تسجيل الدخولHakim mengetuk palu dengan keras. "Terdakwa, jaga sikap Anda!"Setelah perdebatan sengit selama berjam-jam, di mana kuasa hukum Hengki mencoba segala trik hukum untuk menunda keputusan, mulai dari alasan kesehatan klien hingga prosedur penyitaan bukti yang dianggap tidak sah. Akan tetapi hakim tetap pada pendiriannya. Fakta-fakta yang disajikan Rafael terlalu fakta, terlalu nyata, dan terlalu mengerikan untuk diabaikan.Hakim Ketua kemudian berkonsultasi sejenak dengan hakim anggota lainnya. Suasana sidang mencapai puncak ketegangannya. Para wartawan sudah siap dengan jari di atas tombol unggah setelah mendapatkan foto-foto dan juga rekaman video perdebatan sengit di dalam ruang sidang."Berdasarkan bukti-bukti yang sah dan meyakinkan...." Hakim Ketua memulai pembacaan putusan. "Maka dengan ini menyatakan terdakwa Hengki Pramana terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana secara bersama-sama, pencurian data informasi rahasia negara dan korp
"Menarik sekali kuasa hukum Anda, Pak Hengki," ujar Rafael santai. "Dokumen yang Anda pegang itu memang terlihat asli. Sayangnya, 'keaslian' itu hanya di atas kertas yang sudah dipesan sebelumnya." Pria itu menatap sang Hakim Ketua."Yang Mulia, izinkan kami menunjukkan bukti tandingan untuk membantah 'bukti palsu' mereka. Sebuah bukti yang tidak bisa dibantah oleh kertas-kertas lama yang sudah dimanipulasi ini," lanjutnya dengan tegas. Sementara Ibra memilih diam memercayakan masalah ini padanya.Rafael kemudian meminta tim teknisnya untuk mengganti tampilan di layar proyektor. Kali ini, yang muncul bukan lagi video, melainkan sebuah rekaman audio percakapan telepon yang sangat jernih."Pak Darmawan, uangnya sudah masuk ke rekening luar negeri Anda. Pastikan mekanik itu benar-benar hilang. Jangan sampai ada satu pun benda yang tersisa di lokasi yang bisa dijadikan bukti."Suara itu sangat khas. Suara Hengki Pramana di masa mudanya, dua puluh tahun yang lalu, meskipu
"Kenapa dia bisa tertangkap?" bisik Liam, tampak geram sembari mengepalkan kedua tangannya. Ia menatap Darmawan yang sejak tadi ia tunggu malah tampak begitu bodoh di depan umum.Suasana di dalam ruang sidang utama Pengadilan Negeri itu mendadak sunyi senyap, seolah oksigen di ruangan itu terserap habis saat Darmawan duduk di kursi saksi. Hengki Pramana mencengkeram pinggiran meja hijau di depannya hingga buku-buku jarinya memutih.Mata pria itu yang merah menatap Darmawan dengan kebencian dan juga kecemasan yang bercampur menjadi satu. Pria yang biasanya menjadi 'pembersih' jejaknya itu kini hanya menunduk, gemetar menghadapi ribuan pasang mata yang mengintai lewat lensa kamera yang saling berlomba berkilat seperti petir yang menyambar.Hakim Ketua kembali mengetuk palunya sekali lagi, memecah kesunyian yang mencekam tersebut. "Saksi Darmawan, harap berikan keterangan dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan sumpah yang telah Anda ucapkan."Wajah Hakim Ketua tampak men
Gedung Pengadilan Negeri yang berada di pusat kota sudah dikepung oleh massa dan awak media sejak pukul tujuh pagi. Saat mobil Ibra tiba, suasana sempat riuh, namun Ibra keluar dengan tenang. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua yang sangat pas di tubuhnya, memberikan kesan wibawa, tegas, dan juga dingin yang tak tergoyahkan.Samuel turun lebih dulu, membantu membukakan pintu untuknya dan mendampingi sang Presdir masuk ke dalam gedung. Ia berjalan di samping Ibra. Tak kalah gagah dari atasannya."Pak, Jaksa Penuntut Umum sudah menerima tambahan bukti yang kita kirim tadi malam. Mereka sangat antusias dengan kasus ini. Ini bukan lagi soal sengketa bisnis, ini akan bergeser menjadi kasus pembunuhan berencana," lapor Samuel yang baru saja membuka tabletnya."Bagus. Apa orang itu sudah datang?" tanya Ibra tanpa menoleh."Kabarnya mereka baru saja masuk lewat pintu samping dengan pengawalan ketat kepolisian. Dia terlihat seperti anjing tua yang terluka. Dia pasti ketakutan sekarang jika t
