Share

Bab 3

Penulis: Echo
Aku mengambil tagihan itu dan membacanya dengan saksama. Aku tertawa kecil dan berkata, "Menarik. Lia, kamu tahu angka-angka ini apa?"

Lia mengernyitkan alis, jelas tidak menyangka aku akan bertanya begitu. "Maksudmu?"

Aku meletakkan tagihan itu kembali sambil berkata, "Itu daftar harga. Tapi, aku pakai kartu keanggotaan pribadiku yang memberiku diskon 30 sampai 40% di masing-masing tempat itu."

Ekspresi Lia sempat berubah, tetapi dia segera memulihkan diri. "Terus kenapa? Kamu tetap melanggar aturan."

Aku melanjutkan, "Jadi, untuk pengeluaran sebesar dua miliar tiga ratus lima puluh lima juta ini, aku sebenarnya hanya menghabiskan sekitar satu miliar enam ratus lima puluh juta. Tapi sekarang, kalian minta aku menggantinya dengan harga penuh?"

Magang di departemen keuangan yang berdiri di samping Lia bergumam, "Benar juga. Kalau ada diskon keanggotaan ...."

"Diam!"

Lia membentak, lalu kembali menoleh ke arahku. "Karina, jangan main-main. Faktanya, kamu memang sudah menyalahgunakan dana perusahaan. Diskon apa pun itu urusan pribadimu, nggak ada hubungannya dengan perusahaan."

Aku menatap Lia dengan tatapan dingin. "Jadi, kamu merasa ini salahku sendiri karena sudah pakai keanggotaan pribadiku untuk hemat uang perusahaan?"

"Tepat sekali!"

Lia berkata dengan nada menantang, "Dan karena kamu mengaku kamu pakai kartu keanggotaanmu, itu berarti sekarang kartu-kartu itu adalah aset perusahaan. Kamu menggunakannya untuk urusan perusahaan, jadi itu milik perusahaan. Kamu harus menyerahkannya sebagai kompensasi."

Dia melanjutkan, "Selain itu, mulai sekarang semua laporan pengeluaran dan aktivitasmu di luar kantor harus disetujui dan ditandatanganiku, direktur yang baru. Bagaimanapun juga, perusahaan butuh seseorang untuk mengawasi tindakanmu."

Direktur yang baru? Aku hampir tertawa terbahak-bahak. Mempromosikan seorang magang yang baru bekerja beberapa bulan ke posisi direktur ... Kevin benar-benar mengerahkan segala cara untuk menggantikanku.

Aku mengambil pena dan menandatangani namaku di bagian bawah tagihan itu. "Baiklah. Selesai."

Melihatku begitu patuh, Lia jelas terkejut. Dia terdiam sejenak, lalu merebut dokumen itu dan menyeringai. "Bagus. Sepertinya kamu tahu mana yang terbaik untukmu."

Lia mengamati kantorku, lalu pandangannya berhenti pada meja kayu impor dan lukisan abstrak di dinding. Dia tersenyum dengan penuh kemenangan dan berkata, "Oh, ada satu hal lagi. Kamu harus mengosongkan kantor ini."

"Apa?" seruku.

"Kevin baru saja memutuskan untuk menyerahkan kantor senior ini padaku. Bagaimanapun juga, sebagai direktur baru, aku butuh ruang kerja yang sesuai dengan posisiku. Kalau kamu, sekarang kamu cuma karyawan yang sedang didisiplin. Ruang kerja biasa sudah cukup," kata Lia dengan nada bangga.

Aku bahkan tidak tertarik bertengkar dengan Lia untuk hal sepele seperti itu, aku akan membiarkannya menikmati kemenangannya beberapa hari lagi. Aku mengemas beberapa barang pribadi penting ke dalam tas, lalu berjalan keluar ruangan itu.

Setelah itu, aku menelepon pengacara pribadiku, "Aku perlu konsultasi soal penyitaan ilegal properti pribadi oleh perusahaan dan proses hukum untuk menuntut ganti rugi. Bukti? Aku punya. Semua catatan transfer, semua faktur, dan rekaman setiap rapat sialan itu. Aku menyimpan semuanya."

Pengacaraku merespons dengan penuh keyakinan. "Semua keanggotaan dan manfaat terkait yang terdaftar atas nama pribadimu adalah properti pribadimu, nggak ada perusahaan yang berhak menyitanya secara paksa. Kalau mereka coba melakukannya, kita bisa langsung menggugat."

Setelah menutup telepon, aku mengeluarkan dokumen lain dari tasku. Itu adalah akta kepemilikan gedung kantor ini dan nama pembelinya adalah namaku sendiri.

