LOGINAya merasa dibohongi. Ia merasa tidak dipercayai dan dikhianati oleh suaminya sendiri. Sikap Ibra yang dingin, larangan membaca map abu-abu, pesan misterius dari Kaila yang tiba-tiba hilang, semuanya seperti potongan teka-teki yang mengarah pada satu kesimpulan menyakitkan. 'Apa Mas Ibra sedang bermain gila di belakangku dengan wanita lain setelah kurang puas padaku?' Aya bertanya-tanya dalam hati.Di tengah tangisannya, ingatan Aya melayang pada bulan-bulan terakhir kehamilannya. Sebuah kenyataan pahit menghampiri kesadarannya, membuat dadanya semakin sesak.Selama ia hamil anak kedua ini, Ibra benar-benar menyentuhnya hanya sekali saja. Itu pun terjadi dengan begitu dingin dan terasa seperti sebuah kewajiban yang terpaksa dipenuhi, bukan karena landasan cinta atau gairah seorang suami kepada istrinya. Bahkan karena itu, sikap Ibra malah berubah menjauhinya.Lalu Aya teringat dengan isi postingan yang tak sengaja ia temukan. Di mana ia teringat bahwa selama ini Ibra tak pernah meman
Ibra mengernyitkan dahi. Ekspresi wajahnya tampak terkejut, namun bukan terkejut karena ketahuan, melainkan karena bingung. Ia segera meletakkan map abu-abu itu di atas meja rias, lalu menyambar ponselnya yang terletak di samping ponsel Aya.Dengan cepat, jemarinya membuka kunci layar dan memeriksa notifikasi serta aplikasi pesan singkatnya. Aya diam memerhatikan setiap pergerakan suaminya dengan napas memburu, berharap ada penjelasan logis, namun sekaligus takut jika Ibra akan membenarkan segalanya.Setelah beberapa saat memeriksa, Ibra menurunkan ponselnya. Ia menatap Aya dengan tatapan dingin dan lelah."Nggak ada pesan apa pun di sini, Aya. Kamu pasti salah lihat," kata Ibra datar. Ia bahkan menunjukkan layar ponselnya pada sang istri."Salah lihat?" Aya tertawa sinis. "Aku belum buta, Mas... Aku membaca dengan mata kepalaku sendiri! Nama pengirimnya 'CEO Kaila'. Isinya sangat jelas kalau dia suka padamu. Jangan mencoba membohongiku lagi, Mas....""Aku tidak
"Eummm...." Aya menggeliat pelan. Ia lalu membuka kedua matanya. Dan saat dirinya perlahan duduk, Aya menyadari bahwa suaminya sudah tidak ada di sampingnya.Aya mencari keberadaan Ibra dan mendengar suara percikan air di dalam kamar mandi. Tak lama kemudian, Ibra muncul dengan tubuh segarnya usai mandi."Kamu sudah bangun?" tanya Ibra yang hanya menatap sedetik saja pada Aya lalu memilih memakai pakaiannya."Mas sudah mandi?" Aya balas bertanya."Ya." Ibra menjawab tanpa menatap wajah istrinya. Pria itu memakai pakaiannya dengan posisi membelakangi Aya. "Pagi ini ada meeting dengan salah satu pemegang saham besar proyek baru kita," lanjutnya.Aya diam. Ia teringat dengan seorang wanita cantik yang kemarin bersama suaminya dan tersenyum bahagia. Saat itu juga, dadanya terasa sesak."Tunggu. Di mana sisir tadi?" tanya Ibra dengan suara bergumam dan pria itu kembali masuk ke dalam kamar mandi.Ting!Ponsel Ibra tiba-tiba berdenting pelan. Menandakan ada sebuah pesan masuk. Aya melirik k
Aya masih diam di tempatnya. Nampaknya para staf yang sedang mengobrol itu tidak menyadari keberadaannya. Dengan hati terluka, Aya segera melanjutkan langkahnya lalu menekan tombol lift dan turun menuju ke lobi.Aya menekan dadanya yang terasa sesak. Jika mengingat bagaimana dulu ia dan Ibra bertemu, pria itu juga langsung menawarkan harga fantastis untuk satu malam. Bahkan Ibra selalu tak bisa mengendalikan dirinya saat bercinta dan sering membuatnya kewalahan.Rasa ragu mengenai suaminya yang berubah kembali dingin pun mulai mengganggunya. 'Apa dia benar-benar tidak bisa menahan nafsunya? Apa... ada wanita lain yang lebih baik dan bisa memuaskannya dari pada aku?' gumam Aya dalam hati dengan perasaan terluka.Sikap Ibra yang semakin menjauh setelah bercinta dengannya yang sedang dalam kondisi hamil membuat pikiran wanita itu campur aduk. Ia merasa bahwa tuduhannya terhadap Ibra benar. Apa lagi ia tahu Ibra, pria itu selalu tidak bisa menahan nafsunya saat bercinta. Bahkan pernah be
