FAZER LOGINSelama tiga tahun, aku menggunakan koneksi keluargaku untuk menghasilkan ratusan miliar pendapatan bagi perusahaan. Namun di rapat kuartalan, seorang magang baru berdiri di depan semua orang, menampilkan laporan kehadiran dan pengeluaranku, lalu menuduhku "absen tanpa alasan" dan "menghamburkan dana perusahaan". "Klub-klub mewah ini, restoran-restoran ini ...," katanya dengan suara penuh pembenaran diri. "Setiap kali dia menghabiskan ratusan juta! Ini semua pengeluaran yang sama sekali nggak perlu." "Aku sangat menyarankan Pak Presdir untuk segera memecatnya dan menyelamatkan arus kas perusahaan." Aku melirik Kevin, sang presdir. Teman sekelasku dulu. Dia tahu persis berapa banyak pendapatan yang dihasilkan dari setiap pertemuan itu. Dia juga tahu bahwa saat aku tidak berada di kantor, berarti aku sedang berada di bar, untuk bernegosiasi dengan investor, kadang minum sampai perutku terasa mual. Namun, dia hanya menatapku dengan dingin. "Karina, apa penjelasanmu tentang absensi dan pengeluaran yang disampaikan Lia?" Aku tersenyum. "Aku nggak punya apa pun untuk dijelaskan." Mereka semua akan segera tahu konsekuensi dari aksi kecil ini.
Ver maisLia menangis makin keras sampai ingus dan air matanya bercampur membasahi wajahnya. "Aku tahu aku salah. Aku benar-benar tahu. Tolong maafkan aku, aku nggak akan mengulanginya lagi."Aku menatap keadaan Lia yang menyedihkan dengan tatapan tanpa rasa iba sedikit pun. Aku tertawa pelan sekaligus tajam. "Kamu tahu kamu salah? Kamu tahu apa yang sudah kuberikan untuk perusahaan itu? Aku sampai pakai puluhan miliar dari uang pribadiku, manfaatkan koneksi elite dari keluargaku selama sepuluh tahun ini, dan bekerja siang malam demi perusahaan itu. Dan kamu?"Aku menatap Lia yang berlutut di tangga dan berkata dengan suara yang makin dingin, "Kamu menganggap semua kontribusiku sebagai sesuatu yang wajar. Kamu memfitnahku dan mencoba menghancurkan reputasiku di online. Sekarang setelah kamu kehilangan pekerjaan dan reputasi kreditmu hancur, kamu malah merasa kamu dirugikan."Para reporter mendengarkan cerita itu dengan terpukau dan kamera mereka terus tertuju pada kami.Dengan suara yang terden
Menghadapi pertanyaan yang tanpa ampun dari para reporter, Lia benar-benar panik. Kali ini, air matanya bukan hanya akting lagi, melainkan ketakutan yang nyata. Dia berkata dengan terbata-bata, "Aku ... bisa menjelaskan ...."Seorang reporter dari Jurnal Megah yang bersikap tanpa ampun.[ Menjelaskan apa? Bagaimana kamu menjebak Bu Karina dan mencuri pekerjaan serta kantornya? ]Kolom obrolan dari siaran langsung itu kini berubah menjadi tempat semburan kemarahan.[ Dua orang ini menjijikkan sekali. ][ Mereka ambil uangnya dan pakai koneksinya, lalu menusuknya dari belakang. ]Aku duduk di kafe sambil menonton kedua orang yang ada di layar itu merasa gelisah, lalu menyesap latte dengan anggun.Saat itu, pintu ruang bawah tanah tiba-tiba dibanting terbuka. Sekelompok orang yang dipimpin seorang pria paruh baya menerobos masuk dan langsung menunjuk Kevin dengan marah."Kevin! Dasar pembohong! Mana utangmu yang tujuh miliar lima ratus juta itu?"Makin banyak pemasok yang berdesakan masuk
Keesokan sorenya, Kevin dan Lia melakukan siaran langsung online. Latar belakangnya adalah dinding beton yang suram dan mereka duduk di belakang meja lipat yang reyot.Lia tidak memakai riasan, matanya bengkak serta merah, dan terlihat kelelahan. Dia menahan tangisnya saat sedang berbicara ke kamera. "Aku hanya gadis biasa yang baru lulus kuliah dan berusaha bertahan di dunia yang kejam ini. Saat aku temukan kejanggalan di perusahaanku dan jalankan tugasku melaporkannya, aku malah terima pembalasan gila dari seorang eksekutif yang kaya dan berkuasa ...."Komentar di siaran itu langsung melaju secepat kilat.[ Aku kasihan banget dengannya. Kaum kapitalis memang paling buruk. ][ Ini contoh penindasan beda kelas yang sempurna. ][ Anak orang kaya harus lenyap semua. ][ Aku dukung Lia. Kita harus menuntut keadilan untuk rakyat biasa. ]Aku menatap layar yang dipenuhi pesan-pesan penuh amarah itu dengan ekspresi tetap tenang seperti biasanya.Kevin yang memainkan perannya pun berkata deng
Saat ini, ponselku sudah dibanjiri dengan pesan. Kevin, Lia, karyawan lainnya, dan bahkan resepsionis, semuanya meneleponku.Isi dari pesan Kevin adalah yang paling panik. Dimulai dengan pesan mengancam dengan marah, lalu berubah menjadi memohon dengan putus asa dan akhirnya merengek memohon belas kasihan.[ Karina, kamu gila ya? Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? ][ Polisi bilang kami masuk tanpa izin? Apa maksudnya ini? ][ Tolong, hentikan mereka. Aku akan memberimu apa pun yang kamu mau. ][ Kita ini teman kuliah. Kamu nggak boleh lakukan ini padaku. ][ Karina, aku salah. Aku tahu aku sudah salah. Lepaskan aku kali ini saja, aku akan lakukan apa pun. ]Kevin sepertinya sudah tahu dia tidak bisa bernegosiasi denganku lagi, sehingga sekarang dia memainkan kartu simpati.Yang menariknya lagi, pamanku juga bergerak dengan cepat. Grup Maulana secara resmi dan terbuka mengumumkan pembatalan seluruh minat investasi pada perusahaannya Kevin. Bukan hanya itu, mereka juga memasukkan p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.