Tiga tahun yang lalu, aku membeli gedung ini demi menjaga harga diri Kevin dan meringankan beban finansial untuk memulai perusahaannya. Setelah itu, aku menyewakannya ke perusahaan secara anonim dengan harga 450 juta per bulan. Padahal harga pasar untuk gedung seperti ini sebenarnya adalah tiga miliar tujuh ratus lima puluh juta per bulan.

Aku teringat hari di mana aku dan Kevin pergi menandatangani kontrak sewa, Kevin berkata, "Karina, kita benar-benar beruntung bisa menemukan kantor sebagus ini di lokasi strategis."

Saat itu, aku hanya tersenyum dan berkata, "Kita memang beruntung."

Jika sekarang dipikirkan lagi, aku benar-benar terlalu naif.

Aku mendengar suara Lia yang penuh semangat dari belakangku. Dia sedang menelepon para kontraktor dan memerintahkan mereka untuk segera mendekor ulang kantor itu dengan antusias. Tak lama kemudian, beberapa petugas pindahan keluar sambil membawa kursi ergonomis mahal milikku dan perlengkapan kantor lainnya.

"Buang saja ke tempat sampah, toh nggak ada yang mau!" teriak Lia.

Aku melihat barang-barang yang dulu menjadi bagian dari ruang kerjaku yang tertata rapi itu dibuang sembarangan ke sudut lorong. Namun, tidak masalah, aku tidak membutuhkannya lagi.

Sepuluh menit kemudian, ponselku bergetar dan itu adalah unggahan terbaru di Instagram Lia. Begitu membukanya, aku melihat swafotonya di kantor lamaku. Di foto itu, dia duduk di kursi kulit baru sambil memegang segelas sampanye dan menulis beberapa kata.

[ Kantor baru, awal yang baru! Bersyukur atas kepercayaan perusahaan. Akhirnya pindah ke kantor direktur! #Promosi #BosWanita #KerjaKerasBerbuahHasil. ]

Di bawah foto itu, ada puluhan suka dan komentar yang menjilat Lia dari rekan kerja.

Aku juga menekan tombol suka di foto Lia dengan tanpa ekspresi. Aku harap dia menikmati kursi itu. Aku penasaran dia masih bisa duduk di kursi itu berapa lama lagi.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 12

    Lia menangis makin keras sampai ingus dan air matanya bercampur membasahi wajahnya. "Aku tahu aku salah. Aku benar-benar tahu. Tolong maafkan aku, aku nggak akan mengulanginya lagi."Aku menatap keadaan Lia yang menyedihkan dengan tatapan tanpa rasa iba sedikit pun. Aku tertawa pelan sekaligus tajam. "Kamu tahu kamu salah? Kamu tahu apa yang sudah kuberikan untuk perusahaan itu? Aku sampai pakai puluhan miliar dari uang pribadiku, manfaatkan koneksi elite dari keluargaku selama sepuluh tahun ini, dan bekerja siang malam demi perusahaan itu. Dan kamu?"Aku menatap Lia yang berlutut di tangga dan berkata dengan suara yang makin dingin, "Kamu menganggap semua kontribusiku sebagai sesuatu yang wajar. Kamu memfitnahku dan mencoba menghancurkan reputasiku di online. Sekarang setelah kamu kehilangan pekerjaan dan reputasi kreditmu hancur, kamu malah merasa kamu dirugikan."Para reporter mendengarkan cerita itu dengan terpukau dan kamera mereka terus tertuju pada kami.Dengan suara yang terden

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 11

    Menghadapi pertanyaan yang tanpa ampun dari para reporter, Lia benar-benar panik. Kali ini, air matanya bukan hanya akting lagi, melainkan ketakutan yang nyata. Dia berkata dengan terbata-bata, "Aku ... bisa menjelaskan ...."Seorang reporter dari Jurnal Megah yang bersikap tanpa ampun.[ Menjelaskan apa? Bagaimana kamu menjebak Bu Karina dan mencuri pekerjaan serta kantornya? ]Kolom obrolan dari siaran langsung itu kini berubah menjadi tempat semburan kemarahan.[ Dua orang ini menjijikkan sekali. ][ Mereka ambil uangnya dan pakai koneksinya, lalu menusuknya dari belakang. ]Aku duduk di kafe sambil menonton kedua orang yang ada di layar itu merasa gelisah, lalu menyesap latte dengan anggun.Saat itu, pintu ruang bawah tanah tiba-tiba dibanting terbuka. Sekelompok orang yang dipimpin seorang pria paruh baya menerobos masuk dan langsung menunjuk Kevin dengan marah."Kevin! Dasar pembohong! Mana utangmu yang tujuh miliar lima ratus juta itu?"Makin banyak pemasok yang berdesakan masuk

