Share

Bab 2

Author: Rizu Key
last update publish date: 2025-11-26 11:16:17

Kabar itu menghantam Aya seperti petir di pagi hari yang cerah. Sesuatu di dalam dirinya patah, runtuh seketika.

“Nggak…,” bibirnya bergetar. “Nggak mungkin….”

Penjelasan dokter terdengar seperti suara dari kejauhan. Berhenti bernapas. Terlalu lemah. Semua kata itu menamparnya tanpa ampun. Kakinya goyah, air mata jatuh tanpa sempat ia tahan.

“Ibu… ini pasti salah…,” bisiknya lirih.

Aya berlari ke kamar rawat, lalu terhenti ketika ranjang itu kosong. Tubuhnya gemetar saat ia dibawa ke kamar jenazah. Di sanalah ibunya terbaring, diam, dingin, tak lagi menjawab panggilan.

Begitu selimut putih itu tersingkap, Aya jatuh berlutut. Tangisnya pecah singkat, patah, seperti napas yang kehabisan tempat berpijak. Ia memeluk tubuh ibunya, sementara kartu ATM itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai.

Uang yang ia dapatkan dengan harga yang terlalu mahal, tak mampu menyelamatkan apa pun. Ia sudah menyerahkan segalanya. Namun tetap saja… ia terlambat.

Atau mungkin, itu adalah hukuman bagi Aya. Selama ini, ibunya selalu mengajarkan hal baik. Tapi, ia demi sesuatu yang cepat, Aya justru memilih jalan yang salah.

**

Dua bulan berlalu.

Namun, selama itu kehidupan Aya tak banyak berubah. Sejak ibunya meninggal, Aya tinggal seorang diri. Beruntung, ia memiliki Gina, sahabat baik yang selalu membantunya.

Bahkan, kini Aya juga telah bekerja di cafe sederhana milik kakak Gina, Hendra.

Aya selalu berusaha bekerja dengan rajin dan cekatan. Melayani para pelanggan dengan senyuman ramah. Hendra sebagai bosnya juga sangat baik dan memperlakukan Aya seperti adiknya sendiri. Meski begitu tetap tegas padanya.

Siang itu, Aya baru saja beristirahat setelah bekerja sejak pagi.

"Aya," panggil Hendra tiba-tiba.

"Iya, Mas?" Aya menoleh ke arah pria tampan berwajah manis yang berjalan mendekatinya.

Hendra diam sejenak. "Kamu... Ikut Mas ke ruangan," ajaknya kemudian.

"Baik, Mas." Aya dengan patuh berjalan di belakang sang bos.

Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan kerja Hendra.

"Duduklah," ucap Hendra lembut, mempersilahkan Aya duduk pada sofa yang ada di sudut ruangan. Lalu dirinya ikut duduk di sebelah Aya.

"Ada apa, Mas? Apa... aku melakukan kesalahan?" tanya Aya membuka pembicaraan.

Hendra menggeleng pelan. Namun dia tak segera menjawab. Pria itu justru diam menatap wajah cantik Aya yang duduk di sampingnya. Aya pun dengan sabar menunggu sang bos berbicara.

"Ay... Mas mau bicara serius sama kamu," ucap Hendra kemudian.

Aya masih diam. Di dalam ruangan itu, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding ketika tak ada yang bicara. Begitu tenang, berbeda dengan keadaan di luar sana yang sibuk dengan datang perginya para pelanggan.

"Aya... Mas suka sama kamu... Maukah kamu menikah denganku?"

Pertanyaan itu membuat Aya membeku. Senyumannya bahkan tiba-tiba menghilang dari wajah cantiknya.

"Ah. Kamu nggak perlu menjawabnya sekarang, Ay. Tapi... Mas benar-benar serius, Mas suka sama kamu," ucap Hendra kemudian.

Aya menatap wajah lembut di depannya. Hendra adalah sosok pria yang tak pernah dia harapkan menjadi pasangan. Karena bagi dirinya, Hendra adalah sosok kakak laki-laki yang sempurna.

"Apa yang membuat Mas Hendra suka padaku?" tanya Aya kemudian. Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya.

"Semuanya. Mas suka kamu yang ceria, baik, punya semangat tinggi, penuh kasih sayang, bahkan selalu menjaga semua hal yang berharga dengan sangat baik," jawab Hendra tanpa ragu.

