Share

Bab 2

Author: Echo
Aku menatap Kevin dalam diam, lalu tertawa kecil yang lembut. "Bagaimana menurutmu?"

Aku menunggu Kevin untuk membuat pilihannya.

Tatapan Kevin terpaku di wajahku selama tiga detik, lalu akhirnya mengalihkan pandangannya dan keputusannya pun akhirnya bulat. Dia berdeham, lalu berkata dengan nada yang penuh otoritas dan hati-hati, "Karina, harus kuakui data ini cukup mengkhawatirkan. Sebagai perusahaan rintisan, kita harus tegas soal absensi dan disiplin keuangan. Aturan tetaplah aturan."

Saat itu, aku melihat kilatan kemenangan di tatapan Lia.

Kevin menoleh ke arah David. "Kalau begitu, segera hentikan semua akses Karina di sistem internal seperti CRM, persetujuan keuangan, dan akses ke seluruh dokumen tingkat tinggi. Semuanya dihentikan."

Tanpa mengangkat kepala, David mengangguk kepala. "Baik, Pak."

Kevin melanjutkan, "Selain itu, aku secara resmi menugaskan Lia untuk menangani pemulihan dua miliar dua ratus lima puluh juta dari pengeluaran yang nggak semestinya itu. Kita menjalankan perusahaan dengan sangat efisien dan setiap uang sangat berarti."

Dengan suara yang berdengung penuh semangat, Lia langsung menjawab, "Nggak masalah, Pak Kevin. Aku akan menyusun rencana pemulihan yang detail untuk pastikan kepentingan perusahaan tetap terlindungi."

Lia melirikku dengan tatapan yang terlihat jelas menantangku. "Pelanggaran seperti ini harus ditangani dengan serius. Kita nggak boleh buat pengecualian hanya karena ada hubungan pribadi."

Kevin menganggukkan kepala dengan puas. "Bagus. Selain itu, ini juga harus diumumkan ke seluruh perusahaan sebagai pelajaran bagi semua karyawan."

Aku akhirnya mengerti permainan orang-orang ini. Ini bukan soal disiplin, melainkan kudeta yang dirancang dengan sangat rapi. Kevin menginginkan daftar klien, kontak para investor papan atas dari Jalan Megah, dan juga akses ke klub-klub privat milikku.

Sementara itu, Lia menginginkan pekerjaanku. Dia pikir dengan menjatuhkanku, dia bisa langsung duduk di kursiku dan menjadi tangan kanan baru Kevin. Betapa naifnya.

Setelah mengumumkan hukuman itu, Kevin menatapku dengan pura-pura tulus. "Jangan khawatir, Karina. Setelah kamu kembalikan uangnya, aku akan pulihkan posisimu. Semuanya akan kembali normal."

"Oh ya, karena untuk sementara ini kamu nggak bisa menjalankan tugasmu, kita nggak bisa membiarkan klien-klien penting itu digantung. Kamu juga harus serahkan daftar klienmu," tambah Kevin dengan sikap yang pura-pura santai.

Aku perlahan-lahan berdiri, lalu mengeluarkan map hitam dari tasku dan meletakkannya di atas meja dengan lembut. Aku berkata dengan suara tenang, "Di sini ada semua kontak klien dan catatan tindak lanjutnya."

Kilatan serakah terlintas di tatapan Kevin saat dia buru-buru meraih map hitam itu.

Aku melangkah mundur, lalu tersenyum pada Kevin dan berkata, "Aku harap kamu benar-benar bisa menangani mereka."

Tiga puluh menit kemudian, aku duduk di kantorku dan mendengarkan bunyi notifikasi yang terus berdenting dari luar. Itu adalah sebuah email yang baru saja dikirim ke seluruh perusahaan dengan subjek.

[ Tindakan disiplin pada Direktur Humas, Karina, atas pelanggaran berat dari kebijakan absensi dan keuangan. ]

Email itu berisi detail kejahatanku seperti absensi kritis tanpa alasan, menggunakan sumber daya perusahaan untuk kesenangan pribadi. Selain itu, ada pelanggaran berat terhadap kebijakan pengelolaan aset perusahaan dan menciptakan pengaruh buruk.

Aku bisa mendengar bisik-bisik dari para karyawan di lorong.

"Ya ampun, nggak disangka Karina bolos kerja begitu banyak."

"Dua miliar dua ratus lima puluh juta? Gila sekali ...."