"Silakan, Bu Aya. Ada yang perlu saya bantu? Anda mau minum air mineral atau teh?" tanya Sinta dengan sopan setelah membukakan pintu.Aya menoleh, mencoba mengulas senyum terbaik yang bisa ia berikan agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Nggak usah, Sinta. Terima kasih banyak. Aku cuma mau menaruh ini saja kok, setelah itu aku langsung pulang.""Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi kembali ke meja depan," pamit Sinta yang kemudian melangkah keluar dan menutup pintu kayu itu dengan rapat.Suasana hening seketika menyergap Aya. Suara bising dari luar ruangan langsung teredam sempurna. Hanya ada dengung halus dari sistem pendingin ruangan yang berpusat di langit-langit.Aya berjalan perlahan menuju sofa yang terletak di bagian tengah ruangan, tempat biasa Ibra duduk bersandar saat kepalanya penat. Dan juga... tempat yang dulu mereka gunakan untuk bercinta sebelum Ibra menikahinya.Dengan gerakan pelan, Aya meletakkan tas berisi kotak makan yang dibawanya di atas meja kaca. Di dalam sana, ay
Pagi harinya, saat Ibra bersiap-siap untuk pergi ke kantor, Aya berdiri di dekat pintu depan dengan perasaan yang berkecamuk. Ia mencoba mengabaikan rasa curiganya dari malam sebelumnya dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri."Mas, ini dasimu belum rapu," kata Aya lirih, melangkah mendekat untuk merapikan dasi Ibra.Ibra diam membiarkan Aya merapikan dasinya, namun pandangan matanya lurus menatap ke arah luar jendela, sama sekali tidak berniat menatap wajah istrinya. Begitu Aya selesai, Ibra langsung mengambil tas kerjanya."Kita sarapan," ajak pria itu tanpa menoleh."Iya, Mas."Aya mendongakkan wajahnya, sedikit memajukan bibirnya, menunggu kecupan sebelum pergi yang tidak pernah dilupakan oleh Ibra.Namun, Ibra hanya menatapnya sekilas dengan tatapan kosong. Pria itu mengulurkan tangannya, menepuk puncak kepala Aya dua kali dengan sangat kaku."Hari ini aku ada rapat sampai sore," ujarnya dengan nada suara yang datar, namun lembut. Ia lalu berbalik dan berjalan keluar kam
"Berbaliklah," ucap Ibra tiba-tiba. Aya mendongak menatap wajah tampan di bawah sinar lampu putih di dalam kamar pas tersebut."Cepat," tekannya."Saya bisa sendiri," desis Aya, mencoba menutupi punggungnya yang terekspos dengan tangannya."Diamlah. Kamu hanya akan merusak gaun mahal ini," ucap Ibr
Ibra melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah tegap, meninggalkan Aya yang masih bergelung di balik selimut dengan tatapan penuh kebencian."Ya Tuhan... kenapa jadi begini? Kenapa pria itu ingin sekali menikahiku...?" gumam Aya sembari meremat kemeja putih di pangkuannya.Setelah menutup pi
Ibra muncul dengan Putra yang ia gendong dengan satu tangan. Putra tampak tertawa kecil sambil memeluk bahu ayahnya, sementara Ibra berjalan dengan tenang seolah beban seberat bocah kecil itu bukanlah apa-apa baginya.Dalam pandangan Aya, mereka berdua tampak sangat serasi. Seperti dua wajah
"Ay, kamu harus makan. Jangan sampai masuk rumah sakit lagi," ucap Hendra sambil menyentuh bahu Aya dengan lembut, mencoba memberikan kekuatan. Ada sorot mata yang lebih dari sekadar rasa peduli. Di dalam tatapannya, ada rasa kasih sayang yang telah lama Hendra pendam untuk Aya.Pemandangan itu men