Aya merasakan tamparan di dalam hatinya. 'Menjaga semua hal yang berharga? Aku bahkan kehilangan kesucianku demi sejumlah uang....' batinnya pilu.

"Maaf, Mas... Tolong beri aku waktu buat berpikir...." putus Aya kemudian.

"Iya, Ay. Mas ngerti, kok. Kamu pikirkan baik-baik soal jawabannya. Mas akan selalu menunggu," ucap Hendra lembut.

Aya kembali bekerja setelahnya. Dia masih tak menyangka bahwa orang yang dia anggap seperti kakaknya sendiri, malah mengajaknya menikah.

Bukannya tak mau, tapi Aya merasa tak pantas untuk Hendra. Bagaimanapun juga, dia telah menyerahkan kehormatannya pada seorang pria yang tak dia ketahui namanya.

**

Selain memikirkan jawaban untuk lamaran Hendra, Aya masih terus bekerja dengan baik. Namun, meski tubuhnya bekerja seperti biasa, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak normal belakangan ini.

Entah kenapa, Aya merasa mudah lelah, bahkan sensitif terhadap bau kopi yang biasanya dia sukai. Bahkan hari ini, sejak pagi Aya merasakan mual dan pusing.

Aya menutup mulutnya, lalu buru-buru meninggalkan area kerja. Begitu tiba di toilet, ia langsung membungkuk dan memuntahkan isi perutnya. Napasnya terengah, keringat dingin membasahi pelipis.

“Apa-apaan ini…,” gumamnya lemah sambil berpegangan pada wastafel.

Mual, pusing, tubuh mudah lelah. Satu per satu gejala itu berputar di kepalanya. Lalu pikirannya tersentak pada satu hal lain yang selama ini ia abaikan.

Sejak ibunya meninggal… ia belum datang bulan.

Wajah Aya semakin pucat. Jantungnya berdetak tak karuan.

“Tunggu… nggak mungkin kan…,” bisiknya panik. “Aku nggak mungkin hamil….”

Belum sempat ia menyelesaikan pikirannya, pintu toilet diketuk pelan.

“Aya? Kamu kenapa?” suara Hendra terdengar cemas dari luar.

Aya cepat-cepat membasuh wajahnya, menegakkan tubuh meski kakinya masih gemetar. Saat pintu terbuka, Hendra langsung menyadari wajahnya yang pucat.

“Kamu sakit?” tanyanya khawatir.

Aya menggeleng pelan, memaksakan senyum. “Nggak… cuma masuk angin. Aku gapapa, Mas.”

Hendra masih menatap Aya lekat. Kerut di dahinya tak juga mengendur.

“Kamu yakin? Wajah kamu pucat banget,” katanya pelan. “Kalau mau, aku anterin pulang aja. Kerjaan bisa aku urusin.”

Aya buru-buru menggeleng. Tangannya refleks mencengkeram celemek di pinggangnya.

“Nggak usah, Mas. Aku beneran nggak apa-apa,” jawabnya cepat. “Mungkin cuma kecapekan. Nanti juga mendingan.”

Hendra tampak ragu. Ia menimbang sejenak, lalu menghela napas. “Kalau kamu maksa tetap kerja, istirahat yang bener. Jangan dipaksain.”

“Iya,” sahut Aya singkat. Ia menunduk, menghindari tatapan itu.

Baru beberapa langkah keluar dari toilet, Aya merasa kepalanya terasa semakin berat. Dunia di sekelilingnya berputar pelan, lalu semakin cepat. Suara kafe mendengung samar di telinganya.

Aya mencoba berpegangan pada dinding, tapi tangannya meleset. Lututnya melemah.

Dan sebelum sempat memanggil siapapun, pandangannya menggelap.

Tubuh Aya ambruk ke lantai.

Ketika kesadaran Aya kembali perlahan, seperti cahaya yang merayap masuk ke ruangan gelap. Kepalanya masih terasa berat. Aya mengerang pelan saat membuka mata.

Langit-langit kamar yang asing menyambutnya.

“Aya?” suara lembut memanggil. “Kamu sudah sadar?”