"Aku selalu merasa ada yang aneh dengan semua barang mewahnya ...."

"Lia memang hebat. Sekarang kita lihat apa dia masih bisa pamer ...."

Para rekan yang dulu berkerumun mengangkat gelas bersamaku saat makan malam perusahaan dan para bawahan yang selalu menyapaku dengan hangat di lift, kini malah menggosipkan kejatuhanku.

Aku menatap vas berisi mawar putih di mejaku yang baru saja diganti sekretarisku pagi ini dan embun pun masih menempel di kelopaknya. Ternyata dulu aku begitu naif, mengira usaha tulus akan dibalas dengan kesetiaan yang tulus juga.

Tepat pada saat itu, pintu kantorku didorong terbuka dan Lia melangkah masuk diikuti seorang magang di departemen keuangan yang membawa dokumen yang baru saja dicetak. Dia berjalan lurus ke mejaku, lalu melempar kertas itu ke mejaku.

Lia menatapku dari atas dengan angkuh seperti seorang pemenang, "Karina, ini detail tagihan dari departemen keuangan, totalnya dua miliar tiga ratus enam puluh satu juta tiga ratus empat puluh lima ribu. Pak Kevin juga sudah menandatanganinya."

"Kamu punya waktu tiga hari untuk membayarnya kembali. Kalau nggak, sesuai pasal 47 buku pedoman karyawan. Perusahaan berhak memotongnya dari bonus akhir tahun dan dividen sahammu."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 12

    Lia menangis makin keras sampai ingus dan air matanya bercampur membasahi wajahnya. "Aku tahu aku salah. Aku benar-benar tahu. Tolong maafkan aku, aku nggak akan mengulanginya lagi."Aku menatap keadaan Lia yang menyedihkan dengan tatapan tanpa rasa iba sedikit pun. Aku tertawa pelan sekaligus tajam. "Kamu tahu kamu salah? Kamu tahu apa yang sudah kuberikan untuk perusahaan itu? Aku sampai pakai puluhan miliar dari uang pribadiku, manfaatkan koneksi elite dari keluargaku selama sepuluh tahun ini, dan bekerja siang malam demi perusahaan itu. Dan kamu?"Aku menatap Lia yang berlutut di tangga dan berkata dengan suara yang makin dingin, "Kamu menganggap semua kontribusiku sebagai sesuatu yang wajar. Kamu memfitnahku dan mencoba menghancurkan reputasiku di online. Sekarang setelah kamu kehilangan pekerjaan dan reputasi kreditmu hancur, kamu malah merasa kamu dirugikan."Para reporter mendengarkan cerita itu dengan terpukau dan kamera mereka terus tertuju pada kami.Dengan suara yang terden

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 11

    Menghadapi pertanyaan yang tanpa ampun dari para reporter, Lia benar-benar panik. Kali ini, air matanya bukan hanya akting lagi, melainkan ketakutan yang nyata. Dia berkata dengan terbata-bata, "Aku ... bisa menjelaskan ...."Seorang reporter dari Jurnal Megah yang bersikap tanpa ampun.[ Menjelaskan apa? Bagaimana kamu menjebak Bu Karina dan mencuri pekerjaan serta kantornya? ]Kolom obrolan dari siaran langsung itu kini berubah menjadi tempat semburan kemarahan.[ Dua orang ini menjijikkan sekali. ][ Mereka ambil uangnya dan pakai koneksinya, lalu menusuknya dari belakang. ]Aku duduk di kafe sambil menonton kedua orang yang ada di layar itu merasa gelisah, lalu menyesap latte dengan anggun.Saat itu, pintu ruang bawah tanah tiba-tiba dibanting terbuka. Sekelompok orang yang dipimpin seorang pria paruh baya menerobos masuk dan langsung menunjuk Kevin dengan marah."Kevin! Dasar pembohong! Mana utangmu yang tujuh miliar lima ratus juta itu?"Makin banyak pemasok yang berdesakan masuk

