LOGIN"Apa ini?" tanya Ibra.
"Putra juga nggak tahu. Nanti minta tolong kasihin ke Bunda, ya, Yah?" jawab Putra."Memangnya bukan dari kamu?"Putra menggeleng pelan. "Bukan, Ayah. Ini hadiah dari Om Hendra."Ibra menatap hadiah kecil yang muat dalam genggaman tangannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Baiklah," sahutnya."Makasih, Ayah.""Iya." Ibra kemudian menatap ibunya. "Kalian ada apa datang pagi-pagi ke sini?" tanyanya."Mamah cuma mau nganterin Putra aja,Samuel tertegun mendengar perintah itu. "Audit menyeluruh, Pak? Termasuk keluarga dan orang kepercayaan Anda?" tanya pria itu.Ibra tidak menjawab. Matanya yang sedingin es sudah cukup menjadi jawaban. Samuel segera mengangguk patuh dan melangkah keluar dengan cepat, meninggalkan Ibra sendirian di ruang rapat yang kini terasa mencekam."Sam," panggil Ibra kemudian."Iya, Pak?""Periksa saja orang-orang terdekat. Termasuk para tim IT. Periksa mereka lagi. Juga... periksa para mitra saat ini. Apakah mereka melakukan tindakan yang mencurigakan akhir-akhir ini atau tidak. Soal keluargaku, biar aku sendiri yang memastikan," lanjutnya.Samuel menatap wajah sang Presdir. "Maaf, Pak. Apa Anda mencurigai Bu Aya?" tanyanya.Ibra diam lagi. Lalu pria itu menatap ke luar jendela yang menunjukkan gedung pencakar langit lain di sebelah gedung perusahaannya."Aku sendiri tidak percaya. Aya tidak pernah memiliki niat seperti itu. Tapi untuk meyakinkan dan mencari bukti kalau istriku tidak bersalah, a
Semua orang terdiam. Termasuk Danu dan Wawan. Atmosfer di dalam ruangan itu pun berubah dingin dan penuh tekanan. Ibra kembali menunjukkan kekuasaan dinginnya.Ibra menatap mata mereka satu per satu. Tatapan tajam dan dingin yang selalu melekat padanya. "Saya harap kita akan melanjutkan kerjasama sesuai kontrak lama yang sedang berjalan. Namun untuk proyek baru ini, kami minta Anda sekalian memberikan waktu satu minggu lagi untuk pembuktian akhir. Keputusan final akan diambil minggu depan."Jawaban yang tegas itu tidak menyisakan ruang untuk debat. Meski beberapa wajah masih tampak ragu, mereka tahu bahwa Ibra telah memberikan jalan tengah yang paling logis. Rapat pun resmi ditutup dalam damai.Ibra menghela napas, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang empuk dengan satu tangan yang mengetuk-ngetuk pelan meja.Satu per satu peserta rapat mulai meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, seolah ingin segera lepas dari atmosfer berat yang menyelimuti mereka selama dua j
Suasana di dalam ruang rapat lantai lima gedung perusahaan Bagaskara Group terasa seperti medan perang yang dingin. Meskipun pendingin ruangan diatur pada suhu 22 derajat celsius, keringat dingin tampak mengintip di pelipis beberapa orang.Meja jati panjang yang mengilap di tengah ruangan seolah menjadi pembatas antara dua kubu yang sedang menimbang nasib. Sebagian dari mereka yang ingin melangkah maju demi keuntungan besar, dan satu kubu yang masih meragukan Bagaskara Group karena insiden yang menghebohkan beberapa waktu yang lalu.Ibra duduk di kursi kebesarannya, posisi punggungnya tegak, menunjukkan kekuasaan yang tak tergoyahkan. Di sebelah kanannya, Samuel, asisten kepercayaannya, telah menyiapkan setumpuk dokumen digital yang terpampang jelas di layar proyektor besar.Di dalam ruang itu, suasana terasa formal dan sedikit lebih tegang meski yang hadir adalah orang-orang yang sudah lama bekerja sama dengan Ibra. Ada beberapa direktur dari perusahaan rekanan yang cukup dekat secar