Aya menoleh. Gina duduk di sisi ranjang, wajahnya penuh cemas. Di belakangnya, Hendra berdiri dengan ekspresi serius, tangannya menyilang di dada.

“Ini… kamar kamu?” suara Aya serak.

Gina mengangguk cepat. “Iya. Kamu pingsan di kafe. Mas Hendra yang gendong kamu ke mobil.”

Aya terdiam. Sepenggal ingatan sebelumnya muncul di kepalanya.

Hendra melangkah mendekat. Tatapannya lurus, tak menghindar.

“Aya,” ucapnya pelan tapi tegas, “Apa pun yang terjadi sama kamu… aku mau kamu dengar baik-baik.”

Aya menegang, dahinya berkerut bingung.

“Apapun kondisimu sekarang,” lanjut Hendra, “Siapapun laki-laki yang sudah menghamili kamu… kalau dia pergi dan ninggalin kamu, aku siap tanggung jawab.”

Napas Aya tercekat. Dadanya berdesir keras.

“Ma-Mas, apa maksudmu?”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Fatimah Chairan Chairani
baik bangett tuch masnya mau ambil yang mau ambil tanggungjawab...
goodnovel comment avatar
Untitled
Belum sanggup baca lanjutannya, sampe sini udah lucu. Kantor apa ini ributin angka puluhan juta ? Dan bisa bisanya seorang presdir nimbrung di area admin ...🫣🫠...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 353 [TAMAT]

    Keesokan harinya, pemberitaan media dipenuhi oleh liputan acara pesta perkenalan tersebut. Surat kabar utama, majalah bisnis, hingga media hiburan terkemuka menayangkan berita utama dengan positif. Berita mengenai Pemimpin Bagaskara Group yang telah menjadi seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab penuh menjadi topik hangat yang dipuji banyak pihak. Foto keluarga mereka di pesta itu telah menjadi trending topik yang terus dibahas selama lebih dari satu bulan. Sementara di sebuah pantai berpasir putih yang indah, sebuah vila di sana terlihat cukup damai dan hangat. Di dalam vila mewah itu, cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kaca besar di ruang tengah. Tidak ada lagi rasa cemas, ketakutan, atau bayang-bayang fitnah yang menghantui keluarga Bagaskara. "Ayah, Bunda?" panggil Putra yang baru saja bangun tidur. Bocah itu baru keluar dari kamarnya dengan wajah bantal dan rambut berantakan. "Kamu sudah bangun, Sayang?" sapa Aya lembut, menoleh menatap putra sulun

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 352

    "Tidak, Sayang. Kenapa?" Pria itu balas bertanya lalu duduk di samping sang istri. Membiarkan bayi perempuan mereka yang tidur lelap di dalam tempat tidur bayi.Aya tampak cemberut dan Ibra tahu bahwa istrinya sedang cemburu. Pria itu lalu meraih pinggang Aya dan memeluknya."Aku sama sekali nggak menghubunginya, Sayang. Percayalah. Dia yang tiba-tiba muncul dan membuat berita palsu itu. Lagi pula kamu kan tahu kalau aku sudah tidak bekerja sama dengannya," jelas Ibra membela diri.Aya tiba-tiba tersenyum dan memeluk suaminya. "Iya. Aku percaya, kok, Mas. Hehe.""Kamu ngerjain aku?" Ibra langsung menautkan kedua alisnya.Aya terkekeh geli. "Habisnya Mas lucu kalau lagi panik gini."Ibra mendengus pelan."Aku percaya sama Mas Ibra. Mas nggak mungkin selingkuh. Lagi pula Mas udah punya dua anak. Jadi awas saja kalau berani macam-macam di luar sana!" ancam Aya sembari mencubit pelan perut suaminya.Ibra meringis pelan. "Ah... Aku nggak mungkin selingkuh. Lagi pula kamu saja sudah cukup."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 351