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 10

    Keesokan sorenya, Kevin dan Lia melakukan siaran langsung online. Latar belakangnya adalah dinding beton yang suram dan mereka duduk di belakang meja lipat yang reyot.Lia tidak memakai riasan, matanya bengkak serta merah, dan terlihat kelelahan. Dia menahan tangisnya saat sedang berbicara ke kamera. "Aku hanya gadis biasa yang baru lulus kuliah dan berusaha bertahan di dunia yang kejam ini. Saat aku temukan kejanggalan di perusahaanku dan jalankan tugasku melaporkannya, aku malah terima pembalasan gila dari seorang eksekutif yang kaya dan berkuasa ...."Komentar di siaran itu langsung melaju secepat kilat.[ Aku kasihan banget dengannya. Kaum kapitalis memang paling buruk. ][ Ini contoh penindasan beda kelas yang sempurna. ][ Anak orang kaya harus lenyap semua. ][ Aku dukung Lia. Kita harus menuntut keadilan untuk rakyat biasa. ]Aku menatap layar yang dipenuhi pesan-pesan penuh amarah itu dengan ekspresi tetap tenang seperti biasanya.Kevin yang memainkan perannya pun berkata deng

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 9

    Saat ini, ponselku sudah dibanjiri dengan pesan. Kevin, Lia, karyawan lainnya, dan bahkan resepsionis, semuanya meneleponku.Isi dari pesan Kevin adalah yang paling panik. Dimulai dengan pesan mengancam dengan marah, lalu berubah menjadi memohon dengan putus asa dan akhirnya merengek memohon belas kasihan.[ Karina, kamu gila ya? Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? ][ Polisi bilang kami masuk tanpa izin? Apa maksudnya ini? ][ Tolong, hentikan mereka. Aku akan memberimu apa pun yang kamu mau. ][ Kita ini teman kuliah. Kamu nggak boleh lakukan ini padaku. ][ Karina, aku salah. Aku tahu aku sudah salah. Lepaskan aku kali ini saja, aku akan lakukan apa pun. ]Kevin sepertinya sudah tahu dia tidak bisa bernegosiasi denganku lagi, sehingga sekarang dia memainkan kartu simpati.Yang menariknya lagi, pamanku juga bergerak dengan cepat. Grup Maulana secara resmi dan terbuka mengumumkan pembatalan seluruh minat investasi pada perusahaannya Kevin. Bukan hanya itu, mereka juga memasukkan p

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 8

    Melihat Kevin terdiam, aku berpaling dengan jijik."Om Arthur, aku sudah memutuskan untuk mendirikan perusahaanku sendiri. Mulai sekarang, aku nggak ada hubungan apa pun lagi dengan mereka," kataku sambil tersenyum.Rasa bangga terlintas di tatapan Arthur saat mendengar perkataan itu, lalu mendengus. Dia menoleh ke arah Kevin dan berkata dengan nada dingin, "Baiklah. Sekarang aku secara resmi mengumumkan Grup Maulana menarik seluruh minat investasi dari perusahaanmu. Selain itu, aku akan beri tahu semua kolegaku di Jalan Megah untuk masukkan kamu ke daftar hitam permanen kami."Wajah Kevin langsung pucat pasi. Dia membuka mulut seolah-olah ingin berbicara, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.Lia yang berdiri di samping pun gemetar karena dia akhirnya tahu betapa fatal kesalahan yang telah diperbuatnya.Arthur merapikan mansetnya dengan anggun, lalu menawarkan lengannya padaku. "Keponakanku, ayo kita pergi makan siang. Aku mau dengar rencanamu tentang perusahaan baru ini."Aku merai

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 7

    Aku tidak menjawab pertanyaan Kevin. Aku malahan membuka pintu mobilku, lalu perlahan-lahan keluar agar terlihat jelas oleh semua orang.Saat melihatku, Kevin mengira aku datang untuk menyelamatkannya. Dia langsung menutup telepon, lalu segera berjalan ke arahku dan berusaha meraih lenganku. "Karina, kamu akhirnya datang. Cepat bilang pada manajer untuk membiarkan kami ...."Aku menepis tangan Kevin dengan dingin, lalu melangkah mundur. Aku berkata dengan nada tenang, "Kevin, karena kamu sudah memecatku, wajar saja kartu VIP milikku nggak bisa dipakai perusahaan lagi. Bukankah itu logika bisnis yang sangat standar?"Wajah Kevin langsung pucat pasi. "Kamu ... nggak bisa melakukan ini."Lia yang berdiri di dekat Kevin malah membuat keadaannya menjadi makin buruk. Dia melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya, lalu berkata dengan nada menuduh, "Karina, kamu harusnya nggak melibatkan perasaan pribadimu. Ini investasi yang sangat penting untuk kelangsungan hidup perusahaan. Kenapa kamu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status