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 10

    Keesokan sorenya, Kevin dan Lia melakukan siaran langsung online. Latar belakangnya adalah dinding beton yang suram dan mereka duduk di belakang meja lipat yang reyot.Lia tidak memakai riasan, matanya bengkak serta merah, dan terlihat kelelahan. Dia menahan tangisnya saat sedang berbicara ke kamera. "Aku hanya gadis biasa yang baru lulus kuliah dan berusaha bertahan di dunia yang kejam ini. Saat aku temukan kejanggalan di perusahaanku dan jalankan tugasku melaporkannya, aku malah terima pembalasan gila dari seorang eksekutif yang kaya dan berkuasa ...."Komentar di siaran itu langsung melaju secepat kilat.[ Aku kasihan banget dengannya. Kaum kapitalis memang paling buruk. ][ Ini contoh penindasan beda kelas yang sempurna. ][ Anak orang kaya harus lenyap semua. ][ Aku dukung Lia. Kita harus menuntut keadilan untuk rakyat biasa. ]Aku menatap layar yang dipenuhi pesan-pesan penuh amarah itu dengan ekspresi tetap tenang seperti biasanya.Kevin yang memainkan perannya pun berkata deng

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 9

    Saat ini, ponselku sudah dibanjiri dengan pesan. Kevin, Lia, karyawan lainnya, dan bahkan resepsionis, semuanya meneleponku.Isi dari pesan Kevin adalah yang paling panik. Dimulai dengan pesan mengancam dengan marah, lalu berubah menjadi memohon dengan putus asa dan akhirnya merengek memohon belas kasihan.[ Karina, kamu gila ya? Kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan? ][ Polisi bilang kami masuk tanpa izin? Apa maksudnya ini? ][ Tolong, hentikan mereka. Aku akan memberimu apa pun yang kamu mau. ][ Kita ini teman kuliah. Kamu nggak boleh lakukan ini padaku. ][ Karina, aku salah. Aku tahu aku sudah salah. Lepaskan aku kali ini saja, aku akan lakukan apa pun. ]Kevin sepertinya sudah tahu dia tidak bisa bernegosiasi denganku lagi, sehingga sekarang dia memainkan kartu simpati.Yang menariknya lagi, pamanku juga bergerak dengan cepat. Grup Maulana secara resmi dan terbuka mengumumkan pembatalan seluruh minat investasi pada perusahaannya Kevin. Bukan hanya itu, mereka juga memasukkan p

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 8

    Melihat Kevin terdiam, aku berpaling dengan jijik."Om Arthur, aku sudah memutuskan untuk mendirikan perusahaanku sendiri. Mulai sekarang, aku nggak ada hubungan apa pun lagi dengan mereka," kataku sambil tersenyum.Rasa bangga terlintas di tatapan Arthur saat mendengar perkataan itu, lalu mendengus. Dia menoleh ke arah Kevin dan berkata dengan nada dingin, "Baiklah. Sekarang aku secara resmi mengumumkan Grup Maulana menarik seluruh minat investasi dari perusahaanmu. Selain itu, aku akan beri tahu semua kolegaku di Jalan Megah untuk masukkan kamu ke daftar hitam permanen kami."Wajah Kevin langsung pucat pasi. Dia membuka mulut seolah-olah ingin berbicara, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.Lia yang berdiri di samping pun gemetar karena dia akhirnya tahu betapa fatal kesalahan yang telah diperbuatnya.Arthur merapikan mansetnya dengan anggun, lalu menawarkan lengannya padaku. "Keponakanku, ayo kita pergi makan siang. Aku mau dengar rencanamu tentang perusahaan baru ini."Aku merai

  • Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan   Bab 7

    Aku tidak menjawab pertanyaan Kevin. Aku malahan membuka pintu mobilku, lalu perlahan-lahan keluar agar terlihat jelas oleh semua orang.Saat melihatku, Kevin mengira aku datang untuk menyelamatkannya. Dia langsung menutup telepon, lalu segera berjalan ke arahku dan berusaha meraih lenganku. "Karina, kamu akhirnya datang. Cepat bilang pada manajer untuk membiarkan kami ...."Aku menepis tangan Kevin dengan dingin, lalu melangkah mundur. Aku berkata dengan nada tenang, "Kevin, karena kamu sudah memecatku, wajar saja kartu VIP milikku nggak bisa dipakai perusahaan lagi. Bukankah itu logika bisnis yang sangat standar?"Wajah Kevin langsung pucat pasi. "Kamu ... nggak bisa melakukan ini."Lia yang berdiri di dekat Kevin malah membuat keadaannya menjadi makin buruk. Dia melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya, lalu berkata dengan nada menuduh, "Karina, kamu harusnya nggak melibatkan perasaan pribadimu. Ini investasi yang sangat penting untuk kelangsungan hidup perusahaan. Kenapa kamu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status