    "Selama beberapa hari terakhir, media gosip dan jaringan buzzer secara sistematis menyebar luaskan isu bahwasanya kedua anak saya bukanlah anak kandung saya, serta melampirkan rekam medis palsu yang menyebutkan bahwa saya mengalami impotensi total," lanjut Ibra dengan tatapan lurus mengunci kamera media utama. "Hari ini, kami hadirkan fakta hukum yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun."Layar besar di belakangnya langsung menampilkan dokumen resmi berstempel dari lembaga terakreditasi dan juga dari rumah sakit ternama."Di layar utama, Anda sekalian bisa melihat hasil uji DNA forensik yang dilakukan secara independen oleh tiga laboratorium berbeda di bawah pengawasan Polda. Hasilnya menunjukkan tingkat keidentikan 99,99 persen. Kedua anak saya adalah anak biologis, anak kandung saya tanpa keraguan sedikit pun," tegas Ibra, suaranya tajam menembus kesunyian ruangan.Layar kemudian bergeser menampilkan dokumen rekam medis bertanda "PALSU" dengan watermark merah besar, disandingkan deng

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 350

    Ibra terkekeh dingin. Sebuah tawa yang sanggup membuat siapa pun di ruangan itu merinding. "Kerabat Om Hengki, ya.... gumamnya dengan rahang mengeras."Iya, Pak. Menurut data yang kami dapat, Bagus ini merupakan saudara sepupu yang cukup jauh. Hanya saja mereka akrab dan sama-sama licik," jawab Yudha."Baiklah. Lakukan apa yang harus kalian lakukan. Wanita murahan dan pria licik adalah pasangan yang sangat cocok," geram Ibra lagi dengan tangan terkepal."Baik, Pak," sahut Yudha. "Barang buktinya juga sudah lengkap," lanjutnya seraya membuka folder di meja. "Di dalam laptop pribadi Kaila yang disita polisi, kami juga menemukan file rekaman suara Anda dan Dokter Rian, draf narasi fitnah yang dikirim ke beberapa akun gosip besar, serta bukti transaksi pembayaran bernilai ratusan juta rupiah kepada para influencer dan buzzer untuk menggoreng isu skandal ini."Yudha menekan tombol play pada tabletnya, menampilkan rekaman penggerebekan yang baru saja terjadi beberapa jam lalu. Di dalam vide

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 349

    "Kenapa, Yah?" tanya Putra heran. Bocah itu memiringkan sedikit kepalanya.Suasana di meja makan yang tadinya penuh gurauan hangat perlahan tergantikan oleh ketegangan tipis yang terasa. Putra menatap ayahnya dengan sepasang mata bulat yang memancarkan kekecewaan sekaligus kebingungan. Sendok di tangannya terhenti di udara sebelum akhirnya ia letakkan kembali di atas piring.Sang ayah masih diam. Putra kembali bersuara. "Kenapa nggak boleh sekolah, Ayah? Putra udah pakai seragam loh. Kan gosipnya udah ditangani Om Samuel?" tanya Putra lagi, mencoba mencari celah negosiasi.Meski masih kecil, sebagai anak laki-laki tertua yang mulai paham situasi, ia merasa cemas jika harus tertinggal pelajaran. Putra juga sudah punya banyak teman dan bisa bermain dengan mereka setiap istirahat. Dan yang bocah itu takuti, teman-temannya akan memusuhinya jika mereka juga membaca gosip yang tersebar di internet."Aku sebenarnya juga takut, Ayah, Bunda... Gimana kalau teman-teman Putra menjauhi Putra gara

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 348

    Ibra tertohok. Hampir tersedak ludahnya sendiri. Pria itu kemudian mengubah posisinya, bergeser turun dan berbaring di samping Aya. Ia membetulkan pakaian Aya. Lalu dengan lembut menarik tubuh istrinya masuk ke dalam dekapan hangatnya. Tak lupa menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut tebal hingga sebatas dada. Satu kaki panjang Ibra sengaja dilingkarkan di atas paha Aya, mengunci wanita itu dengan posesif namun tetap lembut."Maafkan aku, ya, Sayang. Aku benar-benar hampir saja menyakitimu," bisik Ibra tulus kembali meminta maaf. Ia mengecup kening Aya cukup lama."Nggak papa, Mas. Aku tahu kamu cuma kangen kan," jawab Aya seraya menyandarkan kepalanya di dada telanjang Ibra, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan-lahan kembali melambat dan stabil.Ibra mengusap-usap punggung Aya penuh kehangatan, meninggalkan rasa nyaman yang menjalar ke seluruh tubuh sang istri. Rasa gairah membara tadi kini berganti menjadi kehangatan yang sangat menenangkan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status