dia dengar apa kataku dan juga katamu.”“Emm, aku mengerti. Ke depannya aku akan lebih perhatikan.”Caden mengusap rambut Braden dengan lembut. “Lanjut tidur sana.”Braden berbaring dengan patuh. Tiba-tiba dia kepikiran sesuatu, lalu bertanya lagi, “Papa, masalah Tora dan virus generasi ke-8 sudah berakhir. Apa kamu sudah bisa mengadakan resepsi pernikahanmu dengan Mama?”Caden tersenyum. “Iya, Papa sudah mempersiapkannya, tapi semua ini masih rahasia. Jangan beri tahu mama kalian dulu.”Senyuman Braden sangat cerah. “Oke!”Setelah melihat anak-anak, Caden baru kembali ke kamar. Ketika melihat wanita yang berbaring di atas ranjang, Caden spontan tersenyum dengan penuh rasa bahagia. Caden mengesampingkan selimut, lalu memeluk Naomi ke dalam pelukannya dengan perlahan. Gerakan Caden
Hayden masih mengantuk. “Papa? Kenapa kamu gendong aku?”Caden membalas, “Aku datang untuk melihatmu. Kamu tidur saja.”Hayden memejamkan matanya dan tertidur kembali.Caden pun tersenyum. Dia membaringkan Hayden ke tengah ranjang, kemudian mengatur posisi tidurnya dengan baik.Si Putih mengikuti Hayden, lalu tidur di samping bantalnya. Caden mengusap kepala Hayden, lalu mengusap kepala Putih. “Selamat malam.”Hayden telah terlelap hingga tidak menghiraukan Caden. Putih pun mengulurkan lidahnya sembari memejamkan matanya.Caden meninggalkan kamar Hayden, lalu pergi melihat Rayden. Posisi tidur Rayden lebih beraturan. Wajahnya menghadap ke atas, lalu selimut ditutup hingga bagian dada.Terdapat banyak foto keluarga di dalam kamar Rayden. Dalam setiap foto keluarga, Rayden kelihatannya sangat kaku, tapi senyumannya sangat lebar. Impian terbesar Rayden adalah memiliki keluarga yang utuh.Saat Rayden masih kecil dulu, dia pun sudah mulai mendambakan keluarga yang utuh. Bagi Rayden, tidak
Setelah mengakhiri panggilan Dylan, tidak lupa Caden menyindir dalam hati, ‘Dylan sialan itu memang nggak tahu malu!’Caden menyimpan ponselnya, lalu membaca berita tentang Kota Karl. Setelah itu, dia mematikan laptop dan pergi ke kamar mandi.Caden menggosok gigi, membasuh wajah dan tubuhnya, lalu mengganti piyama baru. Dia memastikan tidak ada bau rokok di tubuhnya lagi. Setelah meninggalkan ruang baca, Caden tidak langsung kembali ke kamar. Dia pergi melihat anak-anak duluan.Kamar Baby berjarak paling dekat dengan kamar mereka. Begitu pintu dibuka, Caden merasa seolah-olah sedang memasuki dunia khayalan yang berwarna merah muda saja.Wallpaper berwarna merah muda, mainan berwarna merah muda, seprai ranjang berwarna merah muda, dan juga gadis cilik yang imut.Baby sedang mengenakan piama model kelinci berwarna merah muda. Dia sedang memeluk boneka kelinci di dalam pelukannya dan tidur dengan nyenyak.Caden meringankan langkahnya untuk berjalan ke dalam. Ketika melihat anak kecil ya
Tidak lama setelah mengakhiri panggilan Steven, Caden pun menerima panggilan dari Dylan. “Happy Bar yuk?”Caden membalas, “Nggak.”Dylan bertanya, “Akhirnya semua sudah berakhir. Apa kamu nggak mau keluar untuk merayakannya bersama kami?”Sampai saat ini, Dylan masih tidak tahu kondisi sebenarnya dari virus generasi ke-8, hanya saja dia tahu mereka telah memenangkan peperangan!Caden berkata dengan nada merendahkan, “Nggak ada yang perlu dirayakan bersama sekelompok pria tua! Aku sudah punya istri. Bukannya lebih bagus aku temani istriku di rumah?”Dylan sungguh kehabisan kata-kata. “Apa ada yang perlu dibanggakan? Seolah-olah kami nggak ada istri saja! Aku juga sudah punya istri!”Caden tersenyum dingin. Dia berkata, “Dia itu bukan istrimu, tapi ibu dari anakmu.”“Cih! Lamaranku sudah berhasil!”“Kamu belum punya akta nikah. Negara masih belum meresmikan hubungan kalian.”Dylan sungguh kehabisan kata-kata. “Aku menyadari kamu semakin suka merusak suasana saja. Kamu nggak tahu cara ngo