Gedung pencakar langit berlogo Bagaskara Group itu tampak jauh lebih hidup hari ini. Setelah berhasil menangani masalah kebocoran data, hari ini adalah hari penting bagi perusahaan Ibra untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari mitranya.Setelah menikmati waktu liburan tiga hari dua malam, Ibra kembali ke kursi kebesarannya. Ia sedang duduk di kursi kerja sembari memeriksa beberapa dokumen penting yang diserahkan oleh Samuel.Siang itu Ibra sedang menatap tumpukan laporan keuangan saat pintu ruangannya diketuk pelan kemudian terbuka perlahan. Ia tidak perlu bertanya siapa itu. Dari aroma parfum bunga yang lembut selalu mendahului langkahnya."Mas Ibra?" Sapaan lembut terdengar dari ambang pintu.Ibra langsung mendongak. Wajah yang tadinya kaku karena angka-angka, mendadak melembut dengan senyuman. Di ambang pintu, Aya berdiri dengan balutan dress sutera untuk ibu hamil berwarna pastel yang longgar namun tetap memancarkan keanggunan. Di tangannya, sebuah tas bekal tersampir."Aya? Kam
"Sayang?" panggil Gina lembut."Hm?"Gina mengendurkan pelukannya dan mendongak menatap wajah pucat sang kekasih. Meski pucat, wajah Niko cukup tampan dengan alis tebal dan hidung yang mancung. Rahang tegasnya pun menambah ketampanannya yang memiliki sisi imut."Apa ada masalah? Sebenarnya Mas tadi mau minta tolong apa sama Putra?" tanya Gina sembari menatap wajah Niko.Pria itu diam sebentar. Lalu ia menarik pinggang Gina ke dalam pelukannya. "Kita makan, yuk? Aku sudah lapar," ajaknya. Pria itu sengaja mengalihkan pembicaraan.Gina pun tak berani bertanya lagi. Mereka akhirnya masuk ke dalam vila untuk makan pagi bersama.*Di sisi lain, sekitar pukul delapan, Ibra, Aya, dan Putra kembali ke vila mereka. Tina sudah menyiapkan buah-buahan segar di meja ruang tengah. Putra yang kelelahan tapi juga kekenyangan, segera merangkak ke sofa dan tertidur pulas dengan sekumpulan kerang yang masih dalam genggaman."Ya ampun, dia ketiduran," gumam Aya sembari mendekati anaknya."Biarkan saja."
"Minta tolong apa, Om?" tanya Putra sembari memiringkan sedikit kepalanya. Menatap Niko dengan keheranan yang polos. Kedua tangannya pun menggenggam ujung kaosnya agar kerang yang telah terkumpul tidak jatuh.Niko menarik tangannya. Pria itu menunduk dalam. Gina pun mendekatinya dan mengusap punggung pria itu. Ia ikut berjongkok."Om Niko kenapa?" tanya Putra polos."Om nggak papa," jawab Niko sembari menegakkan kepalanya menatap Putra."Putra!" seruan Aya terdengar memanggil anaknya.Putra menoleh menatap sang ibu yang memanggilnya. "Om, Tante... Bundaku manggil. Om mau minta tolong apa? Bilang aja," ujarnya.Niko menggeleng pelan. "Nggak jadi, Putra. Om cuma mau minta tolong supaya Putra jadi anak yang hebat," jawabnya."Masa begitu, Om?" tanya Putra heran.Niko mengangguk. "Iya."Bocah itu diam sejenak. "Oke, deh. Kalau gitu Putra mau balik ke Ayah sama Bunda, ya? Makasih udah kasih tahu tempat kerang sebanyak ini," ucapnya.Gina mengusap k
Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Aya keluar dengan tubuh segar. Dan ia sudah mengenakan kaos dan celana pendek yang menampilkan kaki jenjangnya.Wanita itu melangkah keluar. Rambutnya yang panjang digelung tinggi sehingga leher jenjangnya terlihat. Dan saat menutup pintu kembali, Aya melihat ke
"Emmmhhh...." Lenguhan pelan itu terdengar. Aya membuka kedua matanya dan menoleh ke arah suaminya.Pagi itu, cahaya matahari merayap masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, menerangi kamar yang mewah. Aya baru saja bangun. Tubuhnya memang terasa pegal luar biasa, namun tanggung jawabnya s
"Ah, maaf...." cicit Aya yang tersadar akan tindakannya. Wanita itu menegakkan badannya dan melepaskan genggaman tangannya.Ibra hanya diam dengan ekspresi datar. Membuat suasana semakin canggung. Aya cepat-cepat menoleh ke jendela dan membiarkan dirinya memandangi lampu jalanan yang mulai menyala.
Aya memejamkan mata. "Nggak... Kita sudah pernah ke sini lagi, kan?" Ia menoleh menatap Ibra."Hm." Ibra memutar tubuhnya menghadap Aya. "Dan malam itu adalah malam pertama bagi kita berdua. Aku memberimu uang itu, dan kamu memberiku malam yang tidak pernah bisa kulupakan...."Aya membulatkan kedua