Di layar itu, sebuah postingan berisi video singkat dan beberapa foto menjadi viral di media sosial. Isinya bukan sekadar narasi, melainkan foto-foto otentik dari tempat kejadian perkara belasan tahun lalu yang tidak pernah dipublikasikan.Ada foto mobil kepala keluarga Bagaskara yang hancur, dan yang paling mengerikan, video sebuah mobil lain yang terekam di kamera ponsel jadul yang tersembunyi. Videonya memang kurang jelas dan hanya beberapa detik saja. Namun pelat nomor mobilnya terlihat cukup jelas dan yang sangat dikenal Hengki. Miliknya sendiri beberapa tahun silam.Tak hanya itu, salinan dokumen forensik yang menunjukkan aliran dana dari perusahaan Pramana ke pihak-pihak yang menyabotase kendaraan kepala keluarga Bagaskara tersebar luas di internet."Dari mana... dari mana mereka mendapatkan semua ini?!" Hengki berteriak murka, hampir membanting tablet itu namun berhasil diselamatkan oleh Liam."Pah... ini... ini sudah ditonton jutaan orang dalam waktu satu jam!" Liam panik, wa
Setelah Samuel dan Yudha pamit, Ibra kembali menatap foto keluarga di sudut mejanya. Ia mengusap wajah ayahnya di foto itu."Pah, sebentar lagi. Tidurlah yang nyenyak. Aku sudah tahu siapa iblis yang memakai topeng manusia itu. Dia akan membayar setiap tetes darah yang mengalir malam itu dengan kehancuran berkali lipat."Ibra mengambil ponselnya, mengirim pesan singkat kepada Aya.[Aya, jangan tunggu aku pulang. Tidurlah dulu.]Ibra mematikan lampu ruangannya, membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya. Monster di dalamnya memang sudah bangun, dan kali ini, monster itu memiliki senjata paling mematikan. Senjata kebenaran yang tidak terbantahkan yang telah disembunyikan oleh keluarga Pramana.Kegelapan di ruang kerja itu seolah menjadi selimut hitam bagi amarah Ibra yang telah lama tertahan. Setiap napas yang ia hirup terasa berat oleh beban masa lalu, namun kini, ada binar kepastian di matanya. Setelah bertahun-tahun salah menaruh kepercayaan, akhirnya ia memegang ujung benang merah yan
Di saat yang sama, tepatnya di kamar VIP Irish Grand Hotel, suasana sangat berbeda. Tirai jendela masih tertutup rapat, membuat ruangan itu tampak temaram.Di atas tempat tidur king size, Ibra terbaring dengan napas yang tidak teratur. Keringat dingin membasahi dahinya, dan wajahnya nampak memerah
Aya membaringkan Putra ke atas tempat tidur dengan gerakan selembut mungkin. Ia menyelimuti tubuh kecil itu, mengecup keningnya lama, seolah mencari kekuatan dari aroma lembut chamomile yang masih tersisa di kulit Putra.Wanita itu berusaha mengabaikan keberadaan sosok tinggi yang berdiri di ambang
Ibra langsung menoleh pada anaknya, wajahnya berubah lembut seketika. "Bunda bilang dagingnya enak sekali, sampai dia ingin berterima kasih pada Ayah dengan cara... memijat bahu Ayah nanti di rumah," ucap pria itu dengan seenaknya.Kedua mata Aya membulat. "Aku nggak bilang begitu.""Benarkah, Bund
Keesokan harinya, suasana di kantor milik Ibra tampak lebih sibuk dari biasanya. Meskipun kondisi fisiknya belum seratus persen pulih, Ibra bersikeras untuk datang sendiri. Pagi tadi, ia dengan tegas melarang Aya ikut."Kamu di rumah saja. Urus Putra. Jangan karena satu kali keberuntungan di rapat







